
Setelah kencan ala “orang biasa” yang berakhir dengan makan malam di kedai seafood pinggir jalan, Alex dan Kinara kembali ke gedung tempat helikopter menunggu mereka. Di sepanjang perjalanan pulang, Kinara bersandar di bahu suaminya, rasanya melelahkan sekaligus menyenangkan ... tak terlupakan ....
“Mengantuk?” tanya Alex seraya mengusap bahu Kinara dengan lembut.
“Hum,” gumam Kinara. Matanya memang sudah berat, padahal ini baru pukul setengah sembilan. Mungkin karena ia cukup kekenyangan. Alex membelikan hampir semua menu yang ada di warung makan tadi. Karena tidak mau menyia-nyiakan semua makanan itu, Kinara menghabiskan semuanya.
Alex membuka jaketnya dan menutupi tubuh Kinara. Ia menarik wanitanya mendekat, lalu berkata, “Tidurlah, aku akan membangunkanmu ketika kita sampai di rumah.”
Kinara memeluk lengan Alex lalu memejamkan matanya. Meskipun helikopter sedikit berguncang, tetapi tidak mengurasi rasa nyaman yang menjalar di seluruh tubuh dan sarafnya.
Alex mengusap-ngusap puncak kepala istrinya dengan penuh rasa sayang. Istri mungilnya yang imut dan lucu. Bagaimana ia bisa sangat beruntung dan mendapatkan wanita hebat ini? Karma baik apa yang telah ia lakukan di kehidupan sebelumnya sehingga berhak mendapatkan semua kebahagiaan ini?
Drrt.
Ponsel di saku jaket Alex bergetar. Dengan sangat hati-hati pria itu menyodorkan tangan kanannya untuk mengambil gadget-nya. Ada pesan masuk dari Lorie. Alex mengusap permukaan benda pipih di tangannya dan membuka kunci. Ratusan foto terunduh secara otomatis di ponselnya.
Sebuah senyuman terkembang sempurna di wajah Alex. Ia menggeser dan memeriksa foto-foto itu satu per satu dengan perasaan puas. Seringai di wajahnya semakin lebar. Lorie mengerjakan tugasnya dengan sangat baik. Alex memilih foto ia sedang berpelukan dengan Kinara di depan bianglala raksasa dengan latar belakang langit senja, lalu menjadikannya sebagai wallpaper.
“Hey?” seruan tertahan lolos dari bibir Alex ketika merasakan tubuh Kinara menjauh darinya, “Aku pikir kamu sudah tidur.”
“Dari mana kamu mendapatkannya?” tanya Kinara dengan mata memicing. Ia hampir tertidur ketika ponsel Alex bergetar tadi, lalu ketika melihat sekilas pesan di ponsel suaminya yang menyala, ia tidak jadi mengantuk.
“Ini?” Alex menyerahkan ponselnya pada Kinara. “Lorie mengerjakan tugasnya dengan sangat baik.”
“Lorie?” tanya Kinara seraya menerima ponsel Alex dan menggulir semua foto yang terpampang di layar kaca selebar enam inchi itu.
Hampir setiap langkah dan ekspresi mereka berdua terekam dengan sangat baik, termasuk ketika ia merajuk dan berjalan di depan Alex, lalu tangan pria itu mencekal lengannya untuk mencegahnya pergi. Juga momen ketika mereka berbaikan dan berpelukan. Kinara tertawa kecil, ia ingat kejadian itu ketika ia mengatakan akan berubah menjadi naga betina gila yang akan menyemburkan api. Benar-benar sangat kekanakan!
Kinara mendongak dan menatap Alex dengan sorot tidak percaya. Ia tidak melihat Lorie sama sekali ketika di taman bermain tadi. Bagaiama gadis itu melakukannya? Apakah dia menyamar sebagai pengunjung? Atau sebagai badut yang berkeliaran di sana dengan membawa bola warna-warni? Kinara sungguh tidak percaya Alex bahkan memikirkan untuk mengabadikan setiap momen berharga mereka. Ia mendesah pelan, foto mereka ketika berciuman di puncak bianglala terlihat sempurna. Bagaimana Lorie melakukannya?
“Kenapa? Kamu terharu?” goda Alex ketika melihat ekspresi di wajah istrinya yang berubah-ubah dengan cepat.
Kinara mengangguk. “Kamu adalah suami yang luar biasa,” ujarnya dengan tulus. Ia lalu meraih leher Alex dan mendaratkan kecupan ringan di pipi pria itu. “Terima kasih, Sayang.”
Alex menyentuh bekas bibir Kinara di pipinya. Rasanya lembut dan basah, membuatnya ingin merasakan lebih. Perlahan pria itu menjerat wanitanya dalam pelukan erat, lalu mencium bibir mungilnya yang penuh dan manis. Benar-benar memabukkan. Lidahnya menelusup masuk, membelit dan mencecap kehangatan dalam mulut istrinya.
Kinara mengerang pelan. Sentuhan Alex memercikkan bara di seluruh panca inderanya. Tubuhnya merespon secara alami ketika jemari suaminya menyusup masuk dari balik baju, menyentuh perutnya dan terus bergerak naik, menyapu gumpalan kenyal yang bersembunyi di balik bra dengan sangat lembut. Kinara meremang dan gemetaran. Setiap sentuhan suaminya selalu berhasil mengaburkan akal sehatnya, membuatnya melayang dan melupakan semuanya. Waktu seakan berhenti, ia tidak mendengar apa pun selain deru napas mereka berdua.
__ADS_1
“Tuan, kita sudah sampai.” Suara pilot terdengar dari depan. Ia sungguh tidak ingin mengganggu kesibukan tuannya di belakang sana, tetapi mereka sudah mendarat sejak dua menit yang lalu, dan suara di belakang sana membuatnya serba salah ....
Mata Kinara terbuka dalam sekejap. Ia mendorong tubuh Alex dengan panik, lalu merapikan baju dan rambutnya yang berantakan.
Alex mengulum senyum, tingkah Kinara terlihat sangat menggemaskan di matanya.
“Apa yang kamu tertawakan?” gerutu Kinara. Ia merasa kesal karena suaminya masih bisa bersikap sangat tenang, sementara ia sendiri merasa seperti seorang remaja yang tertangkap basah sedang bermesraan di tempat umum. Sungguh memalukan.
“Tidak ada,” jawab Alex sambil membantu Kinara merapikan rambut dan bajunya, “Tunggu di sini,” sambungnya sebelum melompat turun dari helikopter. Ia berjalan memutar dan membuka sisi pintu Kinara.
“Kemarilah,” ujar pria itu sambil menyodorkan tangan.
Kinara meraih tangan suaminya dan melompat turun. Ia baru saja akan melangkahkan kaki ketika tiba-tiba tubuhnya kembali melayang.
“Alex? Turunkan aku,” desis Kinara ketika menyadari tubuhnya berada dalam gendongan suaminya. Ia meronta dan ingin turun, tetapi cekalan Alex di pundak dan pahanya tak tergoyahkan.
“Tenanglah, jangan bergerak terus. Nanti kita jatuh,” ujar Alex sambil berjalan dengan langkah panjang-panjang.
Pria itu melangkah dengan cepat menuju kamarnya, mengabaikan para pelayan dan pengawal yang mengucapkan salam dan menunduk hormat padanya. Ia mendorong pintu dengan bahu, menendangnya dengan satu kaki, lalu membaringkan tubuh Kinara di atas ranjang. Tanpa memberi kesempatan pada istrinya untuk menolak atau protes, Alex menarik lepas kaos Kinara dan membenamkan wajahnya di antara gundukan lembut yang bergerak naik turun dengan cepat.
“Engh!” erang Kinara ketika lidah Alex menyentuh permukaan kulitnya, “Sayang, aku belum mandi.”
“Kamu bisa mandi setelah aku selesai berurusan denganmu,” ujarnya sebelum merangkum wajah istrinya dan menciuminya dengan penuh hasrat. Ia sudah menahannya sepanjang hari. Tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
“Sayang ...,” desah Kinara. Napasnya memburu. Alex tidak memberinya kesempatan untuk melarikan diri. Jemari dan bibir pria itu menyentuhnya di mana-mana, hangat dan lembut, tapi juga penuh kekuatan. Terus membujuk dan merayu ... menciptakan gelenyar nikmat yang membuatnya merintih dan meremang ....
Tangan Kinara mengusap permukaan kulit suaminya yang padat dan liat. Dalam sekejap uap panas berkumpul di permukaan kulit, menyatu menjadi tetes-tetes keringat yang mengalir membasahi tempat tidur.
“Tahan sedikit, mungkin masih akan terasa sakit,” bisik Alex seraya memposisikan diri.
Tubuh Kinara menegang. Rasa pedih dan panas yang menyengat kembali membayang. Tangannya bergerak untuk mendorong bahu Alex, tetapi pria itu menahan gerakannya dengan lembut, menciumi telapak tangan dan mengu*lum jari-jarinya dengan penuh hasrat. Setelah merasa tubuh Kinara tak lagi menolak, pria itu menggenggam jemari wanitanya dan menahannya dengan sangat hati-hati.
“Relaks, Baby ...,” ujar Alex seraya menunduk, matanya nanar menatap keindahan yang memukau di bawah sana. Seluruh tubuhnya memanas, sorot matanya dipenuhi kabut gairah ketika melihat Kinara terengah-engah dengan bibir sedikit terbuka. Dengan sangat perlahan pria itu menekan pinggulnya.
Mata Kinara terpejam erat. Ia menggigit bibir kuat-kuat ketika milik Alex menerobos masuk. Rasa sakit kembali mengigit, meski tidak sekuat kemarin.
“Alex ...,” desahnya seraya menggenggam dan meremas kuat jemari Alex yang menahan tangannya, “Engh ... Sayang ....”
__ADS_1
“Aku di sini, Baby ....”
Erangan Kinara membuat Alex menggila. Ia ingin mendengar suara istrinya menjerit lebih keras lagi. Ia membuka mulut dan ******* habis cherry-nya yang lembut dan manis, lalu dengan satu sentakan kuat menekan pinggulnya dalam-dalam.
“Oh! Alex ... Alex ... Sayangku ....”
Punggung Kinara melengkung hingga kepalanya tersentak ke belakang. Rasanya sangat penuh dan sesak di bawah sana. Ia tidak dapat menahannya. Sungguh tidak bisa ....
Kinara melingkarkan kakinya di pinggul Alex ketika gelombang pertama langsung menghantamnya dengan kuat, membawanya pada puncak yang tinggi hingga kepalanya seakan hampir meledak. Tubuhnya bergetar hebat, gemetar dengan sangat kuat hingga ia pikir tidak bisa berhenti lagi. Hingga akhirnya ketika gelombang itu menghilang, ia terlalu malu untuk membuka mata dan menatap wajah suaminya.
Alex melepaskan cekalannya di tangan Kinara. Punggung tangannya memerah dan memar. Bekas-bekas cakaran dan cetakan kuku yang menancap di punggung tangannya sama sekali tidak membuatnya kesal. Justru ia sangat menikmatinya. Bagaimana wanitanya mencengkeram kuat dan meledak di bawahnya, itu adalah pemandangan paling indah yang pernah dilihatnya seumur hidup.
“Masih sakit?” tanyanya seraya membelai lengan Kinara dan mendaratkan kecupan-kecupan ringan di kening dan kelopak matanya.
Kinara menggeleng. “Tidak terlalu, hanya awalnya saja. Setelah itu ... nikmat sekali,” jawabnya dengan jujur.
Rasa hangat dan manis membuncah dalam dada Alex. Ia mencium bibir istrinya dengan penuh hasrat. Tubuhnya mulai bergerak dengan hati-hati, menikmati sensasi ketika permukaan kulit mereka saling beradu.
Kinara tidak tinggal diam. Setelah tubuhnya mulai terbiasa, ia menyambut setiap sentuhan suaminya dengan penuh cinta. Percintaan kali ini bahkan lebih hebat dari kemarin. Ia hanyut dan melambung tinggi.
Erangan dan geraman bersahutan di tengah deru napas yang tak beraturan. Hingga akhirnya ketika gelombang yang hebat berdenyut di bawah sana, sepasang kekasih itu saling membelit dengan kuat.
"Oh!"
Tubuh Kinara menegang dan kembali tersentak ke belakang. Gelombang keduanya hampir tiba. Ia mendekap tubuh Alex dengan erat hingga tak ada lagi celah di antara mereka.
Alex terus bergerak meski lahar panas yang ditahannya sejak tadi telah tumpah. Ia menahan pundak Kinara dan bergerak semakin cepat, semakin liar ... hingga wanita di bawahnya kembali melebur dalam kenikmatan yang paling indah ... berkali-kali ... hingga wanita itu merintih dan memohon agar Alex berhenti. Namun ia seakan tidak mendengarnya, terus bergerak ... tidak mau berhenti ....
Kinara benar-benar tidak sanggup lagi, seluruh tubuhnya lemas dan tulangnya seperti jelly. Jadi, ketika Alex menarik tubuhnya untuk bertukar posisi, Kinara merangkak menjauh dari suaminya sambil berkata, "Alex ... aku tidak bisa lagi ...."
Alex menggeram, menarik pinggang Kinara dan kembali menyatukan tubuh mereka. "Aku belum selesai denganmu, Baby," bisiknya lirih seraya menciumi bahu dan punggung istrinya.
Pria itu kembali bergerak intens, menekan dengan kuat, menyentuh setiap bagian tubuh istrinya yang membuatnya tergila-gila. Mencicipi semua rasa yang tak terlukiskan. Mengerang hebat ketika gelombang dahsyat meluluhlantakkan panca inderanya, kemudian mengulang semuanya lagi dari awal.
Kinara tidak bisa menghitung lagi, berapa kali ia terdampar lalu Alex kembali membawanya ke puncak kenikmatan yang tak berujung. Namun satu hal yang pasti, ketika suaminya itu telah benar-benar telah selesai, ia tidak lagi memiliki sisa tenaga untuk bangun dari atas ranjang.
***
__ADS_1