Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 69


__ADS_3

Satu jam kemudian, mobil yang mengantar Lorie dan triplets sudah berhenti di salah satu wahana bermain Kota Broocklyn. Karena memasuki akhir Oktober, hiasan dengan tema Haloween bertebaran di mana-mana.


Amber berlari ke sana kemari dengan antusias, sesekali menjerit karena boneka hantu yang berada di depan stand permainan mengejutkannya. Aaron sama senangnya dengan Amber. Bahkan Aslan yang biasanya datar tanpa ekspresi pun menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.


Lorie sama antusiasnya dengan ketiga anak itu. Ia menemani mereka menaiki bianglala dan merry go round, juga setiap permainan yang mereka inginkan. Intinya, hanya wahanya roller coaster yang dihindarinya. Ia meminta tiga orang pengawal untuk ikut naik dan duduk di samping Aslan, Aaron, dan Amber.


Dari bawah, ia bisa mendengar suara teriakan ketiga bocah itu yang melengking tinggi, perpaduan yang sempurna antara adrenalin yang meningkat dan kebahagiaan yang meluap. Ia ikut bahagia mendengarnya.


Saat roaller coaster berhenti, ketiga bocah itu turun sambil terkikik puas.


“Aku mau permen kapas, Aunty,” pinta Amber dengan penuh semangat.


“Hm. Ayo, beli.”


“Yeay! Aku mau yang warna-warni!” seru Amber dengan penuh semangat.


“Permen tidak baik untuk gigimu,” tegur Aslan.


Namun, tentu saja Amber tidak mendengarkannya. Ia berdiri di depan stand permen kapas dan meminta penjualnya sebungkus permen yang berwarna seperti unicorn. Permintaan itu membuat sang penjual tertawa, sedangkan Aslan dan Aaron memutar bola mata mereka karena tingkah sang adik.


“Kalian berdua mau apa?” tawar Lorie.


“Um ... aku mau popcorn saja,” jawab Aaron. Aroma jagung panggang di sebelah stand permen kapas sungguh menggugah seleranya.


Lorie menatap Aslan yang belum menjawab pertanyaannya, memberi isyarat kalau ia masih menunggu jawaban bocah laki-laki itu.


“Aku mau hotdog,” ujar bocah itu setelah mengedarkan pandangannya ke sekitar.


“Baik, tunggu setelah adikmu mendapatkan permennya,” kata Lorie.


“Oke.”


Lorie merasa sangat puas melihat tingkah ketiga bocah itu. Amber yang sudah mendapatkan permennya bersorak gembira, sedangkan Aaron masih menunggu jagungnya dimasukkan ke dalam wadah. Setelah selesai, Lorie mengeluarkan uang dan membayarkan kedua jajanan itu, lalu mengajak mereka pergi ke stand hotdog.


“Aku mau yang pedas,” pesan Aslan kepada penjual camilan itu.


“Baiklah, Bocah Tampan,” jawab si penjual sambil tersenyum lebar. Ia menoleh ke arah Lorie dan bertanya, “Mereka anakmu?”


“Bisa dibilang begitu,” jawab Lorie seraya tersenyum tipis.


“Oh. Mereka sangat tampan dan manis.”


“Terima kasih.”


Setelah membayar hotdog pesanan Aslan, Lorie mengajak anak-anak untuk duduk di bangku yang tersedia di sekitar wahana bermain itu agar mereka dapat makan dengan tenang.


Ding.


Suara ponselnya yang berada dalam saku membuat Lorie mengernyit. Ia lupa menonaktifkan benda itu. Untuk hal yang satu ini, ia sedikit mirip dengan Alex. Ia tidak suka diganggu saat sedang bermain dengan triplets. Dengan berat hati ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian memeriksa siapa yang baru saja mengirim pesan.

__ADS_1


Itu Daniel.


Sayang, kamu benar-benar mencampakkan aku?


Ding.


Tiga hari pergi dan melupakanku.


Ding.


Tidak membalas pesanku.


Ding.


Tidak mengangkat teleponku.


Ding.


Aku sudah hampir mati karena merana.


Lorie menggertakkan gigi dan mengirim pesan balasan.


Cerewet!


Ding.


Ck!


Tidak tahu malu!


Lorie baru hendak mematikan ponselnya setelah mengirim pesan balasan itu, tapi benda di tangannya lebih dulu menyala dan berdering dengan kencang.


Daniel melakukan video call.


Haish ... pria ini benar-benar ....


“Apa?” seru Lorie dengan wajah masam setelah menerima panggilan video itu.


Di layar ponselnya, wajah Daniel yang tidak tahu malu sedang tersenyum lebar kepadanya, membuatnya tiba-tiba merasa pusing dan ingin muntah.


“Aku merindukanmu.”


“Aku tidak.”


Wajah Daniel cemberut. Mengapa kekasihnya sangat kejam?


“Kamu sedang di taman bermain?” tanya pria itu saat melihat bianglala di latar belakang Lorie.


“Hm.”

__ADS_1


Amber yang pensaran segera menariki ujung baju Lorie dan berbisik, “Aunty, siapa dia?”


Lorie terdiam sesaat, tidak tahu harus menjawab apa.


“Halo gadis kecil, aku adalah calon pamanmu!” seru Daniel yang mendengar pertanyaan itu.


Lorie memelototi pria itu dan mengumpat dalam hati, calon paman kepalamu!


Karena merasa disapa, Amber melongokkan wajahnya ke layar ponsel Lorie dan melambaikan tangannya.


“Halo, Paman,” sapa gadis itu.


“Dia bukan pamanmu, untuk apa memanggilnya dengan akrab seperti itu?” tegur Lorie.


“Tapi Paman ini sangat tampan, Aunty. Kamu tidak ingin menikah dengannya?” tanya Amber dengan raut wajah penasaran.


Lorie sudah hampir memuntahkan seteguk darah, sedangkan di seberang sana Daniel tertawa dengan sangat puas. Tiba-tiba Daniel merasa langsung menyukai gadis kecil itu.


“Apa kamu menginginkan sesuatu, Gadis Kecil yang bermulut manis?” tanya Daniel setelah tawanya mereda.


Amber tampak berpikir sebentar, kemudian ia segera menjawab, “Tidak ada. Aku hanya ingin agar kamu menjaga Aunty dengan baik. Hanya dia yang aku miliki. Kalau kamu berani menyakitinya, aku akan menyuruh Daddy memukul bokongmu.”


Kali ini giliran Lorie yang terbahak, sementara wajah Daniel sudah sehitam arang. Pria itu merasa telah salah menilai karakter si gadis cilik. Namun, rupanya itu belum seberapa. Tiba-tiba di layar ponsel muncul lagi dua wajah yang sama persis dengan si gadis cilik, tapi bedanya, itu adalah dua orang bocah laki-laki.


“Paman, kalau kamu menyakiti Aunty, aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang,” ucap Aslan dengan wajah seriusnya.


“Itu benar, kami akan mengejarmu sampai ke ujung dunia dan memberimu mimpi buruk sepanjang hidupmu, Paman,” imbuh Aaron sambil manggut-manggut.


Daniel tercengang. Rupanya ia bukan hanya mengencani preman yang galak, bahkan ketiga anak bos kekasihnya pun benar-benar terlihat seperti preman kecil yang menakutkan.


“Lorie, apa kamu bekerja pada seorang mafia?” tuduh Daniel dengan mata memicing.


Mendengar pertanyaan itu, Lorie hanya mengangkat alisnya dan berkata, “Kamu tebak.”


Tiba-tiba mata Lorie menyipit ketika melihat siluet gedung yang cukup familiar baginya. Gedung-gedung pencakar langit itu terlihat cukup jelas saat mobil yang ditumpangi Daniel berhenti. Sepertinya di lampu merah.


“Daniel, kamu ada di mana?” tanya Lorie.


Kali ini giliran Daniel yang memasang wajah misterius dan berkata, “Kamu tebak.”


***


like-nya manaaaa🤣🤣🤣


jangan lupa komen juga yaa


kalo banyakan yg dukung Daniel, aku bikin sama Daniel,nih!


🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2