Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 70


__ADS_3

Lorie yang terpana mendapatkan kembali kesadarannya saat melihat mobil yang ditumpangi Daniel kembali bergerak. Dengan sedikit ragu ia membuka mulut dan bertanya, “Kamu ada di Broocklyn?”


Daniel tersenyum lebar dan menjawab, “*Kirimkan lokasimu. Aku akan segera datang*.”


“T-tapi ... aku sedang bersama anak-anak ....” Lorie sedikit tergagap. Ia sungguh tidak menyangka jika Daniel akan menyusulnya ke kota ini. Sama sekali tidak menduganya.


“Memangnya kenapa? Ada masalah?”


“Tidak. Tapi ... bukankah itu akan sedikit merepotkan? Mereka sangat aktif dan cerewet.”


“Tenang saja, aku bisa mengatasinya. Cepat kirimkan lokasimu. Aku tunggu.”


Lorie terlihat ragu-ragu. Seorang pemimpin perusahaan seperti Daniel, bisakah berinteraksi dengan anak-anak?


Akan tetapi, meski benaknya dipenuhi kebimbangan, pada akhirnya ia tetap mengirimkan lokasinya setelah memutuskan panggilan video call itu.


Amber yang sudah selesai memakan permen kapasnya segera menariki tangan Lorie seraya berkata, “Aunty, aku ingin pergi ke istana boneka, ingin berfoto dengan Princess Belle dan Aurora.”


“Oke. Ayo, Sayang.” Lorie memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian mengekor di belakang Amber.


Aslan dan Aaron yang terlihat setengah hati pun terpaksa mengikuti ke mana adik mereka pergi. Memangnya ada pilihan lain selain menuruti gadis cilik itu? Tentu saja tidak ada.


Untunglah pengunjung di gedung itu tidak terlalu ramai sehingga mereka tidak perlu mengantri terlalu lama. Amber langsung melesat masuk melewati mesin pemindai dan berlari ke sana kemari dengan riang gembira, sedangkan kedua kakak laki-lakinya duduk dengan ekspresi bosan di sudut ruangan.


“Kalian tidak mau ikut berfoto?” goda Lorie sambil menggenggol pundak dua bocah itu.


Aslan mencibir dengan ekspresi jijik, sedangkan Aaron bergidik ngeri.


“Itu mengerikan,” ucap kedua bocah itu bersamaan.


Lorie tertawa lepas. Selain merasa lucu, ia juga bersimpati kepada Aslan dan Aaron. Mereka adalah kakak yang sangat baik. Walau tidak menyukai tempat itu, mereka tetap datang hanya demi menyenangkan hati sang adik. Itu adalah hal yang sangat manis dan imut.


“Aunty! Ayo temani aku berfoto!” teriak Amber yang sudah berdiri di sebelah boneka berkostum Putri Salju.


“Tunggu sebentar, Sweetie,” balas Lorie.

__ADS_1


Ia meminta para pelayan untuk menemani kedua Tuan Muda kecil, sedangkan ia pergi menghampiri Amber yang sangat antusias.


Setelah berfoto dengan Putri Salju, Amber menyeretnya berkeliling ruangan untuk berfoto dengan hampir semua putri yang ada di sana. Gadis cilik itu bahkan menyeretnya ke lantai dua untuk mengambil foto di dalam ruangan yang didekorasi seperti kastil yang indah.


Lorie sudah hampir kehabisan napas ketika akhirnya sesi foto itu berakhir.


“Aunty, ayo pergi naik bianglala lagi,” rengek gadis cilik itu. Mata bulatnya menatap Lorie dengan penuh permohonan.


“Lagi?”


Amber mengangguk cepat. “Tadi aku lupa mengambil foto saat berada di tempat paling atas,” jawabnya.


Lorie benar-benar kelelahan, tapi juga tidak ingin mengecewakan Amber.


“Bisakah kita beristirahat dulu sebentar, Sayang? Aunty capek ....”


“Aunty capek? Kalau begitu kita pulang saja,” cetus Amber. Wajahnya langsung berubah cemas,


“Tidak. Tidak apa-apa. Yang penting kita istirahat dulu sebentar.”


Tidak hanya Amber, tapi Aslan dan Aaron pun menyetujui usul itu. Sambil bercanda dan saling menggoda, mereka berjalan keluar dari istana boneka.


Ding.


Lorie mengambil ponselnya ketika mendengar benda itu berdenting.


Sepertinya pesan dari Daniel, pikir Lorie.


Benar saja, saat ia membuka kunci ponsel, nama Daniel terpampang di layar.


Sayang, aku di depan gerbang utama taman bermain. Kalian di mana?


Lorie menghela napas, tidak tahu harus merasa senang dan terharu atau sedih. Ya, sedih. Ia sedih karena bukan Raymond yang mencarinya seperti itu.


Ding.

__ADS_1


Sayang?


Lorie mengerjap dan segera mengetik pesan balasan.


Masuklah, kami ada di dekat istana boneka. Kalau bingung, tanya saja lokasinya kepada petugas


Setelah mengirim pesan itu, mendadak Lorie merasa pusing, seolah kepalanya sedang diguncang dengan keras.


“Aunty, kamu baik-baik saja?” tanya Aslan yang melihat perubahan wajah Lorie. “Kamu terlihat sangat pucat.”


“Tidak apa-apa, jangan cemas.”


Lorie memaksakan diri untuk tersenyum, kemudian mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk. Untunglah ada deretan bangku besi di dekat pintu masuk ke istana boneka. Lorie mengajak triplets dan para pelayan untuk beristirahat di sana.


“Nona Lorie, Anda terlihat tidak sehat. Atau kalau tidak, kita pulang saja?” tawar salah seorang pelayan di dekat Lorie. “Saya rasa Nona Muda juga sudah cukup puas bermain.”


Amber mengangguk dengan cepat. Ia menggigit bibirnya dan diam-diam merasa bersalah dalam hati.


“Aunty, ayo pulang. Aku tidak mau naik bianglala lagi,” gumam gadis cilik itu sambil berjalan di sisi Lorie.


“Hm.” Lorie hanya menggumam pelan. Rasanya ia akan muntah jika membuka mukut sedikit saja.


Keringat sebesar biji jagung mulai berkumpul di kening dan pelipisnya. Ia mulai merasa kedinginan. Perut bagian bawahnya berkontraksi dengan sangat kuat, membuat permukaan kulitnya terasa seperti sedang diregangkan secara maksimal. Itu membuatnya sesak napas dan tidak bisa mengucapkan apa pun. Hanya erangan tertahan yang terdengar.


Pelayan yang berada di sisi Lorie segera mengambil tindakan. Ia menghubungi nomor darurat di ponselnya dan meminta bantuan.


“Nona, bertahanlah. Saya sudah memanggil jemputan. Seharusnya tidak la—“


“Hey, apa yang terjadi?”


Suara yang dalam dan magnetis itu menarik perhatian Lorie. Ia mendongak dengan sangat pelan. Seorang pria tampan yang masih mengenakan jas kerja berdiri menjulang dan menghalangi sinar matahari yang menerpa wajahnya. Di bawah pantulan sinar matahari sore, siluet itu terlihat indah dan menawan.


“Daniel?” gumam Lorie sebelum kehilangan kesadarannya.


***

__ADS_1


__ADS_2