Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 147: Maaf, Aku Lupa


__ADS_3

Setelah berbulan-bulan hanya bisa berbaring di atas ranjang rumah sakit, Kinara akhirnya bisa merasakan kebebasan untuk pertama kali. Ia tidak protes sama sekali meski Alex menggendongnya seperti bayi dari kamar sampai ke tempat parkir mobil. Suaminya itu tidak mau menurunkannya meskipun para perawat sudah menyediakan kursi roda.


Sebenarnya gips pada kakinya sudah dibuka, tapi karena bahunya pun cedera, ia belum bisa menggunakan tongkat penyangga. Oleh karena itu dokter menyarankan penggunaan kursi roda. Namun, Alex dengan sangat posesif menggendong istrinya ke mana-mana.


Kinara tidak bisa protes untuk sifat suaminya yang satu itu. Ia hanya diam dan membiarkan Alex melakukan apa pun yang dia mau. Berhasil membujuk pria itu untuk membawanya pulang saja sudah lebih dari cukup. Ia benar-benar merasa sangat bahagia!


"Apakah aku tidak berat? Sepertinya berat badanku bertambah cukup banyak," tanya Kinara untuk yang ke sekian kalinya.


Alex menggeleng sambil menjawab, "Tidak. Sama sekali tidak berat. Untuk wanita yang sedang mengandung tiga bayi, ukuran tubuhmu justru terlalu kecil."


Kinara memutar bola matanya. Lihat, lagi-lagi semuanya berbalik arah padanya. Akhir-akhir ini Alex menjadi lebih pandai bersilat lidah. Entah ia harus merasa senang atau kesal. Huh ....


Namun, senyum ceria kembali menghiasi wajah Kinara sejak mobil yang ia tumpangi menjauh dari halaman rumah sakit. Mendadak semua tingkah suaminya yang menyebalkan menghilang dari ingatannya. Berkali-kali ia menciumi wajah Alex yang bersikeras untuk memangkunya di dalam mobil.


Sudut bibir Alex tertarik ke atas. Ia menahan senyuman yang sejak tadi. Ia tidak mau Kinara tahu kalau ia senang diciumi seperti ini. Jadi, ia hanya memasang wajah datar di sepanjang perjalanan. Sebenarnya ia belum mengizinkan Kinara untuk pulang, tapi wanita itu terus membujuk dan memohon hampir sepanjang waktu hingga akhirnya ia mengalah dan menuruti keinginannya.


Selain karena rengekan Kinara, dokter Ana dan dokter kandungan pun sudah memberi lampu hijau. Mereka mengatakan akan berkunjung ke rumah setiap hari untuk memastikan keadaan Kinara baik-baik saja. Hal itulah yang membuat Alex akhirnya setuju untuk mengajak istrinya pulang.


Oh, sebenarnya ada satu hal lagi ... tapi sepertinya Kinara lupa. Istrinya itu tidak menyinggung hal itu sama sekali sejak tadi pagi. Wanita itu hanya sibuk dan antusias dengan urusan kepulangannya itu.


"Kita hampir sampai," bisik Kinara di dekat wajah Alex.


"Sesenang itu?" tanya Alex sambil menatap lekat pada istrinya.


"Hum," gumam Kinara tanpa melepaskan pandangannya dari halaman rumah yang sudah terlihat di depan sana, "Aku rindu rumah, rindu kamar kita, rindu--"


"Tidak merindukanku?" sela Alex.


Kinara melotot dan berkata, "Kamu tidur, bangun, makan, dan bekerja di sampingku. Masih bertanya seperti itu?"


"Jadi, aku harus pergi jauh baru kamu rindu padaku?"


"Tidak mau!" seru Kinara cepat. Ia mencubit pinggang Alex sampai pria itu merintih dan meminta ampun.


"Masih berani berkata ingin pergi jauh?" tanya Kinara dengan mata menyipit.


Alex menggeleng dan menjawab, "Tidak. Tidak berani. Aku akan berada di sampingmu sampai kapan pun. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, kecuali kematian. Aku akan--"


"Sudah cukup. Jangan berlebihan," potong Kinara ketika melihat wajah Alex yang kembali terlihat menyebalkan.


Alex terkekeh pelan dan mencium puncak kepala Kinara.


"Apa menurutmu hormon kehamilan bisa menular?" tanyanya dengan ekspresi serius.


"Kenapa bertanya seperti itu?" balas Kinara sambil menahan tawa.


"Aku rasa akhir-akhir ini aku semakin mirip denganmu. Mood-ku berubah dengan cepat, aku uring-uringan karena hal sepele, tidur lebih lama, dan mual saat mencium aroma makanan tertentu. Sekarang aku bahkan membenci aroma espresso yang selalu ada di mejaku setiap pagi. Katakan, bagaimana bisa seperti itu?"


Kali ini Kinara tidak bisa menahan tawanya. Ia terbahak karena merasa perkataan suaminya itu sangat tepat. Alex memang terlihat seperti itu selama beberapa bulan ini. Ia sampai merasa tidak enak hati pada Lorie dan Billy yang sering menjadi korban pelampiasan emosi suaminya.

__ADS_1


"Kenapa tertawa?" gerutu Alex sambil mencubit ujung hidung istrinya hingga memerah.


"Itu namanya morning sickness, Baby. Bagaimana kamu bisa mengalaminya, aku pun tidak tahu. Mungkin kamu harus berkonsultasi dengan dokter kandunganku," jawab Kinara kemudian kembali terkikik geli.


"Kamu?!"


"Apa?" balas Kinara sambil menjulurkan lidahnya.


Bukannya kesal, Alex justru menunduk dan ******* habis bibir istrinya hingga wanita itu tersengal-sengal.


"Masih berani menggodaku?"


"Tidak berani," jawab Kinara sambil menggeleng dengan gugup.


Raut wajah suaminya yang menggelap mengirimkan sinyal bahaya di kepalanya. Memang dokter mengatakan sudah aman jika mereka ingin ... um, "melakukan sesuatu", tapi ....


Alex menggeram dan mengusap pembuluh nadi di leher istrinya yang berdenyut kencang. Jemarinya bergerak menyusuri tulang selangka Kinara, lalu menyusup masuk melalui kerah baju yang sedikit terbuka.


"Sepertinya semakin besar," gumamnya pelan. Ia menatap nanar pada dua gundukan kenyal yang membusung di depan wajahnya.


Hanya bisa disentuh ....


"Alex!" seru Kinara sambil berusaha menepis tangan suaminya. Bagian yang disentuh oleh suaminya itu sekarang menjadi lebih sensitif dan ....


"Oh!" pekik Kinara ketika Alex merem*s pelan.


Tunggu. Jangan-jangan dia memang sengaja memakai mobil ini karena alasan itu! Dasar monster ....


"Kita sudah sampai!" ujar Kinara sambil mendorong wajah suaminya menjauh.


"Bagus. Kita bisa melakukan sesuatu yang ... um, aku sudah sangat lama menunggu momen ini," balas Alex seraya mengeluarkan sebuah syal kotak-kotak berwarna cokelat dari dalam saku jasnya.


"Tutup matamu," pintanya pada Kinara.


"K-kamu mau apa?" tanya Kinara pelan. Nyalinya mendadak menciut.


"Tutup saja matamu."


Dengan ragu-ragu akhirnya Kinara mengikuti perkataan suaminya. Ia dapat merasakan permukaan kain yang lembut menutupi matanya dan melilit hingga ke bagian belakang kepala.


Alex menyimpul ujung-ujung syal itu, lalu membopong Kinara keluar dari mobil. Ia berjalan dengan langkah panjang-panjang menuju kamar mereka, mendorong pintu dengan kaki, lalu menutupnya kembali dengan bahu. Ia berjalan menuju ranjang dan mendudukkan Kinara di sana.


"Jangan mengintip," ujarnya sebelum berjalan menuju lemari dan mengambil sesuatu dari sana.


"Aku tidak mengintip," jawab Kinara sambil tersenyum lembut.


Tubuhnya terasa nyaman dan tenang ketika aroma kamar mereka yang khas tercium. Ia menyapukan tangan di permukaan kasur yang lembut ... ah, ia sudah sangat tidak sabar ingin segera berbaring di atasnya.


Namun, tiba-tiba seluruh syarafnya menegang ketika merasakan kasur di sebelahnya melesak, lalu embusan napas Alex yang hangat menerpa wajahnya. Ia bisa merasakan tangan suaminya melepaskan ikatan di kepalanya dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Buka matamu," ujar Alex dengan suara serak dan dalam.


Kinara membuka matanya perlahan dan menatap Alex yang sedang tersenyum padanya.


"Happy anniversary, Baby," ucap Alex sambil menyodorkan buket bunga mawar merah ke arah istrinya.


"A-apa? A-aniv ... oh, astaga ... maaf, aku lupa ...."


Kinara menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia kehabisan kata-kata, tidak tahu bagaimana bisa lupa pada hari istimewa mereka.


"Sudah satu tahun ...," gumamnya dengan linglung, "Kenapa cepat sekali?"


Alex terkekeh pelan dan menarik tubuh istrinya agar mendekat.


"Terima kasih untuk satu tahun yang luar biasa, Baby," ucapnya dengan tulus.


""Terima kasih untuk satu tahun yang luar biasa," balas Kinara dengan mata berkaca-kaca.


Ia memeluk leher Alex dan mengecup bibirnya dengan lembut. Ia ingin menyampaikan semua perasaannya pada Alex. Ia ingin suaminya tahu bahwa ia merasa sangat bahagia dan beruntung. Ia Kinara baru melepaskan Alex ketika paru-parunya sudah meronta meminta pasokan oksigen.


Alex mengangkat tubuh istrinya dengan hati-hati dan membaringkannya di atas ranjang. Ia berbaring di samping Kinara dan membelai wajahnya dengan penuh rasa sayang.


"Um, kupikir tadi kamu ... kamu ...."


Wajah Kinara memerah. Ia terlihat salah tingkah.


"Apa?" tanya Alex sambil mengangkat dagu Kinara agar mendongak, "Kamu pikir aku akan ...."


"Kamu tidak ingin?"


"Aku ingin ... sangat ingin," jawab Alex seraya mengusap lengan Kinara, "Tapi aku tidak mau membahayakan kalian."


"Tapi kata dokter--"


"Aku bisa menunggu."


"Masih sekitar lima atau enam bulan lagi," bisik Kinara sambil menatap lurus ke manik suaminya.


"Aku bisa menunggu, Baby ... lima bulan, enam bulan, tidak masalah. Kamu milikku selamanya. Tidak masalah berapa lama aku harus menunggu, yang penting kamu dan bayi kita baik-baik saja."


Pelupuk mata Kinara menghangat. Ia menyusukkan wajah ke leher Alex untuk menyembunyikan air matanya yang hampir tumpah.


"Menginginkan sesuatu untuk hadiah pernikahan?" tanya Alex sambil mengusap perut istrinya yang semakin besar dengan penuh rasa cinta.


Kinara menggeleng. Ia sungguh tidak menginginkan hadiah apa pun. Mendapat Alex sebagai suaminya adalah hadiah terbaik di sepanjang hidupnya.


***


__ADS_1


__ADS_2