
“Apa? Siapa yang hamil?” tanya Elizabeth.
“Lorie hamil?!” seru Billy.
Sepasang suami istri itu tampak sangat terguncang. Bahkan Alex yang biasa tenang dan tidak menunjukkan ekspresinya pun terlihat terkejut. Ia memberi isyarat agar pelayan membawa anak-anak ke dalam, lalu menatap Lorie dan Dokter Ana bergantian tanpa mengucapkan apa pun, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kedua wanita itu menciut.
“Ma-maksudku, wanita le-mah ti-tidak boleh minum alkohol ... ya, itu maksudku. Lorie tidak boleh minum alkohol, kondisi tubuhnya belum terlalu sehat,” ujar Dokter Ana seraya mencoba untuk tampil senatural mungkin, tapi sikapnya itu justru membuat semua orang semakin curiga dan tidak percaya.
“Jelas-jelas kamu bilang ‘wanita hamil’, dari mana menjadi ‘wanita lemah’? Dasar pembohong amatir!” Billy menatap Dokter Ana dan Lorie yang memucat. Sekarang ia semakin yakin bahwa analisanya waktu itu benar. Tidak mungkin tidak ada apa-apa di antara Lorie dan Raymond.
“Katakan, apakah itu anak Raymond Dawson?” tanyanya kepada Lorie.
“Kamu sembarangan menuduh apa?” Dokter Ana bangkit dan berdiri di depan Lorie. “Aku sedang tidak fokus dan salah bicara, kenapa kamu langsung menuduhnya seperti itu?”
Lorie menunduk dan memilin jarinya seperti seorang murid yang tertangkap basah saat sedang mencontek. Ia tidak berani mendongak sama sekali dan tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menyangkal atau membela diri.
“Tapi tingkah Raymond Dawson itu sangat mencurigakan! Aku yakin terjadi sesuatu di antara mereka berdua!” Billy tidak mau kalah dan menyingkirkan Dokter Ana dari hadapannya.
“Lorie, katakan ... apa dia melakukan sesuatu yang merugikanmu? Aku akan—“
“Kamu benar-benar sangat menjengkelkan! Kenapa meributkan hal sepele seperti ini? Aku hanya salah bicara!” sela Dokter Ana. Ia mengepalkan tangan dan meninju bahu Billy, tapi pria itu bergeming dan terus menatap Lorie lekat-lekat.
Lorie benar-benar ingin memarahi Dokter Ana saat ini juga, tapi ia tahu itu tidak akan menyelesaikan masalah. Ingin menyangkal tidak bisa, mengaku pun menemptakannya pada dilema.
“Katakan, Lorie ... apakah dia menjebakmu? Memaksamu?” cecar Billy. Amarah jelas terpancar dari tubuhnya. Kedua tangannya terkepal erat, seolah siap menghantam wajah Raymond Dawson saat itu juga jika pria itu berada di sana bersama mereka.
“Billy, pelan sedikit, jangan emosi seperti itu,” tegur Elizabeth sambil menarik tangan suaminya.
__ADS_1
Alex yang dari tadi diam akhirnya ikut bicara ketika melihat ekspresi Lorie yang serba salah. Ia menahan bahu Billy dan berkata, “Jangan mendesaknya. Duduk dan bicara baik-baik.”
Billy menepis tangan Alex dan kembali duduk di sebelah istrinya. Wajahnya terlihat benar-benar kesal. Lorie sudah seperti saudara perempuannya sendiri, dan ia tidak terima jika ada seseorang yang mempermainkan atau memanfaatkannya seperti ini!
Alex duduk di seberang Billy dan menatap Lorie, membuat wanita itu menunduk semakin dalam.
“Apa yang dikatakan Ana itu benar, Lorie?” tanya Alex setelah semua yang ada di situ terdiam cukup lama.
Lorie melirik Dokter Ana sekilas dan mendapati wanita itu sedang menatapnya dengan mimik wajah yang dipenuhi rasa bersalah.
“Maafkan aku,” gumam Dokter Ana tanpa suara.
“Ya, aku hamil. Dan ... ya, ini anak Raymond.”
Billy melompat bangun sambil mengumpat, “Bajingann! Aku akan mematahkan kaki dan tangannya!”
Lorie sangat terkejut dan secara refleks menoleh ke arah Alex, tapi pria itu tidak mencegah Billy sama sekali. Itu artinya dia memberikan izin kepada Billy untuk memukuli Raymond. Lorie langsung panik. Lorie ikut berdiri dengan cepat dan menghadang di depan Billy.
“Tidak, jangan cari dia!Ini bukan sepenuhnya salah Raymond. Aku juga bersalah dalam kasus ini karena teledor!“ serunya dengan lantang.
“Kamu masih membelanya? Bedebah sialan itu menginap bersama tunangannya di hotel, tapi masih—“
__ADS_1
“Itu karena pengaruh obat dari Rafael! Aku dibius dan tidak bisa bergerak, sedangkan dia sedang mabuk dan mengira aku adalah tunangannya. Itu benar-benar hanya sebuah kecekalaan. Jangan pergi membuat perhitungan dengannya, ya?” pinta Lorie dengan ekspresi memohon.
Lorie memandang Alex dan Billy bergantian ketika kedua pria itu tidak menanggapi permintaannya. Ia tahu mereka tidak akan tinggal diam kalau ia tidak membuat mereka berjanji saat itu juga, berjanji bahwa mereka tidak akan memberitahu Raymond apalagi memukulinya. Apa pun yang terjadi, pria itu tidak boleh tahu.
“Dia tidak tahu masalah ini ... kalau kamu pergi, dia akan tahu dan membuat semuanya menjadi semakin runyam. Tolong bantu aku, jangan katakan apa pun kepadanya. Mereka sudah akan menikah sebentar lagi. Aku tidak mau menjadi orang ketiga yang merusak hubungan orang lain. Masalah anak ini ... dia juga belum tentu bisa bertahan ... jadi biarkan saja,” ucap Lorie dengan suara yang semakin lirih.
“Apa maksudmu?” tanya Billy.
“Janin ini harus diobservasi dalam waktu tiga minggu lagi. Ada begitu banyak obat yang telah masuk ke dalam tubuhku. Jika dia terpengaruh, maka ....”
Ekspresi wajah Billy dan Alex perlahan melunak. Meski Lorie tidak menyelesaikan ucapannya, mereka mengerti dengan jelas apa maksudnya. Billy kembali duduk dan menghela napas dalam-dalam.
“Berjanjilah, kalian tidak akan mencarinya,” tuntut Lorie.
“Baik,” jawab Billy dengan berat hati, sedangkan Alex hanya mengangguk sekilas.
Seluruh syaraf Lorie yang menegang kembali relaks.
“Terima kasih,” gumamnya seraya memaksakan seulas senyum.
“Sudahlah, bukankah kita berkumpul untuk bersenang-senang? Untuk apa kalian memasang wajah murung seperti itu?” ucap Elizaberth untuk meredakan ketegangan.
Dokter Ana tersenyum kaku dan menghampiri Lorie.
“Maafkan aku,” bisiknya. “Aku sungguh tidak bermaksud untuk mengatakannya seperti itu.”
“Tidak apa-apa,” balas Lorie. “Begini juga bagus ....”
__ADS_1
Setidaknya dengan begini, ia tidak akan memikul bebannya sendirian lagi.