
“Nara ...,” panggil lagi Alex ketika Kinara hanya membeku di tempatnya, “Aku benar-benar minta maaf. Tadi pelayan mengatakan bahwa kamu—“
“Aku mau tidur.”
“Biarkan aku mengobati lukamu dulu, oke?” bujuk Alex seraya menggenggam jemari istrinya.
Kinara menepis tangan Alex dan berkata, “Aku bisa melakukannya sendiri. Tolong, beri aku ruang. Aku perlu berpikir ... aku ... aku ....”
Wanita itu kembali terisak tanpa sanggup menyelesaikan ucapannya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia sangat ingin membalas pelukan suaminya, tapi di satu sisi ia pun merasa jijik. Bayangan tadi masih belum terhapus dari ingatannya. Bayangan ketika Jericho menyentuhnya kembali muncul ke permukaan. Lalu tindakan Alex yang sangat lembut dan tidak membiarkannya lepas kendalli. Kemudian bayangan Jessica menari-nari di depan matanya. Wajah Alex yang tersiksa dan penuh rasa sakit. Semua gambaran itu timbul tenggelam, bergantian hingga membuat kepala Kinara pengar.
Alex melonggarkan pelukannya setelah terdiam cukup lama. Ia tahu, meskipun ia naik ke sini karena mengkhawatirkan istrinya, apa yang baru saja terjadi itu karena kecerobohannya. Seharusnya ia memeriksa Kinara di tempat duduknya sebelum berlari masuk dalam perangkap. Seharusnya ia lebih waspada. Seharusnya ia mendengarkan istrinya dan selalu berhati-hati. Seharusnya ia langsung mengusir Jessica ketika tiba di tempat ini tadi. Ada begitu banyak penyesalan, tapi tidak bisa mengubah apa pun lagi. Apa yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah dengan cara apa pun. Satu hal yang bisa ia lakukan adalah membalas setiap orang dengan bayaran yang setimpal.
“Istirahatlah. Aku akan keluar sebentar,” ujar Alex sambil melepas tubuh Kinara dengan sedikit tidak rela.
Kinara tidak menjawab ucapan suaminya lagi. Ia berjalan menuju sofa dan berbaring di sana seperti seekor angsa yang terluka. Ia tidak sanggup kalau harus tidur di atas ranjang yang baru saja dipakai untuk ... sudahlah, ia benar-benar tidak bisa memikirkannya lagi. Air mata menetes satu per satu membasahi pipinya. Semua rasa sakitnya, pengorbanannya, caci maki yang harus diterimanya selama ini. Seakan semua itu tidak pernah cukup.
Statusnya sebagai orang biasa membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi. Sebenarnya, hal inilah yang membuatnya berpikir ribuan kali ketika Alex memintanya menjadi pengantin pengganti. Pria itu bisa saja menerimanya, tapi keluarganya, lingkungan sosialnya ... ini bahkan lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan.
Alex membuka lemari dan mengambil pakaiannya yang masih tersimpan di sana. Ia berganti pakaian dengan cepat lalu hendak berjalan keluar. Langkah kakinya terhenti ketika melihat bahu Kinara yang bergetar samar dalam keremangan. Pria itu terpaku di tempatnya cukup lama, berusaha mencari kata-kata penghiburan atau permintaan maaf yang layak. Namun, hingga detik waktu berubah menjadi menit-menit panjang yang menyakitkan, ia masih tetap tidak menemukan kalimat yang tepat. Ia bahkan tidak berani mendekat pada istrinya, meski sekedar untuk menutupi tubuh rapuh itu dengan selembar selimut. Akhirnya ia hanya bisa menghela napas pelan sebelum berjalan keluar.
“Jaga istriku baik-baik, jangan biarkan satu orang pun masuk selain aku,” pesannya pada empat orang pengawal yang berjaga di depan pintu.
“Baik, Tuan,” jawab para pengawal itu hampir bersamaan.
“Alex, di mana Kinara?” tanya Beatrice ketika berpapasan dengan putranya di dekat tangga. Ia sedang berbincang dengan rekan suaminya di teras depan sehingga terlambat mengetahui apa yang baru saja terjadi. Jika bukan karena mertuanya yang meneriakinya gagal mendidik anak di depan semua orang, ia tidak akan tahu.
“Biarkan dia beristirahat, Mom,” jawab Alex singkat. Ia tidak ingin berlama-lama di sini. Ada yang harus segera dilakukannya.
Beatrice membuka mulutnya dan hendak bertanya lagi, tetapi Jonathan menahan lengannya seraya menggelengkan kepala. Akhirnya wanita itu hanya menatap punggung putranya yang menjauh sambil menghela napas. Sejak awal, ia tidak setuju dengan renca na mertuanya, tapi ... ia bukan pemegang keputusan dalam rumah ini. Melihat putranya terluka membuatnya ikut merasa sedih.
“Ayo, kamu pun perlu beristirahat,” ujar Jonathan sambil menuntun istrinya ke kamar mereka.
Alex berjalan cepat menuruni anak tangga. Aula utama telah sepi. Para tamu sepertinya sudah mendengar kekacauan tadi dan memilih untuk membubarkan diri. Bagus, ia tidak perlu repot-repot berbasa-basi atau mengusir mereka. Hanya tersisa para pelayan yang sedang membersihkan sisa makanan dan peralatan\=peralatan lainnya. Alex baru saja akan berbelok menuju pintu keluar ketika seseorang menghadang jalannya dengan tiba-tiba.
Bugh!
“Fck!” umpat Alex ketika sebuah tinju bersarang di dagunya. Ia terhuyung dan mencari pegangan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Namun, tangannya hanya menggapai angin. Tubuhnya terempas dengan cukup keras ke atas lantai.
Bugh!
“Sial, Billy!” teriak Alex ketika sebuah bogem mentah kembali mendarat di rahangnya dengan keras, “Aku akan membunuhmu!” raungnya penuh kemurkaan.
“Aku yang seharusnya membunuhmu,” ujar Billy seraya bersiap untuk menyerang Alex lagi, “Sudah kukatakan untuk menjaga istrimu dengan baik. Lihat, apa yang kau lakukan padanya?”
Alex mengusap cairan yang terasa asin dan manis yang menetes dari sudut bibirnya. Ia terdiam dan tidak ingin membalas Billy karena tahu dirinya layak mendapatkan pukulan itu.
Alex bangun dan mengebas bajunya sambil berkata, “Sudah puas? Kalau sudah, ada hal lain yang harus kulakukan.”
Billy menarik kerah baju sahabatnya dan membalas, “Kau membuatku kecewa, Alex.”
__ADS_1
“Yeah, aku pun membenci diriku sendiri,” ujar Alex, “Aku tidak ingin melihat nenekku berkeliaran lagi di tempat ini dan meneriaki istriku. Kamu tahu harus bagaimana.”
Billy melepaskan kerah baju Alex dan membiarkan sahabatnya itu berjalan keluar.
Alex masuk ke dalam Maybach 62 miliknya dan berseru pada pengawalnya, “Bawa aku ke markas!”
“Baik, Tuan.”
Mobil itu melesat cepat menembus gelapnya malam. Jari-jarinya mengetuk lutut dengan tempo tak beraturan. Ia sungguh tidak menyangka Jessica akan senekat itu. Menipu dan memanfaatkannya dengan sangat licik. Bersikap sangat manis dan lembut tetapi penuh tipu muslihat. Alex merem*as kepalanya yang berdenyut hebat. Kalau saat ini saja Jessica bisa menjebaknya seperti tadi, apakah di masa lalu wanita itu juga sudah memanipulasinya seperti yang dikatakan oleh Kinara?
Mengingat Kinara kembali membuat Alex merasa jantungnya seperti dihantam godam. Bagaimana bisa ia mengatakan mencintai istrinya itu tapi terus menyakitinya berkali-kali. Ia benar-benar merasa gagal melaksanakan janjinya untuk membuat wanita itu selalu aman dan merasa bahagia. Sebaliknya, Kinara selalu saja ditimpa masalah atau menangis ketika berada di dekatnya. Bukannya menolong dan menjaga istrinya, justru wanita itulah yang berulang kali menyelamatkannya.
Alex mengerang frustasi. Bagaimana kalau Kinara tidak mau menerimanya lagi? Bagaimana kalau hubunga mereka menjadi renggang karena masalah tadi? Bagaimana kalau Kinara meninggalkannya?
“Brengsek!” umpat Alex seraya meninju atap mobil dengan kuat. Ia mengabaikan rasa sakit di buku-buku jarinya dan kembali meninju atap mobil berulang-ulang. Ia sangat ingin menghajar seseorang untuk melampiaskan kekesalannya.
“Tuan, kita sudah sampai,” ujar pengawal yang mengendarai mobil.
Alex langsung melompat keluar begitu pintu mobil terbuka. Ia melangkah dengan cepat melewati pintu berwarna merah di ujung lorong. Seorang penjaga membukakan pintu dan menunduk sopan ketika Alex melangkah masuk. Pemandangan pertama yang tertangkap olehnya adalah tubuh setengah telanjang Jessica yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Hampir separuh badannya berlumur darah. Penampilannya terlihat sangat mengenaskan, bernapas satu-satu dengan suara mengorok yang cukup keras setiap kali udara melewati tenggorokannya.
“Berikan padaku,” ujar Alex seraya menengadahkan tangannya.
Lorie mendekat dan memberikan sebuah botol berwarna putih setinggi lima sentimeter. Alex membuka tutup botol itu lalu berjongkok di dekat Jessica.
“Alex ...?” gumam Jessica seraya berusaha membuka matanya yang terasa berat. Seluruh tubuhnya dingin dan sakit setengah mati, membuatnya tidak berani banyak bergerak, hanya bisa menarik napas perlahan untuk mempertahankan kesadarannya.
Alex menepis tangan Jessica dengan kasar.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanyanya dengan ekspresi yang tidak terbaca. Akhirnya, dari semua tingkah aneh Billy, peringatan dari istrinya, juga peristiwa yang terjadi tadi, Alex bisa menyimpulkan bahwa ada seseorang yang mengendalikan wanita jala*g ini. Selain tentu saja karena memang sifat dasarnya yang manipulatif. Sungguh menjijikkan.
“Apa maksudmu, Alex?” rintih Jessica ketika rasa sakit yang sangat menggigit punggungnya. Pisau yang ditusukkan oleh Kinara masih menancap di sana, “Tolong, aku tidak sanggup lagi. Ini sakit sekali,” lanjutnya sambil menitikkan air mata.
“Berhenti berpura-pura, Jessie!”
Alex menyentak rambut wanita itu hingga mendongak. Ia menggunakan seluruh kekuatannya, tidak lagi memandang wanita yang bertahun-tahun menemaninya itu sebagai seorang perempuan yang patut dihargai. Mengingat rasa sakit Kinara, ia benar-benar ingin menghancurkan tubuh jala*ng dalam genggamannya ini .
“Akh!” pekik Jessica ketika beberapa helai rambutnya tercerabut.
Alex menahan mulut Jessica yang sedikit terbuka itu, menarik rambutnya lebih keras hingga mulutnya terbuka semakin lebar. Ia menuangkan seluruh cairan dari botol ke dalam mulut Jessica, lalu menahan dagunya agar semua cairan itu tertelan tanpa ada yang tersisa.
“Ugh! Uhuk ... uhuk ... uhuk ....”
Jessica tersedak dan terbatuk. Rasa panas membakar kerongkongan dan lambungnya. Ia berusaha memuntahkan cairan itu dengan panik, tapi tak ada satu tetes pun yang keluar dari mulutnya.
‘A-ap-apa yang kau berikan padaku?” tanyanya dengan panik ketika perutnya mulai terasa melilit, seakan sedang dihancurkan dari dalam.
“Sudah kukatakan Jessie, jangan mencoba batas kesabaranku,” jawab Alex seraya bangkit dan menatap wanita di bawahnya mulai menggeliat dalam kesakitan.
“Akh! Sakit! Alex ... Alex ... maafkan aku, kumohon maafkan aku ....”
__ADS_1
Jessica meringkuk seperti seekor udang di atas lantai, perutnya seperti diiris dan diaduk dalam waktu bersamaan. Rasanya seperti nyeri ketika datang bulan tapi dalam level yang tidak dapat ditahannya. Bulir keringat dingin sebesar biji jagung berkumpul di permukaan kulitnya akibat menahan sakit yang mengalahkan nyeri di belikatnya.
“A-apa yang k-kau berikan p-padaku, Alex?” tanya Jessica dengan suara terbata-bata. Ia sungguh tak mengira Alex akan memperlakukannya seperti ini.
“Ugh!” erang wanita itu lagi ketika kaki Alex menginjak perutnya dengan keras. Sangat keras sehingga ia mulai kehabisan napas.
“Kamu pikir bisa mengandung benihku dengan cara menjijikkan seperti tadi? Kamu benar-benar tidak layak ... membuatku muak dan mual. Bahkan seujung kuku istriku pun kamu tidak layak,” geram Alex seraya memutar kakinya di atas perut Jessica dengan kuat.
“Kyaaa!”
Lolongan yang menyayat hati menggema dalam ruangan itu. Tubuh Jessica kejang dan bergetar hebat ketika gumpalan merah pekat mengalir melalui pangkal pahanya. Ia meraba cairan beraroma besi berkarat itu dengan tangan gemetar, menatap tak percaya pada gumpalan-gumpalan kental dan sedikit kehitaman yang terus mengalir keluar bersama darah segar.
“Itu balasan untukmu karena telah menyakiti istriku,” ujar Alex. Suaranya tidak mengandung emosi apa pun, tetapi kekejaman yang terpancar dari sorot matanya membuat Jessica menggigil.
Wanita itu akhirnya sadar apa yang diberikan Alex padanya. Rahimnya baru saja dihancurkan. Pria itu tidak memberi kesempatan padanya sama sekali, tidak mau mengambil resiko kalau ia mengandung akibat perbuatan mereka tadi. Baru kali ini ia melihat sisi gelap Alex yang membuat nyalinya menciut. Rupanya ia salah, ia pikir Nathan lebih kejam daripada Alex, tapi nyatanya ia keliru. Alex adalah lawan yang sepadan untuk Nathan. Pantas saja pria gila itu cukup kesulitan mengalahkan Alex.
“Katakan siapa yang menyuruhmu dan aku akan mengampuni nyawamu,” ujar Alex seraya menarik kursi dan duduk di depan Jessica. Ia melipat kedua tangannya dan menumpunya di atas lutut. Entah mengapa melihat wanita itu berjuang melawan rasa sakit memberinya kepuasan tersendiri. Semua rasa simpati dan empati yang selama ini dimilikinya untuk Jessica menghilang tanpa bekas.
Jessica terkekeh pelan meski air mata terus membanjiri pipinya. “Bunuh saja aku, Alex. Lagipula Nathan tidak akan membiarkanku hidup kalau kamu melepaskanku ....”
Kening Alex berkerut. “Siapa Nathan?” tanyanya.
Tawa Jessica semakin keras, seolah rasa sakit di sekujur tubuhnya tidak lagi terasa.
“Oh, Honey ... kamu hanya perlu menggali sedikit lebih dalam dari orang-orang di sekitarmu ....”
Napas Jessica mulai terdengar semakin berat dan terengah-engah. Sepertinya ia menelan cukup banyak darahnya sendiri. Selain itu, cairan yang merembes dari sela kakinya mulai membentuk genangan yang lebar yang terus bertambah. Pendarahan hebat membuat darahnya tidak mau berhenti.
Raut wajah Alex sedikit berubah. “Kenapa semua menjadi kacau seperti ini, Jessie?” gumamnya pelan.
Jessica mendongak dan membalas tatapan Alex. “Aku pernah benar-benar mencintaimu, Alex ... dulu ... pada satu waktu ....”
“Apa yang mengubahnya?”
Jessica tersenyum pahit dan menjawab, “Ketika aku diserahkan pada Nathan—“
Satu tetes air mata terakhir bergulir dari sudut mata Jessica ketika tarikan napasnya yang terakhir tidak pernah selesai. Mulutnya yang sedikit terbuka tidak mampu menyelesaikan ucapannya yang penuh dengan kegetiran. Tanpa kata perpisahan, tanpa permintaan maaf ....
Alex mendesah pelan dan berkata pada Lorie, “Kuburkan mayatnya. Urus semua hal yang berkaitan dengan kepolisian.”
“Baik, Tuan.”
Nathan ... siapa dia?
“Cari semua informasi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Andromeda Coorporation, semua anak perusahaan, developer, distributor ... apa pun yang berhubungan dengan perusahaan itu dan seseorang yang bernama Nathan,” lanjutnya lagi sebelum bejalan keluar dari ruangan itu.
Oh, Honey ... kamu hanya perlu menggali sedikit lebih dalam dari orang-orang di sekitarmu ....
Kata-kata Jessica itu terus berdengung dalam kepala Alex seperti sebuah mantra, menyakiti gendang telinganya meski suara itu tak kasat mata.
__ADS_1