Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 89: Aku menyukaimu


__ADS_3

"Cepat sedikit, aku sudah hampir terlambat!" seru Kinara seraya menarik tangan Lorie dan berlari menyusuri lorong-lorong kampus.


Sejak kejadian yang membuatnya hampir ditabrak di depan gerbang, Kinara tidak pernah berada jauh dari Lorie. Ia sangat senang ketika Alex bersikap seolah tidak tahu mengenai kejadian itu dan tidak menghukum Lorie. Oleh karena itu, ia berusaha keras agar kejadian serupa tidak terulang kembali dengan membiarkan Lorie membuntutinya ke mana pun.


"Lorie, kau berlari seperti bayi!"


Kinara mempercepat langkah kakinya menaiki anak tangga. Sebentar lagi akan ada ujian semester satu, tugas-tugasnya semakin banyak. Ia juga tidak ingin membuat dosennya kesal dan memberi nilai jelek.


Ini semua karena Alex! Kalau saja ia membiarkanku bangun lebih pagi, maka aku tidak akan terburu-buru seperti ini, gerutu Kinara dalam hati.


Sambil berlari, wajah Kinara memerah ketika mengingat kembali adegan di atas ranjang tadi pagi. Suaminya yang mes*m itu semakin sering menyentuh dan membelainya kapan pun pria itu mau.


Mengusap ... mencium ... menjil*t ... mengigit ....


Hiy!


Sekujur tubuh Kinara tiba-tiba meremang.


Sepertinya aku menikahi seekor siluman kucing! Meski tetap saja ... kami belum berhasil melakukannya. Salah siapa benda itu terlalu besar! Bahkan ujungnya saja sudah membuatku menjerit kesakitan! Aku harus mencari cara untuk mengurangi ukuran benda itu, setidaknya satu sampai dua senti--


Bruk!


"Aw!


Kinara memekik keras, antara menahan sakit dan terkejut di saat yang bersamaan. Tubuhnya menabrak sesuatu, membuatnya terpental dan hampir jatuh ke lantai. Untunglah Lorie menahan tangannya dengan sigap.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lorie dengan raut cemas. Ia memeriksa siku dan kaki tanpa menunggu jawaban Kinara, lalu menarik napas lega ketika tidak menemukan luka di sana.


"Maaf. Aku tidak melihatmu. Kamu tidak apa-apa?"

__ADS_1


Suara bariton yang cukup dikenalnya itu membuat Kinara mendongak untuk mencari tahu siapa yang baru saja ditabraknya.


"Benji?" sapa Kinara sambil mengernyit.


Kenapa dia bisa ada di sini?


"Sepertinya gedung arsitektur bukan di sini," sindir Lorie sambil menatap Benji dengan tajam.


Kinara menatap pemuda di hadapannya dengan waspada. Ia telah mengetahui siapa Benji sebenarnya. Lorie telah memberitahu semuanya mengenai pemuda itu. Bahkan kecelakaan di depan perpustakaan umum yang membuatnya shock itu pun adalah rekayasa pemuda ini. Mengetahui hal itu membuat Kinara kecewa sekaligus sakit hati karena merasa telah dibodohi.


"Um ... sebenarnya aku sengaja datang untuk menemuimu," jawab Benji seraya menatap Kinara lekat, "Aku benar-benar suka padamu. Ini bukan tipuan. Bukan trik. Aku tidak--"


"Aku sudah terlambat. Kau membuatku semakin terlambat," sela Kinara sambil menarik tangan Lorie agar mengikutinya.


"Tunggu sebentar, Kinara," cegah Benji.


Pemuda itu menyentuh pundak Kinara yang berjalan melewatinya, lalu buru-buru melepaskannya kembali ketika melihat bola mata Lorie sudah hampir keluar dari rongganya.


Kata "istri" membuat jantung Benji berdenyut hebat. Entah sejak kapan ia benar-benar jatuh cinta pada gadis polos bermata bulat di depannya itu. Setiap hari mempelajari kebiasaan dan mengamati gerak-gerik gadis itu justru menjerat hatinya sendiri ke dalam angan yang tak mungkin terjangkau.


Terakhir kali, Alex memukulinya sampai babak belur. Perlu waktu hampir satu bulan sebelum ia bisa keluar dari rumah sakit. Namun, itu semua tidak menyurutkan rasa sukanya pada Kinara. Rasa suka itu kini justru berkembang menjadi sebuah rasa yang lebih besar, rasa yang lebih sulit untuk dijabarkan.


"Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan," pinta Benji dengan wajah memelas.


Momen ini adalah satu-satunya kesempatan untuk memperingatkan Kinara, jadi ia tidak akan menyerah dengan murah. Berkali-kali ia mencoba untuk menemui Kinara, tetapi Lorie dan para pasukannya selalu berhasil memblokir usahanya. Ia hanya bisa mengamati dari jauh, mengagumi tanpa bisa mendekat. Namun kali ini, ia tidak akan menyerah begitu saja.


Kinara mendesah tidak sabar. "Aku benar-benar sudah terlambat. Alex akan membunuhku kalau sampai gagal salam ujian semester nanti," ujarnya seraya meneruskan langkah kakinya menuju ruangan kelasnya.


"Berhati-hatilah!" seru Benji dari belakang Kinara, "Jericho sedang merencanakan sesuatu. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya! Terakhir kali kami bertemu, ia mengatakan akan mengurusmu dengan baik. Itu artinya sesuatu yang buruk ... sangat buruk, akan terjadi padamu! Jadi kamu harus lebih hati-hati! Mengerti?"

__ADS_1


"Jangan dengarkan dia!" geram Lorie ketika merasakan genggaman tangan Kinara melonggar. Ia tidak ingin majikannya itu terpengaruh pada ucapan Benji kemudahan luluh.


"Kinara Lee! Aku menyukaimu! Kamu dengar aku? Berjanjilah untuk lebih berhati-hati! Aku benar-benar jatuh cinta padamu! Kamu dengar tidak?!" teriak pemuda itu lagi ketika melihat Kinara dan Lorie terus berjalan tanpa menoleh ke arahnya, "Dia tidak memakai jasaku lagi! Aku sudah berhenti! Aku berhenti, Nara! Aku berhenti!"


Benji mengabaikan tatapan heran dan sinis yang diarahkan padanya oleh mahasiswa-mahasiswa kedokteran. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia berbalik dan berjalan menuruni anak tangga dengan tubuh lunglai. Perlahan tangannya masuk ke dalam saku celana, mengeluarkannya sebuah benda pipih dan mengusap layarnya. Ponsel itu menyala.


Sorot mata Benji memancarkan binar yang tak biasa ketika jari telunjuknya menyentuh gambar galery. Ratusan swafoto dengan beraneka gaya muncul di sana. Hampir semua foto Kinara itu menampilkan senyum lebarnya yang manis dan imut.


Benji menghela napas pelan. "Mungkin seharusnya aku tidak mencuri ponselmu," gumamnya sambil terus berjalan, "Kalau aku tidak mengambil benda sialan ini, aku tidak harus melihat wajah dan senyumanmu setiap hari. Lalu ... aku tidak akan menyukaimu ... semakin menyukaimu hari demi hari. Kinara ... apa aku sudah gila? Atau, ini adalah hukuman untukku karena telah berpura-pura jatuh cinta padamu?"


***


"Tuan, mobil 03 ditemukan di gurun Atacama, Chili. Hangus. Terbakar habis."


Alex termenung sesaat mendengar laporan itu. 03 adalah salah satu informan sekaligus pengawal bayangan terbaik miliknya, tidak mungkin bisa dikalahkan begitu saja.


"Di mana posisinya terakhir kali?" tanya Alex sambil bersedekap. Kalau perkiraannya benar, pasti 03 telah berhasil menemukan sesuatu sehingga ia disingkirkan dengan cara seperti itu.


"Radar menangkap pergerakannya menuju Las Vegas sekitar dua hari yang lalu. Kemudian. Dia tidak memberi kabar lagi sampai sekarang."


"Bagaimana kalian begitu yakin bahwa mobil itu adalah miliknya?" cecar Alex.


"Satu-satunya yang membuat kami yakin bahwa mobil yang terbakar itu miliknya adalah dari brass tag dengan angka 03. Anda tahu, mustahil ada yang bisa mengambilnya benda itu dari lehernya. Hanya itu yang tersisa dari puing-puing mobil. Informasi ini langsung masuk dari database otoritas setempat."


"Ambil puing-puing mobil beserta apa yang tersisa di dalamnya. Berikan penghormatan yang layak. Kirim satu kompi pasukan untuk menyisir wilayah terakhir yang didatangi 03. Seharusnya ada sesuai di sana," perintah Alex dalam satu tarikan napas.


"Baik, Tuan."


Alex berjalan menuju kursinya dan duduk dengan kesal.

__ADS_1


"Mengapa dalam keadaan seperti ini aku malah teringat pada gadis bodoh itu," gerutu Alex seraya menyugar rambutnya.


Apa yang sedang dilakukannya sekarang?


__ADS_2