Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 106


__ADS_3

Cahaya matahari pagi yang menerobos kaca jendela sepenuhnya menyingkirkan hawa dingin sisa hujan semalam. Lorie yang sudah bangun sejak pukul lima terus berbaring diam di atas ranjang.


Tidak.


Sejujurnya, ia hampir tidak tidur semalaman, tapi ia tidak berani bergerak dan tidak berani bersuara. Ia takut Raymond tahu kalau ia sudah bangun dan datang menghampirinya.


Kelebatan kejadian tadi malam kembali muncul, berputar berulang-ulang di benaknya sehingga membuat wajahnya kembali memerah dan panas. Semalam ... setelah makan bersama, mereka berpisah untuk tidur di tempat masing-masing: Raymond di sofa ruang tengah, sedangkan Lorie di ranjangnya, sama seperti malam sebelumnya.


Akan tetapi, yang membedakan malam tadi dengan malam sebelumnya adalah Raymond yang menyelinap diam-diam ke ruangannya saat tengah malam. Mungkin karena mengira ia sudah tidur, pria itu berdiri dan menatapnya selama ... entah, rasanya seperti selamanya. Raymond hanya berdiri dan menatapnya dalam diam. Hingga akhirnya ketika ia sudah tidak tahan untuk terus berpura-pura sedang tidur, pria itu menunduk dan mencium keningnya dengan sangat lembut.


Satu kecupan singkat dan ringan seperti kupu-kupu yang hinggap di atas kelopak bunga, tapi mampu memporak-porandakan jantung dan hatinya.


Raymond tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada kata-kata semanis madu atau janji sehidup semati dan saling menjaga selamanya. Pria itu hanya mencium keningnya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu dia keluar.


Sepanjang malam Lorie terus mengingat semua tindakan Raymond itu sehingga meskipun dengan mata terpejam, ia dapat membayangakan bagaimana ekspresi pria itu saat berdiri di sisi ranjang dan menatapnya. Bagaimana ekspresi wajahnya saat menunduk dan mencium keningnya. Bagaimana gerakan tangannya saat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, Dan itu semua membuat Lorie hampir gila.


“Sudah bangun? Kenapa tidak memanggilku?”


“Eh?”


Lorie mengerjap dengan linglung saat wajah yang semalaman menjajah isi kepalanya dengan semena-mena tiba-tiba muncul di hadapannya. Sepasang mata yang polos itu menatapnya dengan sedikit curiga. Sedetik kemudian, wajah yang imut itu mendekat ... terlalu dekat sehingga Lorie tidak berani bernapas.


“Insomnia?” tanya Raymond lagi seraya menyentuh pergelangan tangan Lorie dan memeriksa detak jantungnya. Sebagai seorang dokter, ia sudah terbiasa menganalisa kondisi pasien hanya dari penampilan mereka. Dan kali ini penampilan Lorie benar-benar berantakan. Sepertinya wanita itu tidak tidur semalaman.


“Aku ....” Lorie sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Bukankah konyol jika ia mengatakan tidak bisa tidur karena pria itu menatap dan menciumnya semalam?


“Detak jantungmu cepat sekali. Apa ada masalah? Mana yang sakit?” Raymond tiba-tiba cemas. Ia langsung mengambil termometer yang tersedia di laci meja dan mendekatkannya ke kening Lorie.


“Tidak demam,” gumamnya setelah muncul angka 36.5 derajat.


Sekarang Raymond tampak keheranan. Ia ingin memegang pergelangan tangan Lorie lagi, tapi wanita itu menepisnya dengan cepat.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja,” ucap Lorie. “Hanya terkejut karena kamu tiba-tiba muncul di hadapanku.”


Sial. Bagaimana mungkin ia membiarkan Raymond memeriksa dan mendapati bahwa sekarang detak jantungnya justru semakin menggila dan abnormal?


Kalau kamu terus berada sedekat ini, bisa-bisa detak jantungku terdengar dari ruang angkasa, Raymond Dawson.


“Kenapa kamu ke mari?” Lorie balik bertanya untuk mengalihkan perhatian pria itu.


“Aku hanya ingin memeriksamu. Tapi saat aku masuk tadi, kamu tidak menyahut saat aku memanggil, jadi aku pikir ada yang salah denganmu. Syukurlah kalau tidak apa-apa.”


Hah. Memang ada yang salah ... otakku yang bermasalah.


Lorie menggerutu dalam hati. Ia menggigit bibirnya dan memalingkan wajah. Sekarang bagaimana caranya mengusir pria itu dari kamarnya? Berada sedekat ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


“Bisakah kamu keluar dulu? Aku ingin mandi,” pinta Lorie.


“Mandi?” Kening Raymond mengernyit. “Kondisi tubuhmu belum terlalu pulih. Jangan mandi dulu.”


“Tetap tidak boleh.” Raymond langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Tunggu di situ.”


Lorie tidak sempat membantah lagi, Raymond sudah menghilang ke dalam kamar mandi. Tapi itu hanya sebentar. Tidak sampai lima menit kemudian, pria itu keluar dengan membawa handuk kecil dan sebuah wadah berisi air.


“Duduk di kursi, aku akan menyeka tubuhmu.”


“Ap—apa?”


Lorie terlalu terkejut untuk memberi respon. Ia membeku di tepi kasur dan menatap Raymond seolah pria itu baru saja memintanya untuk melompat dari lantai 25.

__ADS_1


“Duduk di kursi,” ulang Raymond seraya memapah tubuh Lorie yang masih membeku dan membantunya duduk di kursi yang ditariknya dari ruang tengah.


“Ak-aku bisa—“


“Diam.”


Raymond menunduk dengan ekspresi yang sangat serius mengulurkan tangan untuk membuka kancing piyama Lorie.


“R-ray?” Lorie menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Apa yang kamu lakukan?”


Alis Raymond bertaut di kening. Pria itu terlihat tidak puas, tapi pada akhirnya ia tetap mengalah.


“Aku hanya ingin membantumu saja. Kalau tidak percaya, kamu saja yang lepaskan.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Raymond memutar dan duduk di belakang Lorie. Ia lalu mencelupkan handuk kecil ke dalam wadah berisi air hangat, lalu memeraskan hingga tidak ada lagi air yang menetes.


“Cepat sedikit, nanti airnya jadi dingin,” ujarnya lagi saat melihat tubuh Lorie yang masih menegang di hadapannya.


Dengan ragu-ragu Lorie melepaskan dua kancing piyamanya, lalu menurukan kerah bajunya ke arah belakang.


Raymond yang sejak semula memang tulus dengan niat untuk membantu Lorie tiba-tiba merasa menyesal. Melihat permukaan kulit yang terekspos tepat di depan wajahnya membuatnya harus menelan ludah dengan susah payah. Tak ada lagi niat mulia sebagai seorang dokter. Otaknya tidak bisa diajak bekerja sama lagi.


Sialnya. Tiba-tiba gambaran paparan kulit yang halus dan lembut yang disentuhnya malam itu terlihat dengan jelas.


Malam itu ....


***


Uhuk!


Jangan lupa likeeee

__ADS_1



__ADS_2