
Alex melemparkan kunci kepada pria yang berjalan di sisinya dan berkata, "Kamu yang menyetir, Nick."
Pria berambut ikal itu menangkap untaian logam itu dengan sigap, lalu menggenggamnya dengan erat. Ia mengangguk sekilas pada Alex, lalu membuka pintu mobil minivan kuning muda dengan tulisan "All Day Service" berwarna merah. Ini bukan misi pertamanya, tapi baru kali ini ia menjalankan misi langsung bersama ketua sehingga membuatnya sedikit gugup.
"Setelah kita masuk nanti, fokus untuk membawa istriku keluar dengan selamat. Mengerti?"
"Baik, Tuan," jawab pria bernama Nick itu sambil menyalakan mobil.
Ia mengendarai minivan itu keluar dari gang kecil tempat mereka bersembunyi. Gudang milik Andromeda Corporation dikelilingi oleh tembok baja setinggi hampir 15 kaki, membuat bangunan itu cukup mencolok di antara bangunan lain. Nick memelankan laju mobil ketika mendekati pos penjagaan. Alex menurunkan kaca jendela dan melambaikan tangan ke arah pos.
Dua orang pria dengan seragam security keluar dari pos dan menghampiri mobil yang ditumpangi Alex dan Nick. Salah satu petugas itu bertubuh tinggi besar, sedangkan yang seorang lagi lebih kecil dan pendek.
"Tanda pengenal," pinta pria yang bertubuh lebih besar.
Pria yang lebih pendek langsung berjalan mengelilingi mobil dan memindai dengan alat pendeteksi.
"Kami menerima telepon yang mengatakan lantai tiga bermasalah, Sir," ujar Alex sambil menyerahkan tanda pengenal palsu dan surat jalan yang dibuatkan oleh Lorie.
Petugas itu melihat tanda pengenal milik Alex dan Nick, kemudian mencocokkannya dengan wajah mereka berdua.
"Clear," ujar pria yang baru saja selesai memeriksa mobil minivan.
Pria bertubuh bongsor mengangguk puas. Setelah yakin semuanya sama, ia membaca surat jalan dan menandatanganinya.
Tak lama kemudian, ia mengembalikan tanda pengenal dan surat jalan pada Alex sambil berkata, "Masuklah, cepat perbaiki dan cepat keluar. Tuan tidak suka ada orang asing berkeliaran di dalam."
"Siap, Komandan," jawab Alex sambil mengangkat tangan kanan dan melambai sekilas pada petugas itu.
Ia menaikan kembali kaca jendela dan berkata pada Nick, "Ayo, jalan."
Mobil kembali bergerak perlahan, melewati pria-pria berseragam semi-militer yang memegang senapan laras panjang. Tempat ini benar-benar dijaga dengan sangat ketat. Nick memarkir mobil di parking lot, lalu turun dan mengambil tas peralatan di belakang.
Alex pun keluar dan mengambil tangga lipat. Tatapan matanya lurus ke depan ketika berjalan memasuki mesin pemindai di pintu masuk. Meski begitu, mikro kamera pada kaca matanya menangkap semua objek dan memberi informasi melalu tampilan digital di layar kacamata.
Tampilan luar bangunan ini terlihat seperti gudang, tapi design bagian dalam lebih menyerupai kantor. Semua peralatan yang digunakan cukup canggih dengan model terbaru, beberapa bahkan belum ada sama sekali di pasar internasional. Hal itu membuat Alex cukup yakin bahwa siapa pun sosok di balik Andromeda Corporation pasti memiliki hubungan dengan jaringan mafia dari berbagai belahan dunia. Hal ini berarti ia tidak boleh meremehkan musuhnya sama sekali.
Dua orang pengawal kembali menghadang Alex dan Nick di meja resepsionis. Salah satunya memakai topi, sedangkan pria yang lain berambut gondrong diikat dengan rapi. Raut wajah pria berambut gondrong lebih kejam dan bengis.
"Sir. Kami harus memeriksa barang bawaan Anda," ujar pria bertopi. Ada bekas luka yang cukup jelas di pelipisnya.
"Silakan," kata Alex sambil tersenyum dan menyerahkan tangga di tangannya pada pria itu.
"Terima kasih," kata pria itu sambil memeriksa tangga lipat yang disodorkan oleh Alex. Setelah yakin tidak ada yang mencurigakan dari benda itu, ia meletakkan benda itu di lantai lalu menggeledah tubuh Alex.
Si pria berambut gondrong membuka tas yang dibawa Nick. Ia mengeluarkan semua peralatan dan memeriksanya satu per satu dengan cermat. Setelah yakin tidak ada benda lain selain alat-alat teknisi, ia menutup tas dan meletakkannya di lantai.
__ADS_1
"Berbalik," perintahnya sambil menggeledah tubuh Nick. Ia menyerahkan tas Nick kembali sesudah semua pemeriksaan selesai.
"Ayo," ajak pria yang memakai topi seraya berjalan menuju lift, sementara si gondrong mengawal dari belakang.
Pria itu menekan angka tiga, lalu membiarkan Alex dan Nick masuk ketika pintu lift terbuka.
"Kalian orang baru?" tanyanya ketika lift mulai bergerak naik, "Biasanya Miguel dan Kevin yang datang kalau ada yang rusak."
"Yeah. Sedang ada pertukaran karyawan di kantor," jawab Alex sambil menatap angka di atas pintu lift yang berganti dengan cepat.
Ting.
Pintu lift berdenting dan terbuka.
"Lewat sini," ujar pengawal bertopi yang kembali berjalan di depan.
Alex dan Nick mengekor dengan patuh, mengabaikan beberapa pria berseragam yang memegang senjata semi otomatis di depan lift dan ujung lorong. Mereka tetap bersikap tenang, berjalan dan beberapa kali berbelok hingga akhirnya si pengawal yang memakai topi berhenti di dekat pintu berwarna cokelat.
"Seluruh mesin pendingin di selasar ini tidak berfungsi dengan baik sejak dua hari lalu. Coba kalian periksa. Aku rasa ada masalah dengan sumber dayanya," kata pria itu sambil melepas topinya dan mengibas-ngibaskannya di depan muka.
Si gondrong mengeluarkan anak kunci dari dalam saku baju dan membuka pintu. "Masuk," perintahnya.
Alex dan Nick berjalan masuk dengan patuh. Raut wajah Alex sedikit berubah ketika melihat ruangan itu terlihat seperti ruang rapat, ada banyak kursi tersusun rapi. Dua buah lemari arsip yang cukup besar di dekat jendela dan sebuah layar proyektor yang cukup besar membuat ruangan ini semakin tidak terlihat seperti gudang.
Tidak masalah, yang mana pun itu, ia sudah menyiapkan semuanya.
"Sepi sekali di sini," ujar Alex sambil meletakkan tas di atas lantai dan mengeluarkan perkakasnya.
"Oh, akan ada acara di lantai dua. Tadinya akan diadakan di sini tapi mesin pendingin sialan ini malah mati, jadi tuan memindahkannya--"
"Kau terlalu banyak bicara, James," tegur si gondrong sambil memelototi rekannya.
Pria yang disebut James itu langsung terdiam dan membetulkan topinya dengan sedikit gugup.
"Kalian akan tetap di sini?" tanya Nick ketiga melihat dua orang pengawal yang mengantar mereka tadi masih berdiri di dekat pintu.
"Kenapa? Keberatan?" balas si gondrong.
Nick terseyum lebar. "Tentu saja tidak, lakukan apa pun yang kalian mau" jawabnya.
"Cepat selesaikan pekerjaan kalian dan pergilah," ujar si gondrong sambil menutup pintu dan berdiri menghalanginya.
"Baik."
Alex mengambil obeng dan kunci untuk membuka mesin pendingin ruangan. Ia melirik jam dinding sekilas. Sudah hampir 10 menit sejak mereka tiba di sini. Seharusnya Billy dan Kinara sudah sampai. Ia menoleh pada Nick dan memberi isyarat.
__ADS_1
Nick menunduk dan mengambil tangga lipat. Ia menegakkan benda yang terbuat dari logam itu dan mencoba menariknya agar memanjang.
"Hey, bisa tolong bantu aku?" pintanya seraya berjalan menghampiri dua orang pengawal yang bersiaga di dekat pintu. Gerakan tangannya tidak terlihat ketika menekan tombol perak di sisi kanan lipatan besi yang menyerupai baut.
Klik.
Sret!
"Ugh!"
Dua orang pengawal itu terjajar ke belakang dengan mata terbelalak. Mereka benar-benar tidak mengira akan mendapat serangan mendadak. Sebilah besi tajam melesat keluar dari lempengan anak tangga dan langsung menancap di leher mereka, meninggalkan lubang menganga yang mengucurkan darah dengan deras. Bunyi mengorok yang aneh bergema dalam ruangan ketika mereka mencoba untuk berteriak.
Alex menggenggam obeng dan menusukkannya ke jantung dua orang pengawal itu hingga mereka tak bergerak lagi. Ia melirik CCTV yang terpasang di sudut atas ruangan tanpa rasa takut. Ia cukup yakin Lorie sudah mengatasinya.
"Merepotkan saja," gerutunya seraya membersihkan cipratan darah dari tangan dan wajahnya, "Cepat bereskan mereka. Aku akan menghubungi Lorie, mungkin Billy sudah sampai."
"Baik," jawab Nick seraya menyeret jasad dua orang pengawal itu dan memasukkannya ke dalam lemari.
Alex membuka kacamatanya dan menekan bulatan kecil merah di dekat gagang kiri, lalu memakainya kembali. Ia mengeluarkan sebuah alat komunikasi yang mirip kancing baju dan menempelkannya di kerah baju paling atas. Suara gemerisik terdengar tak lama kemudian.
"Lorie, di mana Billy?"
"Billy dan nyonya baru saja memasuki pos penjagaan."
"Baik."
Alex mendorong pintu dan mengintip keluar. Hanya ada satu penjaga di dekat lorong masuk tadi. Alex menurunkan topinya dan berjalan menuju toilet di ujung selasar. Ia masuk dan mengunci pintu, lalu menuju bilik ketiga. Setelah menutup kloset duduk, ia naik dan bertumpu pada benda itu dan mendorong penutup ventilasi udara hingga terbuka. Tangannya merogoh masuk, meraba-raba untuk mencari bungkusan yang diletakkan oleh mata-matanya sejak dua hari lalu. Wanita-wanita yang menyamar sebagai cleaning service itu memasukkan peralatan yang ia butuhkan satu per satu di sini.
Sebuah bungkusan plastik teraih oleh tangannya. Alex membukanya dengan cepat dan merakit isi dalam bungkusan itu. Setelah selesai, ia kembali naik ke atas kloset dan mengambil bungkusan-bungkusan lain.
"Tuan?" panggil Nick dari depan pintu kamar mandi.
"Sebentar," jawab Alex seraya membukakan pintu, "Di mana pengawal itu?" tanyanya sambil melongok ke ujung lorong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Aku sudah membereskannya," jawab Nick.
"Bagus. Cepatlah," ujar Alex sambil menunjuk bungkusan yang berhasil diambilnya.
Nick merakit senapan miliknya dengan cekatan, lalu membantu Alex memasang alat peledak di kamar mandi. Mereka baru saja akan berjalan keluar ketika suara Lorie terdengar dari microphone.
"Tuan, nyonya sudah dibawa ke aula utama di lantai dua. Ada sekitar lima lusin pengawal di sana. Pasukan sudah berada di posisi, menunggu konfirmasi Anda."
"Pandu aku ke sana," perintah Alex sambil memasukkan pistol ke balik bajunya dan menerobos keluar.
***
__ADS_1