Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 113


__ADS_3

Jawaban Raymond tidak hanya membuat Lorie terpana, bahkan Dokter Ana yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka dari samping kini menatap Raymond dengan cara yang berbeda. Mulanya ia mengira pria itu akan melarikan diri begitu mengetahui apa yang ia dan Lorie lakukan di Red Room, atau setidaknya mengarang alasan untuk segera pergi dari sana. Namun, pria itu bukan hanya tidak keberatan, tapi juga mengatakan tetap menyukai sahabatnya. Sekarang ia tidak punya alasan lagi untuk menghalangi mereka berdua, ‘kan?”


“*Um* ... kalian berdua bicara saja dulu. Aku akan pergi melihat Alex dan Billy,” ucap Dokter Ana.



Sebelum keluar dari ruangan itu, tidak lupa ia menekan tombol sehingga tembok pembatas kembali turun dan memisahkan ruangan mereka dengan ruangan penyiksaan di seberangnya. Sekarang masalah apakah Lorie akan menerima Raymond atau tidak, ia tidak akan ikut campur lagi.



Lorie yang ditinggalkan berduaan dengan Raymond masih belum memutuskan apakah pria di hadapannya itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya, atau hanya sekadar berbasa-basi untuk menyenangkan hatinya saja. Siapa yang bisa menebak isi hati manusia, bukan?


Bagaimana kalau dia langsung berbalik dan pergi melapor ke kantor polisi setelah keluar dari tempat ini? Begitu pikir Lorie. Sejujurnya, ia belum bisa percaya 100 persen kepada Raymond Dawson, meski ucapan pria itu baru saja membuat hatinya meleleh, terasa lembut dan manis seperti es krim di musim panas.


“Kamu tidak percaya kepadaku, bukan?” tanya Raymond.


Wajah pria itu berubah muram saat melihat Lorie hanya berdiri dan menatapnya tanpa perubahan ekspresi yang berarti. Hal itu membuat hatinya terasa sedikit tidak nyaman. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan. Ia tetap menyukai Lorie meski wanita itu sangat kejam dan berdarah dingin. Hal itu tidak bisa disangkalnya sama sekali. Hatinya ... entah bagaimana telah tertaut kepada wanita itu tanpa bisa dikendalikan.


Lorie memalingkan wajah tanpa bersuara. Ia memang tidak percaya dan tidak ingin mengatakan yang sebaliknya.


“Katakan, bagaimana agar kamu dapat mempercayaiku, Lorie?”

__ADS_1


“Kamu sungguh tidak marah karena aku menyandera mantan tunanganmu dan menyiksanya di sini?” Lorie balik bertanya. Ia sungguh tidak percaya bahwa Raymond tidak keberatan sama sekali.


“Tidak. Aku hanya terkejut, tapi tidak marah kepadamu. Apa yang telah dia lakukan kepadamu dan bayi kita ... itu tidak lebih baik dari pembalasan yang kamu berikan untuknya, jadi aku tidak akan berkomentar apa pun. Lagi pula, aku juga bukan orang suci,” jawab Raymond.


Tidak ada orang yang benar-benar suci di dunia ini jika sudah berkaitan dengan balas dendam karena kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Apa lagi hal yang berharga itu pernah tumbuh dan berkembang di dalam rahim Lorie.


Raymond sangat memaklumi jika Lorie sangat membenci Alice dan ingin membunuhnya dengan cara yang keji. Bukankah ia sendiri hampir mencekik Alice hingga mati saat berada di lobi hotel? Atas dasar apa ia harus menghakimi pembalasan yang sedang dilakukan oleh Lorie sekarang?


Melihat kesungguhan Raymond, Lorie sedikit melunak. Raut wajahnya yang semula tegang dan defensif perlahan menjadi lebih santai.


“Bagus kalau begitu, karena jika kamu berlutut dan memohon pun ... aku tidak akan melepaskannya,” gumamnya pelan.


“Jadi, hanya ini yang ingin kamu tunjukkan kepadaku?”


“Karena semuanya sudah jelas, bisakah kita berkencan?”


“Ap-apa?” Lorie sama sekali tidak menyangka arah pembicaraan yang berubah secara tiba-tiba itu. Ia menatap Raymond seolah pria itu memiliki empat mata dan dua mulut.


Apakah dia sudah tidak waras? Bagaimana bisa mengajak berkencan dalam situasi seperti ini?


“Aku bilang ... Lorie, bisakah kita berkencan?” ulang Raymond. “Aku tahu apa maksudmu mengajakku datang ke sini. Karena aku sudah menyatakan sikapku, tidak bisakah kita memulai semuanya dari awal?”

__ADS_1


Ia bukan orang bodoh. Apa maksud Lorie, ia bisa menebaknya dengan sangat jelas. Jika ia tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengukuhkan hubungan mereka, bukankah itu berarti ia yang sangat bodoh?


Wajah Lorie sedikit memerah karena pernyataan itu. Apakah sekarang Raymond sedang berpikir bahwa ia adalah wanita yang picik karena telah menggunakan mantan kekasihnya untuk menguji perasaannya?


Lorie menunduk dan bergumam, “Aku ....”


“Kalau kamu setuju, jangan menamparku ....”


“Eh?”


Mata Lorie terbuka lebar saat melihat Raymond mendekat. Ia mundur dengan gugup, tapi sekejap kemudian tubuh pria itu sudah melingkupi dirinya sepenuhnya.


Ia membuka mulut dan bergumam, “A-apa yang kamu—umh!”


Bibir yang lembab dan hangat membungkus mulutnya, membungkam semua protes yang akan ia lontarkan ... menyebarkan aroma mint yang segar dan membuatnya kehilangan akal sehat.


Lorie tercengang dan mengerjap dengan linglung saat lidah Raymond melibas bibirnya dan menyesap dengan kuat.


Seluruh tubuhnya gemetar ... gemetar hingga ke tulang dan syaraf.


***

__ADS_1


uhuk!



__ADS_2