Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 104: Wanita Milikku


__ADS_3

Alex terus berusaha memeluk istrinya, tetapi gadis itu pun terus meronta.


"Lepaskan! Aku harus membersihkannya!" desis Kinara dengan amarah meletup-letup. Ia menepis tangan Alex dengan tatapan mata yang kosong, seakan tidak mengenali siapa yang sedang memeluknya saat ini.


“I-ini kotor ... sangat kotor, aku benci ... kenapa tidak mau hilang? Kenapa bekasnya tidak menghilang ... kotor sekali ... aku benci ... sangat benci,” racau Kinara. Tangannya terus menggosok bibir dan lehernya tanpa henti.


"Hentikan, Nara ...,” ujar Alex dengan suara serak dan dalam. Ia mematikan shower, lalu menarik handuk dan melilitkannya ke tubuh istrinya. Seluruh gaun tidur gadis itu basah kuyup.


Lagi-lagi Kinara meronta, ingin melepaskan diri dari kungkungan suaminya. Namun Alex bergerak lebih cepat, ia merengkuh dan mengangkat tubuh gadis itu.


"Ah!"


Kinara terpekik kecil, lalu secara refleks melingkarkan kakinya di pinggang suaminya.


“I got you, Baby, i got you ...,” ujar Alex untuk menenangkan istrinya.


Pria itu menggendong Kinara keluar dari kamar mandi, lalu membaringkannya dengan sangat hati-hati di atas ranjang. Tak lama kemudian, ia melompat naik dan menumpukan kedua tangan di sisi kanan dan kiri tubuh Kinara.


Alex meraih telapak tangan istrinya dan menciuminya dengan penuh cinta. Setelah kepanikan Kinara sedikit mereda, ia menempelkan keningnya di kening gadis itu, membiarkan embusan napas mereka berbaur di udara. Ia lalu menuntun jemari Kinara dan meletakkannya di dadanya, membiarkan debaran yang menggila di dalam sana memberitahu semuanya pada gadis itu.


"Biarkan aku membantumu ...," bujuk Alex setengah berbisik, "Di mana dia menyentuhmu?"


Jemari Alex mengusap bibir istrinya dengan sangat lembut. "Di sini?" tanyanya.


Pria itu menunduk, menghapus jarak di antara mereka dan mendaratkan satu kecupan lembut di bibir istrinya. Lidahnya mengusap permukaan bibir Kinara dengan sangat perlahan, menjil*t dan mengul*m dengan sangat hati-hati.


Kinara terkesiap ketika sentuhan seringan sayap kupu-kupu itu membuat seluruh rambut halus di sekujur tubuhnya meremang. Ia mengerjap perlahan. Tatapan matanya yang hampa tiba-tiba melembut ketika Alex memperdalam ciuman mereka, menjarah isi mulutnya dengan rakus, tidak memberi kesempatan baginya untuk menolak.


Alex baru menjauhkan wajahnya ketika mereka berdua telah sama-sama kehabisan napas. Pria itu memerhatikan wajah Kinara yang mulai memerah, tidak lagi sepucat mayat. Ia tersenyum manis dan mengulurkan jemari untuk mengusap bekas kemerahan yang masih tercetak jelas di leher istrinya.


Pandangan mata Alex nanar, melihat pembuluh nadi yang berdenyut cepat di leher jenjang Kinara, lalu menyingkirkan gaun tidur yang menutupi pundaknya.


Jemarinya bergerak menyusuri leher dan tulang selangka istrinya, membelai dengan penuh rasa sayang sambil berbisik, "Dia menyentuhmu di sini juga?"


Alex kembali mendekatkan wajah, lidahnya menyapu pembuluh darah yang berdetak kencang di permukaan kulit istrinya, mengigit dan mengis*ap hingga gadis dalam pelukannya mengerang pelan. Deru napas mereka kembali tak beraturan, tetapi Alex tidak ingin berhenti. Ia terus mencecap dan mencu*mbu setiap bagian yang dapat dijangkau, mengetatkan pelukannya hingga Kinara benar-benar menyatu dengan tubuhnya.


Kinara menggigil, bukan karena kedinginan, tetapi karena sentuhan Alex membuatnya tidak bisa bernapas dengan benar. Suaminya masih menyentuhnya dengan cara yang sama, mendambanya sebesar keinginannya untuk memiliki pria itu. Meski begitu, tetap saja ia merasa tidak layak. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Seluruh sabun di dunia ini tidak akan bisa membersihkan noda yang menempel di tubuhnya.


“Umh!” erang Kinara ketika kepala Alex bergerak semakin ke bawah. Tanpa sadar ia mencengkeram pundak pria itu erat-erat.


Alex mendongak ketika merasakan tubuh Kinara kembali menegang. Ia menangkup wajah istrinya, membelai pipi gadis itu dan menciumi kedua kelopak matanya yang tertutup rapat.


“Sayang, lihat aku ...,” bujuk Alex, “Lihat aku, oke?”


Bulu mata yang lentik itu bergetar pelan ketika kelopak mata Kinara terbuka. Ia mengerjap dengan linglung dan menatap wajah suaminya yang hanya berjarak tidak lebih dari satu jengkal. Wajah pria di hadapannya benar-benar merah padam, matanya dipenuhi kabut yang indah, kabut yang selalu muncul ketika mereka bermesraan dulu. Dulu ... seakan hal itu sudah terjadi lama sekali.


“Apa dia ... dia juga menyentuhmu di sini?” tanya Alex tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Kinara. Sementara itu, ibu jarinya menelusup masuk ke dalam bra, mengusap pelan puncak bukit yang mengeras dalam genggamannya. Buah cherry miliknya. Bulatan kecil itu terasa dingin dan lembut.

__ADS_1


Kinara terkesiap hingga kepalanya sedikit mendongak.


Alex menggeram. Ia kembali melum*at bibir istrinya yang terbuka, sedangkan jemarinya terus mengusap dan membelai ... memilin cherry mungil miliknya dengan gemas hingga istrinya menggeliat dan mengerang putus asa.


“Lihat aku, Baby ...,” ujar Alex dengan napas terengah-engah, “Di mana pun dia menyentuhmu, itu tidak penting. Oke? Aku mencintaimu ... kamu dengar? Aku mencintaimu ....”


Pria itu menunduk dan melahap dada yang membusung itu dengan rakus, memainkan lidah dan bibirnya di sana hingga punggung Kinara melengkung dan gemetar.


“Umh ... oh, Alex?” desah Kinara seraya mencengkeram rambut suaminya.


“Hum?”


“Aku ... aku ... ini ... oh, aku ....”


Pandangan Kinara mengabut. Lidah suaminya yang hangat terasa ... oh, astaga, ia hampir meledak.


Gadis itu mengatur napasnya yang tersengal-sengal ketika akhirnya Alex berhenti. Tangan dan kakinya benar-benar lemas. Ia tidak sempat memikirkan baju tidurnya yang sudah melayang entah ke mana. Tidak sempat memikirkan apa pun. Lidah suaminya yang menari-menari di permukaan kulitnya mengaburkan akal sehatnya.


Alex menatap istrinya yang sedang kepayahan mengatur deru napas. Ia tersenyum lembut dan merapikan anak rambut gadis itu yang mencuat ke mana-mana. Dadanya yang indah bergerak naik turun tak beraturan. Kini ada semakin banyak bercak kemerahan di sana, tapi ia cukup yakin tidak ada lagi bekas yang ditinggalkan oleh Jericho. Semuanya adalah bukti kepemilikannya.


Pria itu menciumi kelopak mata istrinya dan berkata, “Kinara Lee, aku mencintaimu. Katakan, apakah–“


“Aku mencintaimu!” sela Kinara dengan suara serak. Air mata kembali menetes di pipinya. Namun kali ini tidak ada rasa sakit. Dadanya terasa sesak, tapi karena rasa bahagia. Ia baru tahu kalau ternyata menangis juga bisa terasa sangat membahagiakan.


“Ketika berpikir bahwa mungkin aku akan kehilanganmu sebelum sempat mengatakan bahwa aku mencintamu, aku benar-benar hampir gila," sambung Alex seraya membelai wajah istrinya.


Tangan Alex terulur dan menyusut air mata pipi istrinya. “Shhh ... jangan menangis lagi,” ujarnya.


Pria itu menunduk, mengecup bibir istrinya seraya memohon, “Baby, bolehkah aku ....”


Kinara membuka matanya, menatap manik kelam yang sedang memandangnya dengan tatapan penuh cinta, kerinduan, juga gairah yang membara. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras menekan perutnya. Gadis itu menganggukkan kepalanya tanpa ragu-ragu.


Tentu saja boleh!


Jemari gadis itu menyentuh wajah suaminya, menyusuri garis wajah rupawan itu dan mematrinya dalam ingatan untuk selamanya. Mulai sekarang, ia tidak mau menyia-nyiakan waktu atau melewatkan kesempatan berharga, sekecil apa pun itu. Ia akan membuat setiap momen yang ia lewati bersama suaminya sangat berarti dan tidak akan terlupakan.


“Lakukan apa pun yang kamu mau ... aku ....” Kinara menatap lurus ke mata Alex sebelum melanjutkan, “Aku milikmu.”


Alex menelan ludah dengan susah payah. Leher indah itu miliknya. Tubuh mungil itu miliknya. Seumur hidup. Hanya miliknya.


“Aku tidak akan menahan diri lagi, Sayang,” bisik Alex di telinga Kinara. Telapak tangannya menyusuri lengan istrinya, mengait jemari mungil itu dan menahannya di atas kepala.


Kinara terkesiap ketika bibir suaminya yang lembut dan basah bergerak liar, meninggalkan jejak membara di sekujur permukaan kulitnya. Desisan pelan lolos dari bibir Kinara. Rasanya sangat menakjubkan. Tangannya terulur ke atas untuk membuka kancing kemeja Alex satu per satu, lalu menariknya sampai lepas.


Inisiatif kecil itu menyulut api yang terpendam dalam diri Alex. Jemarinya menyusup di bawah tubuh Kinara untuk melepas pengait bra istrinya, kemudian merem*as dengan lembut gundukan bukit yang mencuat di depan wajahnya. Ia melum*at cherry miliknya dengan rakus, mengul*um dan menjilat*nya seperti permen lolipop yang manis.


Kinara menggeliat di bawah tubuh suaminya. Semua rasa takut dan malu menghilang begitu saja, menyisakan gairah yang menuntut untuk dipuaskan. Uap air mengalir keluar dari pori-pori, berkumpul menjadi butiran keringat membasahi sekujur tubuh. Gadis itu mengatupkan pahanya ketika tangan sang suami bergerak turun di sana. Ia menggeleng pelan, tetapi Alex tidak memberinya kesempatan untuk menolak.

__ADS_1


Kedua tangan pria itu terus bergerilya, menyentuh bagian-bagian yang paling intim dan sensitif di tubuh istrinya. Ia menjarah mulut Kinara, merayu dengan ciumannya yang manis dan memabukkan. Lidah mereka saling membelit, saling memagut dan ....


“Engh,” erang Kinara ketika Alex mengusap inti tubuhnya dengan sangat lembut. Jantungnya seperti akan hancur berantakan. Paru-parunya tidak lagi dapat menyaring oksigen dengan baik.


“Alex ....”


“Katakan ‘ya’ dan aku tidak akan berhenti,” geram Alex dengan napas terengah. Ia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.


“Ya, Alex ... ya ....”


Persetujuan itu menghancurkan benteng pertahanan diri Alex. Pria itu melahap habis bibir istrinya dan mulai menerobos masuk.


“Engh! Umh!”


Tubuh Kinara menegang ketika menyadari milik suaminya melesak melalui celah yang sempit. Bulir keringat semakin banyak berkumpul di keningnya. Ia memejamkan mata dan mengigit bibir kuat-kuat. Rasa sakit dan perih yang dahsyat merobek dan menghancurkan indera perasanya.


“Alex!” jerit Kinara seraya mendongak. Kuku-kukunya menancap di lengan suaminya hingga permukaan kulit pria itu memerah dan lebam.


“Aku mencintaimu, Baby ... aku mencintaimu,” ujar Alex sebelum menghujam dalam-dalam.


“Oh! Alex! Oh ... Sayang ... Sayangku ... Alex,” racau Kinara ketika rasa sakit bercampur dengan seuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Alex diam sebentar, menatap istrinya yang bermandikan keringat dan tampak sangat kesakitan. Ia mengusap bulir bening yang menetes dari sudut mata gadis ... tidak, bukan gadis lagi, ini adalah wanitanya ... sekarang perempuan ini adalah wanitanya. Wanita miliknya. Seutuhnya.


“Sakit?” tanya Alex seraya mengecup setiap sudut wajah Kinara. Ia masih belum berani bergerak meski rasa yang tak terlukiskan sudah hampir meremukkan akal sehatnya.


Kinara menganggguk cepat, kemudian menggeleng ... mengangguk, lalu kembali menggeleng.


Alex terkekeh melihat wanitanya yang masih mengigit bibir sambil memejamkan mata itu. Ia menunduk dan melum*at bibir Kinara yang sudah memerah dan bengkak. “Jadi sakit atau tidak?” tanyanya di sela ciuman.


“Sakit, tapi juga ... um, nikmat?”


Wajah Kinara memerah hingga leher. Ia mengangkat tangan untuk menutupi mukanya, tetapi Alex menahan kedua lengan mungil itu di atas ranjang.


“Apa aku sudah bilang kalau aku mencintaimu?” gumam Alex sebelum bergerak pelan. Sangat pelan dan hati-hati, kemudian gelombang kenikmatan yang berkumpul di satu titik membuatnya semakin liar. Gerakannya semakin cepat dan intens hingga mereka berdua sama-sama hampir gila dan hancur berkeping-keping.


Kinara menggapai dan merem*as apa pun yang terjangkau oleh tangannya. Sedangkan Alex melum*at dan melahap apa pun yang tersentuh oleh lidahnya.


“Alex ... Alex, Sayang ... aku ...,” erang Kinara seraya menarik rambut suaminya sekuat tenaga. Rasanya ia benar-benar akan hancur.


“Yes, Baby ...?”


Alex mengentak sekuat tenaga, menekan dengan keras hingga tubuh Kinara bergetar hebat di bawahnya. Gelombang demi gelombang datang beruntun, bergulung, menghantam dan mendesak pada satu titik. Seluruh tubuh Alex menegang ketika titik itu meledak bagai supernova. Ia mengerang kuat ketika mencapai puncak pelepasannya.


“Aku mencintaimu, Kinara Lee,” desis pria itu sebelum ambruk di atas tubuh istrinya.


***

__ADS_1



__ADS_2