
Malam menjelang dan Tika sampai saat ini masih di kurang di dalam kamarnya sendiri, membuat sang ibu merasa khawatir dengan putri pertamanya itu. Di tambah Tara yang terus saja memohon pada sang ayah untuk membukakan pintu kamar sang kakak.
"Pa, ayolah semua ini bisa dibicarakan baik-baik, jangan malah mengunci Kak Tika di dalam kamarnya seperti ini," kata Tara sambil memegang tangan Arzan, karena ia berharap supaya sang ayah mau mendengarkannya dengan cara memberikannya kunci kamar Tika. "Pa, mungkin saja Kak Tika juga saat ini sedang kelaparan di dalam, karena dari tadi siang dia belum makan." Tara akan terus berusaha membujuk sang ayah, karena ia tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan sang kakak. Meskipun, Tara sempat membenci Tika. Namun, bukan berarti ia harus terus-terusan membenci sang kakak, apalagi dalam keadaan begini membuat Tara harus bisa mendapatkan kunci dari tangan Arzan.
"Cukup Tara, kamu pulang saja ke rumah suamimu. Dan jangan ikut campur," ucap Arzan yang terlihat berdiri menatap orang-orang yang sedang mengangkut kursi dan berbagai jenis alat dekorasi yang digunakan untuk menghias rumah itu. Di acara sakral sang putri. Namun, acara sakral yang harus bahagia malah berubah menjadi penuh haru. Tatkala acara itu dibatalkan karena mempelai laki-lakinya tidak kunjung datang. "Pulanglah, sebelum Papa yang akan menyuruh Pak Toni mengantarmu," ujar Arzan yang masih berbicara datar pada putrinya. Sebab suasana hati laki-laki itu sedang tidak karuan. Karena tadi juga ia mendapat kabar kalau anak buahnya tidak bisa menemukan keberadaan Dion.
"Aku tidak akan pulang jika Papa tidak membuka kamar Kak Tika," timpal Tara membalas kalimat sang ayah. "Aku ulangi sekali lagi Pa, bahwa aku tidak akan pulang jika Papa ti–"
__ADS_1
"Tara anak Mama," potong Yana cepat. "Ayo ikut Mama," sambungnya lagi yang ternyata wanita itu tidak mau membuat amarah sang suami, semakin menjadi-jadi oleh sebab itu, Yana memilih untuk menjadi penengah antara Tara dan Arzan. Karena Yana juga sebenarnya saat ini sangat berharap kalau sang suami akan membuka pintu kamar Tika.
"Ma, jangan seperti Papa. Ayo Mama tolong Kak Tika, karena aku merasa sangat kasihan dengannya, apalagi Kak Tika berada di dalam terus-terusan dan pasti saat ini dia juga sangat kelaparan." Meski Tara diperlakukan begitu oleh Tika. Tapi wanita itu sama sekali tidak dendam dengan sang kakak, membuat Yana merasa kalau pemikiran Tara sudah dibilang cukup dewasa. "Mama, ayolah bujuk Papa," rengek Tara seperti anak kecil.
Yana menatap Tara sambil membalas kalimat putrinya. "Sayang, kamu lebih baik pulang saja, karena apa yang dikatakan oleh Papa kamu benar kalau kamu harus segera pulang diantar oleh Pak Toni. Mama takut kalau Gio nanti akan marah padamu," ujar Yana.
"Diam Tara ...!" bentak Arzan yang kali ini benar-benar sangat marah. "Kamu pikir, dengan Papa mengeluarkan anak bo doh itu, nama Papa akan kembali baik di mata para tamu undangan yang telah datang di acara tadi pagi. Dan akan dimana lagi Papa akan menaruh muka ini jika teman-teman, kerabat dekat, dan keluarga besar kita tahu tentang kehamilan kakakmu ini? Apakah mental Papa akan kuat? Di saat putri yang selalu saja Papa bangga-banggakan malah kelakuannya seperti wanita malam begini." Arzan merasa jika saja ia bisa menghilang. Maka laki-laki itu akan memilih untuk menghilang saja, daripada ia harus menanggung malu sebanyak dua kali.
__ADS_1
"Percaya sama aku Pa, kalau Papa tidak akan menanggung malu lagi. Karena aku akan terus berusaha membujuk Gio untuk menikah dengan Kak Tika," ucap Tara membuat mata sang ayah merah menyala.
"Jangan bo doh Tara! Sudah cukup kamu terus-terusan berkorban untuk Tika. Dan kali ini Papa tidak akan membiarkan semuanya itu terjadi," balas Arzan yang tidak mau melihat Tara berkorban untuk Tika. "Buang jauh-jauh niatmu itu yang ingin bercerai dari Gio, karena Papa tidak mau kamu menjadi janda di saat usia pernikahan kamu dan Gio masih terbilang seumuran jagung," sambung Arzan.
"Tapi Pa ... kasihan Kak Tika."
"Itu urusan Papa dan Mama, bukan urusan kamu Tara. Lebih baik kamu berpikir cara mempertahankan rumah tangga itu seperti apa, bukan malah begini kamu mau meminta cerai pada suamimu, yang nyata-nyata tidak ada hubungannya dengan semua ini. Dan Papa harap kamu mengerti setelah Papa berbicara panjang lebar seperti ini."
__ADS_1
.