Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 104


__ADS_3

“Apa kamu sedang salah paham terhadapku, Lorie? Apakah menurutmu aku serendah itu?” tanya Daniel setelah berhasil menghimpun ketenangannya.


“Ya,” jawab Lorie tanpa belas kasihan. “Aku tidak percaya kamu tinggal tanpa ada alasan apa pun, jadi jangan coba-coba membohongiku.”


“Aku ....”


“Lorie?”


Daniel dan Lorie serentak menoleh ke sisi kanan mendengar panggilan itu. Karena terlalu sibuk berdebat, mereka bahkan tidak mendengar suara pintu yang dibuka.


“Ana?”


Dokter Ana sama sekali tidak menduga akan ada Daniel di tempat itu. Untuk sesaat ia hanya membeku dan tidak tahu apakah harus duduk atau mengatakan bahwa ada barang yang tertinggal di lab sehingga ia harus pergi, sampai akhirnya suara Lorie kembali menyadarkannya.


“Kenapa tidak memberitahu kalau kamu akan datang?”


“Tidak memberitahu? Aku meneleponmu setidaknya seribu seratus delapan puluh kali,” jawab Ana dengan menunjukkan wajah datar.


“Oh. Benarkah? Maaf, aku menaruhnya di dekat ranjang dan sepertinya lupa menonaktifkan mode hening,” balas Lorie.


"Tidak masalah. Aku juga hanya mampir sebentar untuk melihat keadaanmu. Karena kamu baik-baik saja, aku akan langsung pergi.”


Dokter Ana diam-diam mengumpat dalam hati. Bukankah tadi siang Lorie mengatakan bahwa pria brengsek itu akan kembali ke Dubai? Mengapa dia masih berkeliaran di sini seperti hewan tersesat?


Kalau tahu begini, lebih baik tadi aku langsung kembali ke rumah saja.

__ADS_1


Dokter Ana mengetatkan rahangnya dan ekspresi wajahnya semakin dingin. Penampilannya kembali terlihat seperti kutu buku yang serius dan acuh tak acuh. Dan untuk alasan yang sangat jelas, ia sudah memutuskan untuk mengabaikan Daniel.


Akan tetapi, tentu saja pria yang diacuhkan itu tidak merasa keberatan sama sekali. Ia juga tahu mengapa wanita itu bahkan tidak mau menoleh ke arahnya. Dan hal itu membuatnya merasa semakin bersemangat.


“Mengapa sangat terburu-buru, Dokter? Kalau orang melihat, mereka akan mengira Anda sangat tidak senang berada satu ruangan denganku sehingga ingin cepat-cepat melarikan diri,” ujar Daniel seraya bangkit berdiri dan menyingkir, memberi isyarat agar Dokter Ana duduk di tempatnya barusan.


“Anda terlalu percaya diri, Tuan. Lagi pula, kita tidak terlalu akrab, tidak akan ada yang memikirkan sampai sejauh itu.”


Daniel tahu ucapan itu adalah sebuah sindiran yang secara tidak langsung memberitahu bahwa dirinyalah yang telah berpikir secara berlebihan, tapi ia juga hanya menanggapinya dengan santai. Jika terlalu memaksa pun akan terlihat mencolok, jadi lebih baik pelan-pelan saja ....


“Kalau begitu, aku yang sudah terlalu banyak berpikir,” jawabnya sembari duduk di tempat semula dengan nyaman.


Lorie merasa sedikit aneh karena melihat interaksi kedua orang itu, tapi ia tidak memberikan komentar apa-apa. Ia pikir, mungkin Ana sedang mengalami masalah di lab sehingga bersikap seperti itu. Bukankah tadi pagi juga emosinya sedang tidak baik?


Saat ketiga orang itu masih berada dalam situasi yang canggung, pintu kembali terbuka lebar dan Raymond melangkah masuk. Keterkejutan melintas di bawah kelopak matanya. Bukankah ia hanya pergi sebentar untuk membeli makan malam? Mengapa sudah seramai ini saat ia kembali? Padahal ia sudah sengaja membeli bunga mawar dan lilin aroma terapi, juga sekotak tiramisu untuk Lorie.


Ana mengangguk dan menggumam pelan sebagai jawaban. Ia sedang menimbang dalam hati, alasan apa yang bisa digunakan untuk melarikan diri dari tempat itu.


Sementara Raymond hanya melirik Daniel sekilas dan memberi tatapan tidak suka, lalu berjalan menghampiri Lorie.


“Kamu tidak bilang kalau tamu, aku hanya membeli untuk kita berdua,” ucapnya seraya memasang wajah bersalah, tapi hanya Tuhan yang tahu bahwa ia tidak merasa demikian.


Kalau Lorie mengabarinya dan meminta untuk membeli menu tambahan pun, ia akan mencari alasan untuk tidak melakukannya. Atas dasar apa ia harus membelikan makan malam untuk saingan cintanya?


Ha! Mimpi saja!

__ADS_1


“Kalau begitu kalian makanlah, aku akan pulang,” ucap Dokter Ana.


“Cepat sekali? Aku kira ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku,” cetus Lorie.


“Ya, masih bisa kita bicarakan besok,” balas Dokter Ana.


Kalau bajingan itu sudah tidak ada di sini, imbuhnya dalam hati.


“Kebetulan sekali aku juga sudah mau pulang. Bagaimana kalau aku sekalian mengantarmu, Dokter?” tawar Daniel.


“Tidak!” seru Dokter Ana dengan cepat. Ia lalu berdeham dan mengecilkan volume suaranya saat menyadari semua orang menatapnya dengan ekspresi yang aneh.


“Ehem. Maksudku tidak perlu mengantarku, Tuan. Aku membawa kendaraan sendiri. Akan merepotkan untukku jika harus kembali untuk mengambilnya besok.”


“Oh. Baiklah ....” Daniel tersenyum penuh arti kemudian sengaja mengembuskan napas keras-keras ketika berjalan melewati Dokter Ana.


Sebelum mencapai pintu, pria itu menoleh ke arah Lorie dan berkata, “Ingat pertanyaanku tadi, aku menunggu jawabanmu.”


“Aku akan menjelaskan kepadamu besok,” jawab Lorie meski belum bisa menebak apa tujuan Daniel ingin membuka kantor cabang di Broocklyn.


“Oke. Kalau begitu, aku pergi dulu.”


Lorie dan Raymond tidak sadar, setelah Daniel pergi, pundak Dokter Ana yang menegang akhirnya kembali rileks. Kedua tangannya yang mengepal erat akhirnya terurai. Mengingat kejadian tadi pagi, ia segera menghubungi asisten yang menunggu di mobil untuk naik dan menjemputnya turun. Kalau ada orang lain bersamanya, tidak mungkin berandalan itu akan menyerangnya, ‘kan?


Sialan. Daniel Hill benar-benar sudah menakutinya.

__ADS_1


***


__ADS_2