Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
21


__ADS_3

Di tempat lain Tika terlihat sedang melakukan adegan adu gambrut dengan Dion. Gadis yang sudah tidak perawan itu terlihat sangat menikmati setiap sentuhan yang dilakukan oleh laki-laki itu.


"Apa mama dan papamu tidak akan tahu kalau aku ada di dalam kamarmu saat ini?" tanya Dion sambil mempercepat gerakannya yang maju mundur cantik-cantik.


Tika terlihat merem sambil menggigit bibirnya supaya suara de sa han gadis itu tidak keluar dari bibirnya. Sehingga ia hanya bisa menjawab Dion dengan anggukan kecil.


Dion yang melihat Tika mengangguk dengan cepat menunduk dan segera me lu mat bi bir gadis itu karena ia tahu Tika tidak akan tahan menahan de sa han tatkala ia akan mempercepat gerakannya demi mengeluarkan oli berwarna putihnya. Tapi sebelum itu Dion sempat berbisik di telinga Tika dan ia berkata, "Tahan sedikit Sayang, ini akan terasa sakit tapi en ak. Seperti apa yang kamu rasakan ketika di hotel waktu itu."


Tika meremas seprainya karena apa yang di katakan oleh Dion itu benar, sehingga gadis itu merasa sangatlah puas dengan apa yang dilakukan Dion dengannya ini. Meskipun hubungan mereka masih berstatus pacaran tapi kelakukan mereka sudah melebihi seperti pasangan suami istri.


"Jangan pernah bosan untuk memberikanku vitamin seperti ini Sayang, karena aku sangat suka," ucap Dion sambil mengecup dahi Tika. Dan laki-laki itu terlihat langsung saja berbaring di sebelah Tika. Ketika ia sudah selesai bercocok tanam. "Apa mau nambah?" tanya Dion yang membawa kepala Tika supaya menjadikan dada bidangnya sebagai bantal.


"Nanti saja Sayang, karena di bawah sana masih terasa sangat perih sekali," jawab Tika sambil meringis sebab tangan nakal Dion malah memainkan dua boba gadis itu lagi.


"Percaya sama aku Sayang, kalau lama-kelamaan pasti tidak akan sakit. Maka dari itu aku harus mengajakmu sering-sering melakukan ini, supaya nanti kalau kita sudah menikah kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Tinggal menikmati nikmatnya saja." Kini tangan laki-laki itu malah meremas dua benda kenyal yang sudah dipenuhi tanda merah itu. "Apa kamu tidak keberatan kalau aku meminta ini kapanpun aku mau?"

__ADS_1


Tika dengan bo dohnya mengangguk tanda setuju. "Lakukan apa saja yang membuatmu puas Sayang, asal kamu jangan sekali-kali berniat meninggalkan aku. Setelah apa yang aku lakukan selama ini," jawab Tika yang terlihat tidak keberatan kalau Dion telah merusak segel mahkota yang paling berharga pada dirinya itu. "Kalau kamu pengen, ngomong saja langsung supaya aku bisa membantumu masuk ke dalam kamarku ini tanpa ada yang tahu," ucap Tika tersenyum di saat melihat Dion juga tersenyum kepadanya. "Tapi ... aku tidak akan hamil 'kan, Sayang?" tanya Tika takut-takut.


Dion terlihat mengambil sesuatu di atas nakas. "Minum ini Sayang, supaya kamu tidak hamil." Dion lalu membuka mulut Tika dan langsung saja memasukkan satu buah pil. "Di telan sayang habis itu minum." Laki-laki itu terlihat mengambil segelas air di atas nakas itu juga. "Minum Sayang, dan lain kali kalau kita akan melakukan ini minum pil ini dulu ya, tanpa aku minta dan ingatkan."


Tika mengangguk karena ia merasa Dion laki-laki yang sangat pengertian dan tentunya pasti ia menganggap Dion sebagai laki-laki yang sangat bertanggung jawab. "Aku sangat cinta sama kamu, Sayang."


"Aku juga sangat mencintaimu Sayang, sekarang tidur karena nanti tengah malam ingin melanjutkan inu lagi," kata Dion yang terlihat mengulas senyum tipis. "Sayang, apa tidak masalah kalau aku setiap malam datang kesini untuk menginap?"


Mendengar itu Tika terlihat sangat senang. "Tidak masalah, justru aku senang, karena aku bisa terus bersamamu. Dan kita juga bisa setiap malam melakukan ini, supaya di bawah sana tidak terasa sakit. Seperti katamu tadi."


"Benar juga, jadi mulai sekarang aku harus menyetok obat kuat," seloroh Dion yang bercanda. Dan pada saat itu juga suara ketukan pintu mulai terdengar.


Di rumah sakit Gio terlihat sangat gelisah, karena ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Malvin ketika tahu bagaimana keadaan Tara saat ini.


"Tuan muda, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa Nona Tara bisa terluka seperti ini?" tanya Gavin yang dari tadi sangat penasaran. Karena Gio tidak mau membuka suara sehingga membuat laki-laki itu memberanikan diri untuk bertanya. Meskipun di dalam benaknya ia sudah menebak-nebak kalau apa yang terjadi ini pasti adalah perbuatan Tara sendiri. "Tuan muda, tolong jawab saya. Supaya saya tidak berpikiran buruk seperti ini."

__ADS_1


Gio yang dari tadi hanya berdiri dengan cepat duduk di sebelah Gavin, karena ia merasa kepalanya saat ini sedikit pusing. "Dia terlalu bo doh Gavin, bisa-bisanya melukai dirinya sendiri hanya karena aku tidak ingin menceraikannya," jawab Gio jujur. Karena memang laki-laki itu tidak bisa merahasiakan apapun dari Gavin sang tangan kanannya itu. "Mula-mula aku pikir dia cuma bercanda saja, dengan cara mengancamku seperti itu. Tapi detik berikutnya malah ini yang terjadi." Gio mengusap wajahnya dengan sangat kasar. "Gadis itu hanya bisa membuatku dalam masalah besar, jika begini terus maka aku tidak bisa mengajak dia terus-terusan tinggal di rumah itu."


Gavin yang mendengar jawaban Gio dan deretan kalimat tuannya itu. Lama-kelamaan laki-laki tu bisa memahami kondisi seperti apa yang dialami oleh Gio saat ini. "Saya yakin, Tuan besar tidak akan mengizinkan Nona Tara untuk pergi dari rumah. Mengingat Nyonya besar juga sangat menyayangi Nona Tara." Gavin mengatakan itu karena ia sudah tahu betapa mudahnya Tara mengambil hati Lydia sehingga ibu dari Gio itu sangat cepat merasa sayang dengan gadis itu. "Dan untuk jawaban Anda yang tadi, saya percaya bahwa Anda tidak mungkin akan melukai Nona Tara. Mengingat Anda membvnvh seekor semut saja Anda perlu mikir seribu kali dan pada ujung-ujungnya Anda tidak akan berani melakukan itu, Taun muda."


Gio kini terlihat berdiri. "Pokoknya aku harus membawa tara keluar dari rumah itu, karena aku tidak mau kalau sampai sesuatu hal seperti ini terjadi lagi pada Tara. Gadis bo doh yang pernah aku kenal."


"Memangnya Anda sudah mengenal berapa banyak wanita Tuan?" tanya Gavin.


"Jangan bercanda di saat situasi genting seperti ini, sekarang lebih baik kamu hubungi Mr. Gerry dan katakan hari ini kita batalkan saja meeatingnya. Karena tidak mungkin kita bisa meninggalkan Tara sendiri di rumah sakit ini," kata Gio.


"Baik Tuan muda, saya akan segera menghubungi Mr. Gerry," balas Gavin menimpali.


...----------------...


Bonus Visual Abang Gio, laki-laki yang sangat baik tapi tatapan matanya selalu saja terlihat sangat tajam.

__ADS_1




__ADS_2