Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 144: Berbahagia untuk kalian


__ADS_3

Suara pintu terbuka menarik perhatian Alex. Ia menoleh dan mendapati dokter Ana membawa sebuket besar bunga dan sebuah papper bag. Wanita itu berjalan masuk seraya tersenyum apda Alex.


"Bagaimana keadaannya?" tanyanya.


"Sudah lebih baik. Tadi dia sempat sadar. Baru saja tidur lagi," jawab Alex seraya bangun dari kursi dan menghampiri dokter Ana.


Ia mengulurkan tangan dan berkata, "Terima kasih banyak. Berkatmu, istri dan anak-anakku bisa melewati masa kritis. Aku sungguh berhutang budi padamu."


Senyuman di wajah dokter Ana semakin lebar. Ia menjabat tangan Alex dengan erat dan membalas, "Hanya itu yang bisa aku lakukan. Untuk patah tulangnya aku tidak berani memberi tindakan apa-apa karena istrimu sedang mengandung. Obat-obatan tertentu bisa berakibat fatal bagi janin."


"Tidak masalah. Ini sudah lebih dari cukup. Aku sangat berterima kasih."


"Senang bisa membantu."


Dokter Ana meletakkan bunga segar dalam vas dan memberi sedikit air, lalu menyerahkan papper bag di tangannya pada Alex.


"Itu titipan dari Lorie. Aku bertemu dengannya di bawah. Dia benar-benar menjaga rumah sakit ini seperti seekor anjing penjaga, dia sama sekali tidak membiarkan orang yang tidak dikenal untuk mendekat dalam radius satu mil," kata dokter Ana sambil terkekeh pelan.


Alex ikut tersenyum dan berkata, "Ya. Dia merasa sangat bersalah dan terpukul melihat kondisi Kinara. Mungkin itu caranya untuk meminta maaf dan menebus rasa bersalahnya."


Ia menerima bungkusan yang disodorkan oleh dokter Ana dan menyimpannya dalam lemari.


Mata dokter Ana menyipit sambil menatap Alex yang sedang melangkah ke arahnya.


"Bukankah kamu melakukan hal yang sama? Dalam rumah sakit sebesar ini hanya ada satu pasien. Seluruh dokter diminta stand by hanya untuk istrimu. Berapa besar kompensasi yang kamu berikan untuk keluarga pasien lain? Apakah itu juga tidak terlalu berlebihan?" tanyanya seraya mengangkat satu alisnya.


"Tutup mulutmu dan periksa istriku," ujar Alex sambil bersedekap, "Tadi dia sudah diberi suntikan untuk menguatkan kandungan. Tapi kau tahu, aku lebih percaya padamu."


"Siap, Kapten," jawab dokter Ana sembari mengeluarkan peralatannya dari dalam tas.


Ia mulai melakukan pemeriksaan rutin kemudian mencocokkannya dengan angka-angka yang tertera di layar monitor. Setelah selesai, ia mengeluarkan jarum suntik dan satu ampul obat. Ia mencari pembuluh darah di lengan Kinara dan menyuntikkan cairan itu.


"Ini sudah cukup untuk mereka. Suntikan berikutnya akan aku berikan ketika usia kandungan memasuki 18 minggu. Aku akan tetap datang setiap hari untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja." ujarnya seraya membereskan peralatannya.


"Baik. Terima kasih."


Alex menarik napas lega. Untunglah ia masih bisa mengingat untuk menghubungi Ana ketika Kinara dipindahkan ke ruang perawatan. Ia menatap wanita yang memakai setelan kasual di hadapannya dengan sorot kagum.


"Oh, ngomong-ngomong, bagaimana kondisi Billy? Aku belum sempat menjenguknya lagi."


"Kemajuannya cukup pesat. Luka di perutnya sudah hampir kering. Aku sudah memberinya suplemen untuk pemulihan. Intinya, kamu fokus saja pada istrimu. oke"

__ADS_1


"Kamu sangat luar biasa, kamu tahu itu?" ujarnya dengan tulus, "Bagaimana bisa kamu menguasai semuanya dengan sangat baik?"


Dokter Ana menjawab, "Aku menyukai segala hal mengenai pengobatan sejak kecil, jadi aku mempelajari semuanya. Kebetulan otakku mendukung, dia dapat menyerap semua informasi dengan cepat dan akurat. Jadi ...."


Ia mengangkat bahunya dan bersiap untuk keluar.


"Tunggu sebentar," cegah Alex. Ia mengeluarkan sesuatu yang mirip dog tag dari saku celananya dan menyerahkan benda pada dokter Ana.


"Apa ini?" tanya dokter Ana seraya memerhatikan lempeng baja berbentuk segi empat di tangannya dengan tatapan menyelidik. Ada angka 05 terukir di sana.


"Sekarang itu resmi menjadi milikmu, kosong lima. Selamat bertugas."


"Oh."


Dokter Ana menatap name tag miliknya dan wajah Alex bergantian. Ia mengusap permukaan benda itu dengan rasa tidak percaya. Di matanya, benda itu lebih berharga daripada sebongkah berlian.


"Terima kasih," ucap dokter Ana dengan sungguh-sungguh, "Aku akan melakukan tugas dengan baik, Kapten."


Wanita itu membungkuk dalam-dalam sambil memegang tanda pengenalnya erat-erat.


Alex melangkah maju dan menepuk pundak Ana.


"Sama-sama."


"Untuk tugas pertama, bisakah aku menggeledah gudang Andromeda Corporation? Aku sangat tertarik dengan teknologi yang mereka coba pada Billy. Jika kita bisa menyempurnakannya maka keuntungan yang didapat oleh Jotuns Corps bisa berlipat ganda," pintanya dengan wajah serius.


"Lakukan apa pun yang kamu mau. Aku percaya padamu," jawab Alex.


Seringai lebar menghiasi wajah dokter Ana.


"Terima kasih," ucapnya, "Sekarang aku pergi dulu. Sudah tidak sabar menggali reruntuhan itu."


Alex ikut tersenyum dan berkata, "Pergilah. Selamat bersenang-senang."


Dokter Ana melangkah keluar dengan wajah semringah. Langkah kakinya ringan dan cepat. Ia membuka pintu dan berjalan keluar, terlihat sangat bersemangat seperti angin topan yang siap melibas apa pun yang ditemuinya.


Alex baru saja akan berjalan ke sisi ranjang Kinara ketika suara ketukan di pintu kembali mengalihkan perhatiannya. Tidak seperti dokter Ana yang tadi langsung menerobos masuk, ketukan di pintu kali ini terdengar sedikit ragu-ragu. Alex tahu, Lorie tidak akan mengijinkan sembarang orang naik sampai di lantai ini, jadi sudah pasti sosok di balik pintu itu adalah orang yang dikenalnya.


"Masuklah."


Suara ketukan berhenti. Tak lama kemudian, wajah Raymond menyembul dari balik pintu. Pemuda itu tersenyum kikuk sebelum masuk dan berjalan menghampiri Alex.

__ADS_1


"Selamat malam, Sir," sapanya, "Kuharap aku tidak menganggu waktu Anda."


Alex mengamati pemuda itu dari ujung rambutnya hingga ujung kaki, lalu berkata, "Tidak. Aku sedang tidak sibuk. Kemarilah."


Alex sama sekali tidak keberatan meski tahu Raymond ke sini untuk menemui istrinya. Sedikit banyak, ia dan Kinara pun berhutang budi pada pemuda di hadapannya itu. Raymond berhasil menghentikan pendarahan Kinara tepat waktu sebelum dibawa ke rumah sakit. Pemuda itu juga berhasil meminimalisir cedera yang dialami oleh istrinya dengan sangat baik.


Raymond mengangkat tangan kanannya yang memegang kantung.


"Aku membawakan makan malam untuk Anda, Sir. Makanan di rumah sakit pasti tidak terlalu enak," ujarnya sambil menyerahkan kantung di tangannya pada Alex.


"Terima kasih," ujar Alex sambil menerima bungkusan itu dan meletakkannya di atas meja.


"Dia sudah sempat bangun tadi sore. Dokter sudah memeriksa dan memberinya obat. Kandungannya pun baik-baik saja. Jadi, jangan khawatir," sambungnya ketika melihat Raymond menatap nanar ke atas ranjang istrinya.


"Aku senang dia bisa melewati masa kritisnya. Benar-benar wanita tangguh."


"Ya. Dia memang sangat tangguh."


"Kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi," gumam Raymond tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Kinara, "Aku sangat iri. Dia sangat mencintai Anda, Sir. Bahkan ketika dia marah, dia tidak berhenti membicarakan semua hal yang berkaitan dengan Anda. Saat itulah aku sadar bahwa aku benar-benar tidak punya kesempatan sama sekali."


Raymond terkesiap, seolah tersadar dari tidur panjangnya. Ia menatap Alex dengan gugup dan berkata, "Um, maafkan kelancangan saya, Sir. Saya tidak bermaksud untuk--"


"Terima kasih karena telah mengurusnya dengan sangat baik," sela Alex. Ia tidak ingin membuat Raymond merasa bersalah untuk perasaan yang tidak bisa dikendalikannya.


Alex menepuk lengan pemuda itu dan berkata, "Dia pasti akan sangat berterima kasih padamu. Datanglah untuk makan malam ketika dia sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah."


"Itu ... um, sama-sama, Sir. Mengenai makan malam, aku sedikit khawatir tidak bisa mengabulkannya." Raymond kembali menatap Kinara dengan sorot yang sendu. "Aku sudah mengisi formulir sebagai relawan di Timur Tengah, kemungkinan besar dua minggu lagi berangkat."


Ia menoleh pada Alex lagi dan berkata, "Jaga dia baik-baik. Sampaikan salamku untuknya."


Alex terdiam cukup lama, tidak tahu harus merespon seperti apa. Jika ia yang mencintai seorang wanita yang sudah bersuami, mungkin ia akan melakukan hal yang sama.


"Hati-hati. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan menyampaikan salam perpisahan darimu untuknya."


"Terima kasih. Aku mendoakan kebahagiaan kalian. Selamanya."


Raymond membungkuk sekilas, kemudian berjalan menuju pintu. Satu butiran kristal bening meluncur di pipinya tepat setelah pintu tertutup di belakang punggungnya. Meski terasa sesak, ia sungguh ikut berbahagia untuk Kinara dan Alex. Kini, saatnya mencari kebahagiaannya sendiri.


Tidak ada yang abadi di dunia ini, bukan?


Ia yakin perasaannya untuk Kinara pun begitu. Seiring berjalannya waktu, semua rasa sakit dan kehilangan itu pasti menghilang.

__ADS_1


***


__ADS_2