
Interaksi antara kedua orang itu terhenti ketika seorang perawat memanggil nama Lorie dan memintanya untuk masuk. Dengan sigap Daniel bangun dan membawa Lorie masuk.
Seorang dokter kandungan menyambut mereka dengan ramah dan menanyakan riwayat kehamilan Lorie.
Karena ini rumah sakit dan dokter kandungan yang berbeda, Lorie tidak keberatan untuk menjelaskan kondisi kehamilannya secara garis besar.
“Baik. Silakan berbaring di ranjang,” ucap dokter itu setelah memeriksa tekanan darah dan berat badan Lorie.
Dokter itu memberi isyarat kepada perawat untuk membantu Lorie naik, tapi Daniel lebih dulu membopong wanita itu dan membaringkannya di ranjang. Gerakannya sangat lembut, seolah Lorie sangat rapuh dan harus dijaga dengan hati-hati.
“Suami Anda perhatian sekali,” goda sang dokter.
Lorie terbatuk pelan dan tersenyum kaku. Ia tidak menyangkal atau mengiyakan perkataan itu, hanya menatap lurus ke atas dan berbaring dengan tenang. Namun, saat perawat akan membuka baju untuk mengoleskan gel, Lorie menghindar dan menatap Daniel dengan gugup.
“Apa?” tanya Daniel, berusaha menahan seringai yang akan muncul di wajahnya. Ekspresi wajah Lorie yang cemas dan malu itu terlihat sangat imut. Ia ingin melihat bagaimana wanita itu mengatasi masalah ini.
Lorie tidak mungkin terang-terangan mengusir Daniel karena selain dia sudah sangat baik dan menemaninya memeriksakan kandungan, sang dokter juga baru saja memujinya sebagai suami yang baik. Biar bagaimanapun, Lorie tidak mungkin tidak memberi muka kepada Daniel, tapi juga tidak mungkin membiarkan pria itu melihat separuh perutnya terekspos. Akhirnya ia hanya bisa menggigit bibir dan memelototi pria yang masih tersenyum seperti orang bodoh berdiri di sisi ranjang itu.
“Ada apa, Nyonya?” tanya sang dokter yang merasa heran melihat tingkah pasiennya.
__ADS_1
“Aku ....” Lorie melirik sekilas kepada Daniel yang masih bergeming di tempatnya. “Aku lapar. Bisa tolong belikan burger, Sayang?”
Lorie mengucapkan kalimat itu dengan sangat lemah lembut. Tatapan yang ia tujukan untuk Daniel seperti dipenuhi oleh serbuk bintang. Lengkungan bibirnya yang terlihat seperti bulan sabit sungguh menawan. Apa lagi dengan panggilan “sayang” yang dilontarkan olehnya ... untuk sesaat Daniel merasa mabuk. Pria itu terlihat linglung dan tidak mampu berkata-kata.
“Sayang?” panggil Lorie lagi. Senyum manis masih menghiasi wajahya.
“Uh? Oh ... oke. Aku pergi carikan. Tunggu di depan setelah selesai,” ucap Daniel.
Pria itu segera melesat keluar dari ruangan. Sebenarnya, ia juga tidak tega berlama-lama menggoda Lorie. Oleh karena itulah meski Lorie memberi alasan yang agak tidak masuk akal, ia langsung menurutinya dengan patuh.
Sepeninggal Daniel, perawat mengoleskan gel di perut Lorie yang sudah mulai membuncit. Sang dokter pun segera memeriksa janin di kandungan Lorie sambil menunjuk ke layar monitor.
Mata Lorie berkaca-kaca melihat janin yang sudah terbentuk itu. Tangan dan kaki sang bayi bergerak pelan, menendang dan menggapai ke kanan dan kiri, sesekali menggeliat saat dokter menggeser transduser. Sungguh menggemaskan.
Lorie menghela napas lega. Untung saja tidak terjadi sesuatu terhadap bayinya di taman ria. Karena kecerobohannya, ia hampir saja kehilangan bayi itu.
“Saya akan meresepkan vitamin, Anda bisa menebusnya di apotik.”
“Baik, Dokter. Terima kasih,” jawab Lorie. Meski obat dan vitaminnya masih banyak, ia tetap menghargai dokter itu dan menerima lembaran kertas yang diserahkan kepadanya.
__ADS_1
Perawat membantu Lorie duduk di kursi roda, lalu mendorongnya keluar dari ruangan.
“Terima kasih, di sini saja. Sebentar lagi suami saya akan kembali,” ucap Lorie kepada perawat yang membantunya. Senyumannya terlihat sangat kaku dan tidak alami saat mengucapkan kata “suami saya”, tapi untungnya perawat itu tidak terlalu memperhatikan.
“Anda yakin, Nyonya?”
“Ya.”
“Baik, kalau begitu saya kembali ke dalam dulu.”
“Oke.”
Lorie mengedarkan pandangan untuk mencari Daniel, tapi tatapannya justru bertemu dengan sepasang mata teduh yang sedang memancarkan emosi yang kompleks.
Mendadak seperti ada ribuan semut yang sedang menggigiti hati Lorie. Rasanya sakit dan tidak nyaman, tapi ia menahan semua itu dan mengeraskan tekadnya.
Ia tidak akan terpengaruh.
***
__ADS_1