
Tanpa terasa sudah hampir sore ketika akhirnya rapat di gedung Amber’s Company berakhir. Jeda rapat itu hanya terjadi saat istirahat makan siang. Lorie benar-benar memanfaatkan waktu dengan sangat efetif dan efisien karena ia masih harus melakukan meeting dengan Drun Industry. Rencananya pertemuan itu akan diadakan dua hari lagi di Club Royale yang tidak jauh dari Hotel Amber.
Drun Industry adalah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang senjata biokimia dan microchip. Mereka tertarik dengan pengembangan chip kontrol yang sedang dilakukan oleh Dokter Ana dan ingin bekerja sama dengan Jotuns Corps. Seharusnya Alex yang datang ke pertemuan itu, tapi berhubung pria itu tidak bisa datang dan Lorie sedang berada di sini, maka Lorie mengusulkan agar ia saja yang mewakili Alex untuk berunding dengan pemilik Drun Industry.
Layar ponsel yang menyala di atas meja menarik perhatian Lorie. Nama Amber terlihat ketika Lorie mendekat dan meraih benda itu.
Aunty, apa rapatnya sudah selesai?
Lorie mengulas senyum dan membalas pesan itu.
Baru saja. Apa kamu tidak ada pelajaran tambahan hari ini?
Ada, Daddy akan segera mengantarku, tapi aku rindu kamu ....
Lorie terkekeh pelan dan mengirim pesan suara, “Pergilah sebelum ayahmu memukul pantatmu, Gadis Kecil.”
Tak lama kemudian, pesan suara balasan masuk ke ponsel Lorie.
“Aunty juga, kerja yang benar, kalau tidak Daddy akan memotong gajimu.”
Suara yang imut dan menggemaskan itu membuat tawa Lorie semakin kencang. Ia menggelengkan kepalanya sebelum membereskan dokumen di atas meja dan berjalan keluar.
“Terima kasih banyak atas waktu Anda, Wakil CEO Lorie. Saya harap kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan,” ujar Jenifer Watkins yang mengantarnya untuk menemui George di lobi.
“Sama-sama, Miss Watkins. Sampai jumpa lagi.”
Lorie masuk ke mobil dan meminta George untuk mengantarnya ke pusat kota.
“Anda ingin mengunjungi Piazza San Marco, Miss?” tanya George seraya melirik sekilas dari kaca spion.
“Eng.” Lorie mengangguk dan tersenyum ke arah George. Ia memang ingin ke sana dan naik gondola untuk menikmati pemadangan Kota Venice dari atas.
Piazza San Marco adalah pusat Kota Venice yang biasa dikenal juga dengan sebutan Mark’s Square. Tempat itu merupakan alun-alun yang menjadi pusat kegiatan para warga sekaligus lokasi untuk gedung pemerintahan. Di sana, para wisatawan dapat mengunjungi objek wisata yang berada di kawasan itu, dua di antaranya adalah Doge’s Palace dan Museum Correr.
“Baik, Miss. Kencangkan sabuk pengaman Anda!” seru George seraya menekan pedal gas dalam-dalam.
Lorie terkekeh melihat tingkah anak buahnya itu. Ia jadi ikut merasa bersemangat. Setelah rapat panjang yang menyerap semua tenaga dan pikirannya, ia benar-benar membutuhkan refreshing. Selain itu, rencananya ia akan berkeliling untuk mencari oleh-oleh untuk triplets dan anak-anak Billy. Mereka selalu menodongnya setiap kali habis bepergian dari luar negeri atau luar kota. Tidak masalah karena ia pun menyukai ketika anak-anak itu berebut dan mengerumuninya. Karena mengenal mereka sejak masih bayi, juga turut menyaksikan pertumbuhan dan perkembangan mereka, Lorie seperti memiliki ikatan khusus dengan bocah-bocah yang menggemaskan itu.
“Miss, kita sudah sampai,” ujar George seraya memarkirkan mobil di parking lot yang berada di kawasan alun-alun.
“Terima kasih, George. Kamu mau ikut berkeliling?” tawar Lorie.
George tertawa lebar hingga lesung pipinya tercetak jelas. Pemuda itu menggeleng pelan seraya menjawab, “Aku sudah bosan berkeliling di sini, Miss. Tapi kalau Anda memerlukan pemandu, dengan senang hati aku akan menemani.”
__ADS_1
“Hm ... benarkah? Kalau begitu kamu boleh pulang. Aku akan berkeliling sendiri.”
“Bagaimana Anda pulang nanti?” tanya George sedikit cemas.
“Jangan khawatir, aku akan naik taksi,” jawab Lorie.
“Anda yakin?”
Lorie terkekeh pelan seraya menjawab, “Aku bukan anak kecil, Geoge. Pulanglah.”
“Baik ... kalau begitu, sampai jumpa lagi, Miss. Anda bisa menghubungiku untuk mengantar ke mana saja.”
“Oke.”
Lorie turun dari mobil dan berdiri di sisi jalan. Ia melambai ketika George membunyikan klakson dan melesat melewatinya.
Wanita itu mencangklong tas kerjanya dan berjalan ke bagian depan alun-alun. Di sana Lorie bimbang sejenak untuk memutuskan akan naik gondola atau bus air. Akhirnya ia tetap naik gondola seperti tujuan awal. Ia pergi ke loket dan membeli tiket seharga 18 Euro, kemudian naik ke atas salah satu gondola berwarna merah keemasan yang sudah mau berangkat.
Hanya ada lima orang di atas gondola itu. Sepasang turis yang sudah berambut putih dan sepasang pria dan wanita yang tampaknya sedang menikmati bulan madu. Lorie adalah satu-satunya yang lajang. Meski demikian, hal itu tidak menghalanginya menikmati keindahan Kota Venice yang dilewati gondola.
Perahu itu melewati kanal-kanal kecil di bagian dalam kota dan memutar di bawah Rialto Bridge—salah satu jembatan paling terkenal di Venesia. Pengemudi gondola yang sekaligus berperan sebagai pemandu wisata menjelaskan bahwa jembatan Rialto Bridge dibangun di atas Grand Canal sejak tahun 1588-1591 dan menghubungkan jalan San Marco dan San Polo. Dahulu, pada awal pembangunannya, Rialto Bridge masih menggunakan kayu sebagai bahan pembuatan jembatannya, sebelum akhirnya diganti dengan marmer.
Di akhir perjalanan, sang pengemudi mengucapkan terima kasih kepada para penumpangnya dalam bahasa Inggris yang fasih. Lorie memberikan tip kepada pria paruh baya itu sebelum turun dari gondola.
“Terima kasih!” seru Lorie sambil melambaikan tangannya dengan bersemangat.
Ekspresi wajah wanita itu yang tadinya kusut kini tampak sangat cerah dan ceria. Ia melangkah dengan ringan menuju arah yang ditunjukkan oleh pengemudi tadi. Dar kejauhan, bangunan berupa istana megah bergaya Gotik Venesia itu sudah terlihat. Lorie berhenti sejenak untuk mengambil foto bangunan itu dengan latar bekakang langit sore. Ia tersenyum puas menatap hasil tangkapan kamera ponselnya dan kembali berjalan ke arah bangunan itu.
Doge’s Venesia adalah otoritas tertinggi Republik Venesia. Bangunan itu mulai dibuka sebagai museum sejak tahun 1923. Selain arsitektur bangunan yang mewah dan indah, ada banyak karya seniman terkenal yang dipamerkan di museum itu. Salah satu yang terkenal adalah lukisan minyak terbesar di dunia karya Tintoretto. Itu adalah informasi yang dibaca Lorie dari internet. Dan sekarang, ia berdiri di depan mahakarya itu sambil terkagum.
“Ini benar-benar menakjubkan,” gumamnya seraya mendongak dan memandang lukisan yang memenuhi seluruh dinding di belakang singgasana Doge.
Lukisan minyak itu berhasil menggambarkan kemegahan Kota Venice dengan sangat sempurna. Saat Lorie mengeluarkan ponsel dan hendak mengabadikan momen itu, seseorang menyenggol lengannya sehingga ponselnya jatuh ke lantai.
“Oh!” seru Lorie dan orang yang menabraknya bersamaan.
“Astaga, maafkan aku, Nona ....”
Seorang pria membungkuk di depan Lorie dan memungut ponsel yang terjatuh karena kecerobohannya barusan.
“Ini, silakan periksa apakah ada kerusakan atau tidak, aku akan membayar kalau memang ada yang—“
Alis Lorie bertaut. Ia menatap pria yang baru saja menabraknya dengan mata memicing.
__ADS_1
“Raymond?” panggilnya sedikit ragu.
Sudah tiga tahun mereka tidak bertemu, tapi penampilan pria di hadapannya tidak berubah sama sekali ... hanya terlihat lebih matang dan dewasa.
Raymond yang terkejut karena sejak tadi hanya fokus kepada ponsel di tangannya segera menoleh ke arah lawan bicaranya dan memindai wajah yang tampak familiar itu sekejap.
“Kamu Raymond Dawson, bukan?” tanya Lorie untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
“Betul. Dan kamu adalah ....” Raymond tampak keheranan.
Lorie tidak tersinggung karena pria itu tidak mengenalinya, ia sendiri kadang tidak mengenali penampilan dirinya yang sekarang.
“Lorie. Pengawal Kinara Lee ... um, maksudku dulunya aku adalah ....”
“Aku ingat kamu!” seru Raymond seraya melompat maju dan memeluk Lorie erat-erat, seolah sedang melepas rindu dengan kerabat yang lama tak dijumpainya.
Wajah Lorie tampak terkejut dan sedikit kikuk, tapi Raymond seolah tidak menyadarinya.
“Astaga, itu sudah lama sekali. Kamu ke sini bersama siapa? Libur atau bekerja?” cecar Raymond bertubi-tubi, membuat Lorie tidak tahu harus menjawab yang mana lebih dulu.
“Ada restoran yang enak di dekat sini. Ayo, aku traktir makan malam?” imbuh Raymond lagi.
Sebelum Lorie sempat merespon, pria itu sudah menarik tangan Lorie ke arah deretan toko di bagian utara alun-alun St. Mark’s Square. Wanita itu hanya bisa tersenyum pasrah dan menjajari langkah kaki pria yang muncul secara tiba-tiba itu.
Saat berada di luar gedung, Lorie baru menyadari jika matahari sudah terbenam. Semburat jingga memancar di bagian barat, berpadu dengan birunya langit cerah dan awan putih yang berarak tipis. Seulas senyum muncul si wajah Lorie.
Tidak ada salahnya untuk melepas rindu dengan sahabat lama, ‘kan?
***
Rialto Brigde
Doges Palace
Kanal Kota
__ADS_1