
Ketika Lorie terbangun dari tidurnya, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00. Wanita itu segera bangun dan mandi, mempersiapkan diri untuk rapat nanti. Berkas-berkas di dalam map dikeluarkannya dan diperiksa sekali lagi sebelum dimasukkan ke dalam tas kantor berwarna hitam, senada dengan setelan jas dan celana satinnya.
Ia pergi ke depan cermin dan memoleskan bedak tipis-tipis, juga pelembab bibir dan perona pipi. Sejujurnya, ia sama sekali tidak suka berdadan, tapi tuntutan pekerjaan membuatnya setidaknya harus memakai make-up dasar seperti bedak dan lisptik.
Ia merapikan blus marun di balik jasnya dan mengikat rambutnya yang tergerai sebahu menjadi satu. Ya, sejak menjadi Wakil CEO atas mandat Alex Smith, ia tidak pernah memangkas rambutnya menjadi sangat pendek seperti saat ia masih menjadi pengawal Kinara Lee.
Wanita itu mematut diri di depan cermin dan mengamati dirinya yang sekarang, sungguh jauh berbeda dengan Lorie yang dulu. Kelas manner dan kuliah ekstensif yang diatur oleh Alex untuknya telah mengubahnya menjadi wanita karir yang independen seperti sekarang. Ia sungguh tidak tahu harus berterima kasih dengan cara seperti apa kepada pria itu. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah mengerjakan semua tugas yang dimandatkan kepadanya dengan sangat baik agar tidak mengecewakan Tuan Alex.
Ding.
Lorie mengambil ponsel di atas kasur dan membaca pesan yang masuk dari George.
**Saya sudah di lobby utama, Miss**.
Lorie segera mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Ia sedikit tergesa ketika melihat pintu lift hampir menutup. Untunglah salah satu penumpang lift menekan tombol agar pintu lift tetap terbuka.
“Terima kasih,” ucap Lorie seraya mengangguk sekilas ke arah seorang pria bercambang yang baru saja menolongnya.
“Hm.”
Pria itu mengulas senyum tipis sambil melepaskan jarinya sehingga pintu lift tertutup dan meluncur turun.
Lorie langsung bergegas menuju lobby utama bersama orang-orang yang berjejal keluar dari lift. Ia melangkah menuju mobil sedan hitam yang tadi menjemputnya di bandara, lalu masuk dan duduk di kursi penumpang.
“Ayo, jalan,” ucapnya seraya memasang sabuk pengaman.
“Baik, Miss.” George menyalakan mesin dan menjalankan mobil keluar dari pelataran hotel.
Pria itu berbelok ke arah kanan di persimpangan dan masuk ke jalan tol. Di sepanjang jalan, Lorie menatap bangunan-bangunan tinggi menjulang di sisi kiri dan kanan jalan bebas hambatan. Semuanya tampak megah dan indah. Aliran sungai yang bersih sesekali melintas cepat ketika mobil melaju di atas jembatan.
__ADS_1
Ding.
Lamunan Lorie terputus karena ponselnya kembali berdenting. Ia mengeluh pelan karena lupa menyetel mode diam. Ia mengusap permukaan layar ponsel untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
Itu pesan dari Amber. Mau tidak mau Lorie mengulum senyum dan membuka pesan dari gadis kecil itu.
Aunty Lorie. Aku kangen. Cepat pulang, ya. Aku ingin pergi ke taman bermain dan naik bianglala.
Senyuman Lorie semakin lebar membaca pesan itu. Ia mengetik pesan balasan dan mengirimnya untuk Amber.
Oke, Sayang. Tunggu Aunty pulang. Ngomong-ngomong, kamu ingin dibawakan apa?
Dalam sekejap Amber sudah membalas pesan itu.
Adik bayi! Aku mau Aunty membawa adik bayi yang lucu untukku.
Kali ini Lorie tertawa lebar hingga matanya menyipit. Gadis konyol itu ... dari mana datangnya pemikiran lucu itu.
Aunty tidak bisa membawakan bayi untukmu,tapi mungkin sekotak cokelat yang lezat dan boneka teddy yang besar, bagaimana?
Mata Lorie silau melihat banyaknya emot love dan cium yang berderet di akhir pesan Amber. Gadis cilik itu bahkan mengirimkan foto selfie dirinya yang sedang menyeringai lebar dan memamerkan deretan giginya.
Lorie mendesah pelan dan mengusap foto Amber di ponselnya dengan penuh rasa sayang. Anak gadis itu memang sangat dekat dengannya, meskipun Aslan dan Aaron juga dekat, tapi tidak seperti Amber yang selalu mencarinya setiap saat. Mungkin karena dia perempuan, perasaannya lebih sensitif, berbeda dengan kedua saudara laki-lakinya yang memiliki pembawaan lebih tenang seperti ayah mereka.
“Miss, kita sudah sampai.”
Ucapan George membuyarkan konsentrasi Lorie dari ponselnya. Ia segera memasukkan benda itu ke saku jas dan mengambil tasnya.
“Terima kasih, George,” ucapnya kepada pemuda sopan yang duduk di balik kemudi.
“Sama-sama, Miss. Saya akan menunggu Anda di lobi.”
“Oke.” Lorie memegang tasnya dan turun.
Sebuah bangunan sewarna batu pirus berdiri megah di hadapannya. Arsitektur bangunannya tampak menarik, mirip kastil dalam cerita dongeng tapi dimodifikasi dengan bangunan modern masa kini.
__ADS_1
Tanpa sadar Lorie menggeleng dengan ekspresi tak berdaya. Tuan Alex benar-benar sangat memanjakan putrinya sampai-sampai menuruti keinginan gadis kecil itu dan membangun Amber’s Company seperti ini.
Ketika berjalan masuk, Lorie langsung disambut oleh seorang wanita berpakaian formal yang tampak sangat ramah.
“Wakil CEO, selamat datang,” sapanya.
“Selamat pagi, Nona ....”
“Watkins. Saya Jenifer Watkins.”
“Baik, Nona Watkins. Senang berjumpa dengan Anda.”
“Oh, suatu kehormatan bagi saya bisa mendampingi Anda hari ini, Wakil CEO. Silakan lewat sini.“
Jenifer memandu Lorie menuju lift dan menekan tombol nomor 15. Kotak kaca yang hanya berisi mereka berdua itu melesat cepat ke atas dan berhenti ketika lampu indikator berkedip di angka 15.
“Silakan, Nona Lorie. Para manajer dan kepala bagian sudah menanti Anda,” ujar Jenifer seraya membukakan pintu ruang konferensi.
Begitu Lorie melangkah masuk, semua orang yang ada di dalam ruangan itu berdiri dan menyapa, “Selamat pagi, Wakil CEO Lorie.”
“Pagi. Silakan duduk.”
Lorie berjalan menuju kursi yang disediakan untuknya di ujung meja yang membentuk setengah lingkaran. Ia baru duduk setelah memastikan semua orang telah kembali duduk.
“Silakan sampaikan laporan masing-masing divisi kepada saya, bisa dimulai dari bagian akomodasi.”
Dalam sekejap suasana dalam ruangan menjadi sangat serius. Masing-masing orang mempersiapkan laporan mereka untuk diperiksa oleh Lorie. Sudah menjadi rahasia umum, meskipun yang memegang jabatan sebagai Wakil CEO Amber’s Company adalah seorang perempuan, tapi ketegasan dan kemampuannya tidak kalah dari Alex Smith. Oleh karena itulah mereka semua merasa segan dan hormat kepada wanita yang duduk di kursi pemimpin itu walaupun usia mereka rata-rata lebih tua daripada Lorie.
“Pelayanan di hotel sangat bagus, aku berharap ke depannya kualitas seperti itu akan tetap dipertahankan,” ujar Lorie ketika membaca laporan dari divisi khusus yang menangani Hotel Amber.
“Tapi aku ingin agar promosi semakin digencarkan. Setidaknya tiga per empat kamar hotel harus selalu terisi,” lanjutnya lagi seraya membolak-balik dokumen di tangannya dengan ekspresi serius.
“Baik, Wakil CEO.”
__ADS_1
Rapat itu terus berlanjut dengan tenang. Lorie tampak sangat berkharisma dan berwibawa saat memimpin rapat dan mengambil keputusan. Tidak ada satu orang pun yang berani menentang keputusannya atau meremehkannya.
***