
Saat Gio dan Tara baru saja turun dari mobil, dengan di kawal beberapa bodyghuatd karena Gio tahu pasti Arzan, ayah mertuanya itu pasti sedang menyusun rencana untuk mengambil Tara dari tangannya saat ini. Oleh sebab itu, Gio sengaja menyuruh Gavin untuk memerintahkan para bodyghuat untuk mengikutinya dari belakang.
"Ayo sayang turun," ucap Gio yang terlihat begitu gagah saat membuka pintu mobil untuk sang istri. Laki-laki itu benar-benar mampu membuat hati Tara luluh lagi gara-gara Gio yang sengaja melukai tangannya sendiri.
Tara tersenyum sambil berkata, "Aku bisa buka sendiri Gio, tanpa perlu kamu membuka pintu mobil untukku."
Gio membuka kacamata, demi melihat senyum manis yang di miliki oleh sang istri. "Tidak masalah Sayang, masa buka pintu mobil kamu larang, sedangkan buka yang lain kamu no comen," seloroh Gio yang sudah mulai bercanda dengan sang istri. Membuat Tara hanya bisa menunduk sambil mengulum senyum. "Hadap sini dong senyumnya, biar ada asupan bergizi buat mata ini di pagi yang mendung."
"Ish, hentikan Gio, aku bukan cabe-cabean yang bisa kamu gombalin seperti saat ini," ucap Tara terlihat malu-malu ketika ia mengatakan itu. Karena jujur saja, meskipun ia sudah mengenal Gio tapi wanita itu masih saja merasa malu ketika Gio mengelurkan kalimat-kalimat yang mampu membuat hati Tara bergetar dan darahnya seolah-olah berdesir.
"Aku ngegombalin istriku sendiri, masa kamu larang," ujar Gio sambil mencubit pipi sang istri dengan sangat gemas. "Kalau ngegombalin istri orang baru, seorang Tara berhak memarahi Giorgio," celetuk Gio.
"Udah ah, ini mendung pasti sebentar lagi turun hujan." Tara lalu terlihat turun dari mobil dan memegang jari-jemari sang suami. Namun, tidak berselang lama suara Arzan membuat Tara begitu kaget. Sehingga wanita itu langsung saja melepaskan pegangan tangannya dari tangan sang suami.
"Kembali Tara, jangan pernah ikut dengannya!" seru Arzan saat ayah Tara itu terlihat turun dari dalam mobil. "Kembali, dan ikut pulang sama Papa," sambung Arzan yang akan mendekati Tara dan Gio. Akan tetapi, para bodyguatd Gio sudah berbaris menghalangi Arzan.
"Papa, kenapa Papa bisa ada di sini?" tanya Tara yang terlihat sangat heran karena para bodyguat itu sudah berbaris. Sehingga membuat pandangan Tara menjadi terbatas, dan wanita itu hanya bisa mendengar suara sang ayah tanpa melihat wajah Arzan.
"Kembali Tara, dan tinggalkan laki-laki sepeti Gio!" Suara Arzan terdengar setengah berteriak. "Tara jika kamu memilih Papa, maka kamu akan bersedia meninggalkan Gio, dan jika kamu memilih Gio maka itu artinya kamu sudah menganggap Papa ini seperti orang lain." Arzan mengatakan itu. Karena laki-laki itu sangat berharap untuk saat ini supaya putrinya itu memilih dirinya. "Tara, kembalilah ...!"
__ADS_1
"Gio, izinkan aku untuk memeluk Papa sebelum kita pergi," kata Tara sambil menarik-narik ujung lengan jas sang suami. "Gio, aku ingin memeluk Papa," sambung Tara.
Gio melirik jam di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu 5 menit lagi sayang, sana temui papa dan katakan padanya kalau kamu memilih aku, suamimu yang sangat tulus mencintaimu ini," bisik Gio di daun telinga sang istri. "Jangan lupa, kembali jika kamu sayang dan cinta padaku, seperti aku yang mencintaimu, Tara," lanjut Gio sambil mengecup kening istrinya.
Saat ini Gio membiarkan Tara untuk menemui Arzan, karena laki-laki itu hanya ingin melihat apakah Tara benar-benar memilih dirinya atau malah sebaliknya memilih Arzan. Sebab Gio merasa ia tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri, dan itu bisa membuat sang istri menjadi tertekan oleh karena itu Gio mengizinkan Tara menemui Arzan tanpa melarang wanita itu.
"Aku akan memilih kamu Gio, karena kamu adalah suamiku," gumam Tara pelan sambil melelangkahkan kaki untuk memdekat ke arah sang ayah. Dan terlihat para bodyghuat memberikan jalan untuk Tara karena itu semua atas perintah tuan muda Gio.
Sedangkan Gavin yang baru datang terlihat menepuk bahu Gio. "Tuan muda, kenapa Anda malah membiarkan Nona muda Tara, untuk menemui Tuan Arzan?" tanya Gavin yang sedikit merasa takut kalau nanti Arzan akan membawa paksa Tara pergi dari sisi Gio. "Tuan muda, kena–"
"Sstt, kita lihat saja Tara akan memilih siapa." Gio menjawab dengan santai.
Gio mengangkat sedikit sudut bibirnya sambil membalas ucapan Gavin. "Kita lihat saja Gavin, dan sekarang lebih baik kamu bawakan koperku dan koper Tara."
Sedangkan Tara terlihat langsung saja berhambur ke dalam pelukan Arzan. "Papa, maafkan aku," gumam Tara lirih.
Arzan membalas pelukan putrinya itu, dan ia berpikir kalau Tara memilih dirinya bukan Gio. "Ayo Tara, ikut pulang dengan Papa," ajak Arzan.
Tara yang mendengar ajakan sang ayah menggeleng dengan sangat kuat. "Maaf Pa, aku memilih Gio karena sekarang aku bukan milik Papa dan Mama lagi melainkan milik Gio, sejak Gio mengucapkan ijab qobul 10 bulan yang lalu," balas Tara menimpali sang ayah. "Aku berharap Papa lebih paham soal ini semua," lanjut Tara.
__ADS_1
"Tidak Tara, kamu harus memilih Papa ketimbang laki-laki itu." Arzan rupanya tidak terima dengan keputusan Tara. "Ayo Tara, pulang karena Mamamu sudah menunggu kamu di rumah."
"Maaf Pa, aku tidak bisa." Tara lalu terlihat melepas pelukannya dari sang ayah. "Sekali lagi maafkan aku Pa, karena aku memilih Gio." Wanita itu kemudian men ci um pipi Arzan kiri dan kanan, setelah itu Tara terlihat mundur beberapa langkah. "Pa, titip salam untuk Mama," kata Tara yang berbalik lalu berlari menuju Gio lagi.
"Tara! Kembali pada Papa 'Nak!" seru Arzan, yang tidak percaya kalau Tara akan memilih Gio ketimbang dirinya. "Tara, ayolah kembali pada Papa!" Suara Arzan terdengar sedikit berteriak, sebab Tara bukannya mau kembali, tapi wanita itu terlihat malah semakin berlari. "Tara …!"
"Pulanglah Pa, karena aku memilih sumiku, Gio," sahut Tara tanpa menoleh ke belakang.
"Tara pilihan kamu itu salah 'Nak, ayo ikut saja pulang dengan Papa!" kata Arzan setengah berteriak.
Namun, Tara malah tidak menghiraukan sang ayah. Meskipun Arzan berteriak mengucapkan kata berulang-ulang kali.
"Pa, maafkan aku karena aku benar-benar tidak bisa memilih Papa dan Mama, sebab aku ini sekarang adalah milik suamiku," gumam Tara membatin. Yang sebenarnya juga Tara sangat berat hatinmeninggalkan sang ayah. Namun, tidak ada yang bisa Tara lakukan karena hatinya kini sudah sepenuhnya milik Gio.
"Sudah?"
Lamunan Tara menjadi buyar, karena mendengar suara sang suami yang bertanya pada dirinya.
"Tara ...," panggil Gio.
__ADS_1
"I-iya, Gio. Ayo sekarang kita pergi saja," ajak Tara sambil meraih tangan sang suami.