
Aroma masakan yang harum dan lezat menguar di udara, menggelitik indera penciuman Alex. Pria itu meregangkan tangannya dan membuka mata. Ia langsung menyingkap selimut dan duduk ketika melihat Kinara tidak ada di sampingnya.
Alex menoleh sekilas pada jam dinding. Baru pukul setelah tujuh. Ke mana istrinya pergi sepagi ini.
Bukankah seharusnya hari ini dia tidak ada jadwal ke kampus?
“Baby?” panggilnya seraya turun dan berjalan menuju kamar mandi. Kosong. Istri mungilnya tidak ada di dalam sana.
Alex mencuci muka dan masuk ke walk in closet untuk mengganti baju tidurnya. Sebuah kaos kasual berwarna putih dan sebuah celana santai menjadi pilihannya. Sebenarnya pria itu sengaja mengosongkan semua jadwal kerja dan kegiatan hari ini karena tahu istrinya juga akan berada di rumah seharian. Ia ingin memiliki quality time dengan kelinci kecilnya itu. Bergelung di dalam kasur sambil menonton film atau bertukar cerita pasti akan sangat menyenangkan. Setelah selesai berganti pakaian, ia segera keluar untuk mencari istrinya.
“Di mana istriku?” tanyanya pada pengawal yang berdiri tak jauh dari kamarnya.
“Nyonya di dapur, Tuan.”
"Terima kasih."
Alex berjalan menuju ruangan di mana istrinya berada. Semakin dekat, aroma masakan yang gurih dan nikmat semakin terasa. Pria itu melangkah dengan pelan, lalu berhenti di depan pintu dapur. Ia meletakkan telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar diam ketika melihat Lorie hendak menyapanya, kemudian pinggulnya yang ramping bersandar pada tembok. Sambil bersedekap, ia memerhatikan Kinara yang sedang fokus di dekat wastafel.
Tanpa sadar seulas senyum muncul di bibir Alex ketika menyaksikan rambut Kinara yang tergerai bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. Diam-diam ia mengawasi bagaimana istrinya mencuci sayuran dan mengeluarkan kulit dumpling dari dalam kulkas, lalu mulai menyiapkan bahan isian.
Semua itu terlihat sangat indah, membuat rasa hangat dan nyaman memenuhi hatinya. Dengan sangat hati-hati, Alex berjalan menghampiri wanita yang semakin membuatnya tergila-gila itu dan memeluknya dari belakang.
"Aw!" pekik Kinara, terkejut karena sepasang lengan yang kokoh melingkari pinggangnya. Namun, aroma mint yang sudah sangat dikenalnya membuat tubuhnya kembali relaks.
Ia melihat ke belakang dan mengomel, "Alex! Mengagetkanku saja!"
Alex mengetatkan pelukannya dan menciumi bahu Kinara, mengabaikan seruan dan protes dari istrinya.
"Morning, Baby ...," ujar pria itu seraya memutar tubuh istrinya, lalu mengecup bibir mungil itu dengan sangat lembut.
Kinara luluh. Ia membiarkan prianya menciuminya sedikit lebih lama sebelum mendorong lengan dan bahunya yang kuat itu agar menjauh.
"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Alex tanpa mengurai dekapannya.
"Kamu pulas sekali. Aku tidak ingin mengganggumu," jawab Kinara sambil menggeliat, "Lepaskan. Sebentar lagi airnya mendidih. Dumplingnya harus segera dikukus."
Alex melonggarkan pelukannya, membiarkan Kinara kembali mengisi kulit dumpling dengan daging cincang yang sudah dicampur sayuran, lalu memasukan dan menyusunnya di dalam panci yang beruap. Jemari istrinya yang kecil bergerak dengan cukup gesit, membuatnya teringat ketika jari-jari mungil itu menyentuh kulitnya ...
"Baby ...," panggil Alex dengan napas tertahan. Tiba-tiba saja kulit istrinya terlihat seperti kulit dumpling yang sudah dikukus, lembut dan kenyal, membuatnya ingin melahapnya dengan rakus.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Kinara dengan mata memicing ketika menyadari perubahan pada raut wajah suaminya.
"Baunya enak sekali. Aku lapar," ujar Alex sambil mengerjapkan matanya untuk mengusir bayangan yang baru saja berkelebat di kepalanya.
"Benarkah?" Kinara menoleh dan menatap suaminya dengan mata berbinar. "Ini resep yang diajarkan oleh ibuku. Rasanya memang enak sekali. Kamu pasti akan ketagihan setelah mencobanya."
Alex tersenyum lebar dan mengacak rambut istrinya dengan penuh rasa sayang. Kemudian tanpa diminta, ia mengambil celemek yang ada di dekat kulkas dan memakainya. Setelah itu, ia kembali berdiri di belakang Kinara dan mengulurkan tangan hingga menempel dengan punggung tangan istrinya.
"Ajari aku," pinta Alex sambil mendaratkan satu kecupan lembut di pipi istrinya.
Kinara tertegun sesaat. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali ia merasakan kehangatan seperti ini. Sejak kedua orang tuanya meninggal, kehidupannya bisa dibilang berubah seratus delapan puluh derajat. Ia selalu pulang ke rumah yang sunyi, menyiapkan segala sesuatu seorang diri, termasuk memasak. Ia hampir lupa bagaimana rasanya memiliki keluarga. Namun sekarang ....
"Ini pasti akan lebih sempurna kalau ada suara anak kecil berlarian dalam rumah," ujar Alex seakan mengetahui jalan pikiran istrinya.
"Bagaimana menurutmu?" tanyanya lagi sebelum Kinara sempat memberi jawaban. Tangannya bergerak turun, menyentuh perut istrinya dan mengusapnya perlahan.
Kinara membuka mulut, hendak membalas perkataan suaminya. Akan tetapi, gema suara yang keras dari arah pintu membuatnya hampir menjatuhkan dumpling dari tangannya.
"Oh. Maaf, aku tidak menyangka akan ada peragaan kemesraan di dapur!" Billy berjalan masuk sambil mengangkat kedua tangannya di udara. "Selama ini aku pikir ruangan ini hanya dipakai untuk memasak. Sejak kapan beralih fungsi?"
Pria itu menoleh pada Lorie yang masih berdiri tegap di dekat pintu masuk dan berkata, "Kamu menyaksikan semua ini sejak tadi? Lorie yang malang ...."
Alex menatap Billy dengan sorot mengancam. "Apa yang kau lakukan sepagi ini di rumahku?" tanyanya.
"Oh, aku sampai lupa." Billy menepuk keningnya dan berhenti tepat di depan Alex. "Tuan dan Nyonya Besar menghubungimu sejak tadi malam, tapi nomormu tidak bisa dihubungi, jadi mereka memintaku menyampaikan pesan padamu."
Mendengar penuturan Billy, Kinara memalingkan wajah dan kembali menyibukkan diri dengan masakannya. Tentu saja ia tahu apa alasan suaminya mematikan ponselnya semalam. Pria itu benar-benar berubah menjadi monster kalau sudah di atas tempat tidur. Mengingatnya saja sudah membuat otot dan tulangnya terasa ngilu.
Alex sendiri baru teringat kalau ponselnya tidak aktif sejak tadi malam. Ia tidak suka diganggu ketika sedang fokus melakukan sesuatu. Apalagi "sesuatu" itu sangat membuatnya kehilangan kendali dan lupa diri.
"Apa yang terjadi?" tanya Alex, "Kalau bukan berita yang penting, aku akan mengirimmu ke--"
"Nyonya Brenda akan mengadakan pesta untuk merayakan kesembuhanmu," sela Billy sebelum Alex menyelesaikan ucapannya, "Kalian berdua diharapkan untuk datang ke The Spring Mountains pukul tujuh malam, dengan menggunakan pakaian formal. Beliau mengundang walikota dan--"
"Katakan kami akan datang."
"Kenapa kamu tidak menyampaikannya sendiri?" protes Billy.
"Lalu apa gunanya dirimu?" balas Alex, "Pergilah. Buat dirimu berguna."
__ADS_1
"Alex," tegur Kinara sambil memukul pelan lengan suaminya, "Tinggallah untuk sarapan. Sebentar lagi akan matang, kamu boleh--"
"Tidak boleh!" sergah Alex, "Ini semua milikku. Tidak boleh dibagi dengan siapa pun."
Kinara melotot. "Memangnya kamu sanggup menghabiskan semuanya?"
Alex membalas tatapan istrinya. "Tentu saja bi ... hey!"
Billy mengambil sepotong dumpling, memasukkannya ke dalam mulut dan kabur sebelum Alex bisa menangkapnya.
Tawa hampir menyembur dari mulut Lorie melihat semua kekonyolan itu, tetapi ditahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin menjadi pelampiasan tuannya yang sedang mengepalkan tangan pada Billy. Pria itu berlari dengan sangat cepat, sekarang dia sudah hampir mencapai ruang tamu.
"Benar-benar seperti anak kecil," gerutu Kinara seraya menghela napas, "Masih ada satu mangkuk penuh untukmu. Kenapa meneriaki Billy seperti itu?"
"Aku belum mencicipinya sama sekali, tapi bede*bah licik itu ...."
Cup.
Kinara membungkam ocehan suaminya dengan satu kecupan manis. Ia tersenyum puas ketika melihat Alex langsung terdiam dan menatapnya dengan sedikit terkejut.
"Jangan awali hari dengan kemarahan dan teriakan," tegur Kinara sambil memeluk tubuh suaminya.
"Kalau begitu, bisakah kita memulainya dengan kembali ke kamar dan--"
Hap.
Kinara menjejalkan sepotong dumpling ke dalam mulut suaminya.
"Duduk dengan tenang dan makanlah. Ada jamuan yang harus kita hadiri nanti malam," ujarnya seraya tersenyum sangat lebar dengan mata menyipit.
Lorie menarik napas dalam-dalam. Ia bersikap seolah tidak melihat dan mendengar semua hal yang terjadi di depan matanya.
Oh, astaga ... aku tidak tahan lagi.
Rasanya misi untuk menjadi mata-mata di Korea Utara masih lebih mudah dibanding menjadi pengawal pribadi seperti ini.
***
__ADS_1