
Suara ketukan samar membuat kelopak mata Lorie bergerak samar. Antara sadar dan tidak, ia lamat-lamat mendengar seseorang sedang memanggil namanya. Kepalanya seperti terayun-ayun ke depan dan ke belakang. Sesaat kemudian, ia merasa seolah hampir terjun dari ketinggian.
Lorie tersentak bangun dalam satu tarikan napas panjang. Pikirannya terdistorsi sesaat dan ia tidak dapat mengenali lingkungannya. Namun, saat suara ketukan dan panggilan kembali terdengar dari pintu, ia baru menyadari bahwa dirinya tertidur di atas kursi setelah sarapan.
Ia melirik jam dinding. Hampir pukul 12.00. Selama itukah ia tertidur? Rasanya baru memejamkan mata sebentar.
“Aunty Lorie, apa kamu sudah bangun?”
Suara yang bergema seperti denting lonceng itu terdengar lagi. Kali ini ketukan di pintu terdengar sedikit lebih pelan dari sebelumnya.
“Amber?”
Lorie bangun dan berjalan menuju pintu. Saat gagang pintu ditarik, sesosok kepala mungil menyembul dari sana dan langsung menghambur ke dalam pelukan Lorie.
“Aunty ... aku kangen ....”
Lorie yang terkejut hampir kehilangan keseimbangan karena tenaga Amber cukup kuat. Untunglah ia bisa menahannya sehingga mereka berdua tidak terjungkal ke belakang.
“Halo, Sweetie ... aku juga merindukanmu,” bisik Lorie seraya mengusap rambut gadis itu dengan penuh rasa sayang. “Bukankah kamu sedang sakit? Kenapa ke sini? Kamu bisa meminta seseorang memanggil Aunty ke kamarmu.”
Lorie mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Amber. Masih terasa sedikit hangat. Ia hendak berjongkok agar dapat melihat wajah Amber, tapi gadis cilik itu memeluk pinggangnya erat-erat dan tidak mau melepaskannya sama sekali. Dari atas, Lorie bisa melihat pundak Amber sedikit gemetar. Apakah dia sedang menangis?
“Hey, jangan sedih ... sekarang Aunty ada di sini, tidak ada yang bisa menindasmu lagi,” ujar Lorie sambil mempererat dekapannya.
Amber masih tetap diam. Ia semakin menyusupkan kepalanya di perut Lorie dan tidak mau mendongak meski Lorie sudah membujuknya, justru suara tangisannya yang terdengar semakin jelas.
“Jangan menangis lagi, Aunty sudah pulang. Bukankah katanya kamu ingin pergi ke taman bermain? Kalau kamu menangis, nanti jadi jelek ... Aunty tidak mau pergi dengan gadis jelek.”
Ucapan Lorie itu berhasil membuat Amber memberi reaksi. Dia menarik ujung baju Lorie dengan lemah, kemudian perlahan mendongak. Tatapan keduanya bertemu di udara. Wajah Lorie dipenuhi kasih sayang dan kelembutan, sedangkan sorot mata Amber dipenuhi kesedihan dan sedikit tuduhan.
__ADS_1
“Aunty tidak mencintaku lagi, ‘kan?” gumam gadis kecil itu seraya terisak pelan. “Aunty bahkan tidak membalas pesanku dan tidak mengangkat teleponku.”
Suara Amber penuh dengan keluhan, membuat Lorie tidak tahan. Ia menunduk untuk menciumi wajah yang sehalus buah persik itu.
“Maafkan Aunty,” ucap Lorie seraya tersenyum lembut. “Aunty benar-benar sibuk, bukannya ingin melupakanmu, Sayang.
Mendengar ucapan itu, tangis Amber justru semakin kencang. Lorie kewalahan dan terpaksa menggendong bocah itu ke tempat tidur. Amber langsung meringkuk seperti bayi koala dan sesenggukan sampai seluruh wajahnya merah padam.
Lorie merasa sedikit aneh karena tidak mungkin Amber sesedih itu hanya karena merindukan dirinya. Oleh karena itu, ia ikut berbaring di samping Amber dan mendekapnya dengan hati-hati. Satu tangannya mengusap-usap punggung Amber perhalan, membiarkan gadis kecil itu menumpahkan semua emosinya dan menangis sampai puas.
“Apa ada yang mengganggumu di sekolah?” tanya Lorie setelah tangisan Amber sudah berubah menjadi isakan-isakan kecil.
“Apa Leon mengganggumu lagi? Atau Derby? Katakan, siapa yang merisakmu. Aunty akan memberi pelajaran kepada mereka,” bujuk Lorie seraya menciumi puncak kepala Amber dengan penuh kasih sayang.
Amber menggeleng pelan.
“Aku kangen Mommy,” gumamnya dengan suara sengau. “Biasanya ada Aunty yang menghiburku, tapi ... aku jadi merindukanmu juga.”
Amber menggigit bibirnya dan mengangguk pelan.
“Malam ini aku ingin tidur bersama Aunty,” bisiknya.
“Oke.”
“Aku mau kalkun panggang buatan Aunty.”
“Oke.”
“Juga puding berry.”
__ADS_1
“Oke.”
“Bacakan dongeng untukku.”
“Oke.”
“Aku mau pergi ke taman bermain.”
“Oke. Tapi kamu harus sembuh lebih dulu.”
“Em ... peluk aku?”
“Oke.” Lorie tersenyum lebar dan mengetatkan pelukannya. “Begini?”
“Hm.”
“Kurang kuat?” Lorie mengaitkan kakinya ke pinggang Amber dan berpura-pura akan menindihnya.
“Tidak! Itu terlalu ketat,” protes Amber sambil berusaha meloloskan diri.
Tentu saja Lorie tidak membiarkannya pergi. Ia mengungkung tubuh gadis kecil itu dengan kedua tangannya, lalu menghujani wajahnya dengan ciuman. Amber terkikik geli dan mencoba membalas, tapi Lorie justru menggelitik pinggangnya hingga membuatnya terbahak. Suara tawanya bergema di sepanjang koridor.
Alex yang sejak tadi mengintip dari balik pintu yang masih terbuka akhirnya mengulas senyum tipis. Ia mengembuskan napas lega dan kembali ke ruang kerjanya.
Tadinya ia sedikit panik ketika pelayan memberitahu bahwa Amber menghilang dari kamar. Rupanya gadis kecil itu benar-benar sudah tidak tahan dan menghampiri Lorie tanpa memberitahunya lebih dulu. Mungkin karena tadi ia sempat melarang putrinya ke kamar Lorie dengan alasan wanita itu sedang beristirahat.
Pria itu menghela napas panjang. Syukurlah sekarang gadis kecilnya sudah kembali ceria.
***
__ADS_1
like heyyy likeee 😂