Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 93: Apa yang terjadi?


__ADS_3

Mobil berguncang ketika melewati aspal yang berlubang. Kinara menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada. Area ini sama sekali belum pernah ia lewati sebelumnya. Jalanan semakin lengang, bangunan di luar pun semakin berkurang. Gadis itu menatap ponselnya dengan gelisah. Lorie belum juga membalas pesan-pesannya. Ia berharap pengawalnya itu segera memeriksa ponselnya dan membaca pesan yan masuk.


Kinara berpikir sejenak, kemudian memberanikan diri untuk mengambil resiko. Ia mengusap permukaan ponselnya dan mencari nama suaminya dalam daftar kontak. Setelah ketemu, ia menyentuh bulatan hijau dan menatap tulisan yang terpampang di layar ponsel.


Tut.


Panggilan itu terputus sebelum sempat terhubung. Kening Kinara mengernyit. Ia mendekatkan ponselnya ke wajah. Benda pipih di tangannya tidak ada sinyal. Jantung gadis itu berdegup semakin tidak beraturan. Ia mencoba mengirim satu pesan lagi pada Lorie.


Pesan gagal terkirim.


Gadis itu menggenggam ponselnya kuat-kuat. Ia tidak memiliki persiapan sama sekali. Tidak senjata, atau bahkan pakaian. Kinara menunduk dan melihat dress model sabrina dan high heels yang dipakainya. Benar-benar sangat tidak mendukung.


Kinara meneoleh ke kanan. "Sebenarnya kita mau ke mana?" tanyanya pada pengawal Brenda Smith yang duduk di sebelahnya.


"Tenanglah. Nyonya besar tidak mungkin mencelakakanmu," sahut pria itu dengan wajah datar. Ia menunjukkan raut tidak sukanya dengan jelas kepada Kinara. Baginya, siapa pun yang tidak disukai oleh majikannya maka sudah sepatutnya pula ia juga tidak menyukai orang itu, tanpa terkecuali.


"Bukan begitu maksudku ... hanya saja, bukankah seharusnya kita pergi ke The Spring


Mountains?" balas Kinara ragu-ragu. Pengawal bertubuh kekar ini cukup mengintimidasinya.


"The Spring Mountains atau bukan, yang penting nyonya besar ingin kita pergi ke sana, maka kita harus ke sana!" seru pengawal itu sambil menatap tajam ke arah Kinara. Menurutnya Kinara terlalu banyak bicara.


Kinara terdiam, tidak berani mengatakan apa pun lagi. Ia tidak ingin membuat keributan sekecil apa pun. Jangan sampai granny tahu dan semakin memiliki alasan untuk tidak menyukainya. Akhirnya gadis itu hanya menahan semua keluhannya dan duduk dengan diam. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan? Tidak mungkin ia melompat turun dari atas mobil yang sedang melaju kencang ini, ‘kan?


Tahu begini tadi aku menunggu Lorie saja, gerutu Kinara dalam hati. Ia sungguh kesal dan marah, tapi tidak tahu harus melampiaskannya pada siapa. Entah mengapa wanita tua itu tidak bisa membiarkannya hidup dengan tenang bersama Alex? Hanya karena statusnya yang rendah?


Cih!


Apa lagi yang diinginkannya sekarang? Apa semua ini memang sudah direncanakannya dengan matang? Apa Alex akan mengamuk kalau mengetahui neneknya berulah seperti ini? Atau jangan-jangan rombongan ini sedang dibajak ... bisa saja, kan?


“Lorie, cepatlah ...,” gumam gadis itu dengan penuh permohonan. Ia sadar, meskipun dirinya sudah sering berlatih dan kemampuan bela dirinya meningkat drastis, ia tetaplah gadis biasa. Paling banyak ia hanya bisa melawan sepuluh orang dengan tangan kosong. Kalau sampai lebih dari itu ... ah, hanya Tuhan yang tahu.


Kinara mendongak dan bersandar di kursi. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam untuk meredakan ketegangan. Otaknya mulai overthinking, hal itu membuatnya semakin cemas. Semakin cemas maka ia semakin tidak bisa berpikir dengan jernih. Sekarang ini, menenangkan diri adalah satu-satunya jalan terbaik. Tentu saja sambil berharap agar Alex dan Lorie segera menemukannya.

__ADS_1


***


Alex sedang fokus memeriksa berkas mengenai Andromeda Coorporation di ruang baca, melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena kedatangan granny tadi. Rupanya meskipun perusahaan itu telihat kecil, tetapi cabang perusahaannya ada di mana-mana. Hampir separuh negara di Eropa dan Asia sudah berhasil ditaklukkan. Dalam tiga bulan terakhir, omset perusahaan itu sudah hampir mencapai satu juta USD. Tentu saja, hampir semua keuntungan itu didapat setelah mengadakan kerja sama dengan Jotuns Corps, atau setelah membeli anak perusahaan Jotuns.


“Semua karena Jericho kepar*t itu!” geram Alex dengan sorot mata berapi-api.


Ia melemparkan berkas-berkas itu ke atas meja hingga kertas-kertas beterbangan, beberapa terserak di atas lantai. Namun, pria itu tidak peduli. Tangannya terkepal erat. Rasanya ia ingin sekali menghancurkan kepala Jericho. Tidak. Rasanya ia ingin sekali membawa bedeb*h licik itu ke Red Room dan memutuskan anggota tubuhnya bagian demi bagian.


Sepupunya yang brengs*ek itu sepertinya sengaja memprovokasinya dengan menjual hasil kerja kerasnya satu per satu. Alex benar-benar kesal setengah mati. Andai saja sepupunya itu tidak menjadi jembatan menuju sosok di balik Andromeda Coorporation itu, pasti dia sudah hancur sejak Alex mengetahui bahwa pria itulah yang menyebabkan kecelakaan mobilnya.


Alex berjalan mondar-mandir dalam ruang baca sambil memeriksa laporan perusahaan dari Anne. Hampir tidak ada harapan lagi. Nilai jual saham benar-benar turun hingga titik terendah. Beberapa perusahaan asing memutuskan kontrak kerja sama. Mereka lebih memilih untuk membayar pinalti. Ini benar-benar kacau. Alex mengambil ponsel di atas meja dan melakukan panggilan.


“Bagaimana perkembangan mengenai kosong tiga?” tanyanya begitu panggilannya terhubung.


“Maaf, Tuan. Belum ada titik terang,” jawab suara bariton yang terdengar tenang dan penuh perhitungan dari seberang sana.


Suara itu terdiam sesaat sebelum melanjutkan, “Sumber terakhir mengkonfirmasi bahwa tidak ada yang keluar dari mobil kosong tiga ketika meledak. Peristiwa itu terekam oleh kamera dashboard salah satu mobil yang sedang melintas. Tapi sampai sekarang posisi kosong tiga belum bisa dipastikan. Jasad dari dalam mobil yang hancur itu pun belum berhasil diidentifikasi.”


“Itu ... tidak lebih dari lima puluh persen. Satu-satunya yang membuat kami yakin kosong tiga masih hidup adalah sinyal power-life yang masih menyala. Sayangnya alat pelacaknya mati. Sepertinya alat pelacak itu terlepas atau sengaja dilepas dari tubuhnya. Satelit kita tidak bisa melacaknya. Untuk sekarang, yang bisa kita lakukan adalah menunggunya yang lebih dulu menghubungi kita.”


“Bagaimana dengan orang-orang yang kusuruh untuk menyisir wilayah yang didatangi oleh kosong tiga?”


“Belum ada hasil. Sepertinya semua jejak telah berhasil ditutupi oleh musuh dengan sangat baik. Beberapa orang bahkan mendapatkan informasi acak dan membuat mereka menemukan jalan buntu.”


“Sial,” umpat Alex dengan kesal, “Aku akan menghubungimu lagi nanti.”


Alex memutuskan panggilan telepon dan menyugar rambutnya dengan kasar. Desahan pelan lolos dari bibirnya. Kerutan di keningnya berlapis-lapis hingga alisnya hampir bertaut satu sama lain. IA berpikir keras, tetapi belum menemukan cara untuk mengurai benang kusut ini. Semua cara sudah ia coba. Semua kemampuan sudah ia kerahkan. Namun lawannya kali ini benar-benar tangguh.


Saat ini satu-satunya peluang untuk menyingkap tabir misteri ini ada pada 03. Ia sungguh berharap pria itu berhasil lolos dan sedang mencari cara untuk kembali. Neil sama sekali tidak berguna. Pria itu lebih memilih mati daripada membongkar identitas tuannya. Sedangkan pelayannya yang menukar kado Kinara tempo hari sama sekali tidak dapat diandalkan. Informasi yang diberikan oleh wanita itu sangat terbatas. Bukan salahnya karena memang organisasi yang menyerangnya ini bekerja dengan sangat rapi. Bahkan orang-orang terbaik yang menjadi kepercayaannya pun dibuat kewalahan.


“Tuan!”


Lorie menghambur masuk ke dalam ruang baca tanpa mengetuk pintu, membuat Alex menatapnya dengan mata memicing. Untung Kinara sedang tidak ada di rumah jadi ia tidak perlu bersusah payah kembali ke kursi rodanya. Berpura-pura itu ternyata sangat melelahkan. Ia harus menjaga sikap dan tingkah lakunya sepanjang waktu.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” tanya Alex ketika melihat raut wajah Lorie yang cemas dan gugup.


“Apa nyonya besar menghubungi Anda?”


Lorie balik bertanya. Ia berjalan menghampiri Alex dan menunjukkan ponselnya. “Nyonya Kinara mengirim pesan pada saya dan mengatakan bahwa mobil berbelok arah, tidak menuju The Spring Mountains.”


“Apa?” seru Alex seraya memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan atau panggilan tak terjawab dari granny.


“Saya tadi masih berendam jadi tidak langsung melihat pesan dari nyonya. Sekarang sudah sekitar setengah jam sejak nyonya mengirimkan lokasi terakhirnya. Itu kurang lebih satu jam perjalanan dari sini.”


Alex kalut. Ia menekan nomor yang sudah sangat dihafalnya di luar kepala. “Di mana posisinya sekarang?” tanyanya sambil menunggu panggilannya terhubung.


“Nyonya tidak bisa dihubungi. Kemungkinan ponselnya mati atau tidak ada sinyal.”


Lorie menggigit bibir dengan cemas. Seharusnya ia tidak berendam terlalu lama tadi. Siapa yang tahu kalau majikannya itu akan pergi tanpa memberitahunya?


Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan tinggalkan pesan, atau hubungi kembali beberapa saat lagi.


“Sial!” maki Alex ketika panggilannya tidak tersambung. Nomor Kinara tidak dapat dihubungi seperti kata Lorie. Ia mencoba menekan nomor granny yang tersimpan di kontak ponselnya.


Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan tinggalkan pesan, atau–


“Sial! Sial! Sial!” umpat Alex sambil meninju udara


Ia menggeram frustasi. Nomor granny pun tidak dapat terhubung. Apa yang sedang terjadi? Apakah musuhnya melakukan sabotase lagi? Sepertinya tidak mungkin neneknya itu bekerja sama dengan para penjahat. Namun wanita itu juga tidak mungkin keluar jalur kalau tidak ada sesuatu yang terpaksa membuatnya melakukan hal itu.


Apakah granny juga diancam?


Alex benar-benar merasa sebentar lagi ia akan gila dan meledak. Ia benar-benar akan meledak kalau sampai sesuatu terjadi pada istri dan neneknya.


“Perintahkan semua pasukan untuk bersiap. Lacak posisi terakhir di mana istriku berada dan kemungkinan dia dibawa ke mana!” perintah pria itu seraya mengambil jasnya yang tersampir di atas kursi.


Dengan tergesa Alex berderap keluar, mengabaikan tatapan heran para pelayan yang melihatnya bisa berjalan dengan normal. Ia sudah tidak sempat memikirkan untuk berpura-pura buta atau lumpuh. Istrinya di luar sana dalam bahaya. Sendirian. Persetan dengan rencana dan strategi! Nyawa istrinya lebih berharga dari apa pun. Kalau setelah ini musuh-musuhnya menjadi lebih waspada karena mengetahui ia sudah bisa melihat dan berjalan lagi, tidak masalah. Ia hanya perlu menyusun kembali semuanya dari awal.

__ADS_1


__ADS_2