
Sembilan jam penerbangan membuat Raymond sedikit pengar. Ia tidak bisa tidur sama sekali meski matanya terasa berat dan sepat. Sejak dua hari lalu, ia memang tidak bisa tidur meski sudah memaksa untuk memejamkan mata. Otaknya tidak bisa diajak kerja sama, terus berpikir dan berpikir hingga kepalanya sudah hampir mengepulkan asap karena overload.
Tekanan dari kedua orang tuanya membuat Raymond mengambil keputusan untuk menyusul Alice ke Italia. Masalah di antara mereka tidak bisa dibicarakan hanya melalui telepon atau pesan teks. Itulah sebabnya ia sudah berada di bandara internasional Malpensa di Milan sepagi ini.
Angin berembus cukup kencang saat pria itu keluar dari pintu kedatangan. Meski masih berada di penghujung musim panas, tapi perubahan cuaca yang ekstrim membuat Raymond bersin beberapa kali. Ia menghampiri taksi bandara yang ada di depan *arrival gate* dan meminta sopir untuk mengantarnya ke Kota Bergamo.
Sepanjang perjalanan, Raymond sibuk menyusun kalimat dalam kepalanya. Apa yang harus ia ucapkan ketika bertemu Alice nanti? Meminta maaf? Tapi, jelas-jelas ia tidak melakukan kesalahan.
Pria itu menghela napas dan memejamkan mata. Tadinya kedua orang tuanya tidak menyetujui hubungannya dengan Alice karena profesinya sebagai seorang model dianggap tidak terlalu pantas untuk menjadi bagian dari keluarga Dawson.
Namun, sejak Alice memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya agar dapat menikah dengan Raymond, kedua orang tuanya pun berubah sikap dan sangat memanjakan wanita itu. Mereka menganggap Alice adalah wanita yang patuh karena rela mengorbankan karirnya demi keluarga. Sayangnya, sekarang Raymond sendiri semakin bingung dengan perasaannya.
“Apakah Anda ingin lewat jalan tol, Sir?” tanya sang sopir.
“Terserah saja, yang penting bisa lebih cepat sampai,” jawab Raymond.
__ADS_1
“Baik.”
Si sopir membelokkan kemudi memasuki jalan pintas yang sudah dihafalnya berdasarkan pengalaman mengemudinya selama bertahun-tahun. Sedangkan Raymong menatap jam di pergelangan tangannya sekilas. Pukul empat pagi. Ia mendesah pelan dan menatap ke luar jendela.
Lampu-lampu jalanan seolah berlari cepat, susul menyusun dengan pohon ek di pinggir trotoar. Semakin dekat ke rumah Alice, jantung Raymond seolah kehilangan ritmenya, lambungnya bergejolak karena rasa mual. Kepalanya berdenyut hebat hingga pandanganya sedikit menggelap.
Raymond menepuk bagian belakang kursi sopir sambil berkata, “Berhenti sebentar, Pak.”
Sopir yang terkejut segera menepikan mobil ke sisi jalan. Begitu mobil melambat, Raymond menarik handle pintu dan melesat keluar. Ia berpegangan pada sebatang pohon chestnut, lalu menunduk dan muntah dengan hebat. Pria itu muntah sampai tersedak beberapa kali. Napasnya tersengal ketika seluruh isi perutnya sudah ditumpahkan ke semak-semak yang ada di bawah pohon.
“Anda baik-baik saja, Sir?” tanya sopir yang menghampiri Raymond seraya membawakan botol air mineral.
Seluruh wajah Raymond merah padam. Ia menerima botol berisi air itu dan meminum isinya beberapa teguk. Setelah itu membasuh wajahnya dan menyiramkan sisa air ke semak-semak.
Sialan. Apa yang terjadi?
Pria itu berjalan dengan linglung kembali ke mobil dan bersandar sambil memejamkan mata. Mengapa rasa yang tidak karuan itu tiba-tiba muncul dan menyiksanya seperti ini?
__ADS_1
Sopir yang ikut masuk ke dalam mobil melirik ke arah Raymond dan bertanya dengan hati-hati, “Anda yakin baik-baik saja, Sir? Perlu saya antar ke rumah sakit?”
“Tidak perlu. Jalan saja, sebentar lagi sudah sampai.”
“Baik.”
Pria tua itu mengemudikan mobilnya lagi membelas jalanan yang masih lengang. Sesekali ia mengintip dari cermin di atas dashboard untuk memastikan bahwa penumpangnya baik-baik saja. Untungnya pria itu tidak muntah lagi.
Raymond menegakkan tubuhnya saat mobil memasuki kawasan perumahan elit yang merupakan tempat Alice tinggal. Semakin dekat ke sana, jantung Raymond semakin berdetak tak beraturan. Ia masih belum tahu harus mengatakan apa kepada tunangannya itu nanti.
Sebuah pohon oak yang tinggi menjulang di depan rumah bercat cream dan putih gading tampak tenang dan teduh, sangat kontras dengan isi kepala Raymond saat ini.
Keberadaan sebuah mobil Cadilac putih di halaman rumah itu membuat Raymond meminta sopir untuk berhenti sekitar sepuluh meter dari pohon oak. Sepanjang yang ia tahu, Alice tidak memiliki mobil dengan tipe itu, juga kedua orang tuanya, tidak ada yang memiliki Cadilac.
Setelah membayar biaya taksi, Raymond berjalan dengan sangat perlahan menuju rumah Alice. Lampu teras memancarkan cahaya keemasan, menyinari sepasang sepatu pantofel hitam di ujung anak tangga dengan cukup jelas.
Rasa nyeri menusuk hingga ulu hati. Raymond bisa menebak apa yang sedang terjadi, tapi juga berusaha untuk menyangkalnya sekuat tenaga. Mulutnya terasa kering dan otaknya tiba-tiba kosong melompong.
__ADS_1
Ia tidak sanggup menghadapi apa yang mungkin akan terungkap sebentar lagi. Hal itu membuatnya hanya terpaku di depan pintu seperti orang bodoh.
***