Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 24


__ADS_3

Suara gesekan besi terdengar nyaring ketika rantai besi yang menahan tubuh Lorie meluncur ke bawah, membuat tubuh wanita itu merosot dan ambruk. Ucapan Rafael sebelum keluar tadi masih bergema di gendang telinganya. Bedebah itu menyuruh para pria di dalam ruangan untuk menghabisi nyawanya.


Lorie menyeringai tipis. Begitu juga bagus. Ia tidak perlu mengkhawatirkan apakah sekarang ada janin yang sedang terbentuk di rahimnya atau tidak. Memikirkan hal itu lebih membuatnya stres dan putus asa daripada harus menghadapi Rafael.


Seorang pria berkajet parka hitam tiba-tiba berjongkok di depan Lorie dan berkata, “Nona, jangan terlalu keras kepala. Sebaiknya kamu menyerah dan hubungi atasanmu.”



Lorie melirik pria itu sekilas dan menatapnya lekat. Tampaknya pria itu sedikit merasa kasihan kepada dirinya. Sayangnya, ia sendiri sungguh tidak peduli. Dibunuh atau tidak, itu sama saja. Toh, setiap orang pasti akan mati, yang membedakan adalah waktu dan bagaimana orang itu mati, jadi apa yang harus ditakutkan? Meski demikian, ia tetap merasa sedikit tersentuh karena perhatian pria di depannya itu.



“Siapa namamu?” Lorie balik menanyai pria yang masih berjongkok di depannya itu.



“Apa itu penting?”



“Penting. Karena jika bantuan datang sebelum aku mati, maka kamu satu-satunya yang akan keluar dari tempat ini tanpa terluka.”



Pria itu tampak terkejut, sedangkan rekan-rekannya yang lain mencibir ke arah Lorie. Mungkin mereka menganggap wanita itu sudah sinting.



“Thomas, berhenti membuang waktu. Bos menyuruh kita untuk menyingkirkan ja\*lang ini, cepat lakukan,” ujar salah seorang dari pria yang berdiri melingkari Lorie.

__ADS_1



“Thomas. Aku akan mengingat nama itu,” ujar Lorie sambil memaksakan seulas senyum yang terlihat sedikit aneh karena wajahnya yang sudah babak belur hampir tak bisa dikenali lagi.



“Cerewet sekali!” sergah suara yang entah milik siapa.



Sedetik kemudian sebuah pukulan menghantam ulu hati Lorie, membuatnya tersedak dan tidak bisa bernapas.


Satu tendangan ke punggungnya.


Injakan di paha dan betisnya.


Pukulan ke wajahnya.


Pukulan bertubi-tubi.


Lorie meringkuk seperti bola untuk melindungi wajah dan dadanya, tapi tetap saja setiap hantaman di tubuhnya perlahan meruntuhkan benteng pertahanannya. Cairan masam dan pahit meluncur dari lambung, meninggalkan jejak panas ketika melewati kerongkongan, lalu tumpah keluar dari mulut bersama darah kental yang anyir. Wanita itu terus muntah hingga tak ada lagi yang tersisa di lambungnya.


Suara tawa, cemoohan, caci maki dan cibiran bergaung samar dalam gendang telinganya yang terasa nyeri. Ia hampir kehilangan kemampuan indra penglihatan dan pendengaran dan, tapi masih bisa menyadari ketika pintu besi tiba-tiba terbuka dan Rafael merangsek masuk dengan wajah pucat pasi.


“Hentikan!” teriak pria itu dengan panik.


Dalam sekejap seluruh anak buahnya menyingkir, membiarkan Rafael lewat dan berlutut di sisi Lorie. Pria itu memegang ponsel di tangannya dan mengarahkan benda itu kepada Lorie.


“Lihat, dia masih hidup ... masih hidup ... jangan sentuh Vivian, aku mohon jangan sentuh putriku,” ucap pria itu dengan ekspresi memelas, sangat berbeda jauh dengan sosoknya yang kejam dan semena-mena tadi.

__ADS_1


Lorie menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk mendongak dan melihat siapa yang muncul di layar ponsel Rafael sehingga sanggup membuat pria itu gentar seperti ini.


“Lorie, apa yang dia lakukan kepadamu?!” seru Billy saat melihat rupa Lorie yang seperti baru saja ditabrak oleh bus kota.


“Billy, kenapa lama sekali, brengsek ...,” gerutu Lorie pelan. Napasnya yang mengembus satu-satu hampir tak terdengar.


“Maafkan aku, kamu boleh memukuliku nanti. Bertahanlah, aku akan mengeluarkanmu dari sana. Pasukan sedang dalam perjalanan.”


“Hum ....”


Lorie mengerang pelan dan berbaring dengan tenang. Ia memejamkan mata, setiap tarikan napasnya terasa benar-benar menyiksa. Setiap mengucapkan sepatah kata membuatnya sangat mual ingin muntah, sepertinya karena gegar otak. Meski demikian, ia masih mengeratkan gigi dan memaksa untuk bicara dengan sangat pelan.


“Billy, pria bernama Thomas ... jangan sentuh dia.”


“Baik. Kamu tenanglah.”


Seketika seluruh pria yang berada di dalam ruangan itu gemetar. Mereka melirik ke arah Thomas yang terpaku di sudut ruangan dan tidak ikut dalam kegilaan mereka barusan. Tiba-tiba orang-orang itu merasa sangat menyesal hingga ingin menabrakkan kepala mereka ke tembok karena kebodohan mereka.


“Aku sudah melakukan apa yang kalian minta, sekarang bebaskan putriku,” ucap Rafael dengan suara penuh nada permohonan, Lorie bahkan bisa merasakan pria itu sedang berusaha menahan tangis.


“Itu tergantung bagaimana sikapmu kepada Lorie,” balas Billy. “Sayangnya aku lihat sikapmu sangat buruk. Bagaimana aku harus membalasnya?”


“Pukul aku, kamu boleh menyiksaku sesuka hatimu, tapi lepaskan putriku, oke?”


Suara kekehan pelan meningkahi ucapan Rafael. Pria itu menoleh dan mendapati itu adalah Lorie yang sedang tertawa walau sambil menahan rasa sakit.


“Rafael, ingat apa yang aku katakan sebelumnya?”


Suara yang begitu pelan dan tenang itu membuat tubuh Rafael membeku.

__ADS_1


***


__ADS_2