
Rumah di pinggir kota itu terlihat sepi. Rumpun mawar putih di halaman rumahnya bergoyang tertiup angin. Lorie mendorong pagar hitam yang tidak terkunci itu dan berjalan masuk. Ia memberi kode agar empat orang pengawal bayangan yang menemaninya tetap bersembunyi. Gadis itu memasang thermal-imaging yang menyerupai kacamata hitam dan menekan tombol untuk memindai. Hanya terlihat satu orang yang sedang bergerak di dalam rumah minimalis itu. Lorie melepas kembali kacamata itu dan memasukannya ke dalam tas. Setelah yakin, ia berjalan menuju pintu masuk dan menekan bel.
"Tuan Billy," tegurnya begitu melihat sosok berambut kecokelatan itu muncul dari balik pintu.
"Lorie, masuklah."
Billy membuka daun pintu semakin lebar. Ia sedikit menyingkir, memberi jalan pada gadis di hadapannya agar bisa masuk. Meski begitu, wajah pria itu terus menunduk. Ia enggan menatap wajah Lorie.
Kejanggalan itu tak luput dari perhatian Lorie. Meski begitu, ia tetap mengulas senyum manis sebelum bertanya, "Situasi genting apa yang membuat Anda meminta saya datang ke sini secara pribadi, Tuan?"
"Ada beberapa hal yang harus kutanyakan padamu. Masuklah dulu," jawab Billy seraya memutar tubuhnya dan hendak berjalan menuju sofa.
Drrrt.
Tubuh Billy bergetar ketika sebuah stun gun ditempelkan di pinggangnya. Ia hanya sempat mendengar suara teriakan Lorie sebelum pandangannya menggelap.
"Tuan?! Tuan Billy!" panggil Lorie sembari berjongkok dan menggoyang pundak Billy.
Tubuh pria itu terbaring dengan tenang, tidak memberi respon apa pun. Lorie menekan pangkal lehernya untuk memeriksa denyut nadi.
"Aman," ujar gadis itu setelah memastikan Billy benar-benar kehilangan kesadaran, "Bawa dia ke markas."
Dua orang pengawal bayangan muncul dari samping kanan dan kiri Billy, kemudian mengangkatnya keluar. Lorie membantu membukakan pintu mobil bagian belakang. Tubuh Billy diletakkan di jok dengan hati-hati. Lorie menutup pintu mobil dan pindah ke depan.
"Ayo jalan," ujarnya pada pengawal bayangan yang duduk di belakang kemudi.
Setelah mobil melaju meninggalkan kediaman Billy, Lorie mengeluarkan ponselnya dan menekan speed dial nomor tiga. Ia mengetik pesan singkat di layar ponselnya.
Shadow 04 melapor.
Target sudah diamankan. Dalam perjalanan menuju markas. Konfirmasi untuk back up. Over.
Ia menyentuh icon kirim, lalu menoleh sekilas ke kursi penumpang. Mata Billy masih terpejam erat.
Lorie menghela napas yang terasa berat. "Maafkan aku," gumamnya pelan.
Ia sudah merasa curiga ketika tiba-tiba Billy menelepon dan memintanya untuk datang ke sini. Ditambah lagi gerak-gerik pria itu saat bertemu dengannya tadi, terlihat tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Ting.
Ponsel Lorie berdenting. Ia segera mengusap permukaan benda pipih itu dan membaca pesan yang masuk.
Nona Lorie, Jericho baru saja datang ke sini. Bodyguard sudah menyeretnya keluar.
"Sial!" umpat gadis itu sebelum mengetik pesan balasan. Rupanya ini alasan Billy memancingnya agar pergi dari rumah.
Apa nyonya baik-baik saja?
Ting.
Nyonya baik-baik saja. Dia memintamu untuk segera menemuinya ketika pulang nanti.
Aku akan segera kembali. Jangan biarkan nyonya pergi kemana pun.
"Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu," ujarnya pada pria yang memegang kemudi.
***
Bip. Bip. Bip.
"Ada keluhan? Nyeri di punggung atau gangguan pernapasan?" tanya dokter Ana setelah semua pengecekan rutin selesai dilakukan.
"Tidak. Hanya rasa sakit akibat luka operasi," jawab Alex. Ia berdeham dan memejamkan mata. Efek obat bius masih sedikit terasa. Kepalanya terasa pening. Ia juga berusaha menahan rasa mual yang sejak tadi menggedor lambungnya.
"Aku akan menambah dosis pereda nyeri jika rasa sakitnya tidak dapat kau tahan."
"Tidak perlu. Ini tidak sesakit waktu operasi tulang keringku," tolak Alex. Saat ini yang ia inginkan hanyalah tidur. Ia sangat ingin tidur dengan nyaman.
Dokter Ana tersenyum. "Kita harus menunggu setidaknya 24 jam untuk mengetahui tingkat keberhasilan operasi ini. Selama itu, aku akan mengontrolmu setiap jam," ujar dokter Ana pada Alex.
"Baik."
"Istirahatlah."
Dokter Ana membereskan peralatannya, kemudian berjalan keluar. Setiap pria dan wanita yang ia jumpai di sepanjang jalan menuju ruangannya menunduk dengan hormat dan mengucapkan salam. Sesekali ia membalas sapaan itu dengan senyum manis.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam kamar yang cukup luas dan nyaman, wanita itu duduk di belakang meja kerjanya. Ia memeriksa kembali seluruh laporan kesehatan Alex dan mengatur strategi selanjutnya, untuk berjaga-jaga jika pencangkokan bantalan tulang belakang itu ditolak oleh tubuh Alex.
Wanita itu menunduk dan memeriksa betisnya yang terasa pedih. Rupanya ada goresan sepanjang hampir sepuluh sentimeter yang cukup dalam. Mungkin luka gores itu timbul sewaktu memindahkan Alex dari rumahnya ke tempat ini subuh tadi. Ia mengambil cairan iodine dan membersihkan lukanya.
Helaan napas panjang lolos dari mulut wanita itu ketika ia mengingat kembali bagaimana paniknya saat operasi baru saja selesai dan anak buah Alex memberi instruksi untuk segera keluar dari rumahnya. Benar-benar pengalaman yang sangat mendebarkan. Untunglah mereka bisa tiba di sini dengan selamat.
"Dokter?"
Dokter Ana mendongak ketika mendengar pangggilan dari luar kamarnya disertai ketukan pelan.
"Ya?" sahutnya seraya berjalan menuju pintu.
"Anda sedang sibuk?"
Dokter Ana menggeleng. "Ada yang bisa kubantu?"
"Mengenai pria yang disampaikan oleh kosong tiga, apakah Anda bisa memeriksanya sekarang?"
"Tentu," jawab dokter Ana seraya menutup pintu di belakangnya, "Di mana dia sekarang?"
"Ada di laboratorium. Mari."
Dokter Ana melangkah dengan cepat mengikuti gadis di depannya. Ia merasa sangat bersemangat hingga melupakan rasa sakit yang baru saja mendera betisnya. Sejujurnya, ia sangat kagum pada Alex Smith. Pria itu bisa memiliki fasilitas pelatihan sekaligus laboratorium secanggih ini, ia benar-benar ingin tahu sebenarnya apa pekerjaan pria itu. Mungkin ia akan menanyainya ketika pria itu sudah bisa berjalan lagi. Pasti akan sangat menyenangkan kalau bisa menjadi bagian dari organisasi ini. Ia akan melakukan penelitian apa pun dengan senang hati.
"Silakan, Dokter."
Dokter Ana masuk ke sebuah ruangan serba putih berukuran sekitar 5x6 meter. Ia berjalan menuju satu-satunya ranjang pasien yang ada di ruangan itu, lalu terkesiap ketika melihat siapa yang berbaring di atasnya.
"Tuan Billy?" tanyanya, ingin memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
"Ya. Ada sebuah chip tertanam di tempurung kepalanya. Apa pun yang dia lihat atau pikirkan akan terekam dalam chip itu untuk dilihat oleh rival tuan Alex. Silakan lakukan apa pun yang Anda bisa untuk mengeluarkannya, atau mendapat informasi dari benda itu. Tentu saja harus tanpa sepengetahuan tuan Billy sendiri agar tidak terbaca oleh orang yang memasang chip itu. Kalau tidak, semua usaha kita ini akan berakhir sia-sia, atau berujung kematian bagi tuan Billy sendiri."
"Aku mengerti.Tolong panggilkan kedua asistenku."
"Baik."
Raut wajah dokter Ana menjadi serius. Ia mendekat hingga hanya berjarak satu langkah dari tubuh Billy. Satu lagi teka-teki yang harus ia pecahkan. Wanita itu menggulung lengan jasnya dan mulai memeriksa.
__ADS_1
Mari kita lihat apa yang kamu punya ....