
Denting piano mengalun lembut, bergema dalam ruangan yang diisi oleh beberapa kerabat. Sepenggal lagu perpisahan yang terakhir bergema ketika peti yang berisi jenazah Elizabeth akhirnya ditutup. Iring-iringan itu berjalan pelan menuju tempat pemakaman keluarga. Bahkan cahaya matahari yang cerah tidak dapat mengusir mendung dari hati semua orang.
Elizabeth adalah istri, ibu, dan sahabat yang baik. Kepergiannya menyisakan duka yang mendalam, terutama untuk Billy. Kepergian istrinya terlalu tiba-tiba. Semalam mereka masih bergelung dengan nyaman di atas kasur sambil membahas pernikahan putri mereka bulan depan. Lalu sekarang, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang menyerap semua kebahagiaannya. Istrinya tidak akan pernah bangun lagi. Matahari dan cahaya hidupnya itu sudah pergi. Untuk selamanya ....
Billy hanya mematung ketika akhirnya seluruh peti telah hilang dalam timbunan tanah. Matanya yang sembab dan merah tidak bisa menyembunyikan dukanya yang mendalam. Sekarang ia mengerti apa yang dirasakan oleh Alex selama ini. Rasa kehilangan yang membuatmu ingin mati saja. Suara tangisan Eleanor dan Russel, putra dan putrinya membuatnya ingin memeluk dan menenangkan mereka. Namun untuk saat ini, ia sendiri membutuhkan penghiburan.
Alex menghampiri sahabatnya itu dan menepuk lengannya pelan. Ia tahu tidak ada satu kata penghiburan pun yang bisa mengurangi rasa sakit akibat ditinggalkan oleh orang yang paling dicintai.
“Beginikah rasanya?” bisik Billy pelan, tetap menatap nanar pada gundukan tanah yang dipenuhi taburan bunga, “Inikah yang kamu rasakan selama bertahun-tahun?”
Selama ini Billy tidak mengerti, tapi sekarang ia paham mengapa Alex mengamuk ketika ia menyarankan agar sahabatnya itu mencari wanita lain.
Elizabeth baru saja dikubur beberapa menit lalu dan ia sudah ingin mati saja. Membayangkan akan terbangun setiap hari tanpa ada wanita itu di sisinya membuat air mata yang sejak tadi ditahan oleh Billy menderas. Tidak ada lagi ocehan dan tawa tulus yang akan terdengar dalam rumah. Tidak akan ada lagi aroma lavender dan kopi susu di pagi hari. Tidak ada lagi ....
“Maafkan aku,” ujar Billy dengan tulus, “Maafkan aku, Lex ....”
Alex merangkul pundak Billy dan berkata, “Semua orang pasti akan pergi, Buddy. Hanya saja kepergian kita dalam rentang waktu yang berbeda. Kuatkan hatimu.”
__ADS_1
***
Bunyi daun-daun kering yang bergemerisik karena terinjak menjadi satu-satunya suara di pagi yang sunyi itu. Alam begitu sunyi, bahkan angin yang biasa berkesiur seolah enggan menampakkan diri. Sinar matahari menerobos di sela pepohonan, tidak terlalu panas, tapi juga tidak terlalu dingin.
Alex berhenti di depan pusara tempat belahan jiwanya beristirahat dengan tenang. Seperti biasa, pria itu termenung selama beberapa saat sebelum berjongkok dan mengganti karangan bunga yang sudah layu dengan rangkaian baru yang masih segar.
Setelah menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya, Alex berkata, “Baby, Billy sedang berduka. Elizabeth ... dia lebih dulu pergi ... sama seperti dirimu ....”
Seperti waktu-waktu sebelumnya yang ia lakukan ketika berkunjung ke makam istrinya, Alex duduk di atas hamparan rumput dan bersandar pada pokok batang pinus. Ia menengadah dan memerhatikan awan yang berarak. Gumpalan-gumpalan seputih kapas itu terlihat berubah-ubah karena terpaan angin yang mulai berembus pelan.
“Billy seperti mayat hidup sekarang. Semua kekonyolannya menghilang begitu saja. Kamu tahu ‘kan, dia selalu membuatku kesal dengan semua tingkahnya yang menyebalkan itu. Tapi sekarang, dia bahkan terlihat lebih menyedihkan dariku. Aku merasa berduka untuknya. Sungguh ... tapi setidaknya, dia masih bisa bersama Lizie selama ... um, lupakan. Tidak seharusnya aku membandingkannya ... aku hanya ... kau tahu, aku hanya rindu padamu.”
“Baby, aku sudah menjalankan tugasku dengan baik. Merawat anak-anak kita, tidak membiarkan mereka kekurangan kasih sayang sedikit pun. Akhir-akhir ini terasa semakin berat untukku. Minggu depan Amber akan mengikuti suaminya ke Eropa, Aslan dan Aaron sibuk mengurus perusahaan. Aku benar-benar kesepian, Sayang ...”
Keheningan yang panjang terjeda di udara. Seolah seluruh dimensi ruang dan waktu terhenti untuk sesaat. Alex memejamkan matanya perlahan, mengurai semua memori yang tidak pernah bisa ia hapus dari kepalanya. Ada waktu-waktu ketika ia ingin mati saja karena semua kenangan yang manis sekaligus menyiksa. Akan tetapi, di waktu yang sama semua kenangan itu memberinya kekuatan untuk bertahan ... sampai saat ini ....
“Apakah sekarang aku sudah boleh menyusulmu, Baby?” desahnya pelan.
__ADS_1
Dua bulir bening mengalir di sudut-sudut matanya. Napasnya terasa berat. Ia berhasil menyelesaikan sebuah perjalan panjang yang tidak mudah. Tidak apa-apa jika ia ingin beristirahat, bukan? Sebentar saja ... hanya sebentar ....
“Baby?”
Alex membuka mata dan mengerjap pelan ketika merasakan ada seseorang yang berdiri di dekatnya. Pandangannya kabur oleh air mata. Meski begitu, kilasan cahaya yang menyilaukan membuat Alex memicing. Ia bisa melihat siluet putih berdiri sekitar lima langkah di hadapannya, seolah sedang mengulurkan jemari yang halus dan lentik ke arahnya.
“Kamu menjemputku?”
Wajah yang bercahaya itu seperti sedang tersenyum dan menggangguk dengan anggun, seakan memberi isyarat agar ia mendekat.
Desau angin memecah keheningan. Serangga hutan menggesekkan sayap mereka, menghasilkan simfoni merdu yang berpadu dengan gemerisik pucuk-pucuk pohon pinus, seolah menjadi lagu pengantar bagi dua jiwa yang akhirnya bisa saling melepas rindu.
***
Saya dedikasikan untuk semua pembaca setia,terimakasih telah menemani Alex sampai akhir😍
silakan baca lanjutan kisah mereka dalam: Remember me, Baby.
__ADS_1
See you 🥰