Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Merajuk


__ADS_3

Sinar matahari menyelusup masuk lewat jendela yang tirainya sengaja di buka, oleh Gio sebelum meninggalkan kamar. Kebetulan jendela kamar itu langsung saja mengarah pada ranjang tidur di mana Tara kini mulai terjaga. Sebab sinar matahari menerpa wajah wanita itu, dan rupanya Tara dan Gio sudah tiba di Spanyol tadi malam.


"Hm, Gio, tutup tirai jendelanya," rengek Tara yang berpikir Gio masih ada di dalam kamar apartemen itu. "Gio, tutup aku masih ngantuk," sambung Tara yang masih saja betah memejamkan mata. "Gio ...," panggil wanita yang masih saja memeluk bantal guling dan semakin membawa selimutnya ke wajah, berharap sinar matahari itu tidak menerpa wajahnya lagi. Namun, tidak lama Tara malah membuka selimut itu lagi sebab ia baru sadar kalau dari tadi wanita itu tidak mendengar suara Gio ataupun pergerakan laki-laki itu. "Gio, pergi kemana dia?" Tara bertanya pada dirinya. Tapi tidak lama dering ponsel wanita itu mulai terdengar. Dan terlihatlah nama Gio terpampang jelas di sana. Membuat Tara langsung saja mengangkat panggilan sang suami.


"Halo sayang, udah bangun?" tanya Gio sambil tersenyum menatap sang istri. "Maaf tadi aku pergi ke kantor nggak bilang-bilang sama kamu," ucap Gio dengan bibir yang masih melukis senyum simpul.


"Kamu main pergi-pergi saja, setelah mendapat jatah tadi malam!" desis Tara yang pura-pura merajuk. "Bukannya tungguin istri bangun, eh ... malah di tinggal begitu saja." Bibir Tara terlihat monyong-monyong. "Kebiasaan!" Tara memalingkan pandangan.


"Sayang, sini lihat aku, tadi aku buru-buru dan aku juga tadi tidak bisa membangunkanmu, karena aku melihat kamu tidur dengan sangat lelap," balas Gio menimpali sang istri. "Jangan merajuk sayang, muka kamu jadi terlihat jelek, Tara sayang." Gio memang paling bisa membuat sang istri menjadi salah tingkah. Lihatlah sekarang, Tara sampai bisa mengulum senyum gara-gara kalimat yang tadi dilontarkan oleh Gio. "Sayang Tara ... Tara sayang ...."


"Ish, cukup Gio, aku merasa sangat kesal," ucap Tara yang saat ini sedang menahan diri supaya tawa wanita itu tidak pecah. "Aku ngambek!" Tara kemudian terlihat menatap sang suami. Sambil terus berpura-pura berwajah masam. "Suami macam apa membiarkan istri sendirian di apartemen seperti ini, sangat-sangat keterlaluan sekali!"


"Iya sudah, kalau begitu aku pulang ya? Dan akan membawa kamu ikut ke kantor, bagaimana apa kamu mau?"


Tara tidak menjawab wanita itu justru terlihat sedang memainkan rambutnya yang dipentingkan di jari telunjuknya.


"Gavin sebentar lagi akan menjemputmu, kamu bersiap-siap saja," ujar Gio yang ternyata meminta Gavin untuk menjemput Tara. "Aku tidak mau gara-gara ini kamu marah lagi sama aku," kata laki-laki itu yang takut kalau sang istri akan memarahinya gara-gara masalah sepele seperti ini. "Tunggu Gavin disana ya, Sayang. Karena sebentar lagi dia pasti akan datang," sambung Gio, sebab laki-laki itu berjanji kalau tidak akan pernah membuat Tara marah ataupun menangis.


"Nggak usah, aku mau di apartemen saja beristirahat karena aku sangat capek," sahut Tara.


Gio menggeleng kuat. "No, Sayang, kamu bisa beristirahat di sini saja, tunggu saja Gavin masih ada di dalam perjalanan."


Tara mengerutkan kening. "Kapan kamu menyuruh Gavin menjemputku? Perasaan dari tadi kamu hanya mengobrol denganku, bisa-bisanya kamu mau membohongiku." Tara mengatakan itu sebab ia heran, karena dari tadi Gio bicara saja dengan dirinya dan tidak mendengar laki-laki itu memerintahkan Gavin untuk menjemputnya. Membuat Tara merasa kurang yakin dengan sang suami saat ini.

__ADS_1


"Mandi saja, karena Gavin sudah berdiri di pintu apartemen itu, dan aku menyuruhnya untuk menunggumu," jawab Gio, dan saat ini laki-laki itu berkata jujur bukan malah berdusta. "Masih tidak percaya?" tanya Gio tiba-tiba saat melihat Tara masih betah diatas ranjang berukuran king size itu. Sehingga membuat Gio menebak kalau saat ini Tara menganggapnya berbohong. "Apa kamu mau bukti?" Gio bertanya lagi kepada sang istri. Dan sesaat setelah Gio mengatakan itu bel pada apartemen itu berbunyi. "Tuh, Gavin sudah sampai."


Tara langsung saja melotot sempurna saking kagetnya, karena kalimat sang suami rupanya tidak main-main.


"Mandi ya, setelah itu baru boleh buka pintu buat Gavin. Dan langsung kesini jangan malah mau jalan-jalan."


"Baiklah, karena Gavin sudah di depan sana, maka aku harus mandi. Kalau begitu, sampai ketemu di kantor," kata Tara yang kemudian mematikan sambungan telepon itu. Wanita itu lalu berkata, "Laki-laki yang sangat luar biasa, bisa menyuruh Gavin datang tanpa dia perintahkan," gumam Tara pelan sambil bangun dari tidurnya, karena saat ini wanita itu harus membersihkan diri, mengingat saat ini badan wanita itu terasa sangat lengket. Namun saat ia akan berjalan ke kamar mandi suara bel itu lagi-lagi berbunyi. "Aku harus mandi dulu Gavin! Dan jangan percepat bel terus sangat mengganggu sekali!" Tara berteriak. Meskipun ia tahu tidak mungkin Gavin akan mendengar suaranya saat ini. "Tunggu saja, jangan buat bel pada apartemen ini rusak gara-gara keseringan di pencet!" gerutu Tara yang merasa kesal mendengar bel itu berbunyi terus.


***


Tara tidak henti-hentinya memarahi Gavin ketika wanita itu ada di dalam mobil saat ini bersama Gavin.


"Kalau sudah pencet bel satu kali terus nggak ada yang denger, jangan malah di pencet terus, bagaimana nanti kalau bel itu rusak? Apa kamu mau menggantinya Gavin?" tanya Tara yang tatapan matanya tetap lurus ke depan. Meskipun mulut wanita itu tidak henti-hentinya berkomat kamit. "Apa ini atas perintah Gio yang selalu saja ingin membuatku kesal?"


"Gavin, apa kamu mendengarku?"


"Hm, iya Nona muda saya mendengar Anda," jawab Gavin dengan takut-takut.


"Dengar tapi kamu seperti orang yang tuli dan bisu," gerutu Tara. "Bukannya dijawab tapi malah diabaikan dasar kamu ini!"


Gavin sebenarnya merasa kalau saat ini Tara adalah ibu tirinya, yang sedang memarahinya. Karena melakukan kesalahan kecil membuat Gavin takut dan bercampur menjadi lucu. Andai saja saat ini ada Gio pasti Gavin akan diejek habis-habisan.


"Mana kantornya?" Sekarang Tara malah menanyakan kantor sang suami. "Apa kita tadi malah melewatinya?"

__ADS_1


"Di depan sana kantor Tuan muda Gio," jawab Gavin sambil menunjuk sebuah perusahaan yang terlihat sangat bagus dan gedung itu menjulang tinggi. Bertulisan Grup GG entah itu nama singkatan Gio atau memiliki arti lain, hanya Malvin dan Lydia yang tahu. "Ayo Nona muda, sekarang Anda boleh turun," ucap Gavin membuat lamunan Tara menjadi buyar. "Nona muda, kita sudah sampai," kara Gavin sekali lagi.


"Hah, kita sudah sampai," sahut Tara yang masih saja melongo.


"Betul Nona muda, sekarang Anda turun saja karena Tuan muda saat ini pasti sedang menunggu Anda di dalam," ujar Gavin.


Tara tanpa mengucapkan sepatah kata langsung saja membuka pintu mobil itu, dan segera turun dari sana.


Sehingga membuat Gavin hanya bisa mengelus da da. "Jangan sampai Nona muda tahu tentang Nona Sera, bisa-bisa terjadi perang dunia kedua," gumam Gavin pelan yang baru mengingat tentang Sera, adik angkat tuan mudanya itu. "Semoga saja, Tuan muda bisa menjaga rahasia ini," sambung Gavin. Sambil membawa mobil itu untuk ia parkir, karena ia tahu saat ini Tara belum tahu letak ruangan Gio di mana. Sebab ini yang pertama kalinya Tara juga datang ke perusahaan itu untuk menginjakkan kaki.


*


Bukannya senang bertemu dengan Gio, Tara malah dari tadi terus saja cemberut, karena ia menemukan Sera sudah ada di dalam ruangan Gio.


"Kak Tara, aku kesini bukan mau cari masalah. Tapi aku kesini mau kasih tahu kak Tara dan kak Gio, kalau kak Avantika sudah membuat mommy menjadi benci dengan kak Tara," ucap Sera, dan rupanya gadis 17 tahun itu sudah sadar kalau Gio tercipta hanya untuk menjadi kakaknya saja bukan kekasihnya. Oleh sebab itu, Sera mengikuti pasangan suami istri itu sampai ke Spanyol hanya untuk menyampaikan kebenaran. Setelah gadis itu sempat mendengar percakapan antara Tika dan Lydia. "Niatku ini baik kak, jadi tolong kak Tara dan kak Gio percaya sama aku. Karena ini bukan omong kosong melainkan sebuah kebenaran. Kakak boleh melihat rekaman di dalam ponselku." Sera lalu terlihat memberikan Gio dan Tara ponselnya. "Di rekaman itu terdengar sangat jelas sekali, kalau kak Avantika itu terus saja menjelek-jelekan kak Tara."


Sera masih saja terus meyakinkan Gio dan Tara. "Kali ini aku memihak kepada kak Tara, karena aku sudah sadar kalau aku itu hanya adik angkat kak Gio tidak lebih," ucap Sera yang sepertinya tulus dalam hal mengatakan semua kebenaran itu. "Oke, aku, akui kalau yang tempo dulu itu aku sempat jatuh cinta dengan kak Gio, tapi untuk sekarang ini aku sudah benar-benar sadar. Karena aku melihat ketulusan cinta kak Gio pada kak Tara, membuatku menjadi tersentuh hingga membuatku menjadi sadar, kalau rasa cinta itu tidak bisa dipaksakan." Sera terlihat menatap Gio dan Tara secara bergantian. "Kak aku mengatakan ini bukan mau mencari muka ataupun apa, tapi aku mengatakan ini semua karena aku peduli sama kakak."


"Jadi, niat kamu ini baik bukan semata-mata ingin mengambil Gio dariku?" tanya Tara setelah wanita itu lama terdiam.


"Niatku ini memang baik kak Tara, jadi kakak tolong percaya sama aku," jawab Sera. "Mula-mula aku tidak menolak untuk dijodohkan dengan kak Gio oleh mommy, tapi setelah aku lama berpikir, aku benar-benar menjadi sadar kalau apa yang mommy lakukan itu memang salah. Membuatku bertekad untuk membantu kakak dalam membuat mommy sadar bahwa yang jahat itu kak Avantika bukan kak Tara. Aku harap kakak sampai di sini akan paham dengan deretan kalimat-kalimat yang tadi aku lontarkan."


Gio dan Tara saling menatap, karena pasangan suami istri itu tidak tahu harus percaya atau tidak dengan kalimat gadis 17 tahun itu.

__ADS_1


"Kalau saya percaya," kata Gavin tiba-tiba membuka suara. "Bahwa apa yang Nona Sera katakan ini semua benae apa adanya, bukan malah mengada-ngada," sambung Gavin.


__ADS_2