Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 137: Matilah!


__ADS_3

Jarak antara pintu dan helikopter sekitar 7 kaki. Insting Alex memberi alarm peringatan ketika melihat para pengawal di sekitar Nathan membubarkan diri. Para pria berseragam hitam itu berlari menuju tepi roof top dan melompat secara bersamaan.


Alex memicingkan mata di balik reticle dan membidik pria di dalam helikopter yang mulai lepas landas. Raut wajahnya berubah dengan cepat ketika melihat pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya, sebuah benda menyerupai detonator.


Detonator?


"Detonator! Nick, ini jebakan! Semuanya berlindung!" teriak Alex sambil berlari menuju helikopter. Jantungnya berpacu dengan tiap ayunan kakinya yang panjang dan cepat.


Deg.


Satu.


Deg.


Dua.


Deg.


Tiga.


Hop!


Boom!


Ledakan hebat terdengar setelah Alex melompat dan bergelantungan di kaki helikopter. Sekilas ia masih bisa melihat Nick dan beberapa anak buahnya melemparkan diri dari roof top dan berguling di atas kanopi. Ia mengembuskan napas lega.


Secepat kilat Alex mengangkat kedua kakinya dan melingkarkannya di besi yang melintang. Setelah berputar dan mengunci kedua tungkainya pada kaki helikopter, Alex melepaskan kacamatanya dan menyimpannya dalam saku celana. Ia mengencangkan otot perut dan lengan untuk membantu menstabilkan posisi, lalu membidik dari bawah dan melepaskan rentetan tembakan menembus body helikopter.


Ia baru berhenti setelah hampir separuh badan burung besi itu dipenuhi bulatan-bulatan kecil. Darah menetes dari lubang bekas peluru, terpercik ke tubuh dan wajahnya. Sepertinya para penumpang tidak ada yang selamat.


Alex mengusap wajahnya dengan lengan baju, lalu mengangkat tubuhnya dan kembali bergelantungan.


Helikopter mulai kehilangan kendali, berputar dan menukik tajam ke bawah. Alex memindai dengan cepat, mencari lokasi yang cukup aman sebagai tempat mendarat. Baling-baling terus berputar dan berdengung di udara. Ia menunggu dengan sabar hingga resiko cedera akibat melompat dari ketinggian dalam diminimalisir, lalu ....


Hop!


Bruk!


"Ugh!"


Ia mengerang ketika punggungnya menghantam atap rumah penduduk. Ia mengulurkan tangan untuk mencari pegangan agar tubuhnya tidak terus meluncur ke bawah.


Sreeet!


Krak!


Geliginya saling beradu kuat, lengannya seakan terlepas ketika mencengkeram pinggiran atap.


Boom!


Helikopter menabrak tanah kosong sekitar 100 meter dari lokasi Alex melompat. Suara ledakan dan nyala api yang berkobar menarik perhatian warga. Orang-orang mulai berkerumun. Alex menghela napas dan menoleh ke arah gudang Andromeda Corporation yang sudah rata dengan tanah, tidak jauh dari lokasi jatuhnya helikopter. Kali ini pasti lebih sulit menutupinya dari publik, ada terlalu banyak saksi mata. Namun, bukan itu prioritasnya saat ini.


Rahang dan pelipis Alex berkedut ketika ia melakukan pull up dan menarik tubuhnya ke atas. Dadanya terasa sesak dan matanya berkunang-kunang. Kedua tungkainya berdenyut nyeri. Cepat-cepat dikeluarkannya botol putih dari dalam saku celana dan menelan dua butir sekaligus. Dokter Ana sudah mengingatkan agar tidak melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat. Namun, semua kegilaannya sejak tadi pasti sudah melampaui batas maksimal yang dapat ditanggung oleh tubuhnya.


"Sial!" makinya sambil memukuli dada ketika dua butir itu tersangkut di tenggorokannya. Air ... ia butuh air ....


Sedikit terhuyung, Alex meniti di sepanjang pembatas atap dan mencari bagian yang memiliki pipa saluran air. Setelah menemukan benda itu, ia bertumpu dengan kedua tangan dan merosot turun. Rasa pahit dan getir merambati kerongkongannya hingga pangkal lidahnya seperti sedang direndam dalam empedu. Benar-benar membuat mual.


Setengah berlari, Alex menghambur ke arah kran di halaman depan rumah itu, menunduk dan meminum air sebanyak yang bisa ditampung oleh perutnya. Lalu tiba-tiba, ia mendongak ketika menyadari ada bayang-bayang menutupi cahaya matahari di sekitarnya.


"Hello, Brother." Nathan berkacak pinggang sambil menyeringai licik.


Alex terpaku sesaat ketika melihat wajah pria di hadapannya. Ia kehilangan kata-kata ketika melihat gambaran dirinya dalam bentuk yang lebih kejam dan bengis.


"Tak kusangka membunuhmu lebih sulit dari yang aku perkirakan," sambung Nathan sambil mengayunkan kakinya ke arah Alex.


Bugh!


Alex tersungkur dengan kedua tangan melindungi wajah. Ia belum sempat mencerna semuanya ketika rasa sakit yang sangat menyengat bagian belakang kepalanya. Pandangannya menggelap seiring tubuhnya yang limbung dan menghantam tanah.


"Bawa dia ke markas!" perintah Nathan sembari berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.


Tangan kanannya teracung dan menembaki setiap orang yang mencoba mendekat. Sambil bersiul kecil, ia masuk ke dalam mobil dan menunggu.


"Jalan!" perintahnya setelah Alex ditempatkan di sebelahnya.


Tiga buah mobil Dartz Kombat T98 segera melaju meninggalkan semua kekacauan di belakangnya.


"Apakah pesananku sudah siap?" tanya Nathan pada supirnya.

__ADS_1


"Sudah, Tuan. Mereka sudah ada di markas."


"Bagus." Seringai di wajah Nathan semakin lebar. "Let's have fun, Brother."


***


Suara mesin, tangisan samar, permohonan dan permintaan maaf berkali-kali, semuanya terdengar samar dan bercampur dalam gendang telinga Alex. Ia mengernyit ketika rasa sakit seakan meremukkan tulang-tulangnya. Bekas tendangan Nathan di ulu hatinya masih terasa menyakitkan. Kepalanya seperti mau pecah. Dengungan-dengungan tidak jelas dari sekitar memperburuk rasa sakitnya. Berapa lama ia tidak sadarkan diri? Keningnya mengernyit ketika mencoba untuk membuka mata.


"Alex?"


Kerutan di kening Alex semakin dalam. Bukankah barusan yang terdengar adalah suara ibunya?


"Alex! Kamu baik-baik saja? Buka matamu, cepat bangun."


Dad?


Kelopak mata Alex bergetar pelan. Rasanya seperti ia sedang bermimpi, tapi juga terasa sangat nyata. Perlahan matanya terbuka, kemudian menyipit ketika cahaya yang tertangkap retina menyakiti bola matanya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya berhasil membuka mata dengan nyaman.


"Alex?"


"Mom? Dad?" panggil Alex dengan linglung ketika melihat kedua orang tuanya duduk di hadapannya.


Apakah aku sudah berada di rumah? Bukankah terakhir kali Nathan ... di mana Nathan?


Alex ingin bangun dan menghampiri kedua orang tuanya, tetapi kemudian ia menyadari bahwa tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ia menunduk dan mendapati kedua tangan dan kakinya terikat dengan simpul mati. Meski begitu, ia masih bisa mengembuskan napas lega ketika menyadari kacamata miliknya masih aman di dalam saku celana.


"Bagaimana kalian bisa berada di sini?" tanyanya lagi ketika menyadari mereka sedang menjadi tawanan.


Beatrice dan Jonathan hanya saling menatap tanpa menjawab pertanyaan Alex. Mereka tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada putra mereka bahwa semua kekacauan ini diakibatkan oleh kesalahan mereka di masa lalu.


Alex tidak memaksa ayah dan ibunya untuk menjawab. Melihat penampilan Nathan saja sudah membuatnya bisa menduga apa yang terjadi. Namun untuk saat ini, ia tidak ingin menghakimi siapa pun.


Ia mengedarkan pandangannya dan memindai dengan cepat. Ruangan itu terasa asing baginya. Terlihat seperti sebuah bangunan dari zaman Eropa pertengahan. Interiornya mirip kastil para bangsawan. Alex belum pernah melihat bangunan serupa The Spring Mountains di Brooklyn sebelumnya, dan hal itu cukup membuatnya merasa kagum untuk sesaat. Hanya sesaat karena beberapa detik kemudian, wajah bertopeng yang berbaris rapi di sisi kanan dan kiri dengan membawa senjata laras panjang membuat Alex kembali waspada.


"Mencariku, Brother?"


Suara yang asing dan dingin dari balik tubuhnya membuat Alex berbalik secara refleks. Ia lalu menatap kedua orang tuanya yang menunduk dengan wajah bersalah dan penuh penyesalan.


"Apa maksud semua ini?" tanya Alex setelah gagal mengira-ngira apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Well, maafkan kesalahanku yang tidak memperkenalkan diri dengan baik."


"Perkenalkan, aku adalah putra ayahmu, yang artinya kita bersaudara," ujar Nathan sambil tersenyum lebar. Begitu lebar hingga senyuman itu menjadi sangat menakutkan.


"Apa?" Meski sudah dapat menebaknya, Alex tetap terkejut hingga hanya dapat menatap ayahnya dan Nathan bergantian.


"Ibumu ... tentu saja dia bukan ibuku. Tapi tetap ... itu tidak mengubah keadaan kalau kita bersaudara. Dan aku membenci hal itu!"


Senyuman di wajah Nathan menghilang, sama cepatnya dengan ketika senyuman itu hadir di wajah tampannya.


"Hentikan, Nathan," tegur Jonathan, "Alex tidak bersalah."


"Lalu siapa yang bersalah?!" raung Nathan hingga urat-urat menonjol di lehernya, "Salah ibuku karena mencintaimu? Atau aku yang terlahir sebagai anak haram?!"


Keheningan yang mencekam menguasai udara. Tidak ada satu pun yang bersuara. Jonathan Smith tidak mengucapkan kalimat penyangkalan atau pun pembelaan diri, sementara Beatrice hanya bisa menunduk tanpa berani menatap siapa pun.


"Kau tidak bisa menjawabnya, Bedeb*ah Tua?" ejek Nathan sambil menatap ayahnya dan terkekeh-kekeh, "Ibuku mencintaimu seperti orang gila. Dia bahkan memberikan namamu untukku, membuatku merasakan muak dan jijik seumur hidup!"


Jonathan membalas tatapan putranya dengan tangan terkepal erat dan berkata, "Tapi aku memberikan apa pun yang kamu minta. Aku memberimu uang sama seperti yang kuberikan pada Alex. Aku menuruti semua permintaanmu, termasuk Jessica--"


"Apa maksud ayah dengan Jessica?" tanya Alex. Ia tersentak mendengar pengakuan ayahnya barusan. Tubuhnya menegang. Ia sama sekali tidak percaya dengan pendengarannya. Jadi orang yang menyerahkan Jessica pada Nathan adalah ayahnya sendiri? Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?


Jonathan terdiam. Ia memalingkan wajah tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.


Menyaksikan hal itu, Nathan terbahak seperti orang gila.


"Dia memberikan Jessica padaku agar aku berhenti mengganggumu. Tapi Itu tidak cukup! Tidak akan pernah cukup! Tidak bisa mengembalikan ibuku! Tidak bisa mengembalikan kakiku, tidak bisa mengembalikan kaki Kimmy! Kau mengerti?" bentak Nathan sambil mendorong tubuh ayahnya hingga terjungkal dari atas kursi.


"Hentikan!" hardik Alex. Ia berusaha untuk bangun dan ingin membantu ayahnya, tapi ikatan di tangan dan kakinya terlalu kuat.


Nathan tertawa puas melihat Alex melotot dan menggeram ke arahnya.


"Kau masih berpikir ayah dan ibumu adalah malaikat?" desisnya, "Ayahmu itu membuat Jessica menjadi yatim piatu agar mudah dikendalikan. Membunuh sepupunya agar menguasai saham Jotuns Corps. Kau tidak tahu berapa banyak kebusukan yang sudah dilakukannya--"


"Itu bukan kecelakaan?" tanya Alex sambil menatap ayahnya lekat-lekat, "Katakan, Dad, itu semua bukan kecelakaan?"


"Maaf, Alex ... Aku mengecewakanmu," jawab Jonathan tanpa berani membalas tatapan putranya.


Nathan berjalan menghampiri Alex dan menodongkan sepucuk Glock ke keningnya.

__ADS_1


"Nathan! Bunuh saja aku! Lepaskan Alex!" teriak Jonathan dengan napas terengah-engah, "Dia tidak tahu apa-apa!"


Tangan Nathan bergetar mendengar seruan ayahnya. Bola matanya semerah darah ketika berbalik dan berdiri menantang Jonathan. Tangan kanannya yang teracung menarik pelatuk.


Dor!


"Argh!"


"Tidak!"


"Dad!"


Semua seruan dan suara itu bergema dalam satu waktu, membuat Nathan larut dalam tawanya yang mengerikan.


Jonathan Smith terbungkuk seraya memegangi pahanya yang berlumuran darah. Selain menekan lukanya dengan tangan untuk mengurangi pendarahan, ia tidak bisa melakukan apa pun lagi. Hanya air mata penyesalan yang terus menetes tanpa henti.


"Lihat. Kau begitu mengkhawatirkan Alex. Pernahkah memikirkanku, Dad?" gumam Nathan sambil memutar-mutar pistol di tangannya, "Bertahun-tahun ibu membawaku dan Kimmy menggelandang. Hanya satu kali kami datang untuk meminta makan, berakhir dengan ... ah, apakah kau tahu ibu terus memanggilmu sampai tarikan napasnya yang terakhir?"


Jonathan Smith menatap putranya dengan sorot tidak mengerti. "Kapan kalian datang meminta makan? Aku tidak--"


"Kenapa tidak kau tanyakan pada istrimu yang sempurna itu?" sela Nathan sembari menatap penuh kebencian ke arah Beatrice.


"Apa maksudmu?" tanya Jonathan dan Alex bersamaan.


"Anda tidak mau menjelaskannya, Ma'am?" Nathan berbalik dan menatap Beatrice yang sedang menangis tanpa suara.


"I-itu adalah sebuah kecelakaan. A-aku salah paham." Beatrice menutup wajahnya dan menangis semakin keras. "Maafkan aku ...," isaknya.


"Kecelakaan?" Nathan berjalan menghampiri Beatrice dan menarik rambutnya hingga wanita itu mendongak. "Kamu menyuruh kami pulang dengan menggunakan mobil yang remnya tidak berfungsi dengan baik. Kamu sebut itu kecelakaan?"


"Apa yang sudah kau lakukan Beatrice?" tanya Jonathan dengan suara bergetar, "Kamu yang membunuh Kimberly? Kamu sengaja melakuannya?"


Wajah Jonathan dipenuhi rasa sakit dan tak percaya.


"Sudah kukatakan berulang kali, Beatrice, hubunganku dengannya sudah berakhir. Itu hanya kesalahan yang ... oh, Tuhan, kenapa kau membunuhnya?"


Pria tua itu menoleh pada Nathan dan bertanya, "Kenapa tidak mengatakannya padaku?"


"Lalu apa? Kau akan membunuh istrimu juga?" balas Nathan sambil tersenyum sinis.


Dengan sangat perlahan, ia berjalan kembali ke sisi Alex dan menodongkan pistol ke pelipisnya.


"Satu-satunya pembalasan yang tepat untuk kalian berdua adalah menyaksikan putra kesayangan kalian ini mati di hadapan kalian. Bukan begitu? Aku akan sangat puas melihat kalian sekarat dan mati perlahan-lahan," ujar Nathan sambil menyeringai seperti iblis yang bangkit dari neraka.


Jonathan kehabisan kata-kata. Dalam posisi seperti itu, dua orang putranya terlihat benar-benar mirip. Sangat mirip hingga mungkin orang-orang akan berpikir kalau mereka terlahir dari rahim yang sama.


Beatrice bangun dari kursi dan berlutut. "Nathan--"


"Diam! Kau tidak pantas menyebut namaku!"


"Kumohon, lepaskan putraku," isak Beatrice tanpa menghiraukan bentakan Nathan, "Bunuh saja aku. Aku lebih pantas untuk mati. Tapi putraku ... tidak, kumohon ... jangan Alex."


Beatrice memukuli dadanya dengan keras sambil menggelengkan kepala berulang kali.


Melihat tingkah kedua orang tuanya dan mengetahui rahasia kelam mereka membuat Alex mual. Tiba-tiba ia merasa Nathan berhak untuk melakukan pembalasan. Ia merasa bersedih untuk pria yang memiliki hubungan darah dengannya itu. Tidak terbayangkan kehidupan seperti apa yang harus dilaluinya.


"Nathan, hentikan semuanya sekarang. Aku akan memastikan mereka berdua mendapatkan hukuman yang setimpal," ujar Alex dengan suara serak, "Kamu tidak harus berakhir seperti ini."


Mendengar perkataan Alex membuat Nathan kembali terbahak hingga air mata menetes di pipinya.


"Kau pikir kau siapa?" ejeknya di sela tawanya.


Daun telinga Alex bergerak pelan mendengar deru helikopter dari kejauhan, juga deru mesin yang samar-samar terbawa angin.


"Sebelum semuanya terlambat, Nathan. Kamu masih punya kesempatan."


Tawa Nathan berhenti tiba-tiba.


"Aku membangun semua ini selama bertahun-tahun bukan untuk mendapatkan belas kasihanmu."


Tangan kanannya teracung tepat ke kepala Alex.


"Matilah!" desisnya seraya menarik pelatuk.


Dor!


***


__ADS_1


__ADS_2