
Setelah yakin Kinara telah aman bersama Lorie, Alex bergegas menaiki anak tangga. Dendam atau masalah apa pun itu, harus diselesaikan hari ini, di tempat ini. Nathan tolak boleh mengganggu keluarganya lagi, tidak boleh mengincar Kinara, tidak boleh menyakiti Billy, atau melakukan hal-hal keji lainnya. Pria itu harus dihentikan.
"Di mana dia?" tanya Alex pada seorang pengawalnya yang berdiri di ujung tangga.
"Pergi ke roof top, Tuan. Sedang mencoba melarikan diri menggunakan helikopter," jawab pria itu seraya memberi jalan untuk Alex, "Nick sedang berusaha mencegahnya."
"Sial!"
Alex berlari secepat yang ia bisa, meloncati dua anak tangga sekaligus menuju lantai tiga. Pasukannya mengikuti dengan sigap. Tidak boleh terlambat. Nathan pasti akan lebih berhati-hati kalau sampai misi kali ini gagal. Mungkin pria itu akan menghancurkan semua barang bukti, termasuk semua lokasi yang sudah diketahui. Kalau hal itu sampai terjadi, Alex tidak yakin akan memiliki kesempatan seperti saat ini.
Ia menekan tombol komunikasi dan berbicara dengan Nick.
"Nick, jangan biarkan dia pergi! Tahan dia dengan cara apa pun!" perintahnya. Satu lantai lagi. Ia baru saja melewati tangga lantai tiga.
Terdengar bunyi gemerisik sebelum suara Nick terdengar.
"Copy that, Captain. Aku kehilangan separuh pasukan. Kami memerlukan back up dan paramedis secepatnya."
"Bertahanlah. Aku segera sampai."
Alex menekan tombol di samping kacamatanya dan memindahkan saluran komunikasi.
"Dokter Ana, di mana paramedis? Kami membutuhkannya sekarang!"
"Beri aku dua detik, Tuan," jawab dokter Ana seraya memeriksa layar segi empat di tangannya yang menampilkan citra satelit, "Jason dan Bryan baru saja sampai bersama tim medis. Mereka sedang menyisir dari gerbang masuk."
"Bagus. Terima kasih."
Alex memutuskan kontak dan fokus pada pintu besi yang memisahkannya dengan halaman paling atas bangunan ini. Ia berlutut dan membidik longe range sniper DXL-3 miliknya dengan menumpu di atas paha, lalu memberi aba-aba pada salah seorang anggota pasukan untuk membuka pintu.
Suara pintu besi yang terempas beradu dengan deru baling-baling helikopter yang berputar cepat di udara. Mata Alex memicing di balik reticle untuk menajamkan penglihatannya. Tampak seorang pria yang memakai topeng anonim duduk di dalam heli dengan tenang, sementara pasukan di sekelilingnya terus menembakkan amunisi dengan membabi buta ke segala arah.
Dsing!
Klang!
Klang!
Alex tiarap dan berguling ke samping. Peluru berdesing melewati kepala dan menghantam tangga di belakangnya. Hampir saja otaknya berceceran.
__ADS_1
Ia menekan tombol merah dan menghubungi Nick.
"Di mana posisimu?" tanyanya.
"Tower penangkal petir, Sir, sebelah kiri pintu masuk."
"Alihkan perhatikan pasukannya, aku akan keluar."
"Yes, Sir!"
Nick membidik senjatanya dan menembaki musuhnya dengan AK-74M. Kehadiran Alex dan pasukan tambahan membuat semangatnya kembali berkobar. Darah terciprat di mana-mana, satu per satu barikade di sekitar Nathan berjatuhan dengan lubang di kepala atau dada mereka. Mayat-mayat Bergelimpangan di antara genangan darah dan selongsong peluru.
Alex yang melihat kesempatan untuk menyerang sudah terbuka segera siaga.
"Lindungi aku! Tangkap bede*bah itu hidup-hidup!" serunya pada anak buahnya sebelum merangsek maju.
***
Di atas helikopter yang sudah mengudara sejauh hampir 3 mil dari lokasi pertempuran, Kinara menyaksikan semua itu dari layar monitor di pangkuannya. Semua helm pelindung pasukan Alex dilengkapi mikro kamera CCTV yang tersambung langsung dengan jaringan siaran langsung ke monitor ini, termasuk helm milik suaminya itu. Jadi ketika melihat kepala Alex hampir terkena peluru, jantung Kinara terasa merosot dari tempatnya.
"Nara, kembalikan padaku. Aku harus memantau kondisi tuan," pinta Lorie. Sebenarnya ia tidak boleh menyerahkan benda itu pada Kinara, tapi wanita itu bersikeras hingga akhirnya ia mengalah.
Ia meng-klik tampilan dari layar monitor yang menunjukkan gambaran pria yang memakai topeng anonim di dalam helikopter itu.
"Lorie, siapa orang ini?" tanyanya.
"Bukankah itu Nathan? Tuan sedang mencoba menahannya agar tidak melarikan diri."
Kening Kinara mengernyit dalam. Ia memperbesar tampilan gambar itu hingga maksimal. Seingatnya tadi Nathan menggunakan jubah hitam, mengapa pria dalam helikopter itu memakai jas merah tua? Lalu ... meski tertutup topeng, rambut pria itu terlihat jelas hitam seluruhnya, sedangkan rambut Nathan keperakan. Ia menggeser-geser kursor untuk memastikan penglihatannya tidak salah.
Benar, pria itu bukan Nathan!
Kinara mendadak mual ketika yakin bahwa dirinya tidak salah lihat. Pria di atas helikopter itu sama sekali tidak mirip dengan Nathan!
"Lorie," panggil Kinara dengan intonasi waspada, "Aku rasa itu jebakan. Cepat beritahu Alex untuk mundur! Cepat! Cepat hubungi suamiku!"
"A-apa katamu?" Lorie hampir terlonjak dari tempat duduknya. "Apa kamu yakin?"
"Ya! Aku tidak salah lihat! Pria itu bukan Nathan! Tidak mungkin dia sempat berganti pakaian dalam situasi genting. Itu pasti jebakan. Cepat suruh Alex untuk pergi dari sana!" pinta Kinara dengan panik. Ia tidak bisa membayangkan ... tidak ingin memikirkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi ...
__ADS_1
"Baik. Kamu tenanglah dulu," ujar Lorie seraya menekan tombol komunikasi.
Namun, suara ledakan yang dahsyat lebih dulu terdengar di udara. Gelombang dari ledakan itu bahkan terasa sampai ke sini, membuat heli yang mereka tumpangi mengalami turbulensi. Gumpalan api dan asap hitam menyerupai jamur terlihat dari kejauhan. Lorie tercekat hingga gerakan tangannya mengambang di udara. Ia belum berhasil menghubungi Alex. Otaknya mendadak membeku.
"Tidak! Tidak! Alex!" pekik Kinara ketika layar monitor di pangkuannya menampilkan garis horizontal yang acak sebelum berubah menjadi gelap total.
"Kembali ke sana! Lorie, kita harus kembali ke sana! Alex ... Alex ...!"
Ia terus berteriak dan menariki tangan Lorie. Air mata membanjiri wajahnya hingga pandangannya mengabur.
"Suamiku, Lorie ... selamatkan suamiku ...."
Jantungnya terasa sakit. Sangat sakit sampai ia pikir ia hampir mati. Membayangkan Alex berada di sana, di tempat yang baru saja hancur itu ... tidak, rasanya lebih baik ia juga mati. Ia tidak mau ditinggal sendiri ....
"Maaf, Nara. Tuan memintaku untuk mengantarmu pulang," ujar Lorie dengan ekspresi serba salah. Ia pun mengkhawatirkan tuannya, tapi perintah yang diterimanya adalah memastikan Kinara pulang dengan selamat.
"Lorie!" Kinara melepaskan sabuk pengamannya dan berdiri. "Aku akan lompat kalau kamu tidak membawaku kembali ke sana!" ancamnya.
"Baik. Kamu duduklah dulu," bujuk Lorie. Ia ikut melepas sabuk pengamannya dan meraih bahu Kinara.
"Kita akan jatuh kalau kamu terus bergerak, pilot bisa kehilangan keseimbangan," sambungnya lagi seraya menarik Kinara agar kembali duduk. Satu tangannya yang lain merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan sebuah jarum, lalu secepat kilat menusukan benda itu di lengan Kinara.
"Tapi kita harus kembali ke sana, Alex membutuhkan ... ah!"
Tubuh Kinara luruh ke dalam pelukan Lorie sebelum sempat menyelesaikan ucapannya.
"Aku sungguh minta maaf, Nara, tapi bagi tuan ... keselamatanmu nomor satu," ucap Lorie pelan. Ia memapah tubuh Kinara dan mendudukannya dengan hati-hati, kemudian memasangkan kembali sabuk pengaman.
Setelah mengganjal kepala Kinara dengan tas ransel miliknya, Lorie mencoba menghubungi Alex lagi.
"Tuan," panggilnya meski suara mesin yang statis dari alat komunikasi membuat sekujur tubuhnya meremang, "Kalau Anda bisa mendengarkan saya, jangan khawatir ... nyonya baik-baik saja. Dia mencemaskan Anda, tapi saya tahu Anda akan pulang untuknya, bukan?"
Suara Lorie tercekat di tenggorokan. Untuk pertama kali setelah selang waktu yang tak dapat ia ingat, akhirnya ia menangis. Bulir-bulir kristal itu mengalir begitu saja, meluncur di pipinya yang memerah. Kedua tangannya terkepal erat hingga urat-urat menonjol jelas.
"Bertahanlah, Tuan. Pasukan kedua sedang dalam perjalanan," sambungnya lagi sebelum mematikan alat komunikasi dan menggenggam jemari Kinara erat-erat.
Tak ada lagi kata-kata yang bisa ia ucapkan meskipun isi kepalanya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan, bahkan yang paling buruk sekalipun.
***
__ADS_1