
Saat Lorie masih sibuk berjuang untuk berdiri, sebuah tangan yang kokoh muncul dan melingkar di bahunya. Ia menoleh dengan cepat, tapi semua keterkejutannya sirna saat melihat siapa yang datang.
“Aku mengejutkanmu?” tanya Daniel sambil membantu Lorie untuk berdiri.
“Masih berani bertanya?” gerutunya sambil melotot. Meski begitu, ia juga tidak bisa memarahi Daniel karena pria itu sudah membantunya untuk bangun.
Daniel terkekeh dan membalas, “Maaf, tidak bermaksud membuatmu kaget. Apakah tidak ada yang datang? Kenapa membereskan barang-barangmu sendiri?”
“Tidak sendirian. Ada Raymond di dalam kamar mandi. Dia sakit perut.”
“Oh.”
Ekspresi Daniel terlihat acuh tak acuh. Ia sungguh tidak peduli, Raymond Dawson sakit atau mati, tidak ada urusan dengannya. Ia memapah Lorie ke sofa ruang tengah, membantunya duduk dengan nyaman, lalu ia sendiri duduk di seberang wanita itu.
“Ada apa mencariku sepagi ini?” tegur Lorie.
Daniel mendesah dan pura-pura memasang tampang kecewa.
“Kamu sudah lupa? Bukankah kamu berkata ingin membantuku soal kantor cabang EON’s Company?”
Lorie terdiam dan menatap lurus ke arah Daniel, mencoba mencari jejak keseriusan dari wajahnya. Ia ingin tahu, pria itu hanya bercanda atau sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Daniel membalas tatapan Lorie seraya menaikkan alisnya.
“Apa? Ada yang salah?” tanyanya.
“Kamu bisa mencoba senjata biokimia atau microchip yang bisa menyadap isi kepala seseorang, atau hal-hal yang berkaitan dengan bidang farmasi,” saran Lorie.
Kening Daniel mengerut. Semua bidang itu terdengar asing baginya.
“Apa kamu sedang mempermainkan aku? Kamu tahu EON’s Company hanya bergerak di bidang perhotelan dan penyediaan alat berat.”
“Tapi Ana berminat pada bidang yang aku sebutkan tadi.”
“Oh.”
Ekspresi wajah Daniel yang semula muram secara bertahap menjadi lebih bersemangat. Ia berdeham dan terbatuk beberapa kali untuk menutupi rasa canggungnya. Apakah Lorie sudah bisa menebak rencananya? Benar-benar seorang wanita dengan insting yang sangat kuat.
“Bukankah dia hanya seorang dokter?” tanya Daniel setelah berhasil menguasai dirinya. “Kudengar dulu dia yang menyembuhkan Alex.”
“Dia seorang jenius, bisa melakukan apa saja,” jawab Lorie.
“Benarkah?”
__ADS_1
“Tentu saja. Untuk apa aku berbohong?”
Daniel tampak semakin berminat mendengar jawaban itu. Ia meluruskan posisi duduknya dan menimbang-nimbang dalam hati.
Sementara di seberangnya, Lorie tersenyum tipis. Respon Daniel sudah membuatnya 90% yakin dengan tebakannya. Pria itu mulai tertarik kepada Ana. Sangat bagus kalau memang benar demikian. Ia sudah tidak sabar melihat Ana kelabakan mengatasi hormonnya yang menggila dan membuat otaknya tidak waras. Pada saat itu terjadi, ia akan membalas dendam dan menggodanya habis-habisan.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Raymond yang baru keluar dari kamar mandi. Ia melemparkan tatapan tidak suka ke arah Daniel. Mengapa pria itu selalu muncul dan mengganggu? Apa dia tidak punya pekerjaan yang harus diselesaikan?
“Hanya sedang membahas bisnis yang bagus untuk EON’s Company,” jawab Lorie. “Bagaimana perutmu? Sudah tidak sakit?”
“Lumayan.” Raymond mengernyit dan menatap Daniel dengan kesal dan menegurnya, “Dia masih belum sepenuhnya pulih. Mengapa mengganggunya sepagi ini dengan omong kosongmu itu?”
“Hanya berbincang saja, kenapa kamu yang emosi?” balas Daniel sambil bersandar di sofa dan merentangkan tangannya dengan santai.
“Aku yang menjaganya semalaman, kamu datang seenaknya dan mengganggu. Bagaimana aku tidak emosi?”
“Kalau tidak rela mengurusnya, pergi saja. Aku bisa merawatnya dengan baik tanpa mengeluh seperti dirimu.”
“Kamu!” Raymond hampir meledak. Jelas-jelas bukan itu maksudnya, tapi bedebah ini membuatnya terdengar seperti keberatan karena merawat Lorie. Benar-benar bangsat sejati.
“Sudahlah. Jangan ribut lagi,” lerai Lorie. Kepalanya mendadak pusing melihat tingkah dua pria kekanakan di hadapannya itu.
“Aku tidak ribut, dia yang duluan mencari masalah,” sangkal Daniel.
Lorie memejamkan mata dan memijit alisnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Kalian akan membuatku muntah.”
Daniel yang sudah hampir membuka mulut untuk membalas Raymond langsung bungkam. Sedangkan Raymond langsung menghampiri Lorie dengan cemas.
“Perlu aku panggilkan dokter?” tawarnya. “Mana yang tidak nyaman?”
“Telingaku yang tidak nyaman. Mendengar kalian bertengkar membuatku mual. Bisakah kalian akur sebentar?”
Raymond melirik Daniel dengan kesal. Pria menjengkelkan itu balas menatapnya dengan acuh tak acuh, membuatnya harus menggertakkan gigi karena menahan emosi. Namun, demi Lorie, ia tidak akan meladeni berandalan itu lagi.
Di sisi lain, Daniel yang juga sudah tidak ingin membuat masalah segera mengalihkan topik pembicaraan.
“Jam berapa kamu pulang?” tanyanya.
“Billy sudah mengatakan akan menjemputku jam sebelas nanti.”
“Kenapa harus dijemput? Aku bisa mengantarmu,” ucap Raymond.
“Tidak perlu. Aku harus pergi ke suatu tempat lebih dulu.”
__ADS_1
“Aku tidak sibuk, bisa mengantarmu ke mana pun.” Raymond bersikeras. Ia sudah bertekad untuk menjadi bayangan Lorie. Ke mana pun wanita itu pergi, ia akan selalu bersamanya.
Lorie berpikir sambil menatap Raymond. Ia menimbang sejenak dalam hati, baik buruknya ... jika pria itu memang sungguh menyukainya maka ....
“Baiklah, kamu bisa ikut,” ucap Lorie.
“Bagaimana dengan aku?” tanya Daniel sambil menunjuk wajahnya.
“Kamu pulang saja dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi mengenai kerja sama dengan Jotuns.”
“Hey, itu tidak adil,” protes Daniel.
“Ini urusan pribadi, Daniel. Lain kali aku akan mengajakmu. Oke?”
Daniel mencibir. Wajahnya menekuk dan terlihat masam. Ia merasa terabaikan dan terbuang, tapi apa daya, ia memang tidak memiliki wewenang apa pun dalam hal ini. Hanya bisa menerimanya dengan pasrah.
Di seberangnya, Raymond menyeringai puas. Ia merasa sudah memenangkan skor 1-0 dari Daniel si keparat itu.
Ia melirik Lorie dan tersenyum semakin lebar. Dalam hati ia tahu bahwa wanita itu sedang memberi kesempatan kepadanya. Dan ia bersumpah tidak akan mengecewakannya.
***
Kesayanganku, rencananya beberapa bab lagi aku bakal stop cerita ini.
Eits, jangan protes dulu.
Jadi ini 'kan Raymond-Lorie nebeng di PPuTM, rencananya aku bakal pisah jadi novel baru dengan judul sendiri: You are Mine.
Kenapa begitu?
Tadinya aku kira cerita ini bakal berkisar antara 60-70 bab aja, tapi ternyata gak berasa udah 100 bab lebih, daaan ... ide ceritanya masih lumayan panjang. Rencananya ya (baru rencana), mungkin Lorie-Ana bakal ketemu Andrew-Keiko.
Hah? Kok bisa?!
Hooo ... bisa dong! Xixixi ....
Gimana? Kalau kalian setuju, aku akan bikin tamat season 1 Lorie-Raymond ini dan sambung di season 2 dengan judul sendiri. Tapi kalau banyak yang nggak setuju, ya tetep bakal tamat di sini (tapi gak ketemu Andrew-Keiko).
Please, corat-coret pendapat kalian di kolom komentar yaa...
Thank You!
❤
__ADS_1
~B