Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
58


__ADS_3

Seperti biasa ketika pagi menjelang, Tara dan anggota keluarga kecilnya akan selalu sarapan bersama seperti saat ini, di mana wanita itu terlihat sedang sarapan dengan menggunakan kaca mata hitam. Karena rupanya tadi malam ia menangis sampai larut malam gara-gara kalimat Tika, sehingga membuat mata wanita itu menjadi bengkak.


"Lho, mata kamu kenapa Tara? Karena Mama perhatikan dari tadi kamu tidak seperti biasanya yang memakai kacamata hitam, saat kamu akan pergi kuliah seperti ini," ucap Yana yang baru saja datang dari arah dapur sambil membawa dua piring nasi goreng rikuesan sang suami dan putri keduanya itu.


"Tadi malam mataku tiba-tiba saja terasa perih Ma, dan pagi tadi malah jadi sakit begini, makanya aku terpaksa memakai kacamata hitam untuk pergi kuliah." Tara berharap Yana akan percaya dengan penuturannya.


"Coba Mama lihat, apakah sakit mata kamu itu sakit mata putih atau merah." Tangan Yana sudah terulur ingin membuka kacamata Tara. Namun, Tara dengan cepat menghalangi sang ibu. "Kenapa Tara? Mama cuma mau lihat saja. Apakah sakit mata kamu parah atau ringan?"


"Ma, nati Mama ketularan bagimana? Apa Mama tidak takut?" tanya Tara yang menakut-nakuti Yana. "Karena setahuku sakit mata paling cepat menular Ma," lanjut Tara.

__ADS_1


"Iya, kamu benar juga. Kalau begitu kamu pergi saja ke klinik, supaya sakit mata kamu itu cepat sembuh," ujar Yana sambil terlihat menuangkan segelas air pada gelas kosong milik Arzan.


"Kamu tidak usah pergi ke klinik Tara, karena Papa nanti akan memanggil Dokter Liam kesini, sekalian Papa mau mengecek tensi," kata Arzan tiba-tiba. "Karena belakangan ini kepala Papa selalu saja pusing, Papa takut tensu Papa naik."


"Liam, bukankah Dokter itu pernah suka sama Tara?" tanya Tika sambil memakan sepotong roti. Dan wanita itu sama sekali tidak merasa bersalah pada sang adik atas kejadian yang tadi malam. Sehingga sekarang ia terlihat biasa saja, meskipun ia tahu Tara saat ini sedang menutupi mata yang sembab menggunakan kacamata. Karena gara-gara dirinya air mata sang adik telah banyak yang terbuang sia-sia. "Apa jangan-jangan Papa mau mencoba mendekatkan Tara dengannya?"


Sedangkan Tara yang mendengar itu refleks membanting sendoknya. "Pa, aku ini masih sah secara agama dan Negara istri Gio, lalu kenapa Papa main asal jodoh-jodohkan saja? Apa Papa mulai tidak waras? Aku ini sudah menjadi istri orang Pa. Aku ulangi putri Papa yang manja ini sudah punya suami!"


"Tidak Tara, kamu dan Gio sebentar lagi akan berpisah, karena Papa sudah pergi ke pengadilan untuk menggugat Gio."

__ADS_1


Bagai disambar petir di pagi ini Tara langsung memegang da danya yang terasa sangat sakit, ketika mendengar kata sang ayah yang sudah menggugat Gio. "Apa pernikahan bagi Papa hanya sebuah mainan? Sehingga Papa dengan mudahnya memutuskan suatu hal tanpa memberitahuku terlebih dulu?"


"Papa lakukan ini hanya demi kamu Tara, bukan demi orang lain. Karena Papa ingin kamu dan kakakmu sama-sama memiliki pendamping hidup yang bisa membuat kalian bahagia."


"Jadi, apa Papa pikir aku menikah dengan Gio itu tidak bahagia? Begitu maksud Papa?" Meski Tara sudah berjanji tidak akan berdebat dengan sang ayah di meja makan seperti ini. Namun, semuanya malah Tara ingkari hanya karena Arzan yang memancing-mancing dirinya.


"Menurutmu, apa kamu bahagia?" Arzan bertanya balik pada Tara. "Jika kamu merasa bahagia, maka kamu tidak akan seperti saat ini Tara, lihatlah dirimu yang dulu badanmu begitu berisi, kini kamu terlihat seperti orang yang setiap hari makan hati!" desis Arzan.


"Pa, sudah cukup." Yana mengelus tangan suaminya berharap tidak semakin melukai hati putri mereka. "Kita sarapan dulu, karena Tara juga harus berangkat kuliah, jangan sampai putri kita terlambat, gara-gara perdebatan kecil seperti ini," sambung Yana. Karena ia tahu pasti Tara saat ini sedang memahan air mata, supaya tidak lolos dari netra putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2