
"Banyak yang aku pelajari dari setiap kisah aku sendiri.Menangis karena kehilangan, kecewa karena tidak di hargai, terluka karena dikhianati.Semua cukup memberikan aku pandangan dimana aku bisa melihat bahwa tidak semua orang yang terlihat baik akan berbuat baik, bahkan orang dekat sekalipun."
"Aduh susah kalau ngomong ama kamu, sudahlah mendingan kamu ikut abang aja." Ucup berdiri dari tempat duduknya lalu dia berjalan mendekati Zai.Dia yang sudah berdiri di samping Zai, lalu dia menarik tangan Zai untuk mengikuti dia.
"Emang abang mau bawa aku kemana?"Zai bangun dari tempat duduknya, dia mengikuti Ucup yang berjalan sambil menarik tangannya.
"Udah gak susah banyak tanya ngikut bang aja."Ucup berjalan sambil menarik Zai pergi meninggalkan rumah mereka.
"Iya." Dengan terpaksa akhirnya Zai mengikuti Ucup.
Saat mereka sudah berada di depan rumah Lea, Zai merasa ragu untuk mengikuti Ucup.
"Abang ngapain kita ke sini?" Zai yang berhenti berjalan.
"Kenapa kamu berhenti? "Ucup juga berhenti berjalan menoleh ke arah Zai yang berada di sampingnya.
"Aku gak mau ikut abang kerumah Lea." Zai mencoba melepaskan tangannya dari Ucup. Dia juga menolak untuk ikut Ucup pergi kerumah Lea.
"Sekarang abang tanya, apa kamu mau Lea bersikap seperti dulu lagi ama kamu?" tanya Ucup.
"Aku mau abang."Zai berbicara sambil menunduk.
"Nah kalau gitu kamu percayakan semua ama abang." Ucup menarik tangan Zai untuk berjalan ke arah pintu rumah Lea.
"Abang lepaskan tangan aku." Zai mencoba melepaskan tangannya dari tangan Ucup.
"Baiklah abang lepaskan." Ucup melepaskan tangannya dari tangan Zai.
Setelah tangan terlepas dari Ucup, Zai segera berjalan ke arah samping rumah Lea. Ucup mengetuk pintu rumah Lea.
Tok.......... Tok
"Permisi," kata Ucup.
Lea yang sedang berada di ruangan keluarga mendengar pintu rumahnya di ketuk lalu dia berdiri dari tempat duduknya.Lea berdiri dari tempat duduknya lalu dia berjalan ke arah pintu rumahnya. Lea yang sudah berdiri di depan pintu rumah lalu dia membuka pintu rumahnya.
Ceklek......... Ceklek
"Selamat malam Lea."Setelah pintu rumah Lea terbuka, Ucup melihat Lea yang sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Lah ternyata abang Ucup, tumben abang Ucup malam-malam ke sini .Ada apa abang?" Lea yang terkejut saat melihat Ucup sudah berada di depan pintu rumahnya.
"Apa Lea lagi sibuk?" Ucup yang bertanya balik ama Lea.
"Gak kok abang, apalagi kalau untuk abang Ucup Lea pasti ada waktu." Lea yang tersenyum melihat ke arah Ucup.
"Baguslah kalau Lea lagi tidak sibuk, berarti kedatangan abang kesini tidak menganggu Lea." Ucup merasa pegah karena kedatangan ke rumah Lea tidak menganggu Lea.
"Lea malah senang abang mau ke sini." Lea tampak bahagia melihat Ucup mau datang ke rumahnya.
"Lea sebenarnya ada yang mau ketemu Lea, bolehkah?" Ucup yang terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya kepada Lea.
"Emang siapa yang mau bertemu ama aku?" Lea melihat kearah kanan kiri dan belakang Ucup, tetapi dia tidak melihat orang lain. Dia hanya melihat seorang Ucup yang berdiri di hadapan dia.
"Aku," kata Zai.
Zai berada di samping rumah Lea segera berjalan ke arah Ucup dan Lea yang sedang berada di depan pintu rumah Lea.
Tak............................. Tak
Lea yang mendengar langkah kaki seorang yang sedang berjalan lalu dia menoleh ke arah sura langkah kaki tersebut. Lea melihat Zai yang berjalan mendekat ke arah dia.
"Mau ngapain kamu kesini?" Lea yang bicara dengan nada ketus di tambah dengan tatapan wajah yang tidak menyukai kehadiran Zai.
"Bisa, tapi ama abang Ucup juga ya." Akhirnya Lea mau bicara dengan Zai, tetapi bertiga dengan Ucup juga.
"Iya kita bicara di sini bertiga, apa kami boleh duduk Lea?" Ucup menyetujui yang Lea inginkan, agar mereka berbicara di teras.
"Silahkan duduk abang." Lea mempersilahkan Ucup untuk duduk di kursi yang berada si teras rumahnya.
Mereka sudah duduk di kursi yang berada di teras rumah Lea.
"Sebenarnya abang kesini mau bicara apa?" Lea yang memandang pandangan lurus kedepan tanpa menoleh ke arah mereka berdua.
"Bukan abang yang mau bicara tapi Zai, iya kan Zai?" Ucup yang duduk di samping kursi Zai, dia menyegol tangan Zai.
"I.. ya, aku yang mau bicara." Setelah Ucup menyegol tangan Zai maka Zai pun berbicara dengan gagap.
"Cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan." Lea yang bicara dengan nada ketus terhadap Zai.
__ADS_1
"Lea sabar itu Zai mau ngomong ama Lea." Ucup yang mendengar nasa bicara Lea sudah ketus mencoba untuk memenangkan Zai.
"Iya Lea ini aku mau bicara," kata Zai.
"Kalau mau bicara itu yang cepat jangan bertele-tele." Lea berbicara dengan suara yang lantang.
"Maaf Lea." Dua kata itu begitu sulit untuk Zai ucapkan hingga akhirnya Zai mengucapkan dengan suara yang pelan.
"Kamu ngomong apa aku gak dengar?" Suara Zai yang begitu pelan sehingga terdengar samar-samar di telinga.
"Hm, itu Lea," kata Lea.
"Kamu ngomong apa sih yang jelas dong?" tanya Lea.
"Zai,coba ulangi lagi yang kamu katakan tadi." Ucup menyuruh Zai untuk mengulangi perkataan nya yang tadi.
"Baiklah abang." Zai berdiri dari tempat duduknya lalu dia berjalan mendekat ke arah Lea.
"Kamu mau ngapain berjalan ke arah sini?"Lea melihat ke arah Zai yang berjalan mendekatinya.
"Lea maafin aku." Zai yang sudah berdiri di hadapan Lea lalu dia mengulurkan tangannya ke arah Lea.
"Abang ini aku lagi gak mimpikan?" Lea yang tidak percaya bahwa Zai meminta maaf kepada dia, bahkan Zai mengulurkan tangan sebagai simbul permintaan maaf kepada Lea.
"Gak Lea, kalau kamu gak percaya cubit aja pipi kamu." Ucup menyakinkan kepada Lea bahwa yang terjadi sekarang itu tidak mimpi, Ucup menyuruh Lea mencubit pipinya kalau merasa ragu dengan yang terjadi.
"Awawaw, sakit abang." Lea yang mencubit pipinya seperti yang Ucup katakan, Lea mengaduh kesakitan saat mencubit pipinya sendiri.
"Nah itu tandanya Lea gak mimpi." Ucup memberitahu Lea bahwa itu tidak mimpi.
"Kamu mau maafin aku atau gak nih?" Zai yang dari tadi sudah mengulurkan tangan tetapi tidak di respon oleh Lea.
"Lea udah maafin aja Zai nya." Ucup membujuk Lea untuk memaafkan Zai.
"Iya aku maafin kamu." Lea menjabat tangan Zai.
"Nah gitu kan bagus." Ucup terlihat senang melihat Lea dan Zai sudah berjabatan tangan.
"Berarti kamu uda maafin aku?" tanya Zai.
__ADS_1
"Iya." Lea yang melepaskan jabatan tangannya dengan Zai.
...~Bersambung ~...