
"Jika seseorang marah, mungkin dia masih bisa memaafkan. Namun jika seorang sudah kecewa percayalah rasa itu sulit untuk sembuh."
Teman-teman Zai melihat ke arah Ucup dan Zai. Saat Ucup menjewer telinga Zai tadi mereka ingin tertawa, tetapi mereka menahan tawanya takut kalau Zai akan memarahi mereka lagi.
Selain merasakan sakit di jewer telinganya Zai juga merasakan malu, Zai merasa malu kepada teman-temannya yang melihat dia di jewer oleh Ucup. Sehingga Zai menundukkan wajahnya, dia tidak sanggup melihat ke arah teman-temannya.
Ucup yang melihat Zai sedang menunduk kepalanya.
"Kalau orang lagi bicara itu di lihat jangan menunduk," kata Ucup.
"Iya abang." Zai mengangkat kepala lalu dia menoleh ke arah Ucup.
"Kamu nunggu apa lagi? sana minta maaf ama teman kamu," tanya Ucup.
"Iya abang," jawab Zai.
"Kamu jangan cuma iya aja dari tadi cepatan minta maaf ama teman kamu. Atau kamu minta di jewer lagi?" tanya Ucup.
"Gak abang." Zai yang buru-buru berjalan ke arah Anton, hal itu dia lakukan agar tidak di jewer lagi oleh Ucup.
Teman-temannya melihat ke arah Zai yang sedang berjalan ke arah Anton. Zai sudah berada di depan Anton, dia yang tampan ragu untuk meminta maaf ama Anton. Zai mengulurkan tangannya ke arah Anton, mereka semua melihat ke arah Zai yang sudah mengulurkan tangannya ke arah Anton.
"Kamu ngulurkan tangan ke aku itu maksudnya apa?"Anton yang melihat tangan Zai sudah berada di hadapan nya.
Zai membuka mulutnya untuk berbicara tetapi saat dia akan mengucapkan kata maaf. Lidah Zai terasa begitu berat sehingga dia merasa kesulitan untuk mengucapkan kata maaf kepada Anton. Selain itu semua orang yang berada di ruangan tamu tersebut melihat ke arah dia. Membuat Zai merasa gelisah dan tidak nyaman dengan tatapan semua orang yang mengarah kepada Zai.
" Cepatan kamu ngomong," kata Ucup.
"Ma....... af." Zai yang berbicara dengan gagal.
"Apa kamu minta maaf dengan aku?" tanya Anton.
"Iya," jawab Zai.
"Lagian aku yang salah kok, jadi kamu tidak perlu minta maaf ke aku," kata Anton.
"Bagus lah kalau kamu sudah sadar." Zai menarik tangannya lalu dia berjalan pergi meninggal ruangan tamu.
__ADS_1
"Abang mewakili Zai minta maaf atas sikap dia kepada kalian semua." Ucup yang merasa sikap Zai keterlaluan kepada teman-temannya akhirnya Ucup yang meminta maaf kepada teman-temannya.
"Abang Ucup kami ini teman Zai udah memaklumi sikap Zai kepada kami, jadi abang tidak perlu minta maaf kepada kami," kata Aska.
"Yang Aska katakan itu benar abang," kata Lea.
"Kalian mau minum apa? biar abang buatin," tanya Ucup.
"Terserah abang Ucup aja," jawab Aska.
"Kalau gitu abang kasih air comberan aja untuk Aska, apa Aska mau?" tanya Ucup.
"Ya jangan air comberan juga lah abang," jawab Aska.
"Terus mau air apa?" tanya Ucup.
"Air putih aja abang," kata Lea.
"Jangan masak air putih sih, air yang ada warnanya terus rasa manis abang," kata Ridho.
"Abang aku mau kopi satu ya biar gak ngatuk," kata Anton.
"Emang kamu pikir rumah aku itu warung kopi." Zai yang sudah berdiri di ruangan tamu menatap tajam ke arah Anton.
"Mampus lah kau." Ridho yang sengaja menyenggol lengan Anton.
"Nah mau ngomong apa si Anton sekarang?" Aska yang menoleh ke arah Anton, wajah Anton yang sudah berubah menjadi pucat setelah melihat dan mendengar Zai berbicara.
"Sudah-sudah sebaiknya kalian lanjutkan mengerjakan tugas kelompok biar cepat selesai abang mau kedapur dulu membuatkan minuman untuk kalian." Ucup berjalan pergi meninggal ruangan tersebut.
Setelah kepergian Ucup Zai berjalan ke arah teman-temannya. Anton yang merasa takut lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Zai.
"Dimana kamar mandi kamu?" Anton yang sedang menahan sesuatu yang sudah berada di ujung.
"Kenapa kamu tanya kamar mandi aku?" Zai yang sudah berada di hadapan Anton.
__ADS_1
"Aku kebelet pipis nih." Anton yang sedang berusaha menahan sesuatu yang mau keluar di bawah sana.
"Kamar mandi ada di dapur." Zai yang melihat Anton yang sedang mencoba menahan sesuatu di bawah sana.
Anton yang segera berlari meninggal teman-temannya yang berada di ruangan tamu, setelah Anton pergi meninggalkan mereka.Mereka yang sudah bisa menahan ketawanya lalu mereka tertawa terbahak-bahak mengingat lucunya ekspresi Anton yang sedang menahan pipis.
Anton yang sudah berada di dapur melihat Ucup yang sedang berada di depan kompor.
"Abang kamar mandi mana?" Anton yang sudah berdiri di belakang Ucup. Anton memegang bahu Ucup dari belakang.
"Astagfirullah, kamu ngagetin aja." Ucup yang terkejut saat tiba-tiba Anton sudah memegang bahunya lalu dia menoleh ke arah belakang.
"Maaf aku gak sengaja, abang kamar mandi di mana?" tanya Anton.
"Di sana." Ucup menujukan jarinya ke arah kamar mandi yang berada di dapur.
Anton segera berlari ke arah kamar mandi tersebut. Anton yang sudah berada di depan pintu kamar mandi membuka pintu kamar mandi. Dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
Ucup mematikan kompornya karena air di dalam panci yang berada di atas kompor sudah masak. Ucup membuat tiga gelas teh dan tiga gelas kopi setelah itu dia meletakkan ke enam gelas tersebut ke dalam nampan. Ucup yang hendak membawa nampan tersebut tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
Anton yang keluar dari kamar mandi lalu dia berjalan menghampiri Ucup yang sudah berdiri di depan meja.
"Abang biar aku saja yang bawa." Anton yang sudah berada di samping Ucup. Anton yang ingin membawakan nampan yang berisi enam gelas, tiga gelas kopi dan tiga gelas teh.
"Ya sudah kamu bawa nampan ini," kata Ucup.
"Iya aku bawa abang." Anton yang membawa nampan yang berisi enam gelas tersebut. Anton berjalan sambil membawa nampan tersebut di tangannya.
Saat Anton sudah berada di ruangan tamu sambil membawa nampan yang berisi gelas. Anton melihat teman-temannya yang sedang teman-temannya terbahak-bahak.
"Kalian sedang ngetawain apa?" Anton berjalan ke arah meja yang ada di ruangan tamu.
Saat mereka melihat ke arah suara tersebut, mereka melihat Anton yang sedang berjalan sambil membawa nampan ke arah mereka. Mereka berhenti tertawa setelah melihat Anton yang sedang berada di samping meja. Anton meletakkan nampan yang berisi gelas di atas meja tersebut.
"Loh kok kalian berhenti tertawa?" Anto yang keningnya berkerut setelah melihat ke arah mereka yang berhenti tertawa.
...~ Bersambung~...
__ADS_1