
"Tunggu ekonomi ku pulih, akan aku ceritakan berapa sakitnya di sepelekan di saat tidak punya uang."
Beberapa Bulan Kemudian..............
Hana yang mengendarai motornya untuk mengantarkan Aqila ke kosan yang berada di jalan panam. Aqila yang melihat sebuah keramai di dekat sebuah gerobak dagang menjadi penasaran.
"Hana coba lihat itu kok ramai banget." Aqila menujukan jarinya ke arah orang-orang yang sedang mengerumuni sebuah gerobak dagang.
"Apa kamu mau kesana?" Hana melirik ke arah jari telunjuk Aqila, dia melihat orang-orang berkumpul mengelilingi gerobak dagang tersebut.
"Iya, ayo kita kesana!" Aqila mengajak Hana untuk pergi ke sana.
"Baiklah." Hana membelokkan motornya ke arah gerobak tersebut.
Hana dan Aqila turun dari motor lalu mereka menghampiri kerumunan orang-orang yang mengelilingi gerobak tersebut.
"Abang beli."
"Abang cepat dong."
"Abang punya aku mana."
Hana dan Aqila yang sudah berada di belakang orang-orang yang mengelilingi gerobak tersebut. Hana yang penasaran akhirnya bertanya kepada seorang perempuan yang berdiri di hadapan nya.
"Kakak." Hana memegang bahu si perempuan tersebut.
"Ada apa?"Si perempuan tersebut membalikkan badan lalu dia melihat ke arah Hana yang sudah berdiri di hadapan nya.
"Ini ramai kenapa ya kakak?" tanya Hana.
"Lagi ngantri beli tela-tela," jawab si perempuan tersebut.
"Tela-tela itu apa kakak?" Hana yang baru mendengarkan nama makanan yang di ucapankan si perempuan tersebut menjadi penasaran.
"Itu makanan, apa kamu tidak tahu?" Si perempuan itu juga penasaran, Hana tidak tahu nama makanan yang lagi viral saat ini.
"Tidak kakak." Hana mengelakkan kepalanya.
"Ya sudah kamu beli saja biar tahu tela-tela itu seperti apa." Si perempuan itu menyuruh Hana untuk membeli tela-tela.
"Tela-tela itu dari bahan apa?" tanya Hana.
"Singkong," jawab si perempuan.
__ADS_1
"Oo..... ternyata dari singkong," kata Hana.
Setelah itu si perempuan mulai membalikkan badannya. Si perempuan tersebut lagi mengantri untuk membeli tela-tela. Hana pun juga ikut mengantri untuk membeli tela-tela tersebut.
"Maaf semuanya tela-tela sudah habis," Suara seorang pria.
"Ya habis." Orang-orang yang dari tadi mengantri untuk membeli tela-tela merasa kecewa saat mendengar bahwa tela-tela nya sudah habis.
"Maka besok kalian kesini lagi, saya akan membuat lebih banyak tela-tela lagi," kata si pria tersebut.
"Aduh udah lama ngantri malah habis." Guman berberapa pembeli yang ingin membeli tela-tela.
"Gak apa-apa gak bisa beli tela-tela nya yang penting masih bisa melihat wajah tampan abang penjual tela-tela."
"Gak rugilah bisa melihat wajah abang penjual tela-tela yang tampan."
"Betul betul betul."
"Habis si abang mirip oppa korea."
"Senyumnya itu loh bikin aku gak kuat."
"Mana si abang ramah lagi."
"Baik lagi si abang."
"Enak loh tela-tela buat dia itu," kata seorang pria yang sedang memakan tela-tela buatan si cowok yang ganteng itu.
Hana hanya bisa mendengarkan percakapan orang-orang tersebut. Hana membalikan badan berjalan ke arah Aqila yang berada tidak jauh dari. gerobak pedagang tersebut.
"Hana jadi itu jualan apa?" Aqila yang melihat Hana berjalan ke arahnya.
"Tela-tela." Hana sudah berdiri di hadapan Aqila.
"Tela-tela itu kayak mana?" tanya Aqila.
"Ntah aku tak tahu." Hana mengangkat bahunya.
"Lah, kamu kok gak beli sih?" Aqila cemberut bibirnya mengerucut.
"Udah habis tadi," jawab Hana.
"Tela-tela terbuat dari apa?" tanya Aqila.
__ADS_1
"Singkong," jawab Hana.
"Lah singkong aja kok bisa seramai itu pembelinya," kata Aqila.
"Nama juga makanan baru viral udah pasti banyak yang mau membeli." Hana memberitahukan Aqila bahwa tela-tela itu makanan yang lagi viral sehingga banyak sekali orang-orang yang berbondong-bondong untuk tela-tela tersebut.
"Pantas aja tadi yang mau beli ngantri sebanyak itu, tapi kok yang mau beli kebanyakan cewek?" Aqila tadi melihat orang-orang yang mengantri rata-rata berjenis kelamin perempuan.
"Kata mereka abang penjual tela-tela ganteng kayak oppa Korea makannya mereka mau mengantri demi melihat abang tela-tela yang tampan itu." Hana memberitahukan apa yang dia dengar dari beberapa perempuan tadi lalu dia memberitahukan semua itu kepada Aqila.
"Masak sih? aku jadi penasaran seganteng apa abang penjual tela-tela tersebut." Aqila yang penasaran ingin mengetahui seganteng apa wajah abang penjual tela-tela tersebut.
"Aku gak tahu soalnya mau lihat si abang penjual tela-tela itu susah di sana masih pada ramai. Abang penjual tela-tela masih di kerumunin perempuan." Hana menceritakan kepada Aqila bahwa dia belum melihat si abang penjual tela-tela. Hana ingin melihat abang penjual tela-tela tersebut tetapi susah karena masih banyak perempuan di sana yang masih mengerumunin tempat tersebut. Bahkan mereka mau berdesak-desakan untuk bisa melihat si abang penjual tela-tela tersebut.
"Kalau begitu besok kita kesini lagi, soalnya aku mau beli tela-tela," kata Aqila.
"Mau beli tela-tela atau mau lihat si abang penjual tela-tela?" Hana yang sedang mengoda Aqila.
"Sambil menyelam minum air," jawab Aqila.
"Hahahaha." Hana yang tertawa mendengarkan perkataan Aqila.
"Eh kok malah ketawa sih." Aqila yang bingung melihat Hana yang sedang tertawa.
"Habis kamu jujur banget sih," kata Hana.
"Coba lihat tuh, kamu di lihatin orang-orang." Aqila menyadarkan Hana bahwa suara tawa Hana membuat orang-orang pada melihat ke arahnya.
"Kalau begitu ayo kita pergi dari sini." Hana melihat ke arah orang-orang yang sedang melihat ke arahnya melihat hal itu membuat Hana memegang tangan Aqila lalu dia mengajak Aqila pergi dari tempat itu.
Beberapa perempuan masih mengerumunin si abang penjual tela-tela.
"Maaf saya mau pulang." Si abang penjual tela-tela berharap beberapa perempuan yang masih berada di dekat gerobaknya untuk pergi dari situ.
"Apa boleh aku selfi ama abang?" tanya seorang perempuan.
"Gimana ya?" Si abang penjual tela-tela sedang berpikir.
"Ayolah abang, sekalian entar aku promosin jualan abang." Si perempuan tersebut membujuk si penjual tela-tela tersebut.
"Baiklah." Si abang penjual tela-tela mendengar si perempuan tersebut mau mempromosikan jualnya maka dia menjadi mau untuk dia ajak berfoto bersama si perempuan tersebut.
Setelah mendapatkan foto si abang penjual tela-tela tersebut perempuan yang mengerumunin dia pun pergi. Si abang penjual tela-tela tersebut merasa legah karena perempuan itu pergi. Si abang penjual tela-tela tersebut mendorong gerobaknya untuk meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Si abang penjual tela-tela terlihat bahagia saat mendorong gerobaknya. Dia bahagia setiap malam tela-tela yang dia jual selalu habis hingga dia merasa bersemangat untuk setiap hari berjualan.
...~ Bersambung ~...