
"Kemarin adalah kenangan dan esok adalah harapan."
Gustaf terlebih dahulu berada di kantin, Gustaf menghampiri ibu kantin yang sedang berdiri di depan meja kasir.
"Ibu, ada yang ingin saya bicarakan." Gustaf yang sudah berdiri di depan meja kasir.
"Kamu mau bicara apa?" tanya ibuk kantin.
"Apa saya boleh menitipkan jualan teman saya di sini?" tanya Gustaf.
"Teman kamu mau jualan apa?" tanya ibuk kantin.
"Keripik singkong, apa boleh ibuk?" tanya Gustaf.
"Boleh, kebetulan di sini belum ada keripik singkong. Kapan kamu menitipkan keripik singkongnya?" tanya ibuk.
"Hari ini ibuk, kebetulan saya sudah bawak ini buk." Gustaf memberikan kantong plastik berukuran besar kepada ibuk kantin tersebut.
"Kamu mau jual berapa?" Ibuk kantin tersebut mengambil kantorng plastik dari tangan Gustaf.
"1000 rupiah, gimana ibuk?" tanya Gustaf.
"Tunggu ibuk lihat dulu isinya." Ibuk kantin membuka kantong plastik tersebut, ibuk kantin yang melihat bungkus kecil dari keripik singkong tersebut.
"Gimana ibuk?" tanya Gustaf.
"Berarti dari kamu 1000 rupiah maka ibuk jual 2000 rupiah per bungkusnya," jawab Ibuk kantin.
"Jadi kita deal nih buk." Gustaf mengulurkan tangan ke arah ibuk kantin.
"Iya deal, uang kamu ambil setelah kripik singkong habis, gimana?" ibuk kantin mengulurkan tangan ke arah Gustaf.
"Baiklah, terimakasih ibuk sudah mau menerima keripik singkong teman saya di titipkan di sini." Gustaf menjabat tangan ibuk kantin tersebut.
Ucup dan Feri yang kehilangan jejak Gustaf akhirnya memutuskan ke kelas. Mereka berjalan ke arah kelas, saat mereka sudah sampai di kelas tapi mereka tidak melihat keberadaan Gustaf di kelas.
"Lah kok Gustaf tidak ada." Ucup yang melihat ke sekeliling kelas tersebut tetapi tidak menemukan Gustaf.
"Tuh anak kemana sih?" Feri yang berjalan ke arah kursi yang biasa mereka duduki.
"Kita tunggu aja, paling bentar lagi dia juga datang." Ucup yang mengikuti Feri berjalan ke arah kursi tempat duduk mereka.
Feri dan Ucup sudah duduk di kursi biasanya mereka duduk. Mereka sedang menunggu kedatangan Gustaf. Akhinya yang di tunggu-tunggu pun datang sambil bernyanyi.
"Gustaf, keripik singkong aku mana?" Ucup yang melihat Gustaf berjalan masuk ke dalam kelas tanpa membawa kantong plastik.
__ADS_1
"Udah aku titipin di kantin kampus." Gustaf berjalan menghampiri Ucup dan Feri.
"Emang ibuk kantin ngasih izin?" tanya Ucup.
"Ibuk kantin ngasih izin makannya aku bisa menitipkan keripik singkong kamu di sana." Gustaf duduk di kursi tempat dia biasa duduk.
Siang Harinya.......
Ucup terlebih dahulu pulang kerumahnya sedangkan Gustaf dan Feri berjalan ke arah kantin mau membeli minum karena merasa haus.Gustaf dan Feri yang sudah berada di kantin kampus. Gustaf dan Feri langsung berjalan ke arah lemari pendingin, Gustaf mengambil minum teh pucuk sedangkan Feri mengambil minuman kopiko botorlan.
Mereka meminum terlebih dahulu minuman tersebut baru setelah itu mereka membayar minuman tersebut di kasir. Mereka sudah berdiri di depan meja kasir.
"Kebetulan sekali ternyata kamu." Ibuk kantin yang melihat ke arah Gustaf.
"Ada apa emangnya ibuk?" tanya Gustaf.
"Semua keripik singkong kamu hari ini langsung terjual habis, apa besok kamu bisa buat lagi?" tanya ibuk kantin.
"Alhamdulillah, bisa mau berapa bungkus ibuk?" tanya Gustaf.
"Kamu buat 100 bungkus, gimana?"tanya ibuk kantin.
" Bisa ibuk," jawab Gustaf.
Sebulan kemudian........
Keripik singkong buatan Ucup laris manis di kantin kampus, selain itu Ucup juga menitipkan keripik singkong buatan di kantin sekolah Zai. Saat Ucup tidak kuliah hari sabtu dan minggu dia mempergunakan waktunya untuk memproduksi keripik singkong buatannya.
Sehingga setiap hari senin Ucup akan menitipkan keripik singkong buatannya kesekolah Zai dan kekampus nya. Hasil usaha keripik singkong Ucup sudah biasa membuat Ucup tidak meminta uang jajan kepada kedua orang tuanya. Uang hasil penjualan keripik singkong separuh Ucup jadikan modal untuk proses produksi lalu sisanya Ucup jadi untuk uang jajan Ucup dan Zai.
Kedua orang tua Ucup mulai senang melihat Ucup dan Zai mengunakan waktu libur mereka untuk memproduksi keripik singkong. Sehingga waktu sekolah dan kuliah mereka tidak terganggu dengan adanya usaha keripik singkong tersebut.
Kedua abang adek itu semangkin hari mereka semakin kompak untuk memproduksi keripik singkong buatan mereka. Saat mereka memiliki banyak tugas maka mereka akan mendahului untuk mengerjakan tugas tersebut.
Kalau Ucup dan Zai sedang sibuk dengan tugas mereka maka ayah dan ibu yang akan memproduksi keripik singkong tersebut. Mereka masih membuat dalam jumlah yang tidak besar sehingga mereka sekeluarga masih bisa memproduksi keripik singkong tersebut dengan cara bergantian.
Seminggu kemudian.......
Zai berjalan keluar pintu gerbang sekolah dengan keadaan lesu, dia membawa kantong plastik. Ucup yang sedang duduk di atas motornya melihat Zai yang berjalan dengan keadaan lesu.
"Ada apa Zai?" tanya Ucup.
"Nih abang lihat aja sendiri." Zai yang sudah berdiri di samping motor Ucup memberikan kantong plastik kepada Ucup.
"Lah, inikan keripik singkong kita, kenapa Zai?" tanya Ucup.
__ADS_1
"Seminggu ini penjualan menurun, kayak di sini udah mulai bosen dengan kripik singkong buatan kita." Zai yang bicara dengan wajahnya yang terlihat cemberut.
"Kita coba titip di tempat lain aja keripik singkong nya." Ucup menguntungkan kantong plastik tersebut di gantungan motor.
"Iya abang." Zai naik ke atas motor Ucup.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ucup.
"Aku pengen makan bakso abang," jawab Zai.
Warung Bakso
Ucup dan Zai sudah berada di warung bakso langganan mereka. Ucup dan Zai duduk di kursi sambil menunggu bakso pesanan mereka datang. Sambil menunggu bakso pesanan mereka datang Ucup melihat ke atas meja, di atas meja tersebut tidak ada keripik singkong.
Ucup berdiri kursi lalu dia berjalan ke arah motor. Ucup mengambil empat bungkus keripik singkong dari kantong plastik. Ucup membawa empat bungkus keripik singkong tersebut.Bakso yang mereka pesan pun telah datang di letakan di atas meja. Ucup berjalan ke arah kursi tersebut sambil membawa empat bungkus keripik singkong.
Sebelum mereka memakan bakso tersebut mereka membuka masing-masing sebungkus keripik singkong setelah itu mereka membaca terlebih dulu doa sebelum. Mereka memakan bakso tersebut dengan lahap. Ada seorang pengujung warung bakso yang melihat ke arah Ucup dan Zai.
"Itu keripik singkong beli dimana?" tanya si pengunjung tersebut.
"Gak beli buat sendiri, apa kamu mau?" tanya Ucup.
"Mau," jawab si pengujung tersebut.
"Ini buat kamu." Ucup memberikan dia bungkus keripik singkong.
"Terimakasih." Si pengujung itu mengambil keripik singkong tersebut dari tangan Ucup.
"Kasih kembali," kata Ucup.
Setelah mereka selesai makan bakso, Zai mengajak Ucup untuk pulang kerumahnya. Zai berjalan keluar dari warung bakso sedangkan Ucup berdiri di depan meja kasir. Ucup membayar bakso lalu pemilik warung bakso berbicara kepada Ucup.
"Apa keripik singkong masih ada?" tanya pemilik warung bakso.
"Ada, pak mau berapa?" tanya Ucup.
"Harganya berapa?"tanya pemilik warung bakso.
"1000 rupiah per bungkus," jawab Ucup.
"Kalau begitu saya mau ambil semuanya," kata pemilik warung bakso.
"Tunggu bentar ya pak." Ucup berjalan ke arah motor nya, dia mengambil kantong plastik lalu dia menyerahkan kantong plastik tersebut kepada pemilik warung tersebut.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1