
"Ry tak akan lupa tangan mana saja yang membantu Ry di saat Ry sedang susah. Dan kaki mana saja yang melangkah pergi menjauh di saat Ry meminta tolong."
"Aku merasa capek karena belajar terus makanya aku cuti kuliah." Ucup terpaksa berbohong kepada Gustaf.
"Masak sih itu alasan kamu?" Gustaf yang tidak percaya ama alasan Ucup yang terdengar mengada-ngada bagi Gustaf.
"Iya, kalau tidak itu lalu apa lagi alasan aku?" Ucup yang tahu bahwa Gustaf tidak mempercayai alasannya, sehingga membuat Ucup bertanya balik ama Gustaf.
"Masalah ekonomi," kata Gustaf.
"Itu juga salah satunya." Ucup membenarkan perkataan Gustaf.
"Kenapa kamu tidak cerita kepada kami?" tanya Gustaf.
"Aku tidak ingin menambah beban pikiran kalian," jawab Ucup.
"Apa kamu sudah tidak menganggap kami sebagai teman lagi?" tanya Gustaf.
"Bukan begitu, aku masih menganggap kalian sebagai teman hanya saja aku tidak ingin masalah aku menjadi beban pikiran kalian cukup aku saja." Ucup menjelaskan kepada Gustaf bahwa dia tidak ingin menjadi beban pikiran mereka.
Esok Harinya.........
Gustaf sudah berada di tempat biasanya Ucup berjualan tetapi Ucup belum berada di sana. Gustaf memutuskan untuk menunggu Ucup sambil duduk di atas motornya. Sebuah motor terpakir di samping motor Gustaf.
"Kamu sedang apa di sini?" Gustaf yang menyadari ada sebuah motor terpakir di samping motornya lalu dia menoleh ke arah motor yang berada di sampingnya. Dia melihat seorang perempuan sedang duduk di atas motornya.
"Aku mau beli tela-tela, kalau abang lagi ngapain di sini?" Si perempuan tersebut bertanya balik kepada Gustaf.
"Aku lagi nunggu Ucup." Gustaf berbicara sambil melihat ke arah si perempuan tersebut. Si perempuan tersebut ialah Aqila. Adek kelas Gustaf di kampus.
"Oh iya abang kan teman Ucup," kata Gustaf.
"Iya, apa kamu sering beli tela-tela Ucup?" Gustaf yang penasaran akhirnya bertanya kepada Aqila.
"Iya abang," jawab Aqila.
"Kamu suka tela-tela nya atau abang yang buat tela-telanya?" Gustaf menatap wajah Aqila.
"Kenapa kok abang nanya gitu sih?" tanya Aqila.
"Aku pengen tahu aja," jawab Gustaf.
"Dasar kepo," kata Aqila.
"Eh itu Ucup kan," kata Gustaf.
__ADS_1
"Mana mana abang Ucup?" Aqila segera melihat ke sekeliling tempat tersebut untuk mencari keberadaan Ucup.
"Hahahaha, tapi bohong." Gustaf yang melihat Aqila mencari keberadaan Ucup merasa lucu sehingga dia tertawa.
"Abang jahat." Aqila terlihat kesal dengan Gustaf sehingga bibirnya mengerucut.
"Aku tuh cinta berat." Gustaf yang bernyanyi sambil meledek Aqila.
"Abang tuh nyebelin," kata Aqila.
"Kayaknya kamu suka ama Ucup ya?" tanya Gustaf.
"Gak." Aqila menggelengkan kepalanya.
"Gak salah lagi kan, emang kamu suka ama Ucup," kata Gustaf.
"Aku gak suka ama abang Ucup." Di bibir Aqila berbicara seperti itu sedang kan di hati Aqila dia sudah jatuh cinta dengan Ucup.
"Itu Ucup." Gustaf yang melihat Ucup sedang mendorong gerobak ke arah tempat dia biasa berjualan.
"Udah deh abang gak usah ngeprank aku lagi." Aqila yang tidak percaya dengan perkataan Gustaf.
"Kalau kamu gak percaya ama omongan orang hidup percaya aja ama omongan orang mati." Gustaf turun dari motornya lalu dia berjalan ke arah Ucup.
Gustaf berlari ke arah Ucup yang sedang mendorong gerobaknya.
"Gak usah, aku bisa sendiri kok." Ucup menolak bantuan Gustaf.
"Gak boleh nolak biar aku bantu." Gustaf membantu Ucup mendorong gerobak.
Ucup dan Gustaf sudah berada di tempat Ucup berjualan.Aqila berjalan menghampiri Ucup dan Gustaf yang sedang berdiri di depan gerobak.
"Kamu ke sini mau ngapain?" Ucup yang sedang sibuk mempersiapkan peralatan untuk berjualan tela-tela.
"Aku mau bantu kamu jualan tela-tela," jawab Gustaf.
"Tidak perlu." Ucup menolak bantuan Gustaf.
"Kenapa aku tidak boleh membantu kamu?" tanya Gustaf.
"Aku tidak mau kamu capek an gara-gara membantu aku." Ucup memberitahukan kepada Gustaf bahwa dia tidak ingin melihat Ucup capek.
"Kalau aku capek nantik istirahat, plis Ucup biarkan aku membantu kamu." Gustaf memohon dengan wajah memelas kepada Ucup.
"Baiklah kamu boleh bantu aku tapi______, " kata Ucup.
__ADS_1
"Tapi apa?" tanya Gustaf.
"Kamu bantu layani pembeli biar aku yang buat tela-tela nya, bagaimana?" tanya Ucup.
"Baiklah Ucup," jawab Gustaf.
"Abang tela-tela nya. " Aqila yang sudah berada di hadapan Ucup dan Gustaf.
"Kayak biasanya kan?" Ucup melihat ke arah Aqila.
"Iya abang." Aqila tersenyum kepada Ucup.
"Tunggu sebentar ya." Ucup memasukkan minyak ke dalam wajan setelah minyak tersebut panas dia mulai memasukkan tela-tela tersebut ke dalam wajan.
"Iya abang." Aqila yang memperhatikan Ucup yang sedang mengoreng tela-tela.
"Jangan di lihatin terus entar naksir." Gustaf yang menyadari bahwa dari tadi Aqila terus melihat ke arah Ucup.
"Apaan sih abang ini?" Aqila mencoba menoleh ke arah lain.
"Oh jadi Aqila naksir ama kamu?" tanya Ucup.
"Bukan, dia itu naksir ama kamu. Masak kamu jadi cowok gak peka sih. " Gustaf yang tidak tahan melihat tingkah Ucup yang tidak peka terhadap Aqila, sehingga Gustaf memberitahukan kepada Ucup bahwa Aqila naksir maa Dia.
"Abang Ucup gak usah dengarin omongan abang Gustaf, dia cuma mengada- ngada aja," kata Aqila.
"Jadi yang benar ini siapa?" Ucup yang kebingungan saat mendengar perkataan Gustaf bahwa Aqila naksir ama dia sedangkan Aqila mengatakan tidak usah mendengar perkataan Gustaf.
"Ooh ternyata kamu di sini.Aku tadi kerumah kamu nyariin kamu ternyata kamu malah di sini ama Ucup." Feri menghampiri mereka dengan perasaan yang kesal, karena Gustaf sudah berjanji mau nongkrong ama Feri tetapi Gustaf malah di sini bersama Ucup. Itu yang membuat Feri marah.
"Kami nyariin aku?" Gustaf yang terkejut melihat Feri sudah berdiri si samping nya.
"Iya, Apa kamu lupa kalau ada janji dengan aku?" Feri yang berdecak pinggang melihat ke arah Gustaf.
"Astagfirullah, aku lupa. Maafin aku Feri." Gustaf baru teringat kalau dia sudah punya janji bersama Feri.
"Gus sebaiknya kamu pergi dengan Feri karena kalian sudah ada janji." Ucup menyuruh Gustaf untuk pergi menepati janjinya kepada Feri.
"Iya, aku pergi dulu Ucup." Gustaf menuruti nasehat Ucup untuk pergi bersama Feri karena mereka terlebih dahulu sudah berjanji.
"Iya hati-hati kalian." Ucup melihat mereka yang sudah berjalan pergi meninggalkan Ucup dan Aqila yang berada di tempat tersebut.
"Abang tela-tela punya aku sudah siap?" tanya Aqila.
"Sebentar lagi." Ucup sudah mengangkat tela-tela tersebut dari wajan.
__ADS_1
"Iya abang." Aqila merasa senang akhirnya bisa berduaan dengan Ucup, biasanya mereka tidak bisa berduaan.
...~ Bersambung ~...