
"Meskipun belum bisa berjumpa, meskipun menyapamu hanya bisa lewat vitual, tapi tentangmu sudah lebih dulu ku utarakan lewat doa-doa di malam syahdu."
Mereka bertiga sedang duduk di lantai teras rumah sambil memakan keripik singkong.
"Siapa yang buat keripik singkong ini?" tanya Gustaf.
"Aku," jawab Ucup.
"Masak sih?" Feri yang menoleh ke arah Ucup karena dia merasa ragu bahwa Ucup yang membuat keripik singkong tersebut.
"Aku yang buat keripik singkong tersebut, terserah kalian mau percaya atau tidak," jawab Ucup.
"Ini kamu sendirian yang buat atau ada yang bantu?" tanya Gustaf.
"Ibu bantu goreng, emang kenapa Gus?" tanya Ucup.
"Habis keripik singkong mantul banget." Gustaf yang mengacungkan dua jari jempolnya kepada Ucup.
"Ya enakanlah soalnya gratis coba beli pasti gak enak," kata Ucup.
"Walaupun ini beli tetap mantul rasanya, aku ini jujur ngomong nya." Gustaf yang memuji keripik singkong buatan Ucup.
Feri mengambil toples berisi keripik singkong tersebut lalu dia meletakkan toples keripik singkong tersebut di pahanya. Feri mengambil keripik singkong tersebut dari dalam toples. Feri menyuapi keripik singkong tersebut kedalam mulutnya. Keripik singkong yang sudah masuk kedalam mulutnya lalu dia kunyah mengunakan giginya.
"Feri sini toplesnya." Gustaf yang mengulurkan tangannya meminta toples yang berisi keripik singkong tersebut.
"Nih keripik singkong." Feri tidak mau memberikan toples yang berisi keripik singkong tersebut kepada Gustaf. Feri mengambil keripik singkong dari dalam toples lalu dia memberikan keripik singkong tersebut ke tangan Gustaf.
"Aku mau toples juga." Gustaf menerima keripik singkong tersebut dari Feri, Gustaf menyuapi keripik singkong tersebut ke dalam mulutnya.
"Iya entar aku kasih toples nya." Feri yang meluk toples yang berisi kripik singkong tersebut.
"Aku mau toplesnya." Gustaf yang mengebor tempat duduknya sehingga dia sudah duduk di dekat Feri.
"Gak bisa." Feri yang tidak mau memberikan toples tersebut kepada Gustaf.
"Pokoknya aku mau toples itu." Gustaf yang berusaha merebut toples tersebut dari pelukan Feri.
"Pokoknya gak boleh, sekali aku bilang gak boleh maka gak boleh." Feri yang masih bersih keras mempertahankan toples tersebut kedalam pelukannya, dia tidak ingin menyerahkan toples tersebut kepada Gustaf.
__ADS_1
Ucup yang melihat dan mendengar perdebatan Feri dengan Gustaf, Ucup mengelengkan kepalanya melihat perdebatan antara kedua temanan. Kedua temannya itu merebutkan toples plastik yang harganya begitu murah di pasaran. Ucup yang dari tadi melihat perdebatan keduanya temannya lama-lama merasa kesal.
Kedua temannya dari tadi tidak ada yang mau mengalah, kedua temannya itu seperti anak kecil yang sedang rebutan mainan. Sehingga membuat Ucup tidak habis pikir dengan kelakuan kedua temannya.
"Sudah sudah sudah, kalian itu sebenarnya rebutin toples atau keripik singkong nya?" Ucup yang berusaha menghentikan Perdebatan kedua orang temananya.
"Toples serta keripik singkong," Gustaf dan Feri menjawab secara serentak.
"Feri sini toples kripik singkong nya." Ucup meminta toples keripik singkong tersebut dari tangan Feri.
"Kamu mau ngapain minta toplesnya?" Feri yang memeluk toples tersebut dengan erat seakan-akan tidak mau melepaskan toples tersebut.
"Tuh kamu lihat keripik singkong tinggal sedikit lagi," Ucup menujukan toples yang berisi keripik singkong tersebut sudah tinggal sedikit lagi.
"Nah makanya itu aku gak mau bagi ama dia, dia udah banyak makannya." Feri yang menjelaskan. kepada Ucup alasan dia tidak ingin memberikan toples tersebut kepada Gustaf.
"Kesini toples biar aku tambah lagi." Ucup mengulurkan tangan ke arah Feri.
"Benaran mau kamu tambahin lagi?" tanya Feri.
"Iya, makanya kesiniin toples nya," jawab Ucup.
"Nah gitu dong dari tadi." Ucup mengambil toples tersebut dari tangan Feri.
Setelah toples tersebut berada di tangan Ucup, dia membuka tutup toples tersebut. Ucup memasukkan tangannya kedalam toples tersebut.
"Kamu mau ngapain?" tanya Gustaf.
"Nih buat kamu terus ini buat kamu." Ucup meletakan keripik singkong tersebut ke tangan Gustaf setelah itu Ucup juga melakukan hal yang sama ketangan Feri.
"Lah, terus toples kosong. Sana kamu isi Ucup. toples dengan kripik singkong lagi." Feri yang melihat keripik singkong yang ada si dalam toples tersebut sudah habis, Ucup membagi keripik singkong tersebut kepada Feri dan Gustaf dengan jumlah yang sama banyak dan adil.
"Keripik Singkong sudah habis hanya tingga itu, aku juga sudah membagikan nya kepada kalian berdua dengan jumlah yang sama banyak dan adil." Ucup menjelaskan kepada Gustaf dan Feri bahwa keripik singkong nya sudah habis, Ucup membagikan keripik singkong yang terkahir itu kepada mereka berdua dengan adil.
"Tadi kata kamu mau di tambahkan." Feri yang wajah terlihat lesu setelah mengetahui keripik singkong tersebut yang terakhir sudah berada di tangannya.
"Maafin aku terpaksa bohong habis kalian dari tadi tidak berhenti rebutan toples itu." Ucup merasa tidak enak ama kedua temannya sudah berbohong, tetapi saat itu Ucup tidak punya pilihan lain selain berbohong demi kebaikan.
"Kalau mau di maafin kamu buat lagi keripik singkong yang banyak untuk kita," kata Feri.
__ADS_1
"Insyallah aku buatin," kata Ucup.
"Tapi gratis kan Ucup," kata Gustaf.
"Kalian cukup beli minyak goreng aja, gimana?" tanya Ucup.
"Ya boleh lah, kapan kamu buat keripik singkong buat kita?" tanya Gustaf.
"Entar aku kabarin kalian kalau aku ada waktu," kata Ucup.
"Aku mau menyaksikan secara langsung kamu membuat keripik singkong," kata Feri.
"Iya biar kamu percaya kalau aku bisa membuat keripik singkong," kata Ucup.
"Kalau aku udah lihat dengan mata kepala aku sendiri Ucup," kata Feri.
Seminggu Kemudian.........
Siang hari ini Ucup sudah berada di depan gerbang sekolah Zai. Ucup sedang menunggu Zai pulang sekolah. Setelah mendengar bunyi bel sekolah beberapa siswa segera berbondong-bondong mengendarai motornya melewati pagar sekolah.
Ucup melihat Zai yang sedang berjalan sambil mengobrol dengan seorang siswi cewek. Ucup merasa pernah mengenal itu cewek tapi Ucup sudah lupa nama itu siswi karena bagi Ucup tidak terlalu penting siswi tersebut sehingga nama siswi tersebut tidak Ucup ingat.
"Hai abang Ucup." Siswi tersebut sudah berada di depan Ucup, dia melihat Ucup sambil tersenyum.
"Dia siapa kamu?" Ucup melihat ke arah Zai.
"Teman abang." Zai yang sudah berdiri di depan Ucup bersama siswi tersebut.
"Abang Ucup apa kabar?" Siswi tersebut masih berusaha menarik perhatian Ucup.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Ucup.
"Abang Ucup masih ingat ama akukan?" tanya siswi tersebut.
"Gak,kamu kan tidak penting ngapain juga aku ingat ama kamu." Ucup yang berbicara dengan nada ketus kepada siswi tersebut.
"Hahahaha, kasihan deh lu." Dia yang mendengar abangnya berbicara dengan ketua ama siswi tersebut tertawa lalu Zai mengejek siswi tersebut.
"Ketawa aja terus mumpung ketawa itu gratis." Siswi tersebut berbicara dengan kesal kepada Zai, dia membalas sikap Ucup kepadanya melalui Zai.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...