
"Jika matahari pergi karena adanya malam apakah kamu juga akan pergi karena datang nya dia yang lebih sempurna?"
"Aku juga pernah nonton topeng monyet ama abang Ucup," jawab Zai.
"Kalau aku lihat-lihat kamu kayak gak sakit deh." Aska yang memperhatikan wajah Zai yang tidak terlihat seperti orang sakit.
"Kan aku udah bilang kalau aku itu sehat, tapi abang Ucup aja tuh yang lebay ngatain aku sakit. " Zai yang merasa badan tidak sakit.
"Abang Ucup mana?" Aska yang melihat ke arah pintu rumah Zai.
"Kampus," jawab Zai.
"Kamu di rumah ama siapa?" tanya Aska.
"Sendirian," jawab Zai.
"Emang kedua orang tua kamu kemana?" tanya Aska.
"Ke Rumbai," jawab Zai.
"Ngapain kedua orang tua kamu ke Rumbai?" tanya Aska.
"Ada acara di sana, kamu belum jawab itu motor siapa? " Zai yang masih penasaran dengan motor yang Zai bawa.
"Abang Daniel," jawab Aska.
"Siapa abang Daniel itu?" tanya Zai.
"Anak majikan tempat ibu aku kerja," jawab Aska.
"Btw motor kamu kemana?" tanya Zai.
"Dipakai Abang Daniel, kita tukar pakai," jawab Aska.
"Lah kok aneh, kenapa dia mau pakai motor buntut kamu?" tanya Zai.
"Ntlah aku gak tahu, anak orang kaya mah bebas." Aska mengangkat kedua bahunya.
"Menurut aku aneh aja dia mau tukar bakai motor buntut punya kamu." Zai yang masih penasaran dengan Daniel yang meminta menukar motor sport nya dengan motor buntut .
"Sama aku juga mikir kayak gitu, karena gak biasanya abang Daniel minta tukaran motor kayak gitu," kata Zai.
__ADS_1
"Apa di sini lagi musim kemarau?" tanya Aska.
"Gak, di sini udah musim hujan," jawab Zai.
"Tapi aku kok merasa kemarau nih," kata Aska.
"Maksud kamu apa?" tanya Zai.
"Ah kamu ini gak peka banget sih, masak tamu dari tadi gak di ambilin minum." Aska yang berbicara to the point karena Zai dari tadi tidak mengerti dengan maksud perkataan Aska.
"Kalau kamu mau minum ambil aja di dapur." Zai berdiri dari tempat duduknya lalu dia berjalan masuk ke dalam rumah.
"Lah kamu mau kemana?" Aska melihat ke arah Zai yang sudah berada di depan pintu rumah.
"Aku mau masuk." Zai berhenti berjalan dia berdiri di depan pintu membelakangi Aska.
"Aku gak di ajak masuk kedalam rumah gitu?" Aska yang berdiri dari tempat duduk lalu dia menghampiri Zai yang masih berdiri membelakangi Aska.
"Ayo masuk ke rumah aku!" Zai mengajak Aska untuk masuk ke dalam rumahnya, setelah itu dia berjalan masuk ke dalam ruang tamu meninggal Aska yang masih berdiri di depan pintu..
"Ya elah kebiasaan nih anak main ninggalin aku aja." Aska yang berjalan masuk menyusul Zai yang sudah berada di ruangan tamu.
"Iya nih aku tutup pintunya." Aska membalikkan badannya lalu dia menutup pintu rumah Zai. Setelah itu Aska tidak melihat keberadaan Zai di ruangan tamu.
Aska buru-buru berjalan menyusul Zai yang sudah berada di depan pintu kamarnya. Aska menghampiri Zai yang akan membuka pintu kamarnya.
"Aku haus minta minum ya?" Aska yang sudah berdiri di samping Zai.
"Ambil aja sana sendiri di dapur." Zai membuka pintu kamarnya lalu dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Ya udah kalau gitu aku ke dapur dulu." Aska berjalan ke arah dapur, sesampai di dapur Aska mengambil gelas di rak piring lalu dia berjalan ke arah despenser. Aska memencet despenser sehingga air dari despenser keluar lalu air tersebut masuk ke dalam gelas.
Setelah gelas tersebut terisi penuh Aska berhenti memencet despenser. Aska memegang gelas tersebut dengan tangan kanannya. Aska meminum air yang berada di dalam gelas tersebut hanya dengan sekali tegukan. Aska yang sudah merasa tidak haus lagi lalu dia meletakkan gelasnya di meja makan.
Aska sudah berdiri di depan pintu kamar Zai, Dia berjalan masuk ke dalam kamar Zai.
"Tumben nih kamar bersih, siapa yang bersihkan?" Aska yang sudah berada di dalam kamar Zai terkejut melihat kondisi kamar Zai yang bersih dan rapi.
"Ya akulah, emang siapa lagi?" Zai yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Wah ada yang gak beres nih, kayak kamu lagi sakit nih." Aska berjalan menghampiri Zai yang duduk di atas tempat tidur Setelah Aska berada di samping Zai lalu dia meletakkan telapak tangan di kening Zai.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" Zai yang tidak suka tangan Aska berada di keningnya.
"Aku cuma mau ngecek kamu lagi sakit atau gak, ternyata lebih panas pantat aku." Aska meletakkan tangan kiri nya di atas pantatnya, dia membandingkan suhu kening Zai dengan suhu di pantatnya.
"Ya elah kamu malah nyamain, suhu kening aku sama suhu pantat kamu." Zai segera menepis tangan Aska yang berada di kening Zai.
"Hehehe." Aska yang tertawa sambil memegang tengkuk kepalanya.
"Gak ada yang lucu, gak usaha ketawa." Zai menatap tajam ke arah Aska.
"Jadi kalau ada yang lucu baru aku boleh ketawa?" Aska yang berhenti ketawa lalu dia menatap ke arah Zai.
"Iya, kamu kesini mau ngapain?" tanya Zai.
"Aku mau nemanin kamu biar gak sendirian di rumah." Aska yang duduk di atas tempat tidur Zai.
"Emang kamu gak kerja?" tanya Zai.
"Gak, apa kamu mau ngajarin aku main gitar?" tanya Aska.
"Gak mau, kamu belajar otodidak aja," jawab Zai.
"Ah kamu kok gitu sih, ajarin aku main gitar dong." Aska yang wajah dibuat memelas biar Zai mau mengajarinya untuk bermain gitar.
"Nih kamu belajar pakai ini." Zai turun dari tempat tidur lalu dia berjalan ke arah meja belajarnya. Zai sudah berdiri di depan meja belajar lalu dia mengambil sebuah buku dari meja belajar. Zai berjalan sambil membawa buku tersebut, lalu dia memberikan buku tersebut kepada Zai.
"Iya." Aska mengambil buku dari tangan Zai, Aska membaca judul buku tersebut. Aska membuka buku tersebut sambil membaca isi buku tersebut.
Zai duduk di atas tempat tidur sambil melihat ke arah Aska yang sedang serius membaca buku yang berjudul cara bermain gitar.
"Serius amat kamu baca bukunya?" tanya Zai.
"Iyalah aku pengen bisa main gitar kayak kamu." Aska berbicara sambil melihat ke arah buku yang sedang dia baca.
"Kenapa kamu pengen belajar main gitar?" tanya Zai.
" Karena kebanyakan kaum hawa itu suka ama cowok yang bisa main gitar sambil bernyanyi, jadi aku mau di sukai banyak kaum hawa sehingga aku harus bisa main gitar sambil bernyanyi.
"Ya elah kamu ini ada -ada wae. " Zai yang tidak habis pikir dengan alasan Aska.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1