Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Kebun Atau Gotong Royong


__ADS_3

"Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat meninggal dunia tidak harus tua.Jangan tertipu dengan badan sehat kamu, karena meninggal dunia tidak harus sakit. Jangan tertipu dengan ketenaran dan karya-karya kamu, karena di kuburan engkau hanya di temani amalan baik kamu bukan sahabat kamu."


Esokan Harinya.......


Setelah melaksanakan shalat subuh berjamah di mesjid. Ayah dan Ucup berjalan keluar dari mesjid, mereka berjalan pergi ke arah rumah.Saat di perjalanan pulang ke arah rumah, Ucup teringat dengan pesan yang pak Rt sampaikan untuk ayah.


"Ayah natik sesampainya di rumah ada yang ingin aku sampaikan." Ucup yang berhenti berjalan kaki.


"Apa yang ingin Ucup sampaikan?" Ayah berhenti berjalan lalu dia menoleh ke arah Ucup.


"Nantik aja kalau udah sampai rumah Ucup kasih tahu ayah." Ucup yang melanjutkan berjalan kaki.


"Baiklah kalau begitu." Ayah yang berjalan kaki menyusul Ucup, Ucup yang sudah berjalan kaki terlebih dahulu meniggalkan ayah.


Ayah dan Ucup sudah berada di teras rumah, mereka duduk di bangku yang ada di teras rumah.


"Sebenarnya apa yang ingin Ucup sampaikan kepada ayah?" Ayah yang terlihat begitu penasaran.


"Tadi malam pak Rt kerumah mencari ayah, karena ayah tidak ada di rumah maka pak Rt menyampaikan pesan untuk ayah kepada aku," jawab Ucup.


"Apa isi pesan dari pak Rt?" tanya Ayah.


"Pak Rt menyuruh setiap rumah harus mengirimkan seorang untuk ikut dalam gotong royong," jawab Ucup.


"Kapan gotong royong di laksanakan?" tanya ayah.


"Hari ini pukul 07.30 wib ayah," jawab Ucup.


"Bagaimana ini Ucup? ayah tidak bisa ikut gotong royong." Ayah yang merasa bersalah karena tidak bisa ikut gotong royong.


"Kata pak Rt ini wajib ayah, kalau tidak ada salah satu dari kita yang ikut maka kita akan terkena Denda," jawab Ucup.


"Apa Dendanya Ucup?" tanya ayah.


"Kita harus membayar uang sebesar seratus ribu rupiah," jawab Ucup.


"Lumayan juga dendanya bisa buat uang belanja ibu, jadi kita harus apa Ucup?" tanya ayah.


"Salah satu dari kita harus ikut gotong royong ayah," jawab Ucup.


"Kalau ayah tidak bisa ikut gotong royong. Ayah juga butuh bantuan Ucup buat di kebun jadi kita harus bagaiman Ucup?" tanya ayah.


"Sekarang aku tanya ayah punya berapa anak?" tanya Ucup.


"Tiga orang anak laki-laki," jawab ayah.

__ADS_1


"Kalau begitu ayah tidak usah khawatir," kata Ucup.


"Maksud Ucup apa? ayah tidak mengerti," tanya ayah.


"Ayah kan punya tiga orang anak laki-laki jadi ayah bisa meminta bantuan ama ketiga orang anak laki-laki ayah," kata Ucup.


"Tapi ayah gak mungkin minta bantuan ama Fiqrie, soalnya dia sudah berkeluarga," kata ayah.


"Kan ayah masih punya dua orang anak laki-laki, ayah bisa minta tolong kepada aku dan Zai," kata Ucup.


"Apa Zai bisa di minta bantuannya Ucup?" Ayah yang terlihat ragu untuk meminta bantuan Zai.


"Coba ayah bicarakan dulu ama Zai." Ucup memberikan saran kepada ayah untuk berbicara kepada Zai.


"Kalau begitu ayah mau bicara ama Zai dulu Ucup." Ayah yang berdiri dari tempat duduk lalu dia berjalan ke arah pintu rumahnya.


Tok..... Tok


"Assalamu'alaikum." Ayah yang sudah berdiri di depan pintu rumah lalu dia mengetuk pintu rumah.


"Walaikumsalam ayah." Ibu yang baru keluar dari kamarnya lalu dia berjalan ke arah ruangan tamu. Ibu yang sudah berada di depan pintu rumah lalu dia membuka kunci pintu rumah, setelah pintu tidak terkunci dia membuka pintu rumah.


Ceklek....... Ceklek


"Ayah udah pulang dari mesjid?"Ibu yang menyalami punggung tangan ayah.


"Assalamu'alaikum ibu." Ucup menyalim punggung tanganku ibu.


"Walaikumsalam Ucup," kata ibu.


"Ibu aku masuk dulu." Ucup yang berjalan masuk ke dalam rumah melewati ibu. Ucup yang terus saja berjalan ke arah kamarnya.


Ibu menutup pintu rumah lalu dia mengunci pintu rumah. Ibu membalikan badan lalu dia melihat ayah yang berada di ruangan tamu sambil berdiri.


"Ada apa ayah?" Ibu berjalan menghampiri ayah, ibu sudah berdiri di hadapan ayah.


"Apa Zai sudah bangun ibu?" tanya ayah.


"Belum, kenapa ayah?" tanya ibu.


"Kalau begitu biar ayah yang membangunkan Zai. " Ayah berjalan ke arah kamar Zai.


"Baiklah ayah, ibu mau kedapur masak dulu."Setelah ayah berjalan pergi, ibu juga berjalan ke arah dapur.


Setelah selesai sarapan pagi, Zai berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Dek tunggu dulu." Ayah yang melihat Zai berdiri dari tempat duduk nya.


"Ada apa ayah?" Zai menoleh ke arah ayahnya.


"Ada yang mau ayah bicarakan dengan adek, jadi sebaiknya adek duduk dulu." Ayah yang menyuruh Zai untuk duduk di kursi.


"Baiklah ayah." Zai yang duduk kembali ke kursinya.


Ayah menceritakan kepada Zai bahwa hari ini pak Rt menyuruh setiap rumah mengirimkan seseorang untuk melakukan gotong royong, kalau ada rumah yang tidak mengirim seseorang untuk mengikuti gotong royong makan akan mendapatkan hukuman.


"Apa hukuman nya ayah?" tanya ibu.


"Harus membayar denda," jawab ayah.


"Berapa dendanya ayah?" tanya Zai.


"Seratus ribu rupiah," jawab ayah.


"Kalau begitu salah satu dari kalian harus ikut gotong royong." Ibu yang mendengar perkataan ayah langsung saja menyuruh salah satu dari ketiga orang laki-laki tersebut untuk ikut bergotong royong.


"Kalau begitu abang Ucup aja yang pergi gotong royong," kata Zai.


"Ucup akan pergi ke kebun membantu ayah, bagaimana kalau Zai yang ikut bergotong royong?" tanya ayah.


"Aku tidak mau ayah." Zai mengelengkan kepalanya, dia tidak mau bergotong royong.


"Kenapa adek tidak mau?" tanya ibu.


"Yang ikut gotong royong itu rata-rata bapak-bapak," jawab Zai.


"Terus kenapa emangnya Zai?" tanya Ucup.


"Ya aku malu lah abang," jawab Zai.


"Kenapa mesti malu Zai?" tanya Ucup.


"Aku akan merasa sendirian disana soal tidak ada orang yang seumuran dengan aku di sana," jawab Zai.


"Apa dek mau bantu ayah di kebun?" tanya ayah.


Zai yang mendapat pertanyaan dari ayah lalu dia sedang berpikir. Sebenarnya Zai lebih suka berdiam diri di dalam kamar dari pada pergi kebun atau ikut gotong royong. Zai lebih suka menghabiskan waktu wekeend nya dengan rebahan di atas tempat tidurnya.


Ayah, Ibu dan Ucup melihat ke arah Zai yang tampak sedang berpikir. Mereka tahu bahwa sebenarnya Zai tidak ingin pergi ke kebun dan tidak mau ikut bergotong royong.Tapi saat ini mereka tidak punya pilihan lain selain menyuruh Zai untuk memilih mau ikut ayah ke kebun atau iku gotong royong.


Zai merasa di antara kedua pilihan tersebut tidak ada yang dia ingin kan. Zai tidak ingin memilih salah satu dari pilihan tersebut.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2