
"Tidurmu masih berantakan, orang tuamu belum kamu banggakan. Lantas mengapa kamu menginginkan seseorang? mengurus dirimu saja kamu belum bisa."
Sebulan Kemudian........
Sore harinya Gustaf yang melajukan motor milik Feri melewati jalan panam.
"Gus itu apa kok ramai-ramai?" Feri yang duduk di balakang Gustaf menujukan jari-jarinya ke arah kerumunan orang-orang.
"Gak tahu, apa kamu mau kesana?" Gustaf melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Feri.
"Ayo kita kesana!" Feri yang penasaran akhirnya mengajak Gustaf untuk kesana.
"Siapa bos aqu." Gustaf membelokan motor milik Feri menuju ke arah kerumunan orang-orang yang ramai.
Gustaf yang sudah memberhentikan motor milik Feri di dekat kerumunan orang-orang tersebut. Feri lebih dahulu turun dari motor, dia penasaran dengan orang-orang yang berumunan di tempat tersebut. Sehingga dia terlebih dahulu menghampiri orang-orang tersebut.
"Sebenarnya ini ada apa kok ramai-ramai?" Feri yang sudah berdiri di hadapannya orang-orang yang sedang berkerumun, dia bertanya kepada seorang perempuan yang berada si depannya.
"Lagi ngantri beli tela-tela." Si perempuan tersebut membalikkan badan lalu dia melihat ke arah Feri.
"Jadi lagi ngantri beli makanan," kata Feri.
"Kalau kami kesini mau ngapain?" tanya si perempuan tersebut.
"Aku penasaran dengan keramaian di tempat ini sehingga aku untuk bertanya," jawab Feri.
"Aku rekomendasi buat kamu untuk coba makan tela-tela ini soalnya enak banget," kata si perempuan tesebut.
"Emang seperti apa makanan tela-tela itu?" Feri yang penasaran dengan makanan yang bernama tela-tela, sehingga dia bertanya kepada si perempuan tersebut.
"Kamu tunggu sebentar." Si perempuan tersebut membalikkan badannya sambil meminta si abang penjual tela-tela untuk membuatkan tela-tela rasa balado punya dia.
"Baiklah." Feri yang berdiri sambil menunggu si perempuan tersebut.
"Feri." Gustaf yang memegangi bahu Feri.
"Eh ternyata kamu." Feri menoleh ke arah samping, dia melihat Gustaf ya g sudah berdiri di sampingnya.
"Sebenarnya mereka lagi ngantri apa?" tanya Gustaf.
"Tela-tela," jawab Feri.
"Seperti apa bentuk makanan tela-tela itu?" Gustaf yang penasaran karena ini pertama kali dia mendengar nama makanan tersebut.
"Ntah aku juga tidak tahu." Feri mengangkat bahu nya.
"Kenapa kamu gak beli?" biar kita tahu seperti apa bentuk makanan tersebut," tanya Gustaf.
__ADS_1
"Kalau mau kamu saja yang beli." Feri menyuruh Gustaf untuk membeli tela-tela tersebut.
Si perempuan yang berada di hadapan Feri membalikkan badan sambil memegang sebuah bungkusan yang berbentuk kertas.
"Nah ini yang nama tela-tela, nih cobain." Si perempuan tersebut mengulurkan bungkus tela-tela kepada Feri.
"Oh jadi ini yang nama tela-tela, aku cobain ya." Feri mengambil satu buah tela-tela dari dari bungkusan kertas tersebut.
"Kok mirip seperti kentang goreng ya?"Gustaf melihat ke arah bungkus kertas tersebut, dia melihat tela-tela tersebut mirip seperti kentang goreng.
"Memang mirip, apa kamu juga mau mencoba tela-tela?" Si perempuan tersebut mengulurkan tela-tela ke arah Gustaf.
"Aku mau." Gustaf mengambil tela-tela tersebut dari bungkusnya.
"Bagaimana rasanya?" Si perempuan tersebut melihat ke arah Feri dan Gustaf secara bergantian.
"Enak."Mereka berdua serentak mengatakan bahwa keduanya tela-tela tersebut rasanya enak.
" Kalau begitu aku mau beli." Gustaf yang sudah mencicipi tela-tela tersebut mengatakan enak sehingga dia mau membeli tela-tela tersebut.
"Gus sekalian beliin juga punya aku," kata Feri.
"Iya aman itu tapi uangnya mana?" Gustaf mengulurkan tangannya ke arah Feri.
"Nih anak kalau soa uang cepat banget sih, eh kayak uang aku habis nih. Pakai uang kamu aja dulu." Feri yang memeriksa dompet dan saku celana dah bajunya tidak menemukan uang.
"Ini kalian gak mau nambah lagi?" Si perempuan tersebut menawarkan kembali tela-telanya kepada Feri dan Gustaf.
"Tidak terimakasih." Feri yang merasa tidak enak menolak tawaran si perempuan lalu mengatakan terimakasih.
"Aku mau." Sedangkan Gustaf yang mendapatkan tawaran lagi dari si perempuan tersebut lalu dia mengambil tela-tela tersebut tanpa rasa malu.
"Ih nih anak gak tahu malu." Feri menyenggol lengan Gustaf.
"Kalau malu gak kenyang aku," kata Gustaf.
"Kamu gak mau nambah lagi." Si perempuan tersebut menawarkan kembali kepada Gustaf.
"Gak, terimakasih kasih ya cantik." Gustaf tersenyum sambil memuji si perempuan tersebut.
"Sama-sama, kamu bisa aja sih." Si perempuan tersebut tersipu-sipu malu setelah mendapat pujian dari Gustaf.
"Kamu tak hanya cantik tetapi juga baik hati." Gustaf yang lagi-lagi memuji si perempuan tersebut.
"Udah-udah kamu jangan buat anak gadis orang baper mendingan kamu pesan tela-tela," kata Feri.
__ADS_1
"Terimakasih pujiannya, tapi_____," kata si perempuan tersebut.
"Tapi apa?" tanya Gustaf dan Feri secara serentak.
"Tapi aku gak ada uang renceh buat kamu." Setelah mengatakan itu si perempuan pergi meninggalkan Gustaf dan Feri.
"Hahahah." Feri tertawa terbahak-bahak setelah mendengarkan perkataan si perempuan tersebut terhadap Gustaf.
"Udah ketawa aja terus." Gustaf yang kesal menyuruh Feri mengetawainya terus.
"Habis lucu aja makanya aku ketawa." Feri yang berhenti tertawa.
Gustaf yang berdiri sambil berdesakan bersama perempuan yang ingin membeli tela-tela. Gustaf tampak senang berada di dekat perempuan-perempuan cantik sehingga di situ dia tampak ganteng.
Gustaf sengaja membiarkan para perempuan tersebut untuk terlebih dahulu mendapatkan tela-tela nya. Karena Gustaf masih ingin lebih lama di keliling oleh perempuan tersebut. Akhirnya satu persatu perempuan yang berada di tempat tersebut mulai pergi setelah mendapatkan tela-tela tersebut.
"Abang tela-tela nya, " kata Gustaf.
"Mau rasa apa?" tanya abang penjual tela-tela.
"Emang ada rasa apa aja abang?" tanya Gustaf.
"Balado, BBQ dan jagung manis," jawab abang penjual tela-tela.
"Balado dan BBQ," jawab Gustaf.
"Mau berapa?" tanya abang penjual tela-tela.
"Balado 10 ribu dan BBQ 5 ribu," jawab Gustaf.
"Tunggu sebentar." Abang penjualan tela-tela sedang mencampur bumbu Balado ke tela-tela nya setelah itu dia meletakkan tela-tela rasa Balado di bungkus kertas.Setelaha itu abang penjual tela-tela membuat kan rasa BBQ.
"Iya," kata Gustaf.
"Ini." Abang tela-tela membalikkan badannya karena Gustaf berada di belakangnya.
"Ucup." Gustaf melihat abang penjual tela-tela tersebut ternyata Ucup.
"Gustaf." Ucup yang terkejut melihat ke arah Gustaf.
"Kamu kenapa gak kuliah lagi?" tanya Gustaf.
"Aku lagi cuti kuliah." Ucup berbicara sambil menundukkan kepala nya, dia merasa minder saat bertemu dengan Gustaf.
"Apa alasan kamu cuti kuliah?" Gustaf terlibat penasaran ingin mengetahui alasan Ucup Cuti kuliah.
Ucup terdiam sambil memikirkan, apa dia harus memberitahu Gustaf alasan sebenarnya dia cuti kuliah atau lebih baik dia tidak usah memberitahukan Gustaf alasan dia cuti kuliah.
__ADS_1
"Ucup kok diam aja," kata Gustaf.
...~ Bersambung ~...