
"Sedang berada di fase tidak punya apa-apa kecuali nyawa itupun cuma titipan."
Malam Harinya.......
Malam ini Ucup duduk di kursi sambil menghisap rokok. Ucup tidak bisa berhenti merokok karena nikotin yang ada di dalam rokok telah membuat dia menjadi candu untuk terus menghisap rokok.
Tap.......
Tap.......
Tap.......
Zai berjalan sambil membawa gitar kesayangannya. Zai berjalan melewati pintu rumahnya. Zai melihat ke arah Ucup yang sedang merokok.
"Abang," kata Zai.
"Zai mau kemana bawa gitar?"Ucup yang melihat ke arah suara tersebut ternyata Zai sudah berdiri di depan pintu rumah Ucup.
"Abang berhenti lah merokok," kata Zai.
"Gak bisa," kata Ucup.
"Kenapa abang gak bisa berhenti merokok?" tanya Zai.
"Abang udah kecanduan ama zat nikotin yang ada pada rokok tersebut," jawab Ucup.
"Apa abang udah pernah coba berhenti merokok?" tanya Zai.
"Pernah, tapi gagal" jawab Ucup.
"Kenapa bisa gagal abang?" tanya Zai.
"Abang udah berhenti merokok selama tiga hari, hari berikutnya teman-teman sekelas abang mencoba membujuk abang merokok. Awalnya abang menolak bujukan mereka tapi lama-lama kelamaan mereka memaksa abang bahkan mereka memasukkan rokok ke dalam mulut abang sehingga akhirnya abang menghisap rokok tersebut," kata Ucup.
"Kenapa abang gak memberontak saat itu?" tanya Zai.
"Kedua tangan abang sudah di pegang ama teman sekelas abang di kanan dan kiri sehingga abang tidak bisa memberontak," kata Ucup.
"Nah itukan waktu abang masih Smu, kalau sekarang apa abang udah pernah coba berhenti merokok?"tanya Zai.
"Pernah, teman-teman sekampus mengatakan abang cupu karena tidak merokok. Bahkan mereka mengatakan kalau abang itu cemen tidak merokok, mereka juga mengejek-ejek abang dengan mengatakan cewek aja ada yang merokok masak abang kalah dengan cewek tersebut. Kuping abang menjadi panas setelah mendapatkan ejekan dari teman-teman sekampus sehingga abang merokok lagi," kata Ucup.
"Seharusnya abang tidak usah mendengarkan perkataan mereka, apa abang tahu bahayanya merokok?" tanya Zai.
"Sulit bagi abang untuk tidak mendengarkan perkataan mereka, mereka ngomong di hadapan abang secara langusng sehingga kuping abang terasa panas saat mendengarkan perkataann mereka yang membicarakan tentang abang," kata Ucup.
"Menurut abang mana yang lebih sakit di bicarakan secara langsung di hadapan orang tersebut atau di bicarakan saat orang tersebut sudah tidak ada (bicara di belakang)?" tanya Zai.
Ucup berpikir terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan dari Zai.Menurut pendapat Ucup kedua-duanya sama-sama membuat orang lain terluka. Saat membicarakan orang lain di hadapan orang tersebut atau di belakang orang tersebut tetap akan membuat orang tersebut terluka.
Luka karena perkataan itu susah sembuhnya dari pada luka karena pukulan, makanya kita harus menjaga lisan kita saat berkata kepada orang lain. Agar setiap perkataan yang keluar dari mulut kita tidak menyakiti hati orang lain. Jika perkataan kamu akan membuat orang lain terluka maka sebaiknya diam, tetapi jika perkataan kamu bisa membuat orang lain termotivasi maka kamu harus bicara.
"Uhuk.....Uhuk." Zai yang terbatuk karena terkena asap dari rokok yang Ucup hisap.
"Kenapa Zai?" Ucup yang melihat ke arah Zai yang sedang terbatuk.
__ADS_1
"Aku batuk gara-gara asap rokok abang." Zai yang mengipaskan tangannya ke arah asap rokok yang berada di depan dia.
"Maaf Zai." Ucup segera mematikan rokoknya lalu membuang rokok tersebut di dalam asbak.
"Makanya abang itu berhenti merokok udah tahu rokok gak baik buat kesehatan." Zai yang berjalan sambil membawa gitarnya.
Zai berjalan ke arah bangku yang berada di bawah pohon mangga. Zai duduk di atas bangku tersebut, dia meletakan gitarnya di atas pahanya. Zai mulai memetik gitarnya lalu dia mulai bernyanyi.
Jreng......Jreng
🎶Malam Ini Kusendiri
🎶Tak Ada Yang Menemani
🎶Seperti Malam Malam
🎶Yang Sudah Sudah
🎶Hati Ini Selalu Sepi
🎶Tak Ada Yang Menghiasi
🎶Seperti Cinta Ini
🎶Yang Slalu Pupus
Reff :
🎶Tuhan Kirimkanlah Aku
🎶Yang Mencintai Aku
🎶Apa Adanya...
🎶Mawar Ini Semakin Layu
🎶Tak Ada Yang Memiliki
🎶Seperti Aku Ini
🎶Semakin Pupus...
Back To Reff :
Ucup mendengarkan Zai yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitar. Suara Zai yang terdengar begitu merdu di iringi oleh petikan gitar yang selaras sehingga membuat Ucup merasa kagum ama kemampuan Zai yang bernyanyi sambil memainkan gitar.
Ucup berdiri dari kursinya lalu berjalan menghampiri Zai yang masih duduk di bangku bawah pohon mangga. Ucup yang sudah berada di hadapan Zai, memberikan tepuk tangan kepada Zai.
Proookkk......Proookkk
"Masyallah suara Zai begitu merdu di iringi oleh gitar sehingga menjadi selaras." Ucup yang sedang memuji Zai, Ucup merasa Zai itu begitu sempurna sudah pintar, ganteng dan memiliki bakat. Ucup tidak memiliki bakat, dia merasa minder dengan Zai yang memiliki banyak kelebihan sedangkan Ucup tidak memiliki kelebihan apa-apa.
"Terima kasih pujiannya abang." Zai yang tersenyum mendengarkan pujian dari Ucup.
Seminggu Kemudian..........
__ADS_1
Malam harinya ayah dan ibu sudah berada di dapur, Ucup yang baru saja sampai di dapur.
"Zai mana Ucup?" tanya ibu.
"Emang Zai gak ada disini ibu?"tanya Ucup.
"Gak ada," jawab ibu.
"Coba Ucup cari dia di kamar, ajak dia buat makan malam bersama," kata ayah.
"Iya ayah." Ucup berjalan meninggalkan dapur, Ucup berjalan ke arah kamar Zai.
Sesampainya Ucup di depan pintu kamar Zai, dia mengetuk pintu kamar Zai
Tok......Tok......Tok
"Zai," kata Ucup.
"Zai."
"Zai."
Ucup yang sudah tiga kali memanggil nama Zai tetapi tidak di jawab oleh Zai, akhirnya Ucup membuka pintu kamar Zai.
Ceklek......Ceklek
Kepala Ucup yang sudah berada di depan pintu lalu melihat ke arah kamar Zai. Ternyata Zai sedangkan melaksanakan shalat magrib di dalam kamarnya. Ucup berdiri di depan pintu kamar Zai sambil menunggu Zai selesai melaksanakan shalat magrib.
Sesudah Zai melaksanakan shalat shalat maghrib, Zai melakukan doa Ucup mendengarkan setiap doa-doa yang Zai minta kepada allah. Ucup mengaamiinkan setiap doa yang di ucapkan oleh Zai. Setelah selesai Zai berdiri dari tempat duduknya.
"Zai." Ucup memanggil nama Zai.
"Sejak kapan abang di situ?" Zai menoleh ke arah Ucup.
"Dari tadi, Ayah ibu menyuruhnya kita makan malam bersama," jawab Ucup.
"Iya abang duluan saja, aku mau ganti pakaian dulu." Zai yang melepaskan baju kokonya.
"Abang tunggu di dapur." Ucup membalikkan badan lalu berjalan keluar dari pintu kamar.
Ucup menutup pintu kamar Zai, lalu dia pergi ke dapur. Zai yang sudah menganti baju koko dengan kaos oblong berwarna putih. Zai juga melepaskan kain sarung lalu memakai celana training.
Tok.....Tok.....Tok
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Zai yang mendengar suara seorang mengucapkan salam lalu menjawab, dia berjalan keluar dari kamarnya. Dia sudah berada di depan pintu lalu dia membuka pintu rumah nya.
Ceklek.....Ceklek
Visual Muhammad Zainel
...~ Bersambung ~...
__ADS_1