
"Tidak ada cerita, tidak ada cinta, aku sedang terlalu sibuk dengan diri sendiri."
Esok anda Harinya
Ucup sudah berada di depan rumahnya sedang menyiapkan peralatannya untuk berjualan.
"Abang yakin mau berjualan?" Zai yang sedang berdiri di samping Ucup.
"Yakin, kenapa emang Zai?" Ucup bertanya balik kepada Ucup.
"Aku takut preman itu datang lagi ke tempat abang berjualan." Zai mengatakan ketakutannya kepada Ucup.
"Kamu tidak usah takut, kalau dia datang abang akan memberikan uang keamanan. Abang tidak mau lagi di hajar oleh preman tersebut." Ucup memutuskan untuk membayar uang keamanan kepada preman tersebut, dia tidak ingin kejadian tadi malam menimpa dirinya lagi.
"Apa? aku tidak salah dengar abang mau memberikan uang kepada mereka. Kalau begitu keenakan mereka dong, kerjanya cuma minta-minta uang kepada pedagang kecil seperti abang. Sedangkan abang bersusah payah untuk mencari uang dengan cara berjualan tela-tela," kata Zai.
"Abang sudah memutuskan itu, dari pada abang di hajar lagi dan tidak bisa berjualan di situ jadi lebih baik abang membayar uang keamanan kepada preman tersebut." Ucup memberitahukan alasannya kepada Zai.
"Apa abang tidak rugi membayar uang keamanan sebesar itu?" tanya Zai.
"Insyaallah tidak Zai," jawab Ucup.
"Apa boleh aku ikut abang berjualan?" tanya Zai.
"Tidak boleh." Ucup tidak memperbolehkan Zai untuk ikut berjualan bersama dia.
"Kenapa tidak boleh abang?" Zai penasaran, dia ingin mengetahui alasan Ucup tidak memperbolehkan dia ikut berjualan tela-tela.
"Besok kamu sekolah, jadi lebih baik kamu belajar yang rajin agar beasiswa kamu tidak di cabut." Ucup menyuruh Zai untuk belajar yang rajin, dia tidak ingin beasiswa Zai di cabut gara-gara membantu dia berjualan.
"Aku ini pintar abang jadi gak belajar juga tetap pintar." Zai mulai menyombongkan kepintaran terhadap Ucup.
"Kamu tahu pedang?" tanya Ucup.
"Ya tahu lah abang, gini kan adek abang pintar." Lagi-lagi Zai membanggakan dirinya sendiri di hadapan Ucup.
"Pedang itu harus di asah setiap hari kalau tidak di asah maka dia akan tumpul," kata Ucup.
"Aku tahu abang," kata Zai.
__ADS_1
"Makannya itu kamu harus terus belajar biar pintar," kata Ucup.
"Udah abang Ucup tenang aja gak usah mikirin aku, aku itu udah terahir pintar dari sana," kata Zai.
"Abang tahu itu, kamu udah pintar tapi kamu gak boleh sombong ingat di atas langit masih ada langit. Kamu emang pintar tetapi pasti ada yang lebih pintar di atas kamu." Ucup mengelengkan kepalanya lalu dia menasehati Zai agar Zai tidak merasa sombong dengan kepintaran yang dia punya.
"Iya abang," kata Zai.
Ucup sudah berada di tempat berjualan, beberapa orang sudah mengelilingi gerobak Ucup untuk mengantri membeli tela-tela buatan Ucup. Ucup mulai sibuk melayani satu persatu orang yang membeli tela-tela buatannya. Pembeli tela-tela buatan Ucup kebanyakan kaum hawa.
"Abang tela-telanya." Seorang ibuk yang berdesakan di depan gerobak Ucup dengan beberapa perempuan yang usianya lebih muda dari si ibuk tersebut.
"Iya ibuk," kata Ucup.
"Cepatan abang keburu anak saya nangis di rumah." Si buk tersebut meminta Ucup untuk segera membuat tela-tela untuk nya.
"Gak bisa gitu ibuk, kita semua antri dari tadi." Seorang perempuan tidak terima si ibuk tersebut menyerobot antrian.
"Kalian itu harus ngalah sama saya, soalnya saya itu lebih tua dari kalian," kata si ibuk tersebut.
"Buk di sini bukan masalah umur, tapi siapa yang duluan datang maka duluan juga dia mendapatkan tela-telanya," kata si perempuan tersebut.
"Makanya antri dong ibuk," kata perempuan yang lain.
"Maaf semuanya biar ibuk ini duluan kasihan anaknya." Ucup memberikan tela-tela tersebut kepada si ibuk tersebut.
"Ini uangnya, terimakasih." Si ibuk tersebut memberikan uang kepada Ucup lalu dia memberikan uang tersebut kepada Ucup.
"Sama-sama ibuk." Si Ucup mengambil uang dari tangan si ibuk tersebut.
"Abang punya aku lagi," kata perempuan lainnya.
"Iya sabar ya." Ucup memasukkan uang tersebut ke dalam laci.
Malam harinya Ucup menyimpan sedikit tela-tela menunggu Aqila yang belum datang. Tidak seperti biasanya Aqila belum datang juga padahal hari sudah malam. Tiga orang preman yang kemarin mengambil uang Ucup kembali berjalan ke arah Ucup.
"Ternyata kamu masih berjualan di sini," kata si preman.
"Mana uang keamanan?" tanya preman yang lain.
__ADS_1
"Ini abang." Ucup mengeluarkan uang dari laci gerobaknya lalu dia memberikan yang kepada si preman tersebut.
"Nah gitu dong." Si preman tersebut mengambil uang dari tangan Ucup.
"Harusnya kemarin kamu bayar uang keamanan jadi kami tidak perlu pakai kekerasan," kata preman lainya.
"Maafin aku abang." Ucup menundukkan kepalanya karena merasa takut kepada ketiga preman tersebut, dia masih trauma di hajar habis-habisan oleh kedua preman tersebut secara bergantian.
"Bagus lah kalau kamu sudah mengakui ke salahkan kamu," kata si preman tersebut.
"Ayo, kita pergi meminta uang keamanan ke pedagan lainya." Si preman lain mengajak kedua kawannya untuk pergi kepedagang lainnya.
Ucup merasa senang karena ketiga orang preman tersebut pergi meninggalkan dia. Ucup melihat jam tangan pada pergelangan tangannya. Dia menunggu Aqila, dia ingin memberikan Aqila tela-tela buatannya sebagian rasa terima kasih karena telah menolong nya kemarin.
Sudah satu jam Ucup menunggu Aqila tetapi tidak datang juga akhinya Ucup memutuskan untuk pulang ke rumah. Ucup mendorong gerobaknya sampai ke rumahnya.
Tiiinn........ Tiiinn
Ucup yang mendengarkan suara klakson motor lalu dia meminggirkan gerobak agar motor tersebut bisa melewati jalan tersebut. Ucup terus mendorong gerobak tersebut, tetapi motor yang berada di belakang gerobak Ucup tidak mau berjalan duluan. Motor tersebut masih mengikuti gerobak Ucup yang berada di depan.
Ucup memberhentikan gerobak nya lalu dia membalikkan badanya melihat ke arah belakang. Ucup melihat motor yang dia kenal berada di belakang.
"Abang Ucup." Lea membuka kaca helem nya.
"Lea dari mana?" tanya Ucup.
"Dari rumah teman, abang tela-tela masih ada?" Lea yang pengen makan tela-tela buatan Ucup.
"Ada, apa Lea mau?" tanya Ucup.
"Mau abang," jawab Lea.
"Ini buat Lea." Ucup mengambil tela-tela yang udah di bungkus buat Aqila tetapi Aqila tidak datang sehingga Ucup memberikan tela-tela tersebut buat Lea.
"Berapa abang? " Lea mengambil tela-tela dari tangan Ucup.
"Ini gratis buat Lea," kata Ucup.
"Benaran ini gratis buat aku abang?" Lea yang merasa tidak percaya akhirnya bertanya.
__ADS_1
"Iya Lea," jawab Ucup.
...~ Bersambung~...