
"Kau boleh pergi kemana saja, aku tak pernah melarang.Bahkan kalau kamu mau pindah ke lain hati sekalipun silahkan.Namun jika kelak kau pulang dan aku sudah tak lagi disana. Tak usah kau tanyakan kemana hati yang dulu selalu kujaga."
"Sudah-sudah sebaiknya sekarang kita makan dulu." Fiqrie tidak ingin membahas makanan yang begitu banyak di atas meja tersebut.
"Masak makan dulu sih seharusnya makan sekarang abang," kata Ucup.
"Ayang mau makan pakai apa?" tanya Dinda.
"Pakai itu Beb." Fiqrie menunjukkan jarinya ke arah piring yang berisi gulai ayam.
"Tunggu sebentar aku ambilin Ayang." Dinda mengambil piring yang berisi gulai ayam dari atas meja lalu dia meletakkan gulai ayam di atas piring Fiqrie yang sudah ada nasinya.
"Iya Beb," kata Fiqrie.
"Ayang mau apa lagi?" tanya Dinda.
"Sambel ladonya Beb." Fiqrie yang menginginkan sambel lado yang warna begitu merah karena mengunakan cabe merah di piring yang berada di atas meja.
"Nih sambelnya." Dinda mengambil piring yang berisi sambel ladonya lalu dia meletakkan sambel ke atas nasi yang ada dipiring Fiqrie.
"Beb kok cuma sedikit lagi dong sambel ladonya. "Fiqrie yang meminta Dinda untuk memberikan lagi sambel ladonya.
"Udah cukup segitu." Dinda yang tidak ingin memberikan lagi sambel ladonya ke dalam piring Fiqrie.
"Nih masih kurang, lagi dong Beb." Fiqrie yang meminta kepada Dinda untuk menambah sambel ladonya.
"Gak ada lagi-lagi." Dinda yang berbicara dengan nada ketus kepada Fiqrie.
"Kakak aku minta sambel ladoanya?" Ucup melihat ke arah Fiqrie dan Dinda yang sedang berdebat tentang sambel lado. Melihat perdebatan mereka akhirnya Ucup memilih untuk meminta sambel lado kepada Dinda.
"Nih Ucup." Dinda menyerah piring yang berisi sambel lado kepada Ucup.
"Terimakasih kakak." Ucup mengambil piring yang berada di tangan Dinda lalu dia memasukkan semua sambel lado yang berada di dalam piring itu ke atas nasinya. Ucup meletakkan piring kosong bekas sambel lado lalu dia mengambil piring yang berisi rendang daging ke dalam piring nya.
"Beb mau makan pakai apa?" Fiqrie yang melihat wajah Dinda berubah menjadi kesal buru-buru bertanya Dinda mau makan apa agar Dinda tidak kesal lagi dengan Fiqrie.
__ADS_1
"Terserah." Dinda yang masih merasa kesal ama Fiqrie.
"Ucup sini rendang dagingnya." Kalau sikap Dinda sudah seperti ini maka Fiqrie akan menjadi bingung menghadapi sikap Dinda. Fiqrie mencari akal agar Dinda tidak berlama-lama kesal kepadanya. Fiqrie melihat Ucup yang sedang memegang rendang daging di tangan nya. Fiqrie meminta piring yang berisi rendang kepada Ucup.
"Abang mau makan rendang juga?" tanya Ucup.
"Gak," jawab Fiqrie.
"Lah kalau bukan buat abang terus buat siapa?" Ucup yang masih memegang piring yang berisi rendang di tangannya.
"Udah gak usah banyak tanya, cepatan sini piring rendangnya." Fiqrie wajah berubah menjadi kesal karena Ucup yang terlalu banyak bertanya sehingga dia berbicara ketus kepada Ucup.
"Nih abang." Ucup yang melihat wajah Fiqrie telah berubah menjadi kesal segera memberikan piring yang berisi rendang kepada Ucup.
Fiqrie mengambil piring tersebut dari tangan Ucup. Setelah itu Fiqrei meletakkan daging rendah tersebut di piring Dinda. Setelah itu Fiqrie meletakkan piring yang sudah kosong di atas meja.
"Beb mau pakai lauk apa lagi makannya?" Fiqrie yang menoleh ke arah Dinda.
"Gak ada, makasih ya Ayang." Dinda tersenyum melihat ke arah Fiqrie.
"Hmm, abang apa aku sudah boleh makan?" Ucup yang merasa jadi obat di sana melihat kemesraan Fiqrie dan Dinda, sehingga dia sengaja berdehen agar mereka sadar kalau di situ mereka tidak berdua melainkan bertiga.
"Boleh." Fiqrie yang terus saja melihat ke arah Dinda dengan tatapan Cinta.
"Tapi sebelum makan sebaiknya kita cuci tangan terlebih dahulu." Dinda mengingatkan Fiqrie dan Ucup untuk mencuci tangan sebelum makan.
"Iya." Fiqrie dan Ucup serentak berkata, lalu mereka mencuci tangan mengunakan air yang sudah tersedia di dalam mangkok yang berukuran kecil di atas meja tersebut.
"Setelah jangan lupa baca doa sebelum makan." Dinda juga melakukan hal yang sama seperti yang Fiqrie dan Ucup lakukan mencuci tangan mengunakan air yang ada di dalam mangko yang berada di atas meja tersebut.
Mereka membaca doa sebelum makan, setelah itu mereka mulai menyuapkan nasi berserta lauknya kedalam mulut dengan menggunakan tangan kanan yang tadi sudah di cuci. Ucup yang merasa begitu lapar dia memakan nasi dan lauk pauknya dengan begitu lahap.
"Beb mau coba lauk aku?" tanya Fiqrie.
"Gak usah aku makan ini aja Ayang," jawab Dinda.
__ADS_1
"Beb cobain dikit aja ya." Fiqrie yang membujuk Dinda agar mau mencoba lauk yang dia makan.
"Iya."Setelah di bujuk oleh Fiqrie akhirnya Dinda pun mau.
"Sini aku suapin, Beb buka mulutnya aaaak... " Fiqrie yang menyuapi Dinda mengunakan tangan nya.
"Nyam." Dinda menerima suapan dari Fiqrie, dia segera memakan nasi dan lauk pauk yang sudah berada di dalam mulutnya.
"Beb gantian aku juga mau di suapin pakai rendang dagingnya." Setelah selesai menyuapi Dinda lalu Fiqrie meminta Dinda menyuapi Dia.
"Iya apa sih yang gak buat Ayang." Dinda mengambil nasi dan rendang daging dari piringnya lalu dia menyuapi nasi dan rendang daging tersebut mengunakan tangannya.
Fiqrie menerima suapan dari Dinda, setelah nasi dan daging rendang berada di dalam mulut Fiqrie lalu dia mengunyah makanan tersebut mengunakan giginya. Ucup yang melihat Fiqrie dan Dinda suap-suapan merasa jadi pengen Ucup berharap suatu saat natik dia ingin suap-suapan seperti Fiqrie dan Dinda.
"Kamu kenapa kok dari tadi ngeliatin kita terus?" Setelah Fiqrie menghabiskan makanan yang berada di dalam mulutnya lalu dia berbicara kepada Ucup. Fiqrie yang menyadari bahwa dari tadi Ucup melihat ke arah dia dan Dinda.
"Itu cuma perasaan abang aja, " Ucup buru-buru menundukkan kepalanya melihat ke arah piring nya, dia merasa malu karena ketahuan oleh Fiqrie bahwa dia dari tadi memperhatikan mereka.
"Apa Beb juga merasa bahwa dari tadi Ucup memperhatikan kita?" tanya Fiqrie.
"Iya aku merasa bahwa Ucup terus melihat ke arah kita Ayang." Dinda juga menyadari bahwa dari tadi Ucup selalul melihat ke arah Fiqrie dan Dinda.
"Nah sekarang mendinginkan kamu bicara jujur ama abang." Fiqrie yang menatap ke arah Ucup.
"Iya aku ngaku deh dari tadi memperhatikan abang, lagian abang dan kakak kalau mau suap-suapan itu di rumah gak usah di tempat umum kayak di sini." Ucup memangkat wajah lalu dia berbicara kepada Fiqrei dan Dinda. Dia mengakui bahwa dari tadi di memperhatikan mereka.
"Iri bilang aja bos." Fiqrie yang tersenyum mengejek ke arah Ucup.
"Ckckckck, siapa juga yang iri kayak gituan." Ucup yang menyakal bahwa dia iri melihat Fiqrie dan Dinda sedang suap-suapan.
"Heleh abang tahu jiwa jones kamu itu meronta melihat kita suap-suapan," kata Fiqrie.
"Udah deh abang gak usah mengada-ngada deh," kata Ucup.
"Sudah-sudah kalian ke sini mau makan apa berdebat?" Dinda berbicara dengan volume suara yang besar lalu dia menatap tajam ke arah Fiqrei dan Ucup.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...