
"Maaf belum bisa menjadi apa yang kamu inginkan, aku hanya mencintaimu dengan cara aku."
"Abang Ucup aku bosan di rumah dari tadi, aku pengen jalan-jalan. Apa abang Ucup mau ngajak aku jalan-jalan?" tanya Lea.
"Aduh ini udah malam, lagian besok Lea mau sekolah," jawab Ucup.
"Udah abang Ucup to the point aja gak usah pakai banyak alasan." Lea yang wajahnya kelihatan cemberut.
"Maafin ya Lea, kalau malam ini abang gak bisa." Ucup yang wajahnya terlihat menyesal karena tidak menuruti permintaan Lea.
"Aku kecewa ama abang Ucup, tadi katanya mau melakukan apapun untuk aku." Lea yang berdiri dari tempat duduk nya lalu berjalan ke arah pintu rumah.
"Lea tunggu dulu." Ucup yang berdiri dari tempat duduknya berjalan menyusul Lea.
Lea yang terus saja berjalan ke arah pintu rumah nya tanpa memperdulikan Ucup yang menyusulnya. Lea yang sudah ada di depan pintu rumahnya lalu membuka pintu rumahnya. Lea berjalan masuk ke dalam rumahnya lalu dia menutup pintu rumahnya dengan kencang.
Braaakk.....Braaakk
Setelah itu Lea langsung mengunci pintu rumahnya, dia membalikkan badan lalu berdiri di pintu rumah tersebut. Ucup yang sudah sampai di depan pintu rumah Lea.
Tok.....Tok.....Tok
"Lea buka pintunya, abang mau ngomong." Ucup yang berdiri di depan pintu Lea.
"Abang tahu Lea masih berada di belakang pintu jadi buka pintunya," Ucup yang mengetahui bahwa Lea masih berada di belakang pintu tersebut.
"Kalau Lea gak mau buka pintunya, Lea dengerin abang ngomong dulu. Abang minta maaf tidak bisa menuruti kemauan Lea untuk saat ini, bagaimana kalau malam minggu abang ajak Lea jalan?" tanya Ucup.
Lea yang mendengarkan perkataan Ucup hanya dia, dia tidak ingin terlalu berharap ama setiap perkataan yang Ucup katakan. Dia takut kalau Ucup akan mengecewakan dia lagi sehingga dia memilih untuk diam dan mendengarkan perkataan Ucup.
Ucup yang sudah menunggu sekitar lima menit, tetapi Lea tidak membukan pintu rumah atau mau berbicara dengan dia. Sehingga Ucup memutuskan untuk pergi dari rumah Lea. Dia membiarkan Lea untuk menenangkan dirinya sendiri dulu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau Lea gak mau bicara atau membuka pintu, abang pulang nih."
"Insyaallah malam minggu abang tadi lagi buat ngajak Lea jalan." Ucup berjalan pergi meninggalkan rumah Lea.
Lea yang mendengar perkataan Ucup lalu berjalan kearah jendela rumahnya. Lea membuka sedikit gorden jendela, dia melihat Ucup yang sudah berjalan ke arah pintu pagar rumahnya. Ucup berhenti berjalan lalu membalikkan badan dia menoleh ke arah pintu rumah Lea yang masih tertutup.
Setelah itu Ucup melihat ke arah jendela rumah Lea, dia melihat gorden jendela rumah Lea sedikit terbuka. Ucup merasa bahwa Lea sedang mengintipnya dari jendela tersebut. Ucup melambangkan tangan sambil tersenyum ke arah Lea. Lea yang merasa bahwa dirinya ketahuan sedang melihat Ucup dari jendela tersebut segera menutup gorden jendela rumahnya.
Ucup melihat ke arah jendela rumah Lea yang sudah di tutup oleh gorden jendela. Ucup membalikkan badannya lalu berjalan ke arah pintu pagar. Ucup yang sudah berdiri di depan pos satpam, pak satpam yang sedang duduk di kursi sambil bermain ponsel sehingga dia tidak menyadari keberadaan Ucup yang sudah berdiri di depannya.
"Pak satpam aku pulang dulu," kata Ucup
"Eh ternyata ada nak Ucup, kok udah mau pulang?" Pak satpam yang melihat ke arah Ucup.
"Soalnya udah malam pak, besok aku mau kuliah. Kalau begitu aku pulang dulu." Ucup berjalan ke arah pintu gerbang rumah Lea.
"Oh, ya sudah hati-hati nak Ucup," kata pak Satpam.
Ucup berjalan ke arah rumahnya, sesampai di teras rumahnya dia duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. Dia menunggu Zai yang belum sampai kerumah.
Brum.......Brum
Ucup menoleh ke arah suara motor tersebut lalu dia melihat Zai yang sedang mengendari motornya ke arah halaman rumahnya. Ucup yang melihat Zai mengendari motor lalu berdiri dari kursi. Ucup berjalan ke arah halaman rumahnya.
Zai memarkirkan motor Ucup di samping motor ayahnya. Zai melepaskan helem dari kepalanya lalu dia mengantung helem tersebut di motor tersebut. Ucup yang sudah berdiri di samping motor.
"Eh ada abang Ucup." Zai yang menoleh ke arah samping ternyata Ucup sudah berdiri di samping.
"Kamu dari mana?" Ucup yang menatap tajam ke arah Zai.
"Rumah teman abang." Zai yang merasa ketakutan melihat Ucup menatap matanya dengan tajam tatapan mata Ucup seakan-akan ingin membunuh Zai.
__ADS_1
"Kalau main itu tahu waktu, kamu udah buat kita semua khawatir karena dari tadi tidak pulang-pulang." Ucup menarik telinga Zai.
"Aduh.....aduh sakit, lepaskan abang." Zai yang meringis kesakitan karena telinganya di jewer oleh Ucup.
"Rasakan ini hukuman buat kamu." Ucup yang menjewer telinga Zai lebih kuat lagi.
"Ampun abang, aku ngaku salah tidak akan mengulanginya lagi." Zai memasang wajah yang memelas agar Ucup merasa kasihan sehingga berhenti menarik telinganya.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam rumah," kata Ucup.
Zai turun dari motornya dengan telinganya yang masih di jewer oleh Ucup. Zai dan Ucup yang berjalan ke arah rumah, Ucup yang masih menarik telinga Zai. Ucup dan Zai yang sudah berdiri di depan pintu rumah.
Tok.....Tok......Tok
"Assalamualaikum ibu." Ucup dan Zai yang serentak.
"Walaikumsalam." Ibu dan ayah yang berada di ruangan keluarga mendengar suara Ucup dan Zai mereka segera berjalan mengambil kedua anak mereka.
Ibu dan ayah yang sudah berada di ruangan tamu lalu ayah membukakan pintu rumahnya.
Ceklek.....Ceklek
Ibu dan ayah melihat ke arah Ucup dan Zai. Mereka melihat Ucup masih menarik telinganga.
"Ibu abang Ucup jahat ama aku." Zai yang melihat ke arah ibu dengan tatapan yang memelas sehingga akan membuat si ibu merasa kasihan ama dia.
"Sudah Ucup lepaskan telinga Zai." Ayah yang mencoba melepaskan tangan Ucup dari telinga Zai.
"Iya ayah." Ucup melepaskan tangannya dari telinga Zai, dia berjalan masuk ke dalam rumah.
Ibu dan ayah melihat ke arah Zai yang telinganya memerah karena di jewer oleh Ucup. Ibu dan ayah merasa tidak tega setelah melihat telinga Zai memerah karena di jewer ama Ucup. Zai masih merasa sakit pada telinganya walaupun telinganya sudah tidak di jewer oleh Ucup.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...