
"Sulit menjadi hanya teman dengan seorang yang membuat aku jatuh cinta."
Ucup dan Aqila sudah berada di taman kampus.
"Sebenarnya abang mau bicara apa? cepat katakan aku gak punya banyak waktu." Aqila melepaskan gandengan tangan Ucup.
"Apa aku ada salah ama kamu?" Ucup menatap wajah Aqila.
"Gak ada." Aqila berbicara dengan nada yang ketus kepada Ucup.
"Terus kenapa sikap kamu berubah terhadap aku?" tanya Ucup.
"Apa ada lagi yang mau abang bicarakan ama aku?" tanya Aqila.
"Kalau aku ada salah sama kamu, aku minta maaf." Ucup mengulurkan tangannya ke arah Aqila.
"Abang gak ada salah apa-apa ama aku," kata Aqila.
"Tapi kenapa sikap kamu berubah terhadap aku?" Ucup yang penasaran dengan perubahan sikap Aqila terhadap Ucup.
"Sikap aku dari dulu emang seperti ini abang, kalau sudah ada tidak yang abang bicarakan aku mau kembali kelas dulu." Aqila membalikkan badan lalu dia hendak melangkah pergi dari tempat tersebut.
"Tunggu dulu, apa kita tidak bisa berteman?" tanya Ucup.
"Tidak." Aqila berbicara tanpa menoleh ke arah Ucup.
"Kenapa tidak bisa?" Ucup melihat punggung badan Aqila.
"Aku tidak berteman dengan abang." Setelah mengatakan itu Aqila segera berlari meninggalkan Ucup, Aqila terpaksa menolak berteman dengan Ucup.
Aqila tidak bisa berteman dengan cowok yang telah membuat dia jatuh cinta. Sehingga Aqila memilih untuk menjauhi Ucup, hal itu dia lakukan agar rasa cintanya kepada Ucup bisa berkurang dengan berjalannya waktu. Aqila merasa sudah lelah mencintai Ucup secara sepihak.
Beberapa Bulan Kemudian.......
Setelah kejadian di taman Ucup selalu berusaha untuk bertemu dengan Aqila tetapi Aqila selalu mencoba menghindari Ucup. Akhirnya lama-kelaman Ucup mulai menyerah untuk bisa berteman dengan Aqila. Ucup juga harus fokus dengan usaha tela-tela yang sedang dia jalankan.
Pagi hari Ucup kuliah sedangkan siang harinya Ucup a beristirahat sebentar setelah dia merasa capek berkurang maka Ucup mulai menyiapkan barang-barang yang dia butuhkan untuk berjualan tela-tela. Hari sabtu dan minggu Ucup baru bisa beristirahat dari pagi sampai siang harinya.
__ADS_1
Hari Sabtu........
Zai yang sudah selesai sarapan pagi lalu dia berjalan menghampiri Ucup yang masih berada di dalam kamar.
Tok............. Tok
"Abang Ucup." Zai mengetuk pintu kamar Ucup sambil memanggil nama Ucup.
"Abang bangun ini udah siang." Zai yang berteriak di depan pintu kamar Ucup.
Ceklek........ Ceklek
Pintu kamar Ucup terbuka Zai melihat ke arah pintu kamar Ucup yang sudah terbuka. Ucup berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa kamu teriak memanggil nama aku?" tanya Ucup.
"Aku membangunkan abang, soalnya aku mau berangkat ke sekolah. Abang yang biasanya mengantarkan aku ke sekolah," kata Zai.
"Ya sudah kalau gitu abang mau cuci muka dan gosok gigi." Setelah mengatakan itu Ucup pergi meninggalkan tempat tersebut.
Zai sudah berada di kursi yang berada di teras rumahnya dia sedang memakai kaos kaki setelah itu Zai memasang sepatunya. Lea mengendarai motornya keluar dari pagar rumahnya. Motor yang Lea kendarai sudah berada di depan pagar rumahnya.
Zai yang melihat Lea sudah berada di depan pintu gerbang rumah Lia.
"Lea Lea Lea." Zai yang berlari ke arah Lea sambil memanggil nama Lea.
"Kamu." Lea yang mendengar namanya di panggil menoleh ke arah suara tersebut, Lea melihat Zai yang sudah berdiri di hadapan motornya.
"Apa aku boleh nebeng?" Zai menatap Lea dengan tatapan mata penuh harapan.
"Memang kamu gak di antar ama abang Ucup?" Lea sengaja bertanya kepada Zai.
"Gak, apa aku boleh nebeng naik motor kamu?" Zai terpaksa berbohong kepada Lea.
"Kalau begitu kamu naik motor aku, tapi kamu yang bawak motornya," kata Lea.
Sore Harinya........
__ADS_1
Ucup berjualan tidak sendirian melainkan berdua bersama Zai. Ucup yang mendorong gerobak tersebut sendirian sementara Zai hanya berjalan di samping Ucup. Akhinya mereka sudah sampai di tempat Ucup biasa berjualan tela-tela. Di tempat tersebut sudah terlihat ramai karena sudah banyak perempuan di sana yang menunggu ke datang Ucup.
Ucup meletakkan wajannya di atas kompornya lalu Ucup memasukkan minyak goreng ke dalam kompor setelah itu dia menyalahkan kompor. Beberapa orang perempuan yang berada di depan gerobak Ucup terus saja berbisik-bisik sambil melihat ke arah Zai.
Ucup memasukkan tela-tela ke dalam wajan yang minyaknya sudah panas. Sedangkan Zai hanya mendengarkan beberapa orang perempuan yang terus berbisik-bisik sambil melihat ke arah Zai.
"Apa kalian abang adek?" Seorang perempuan begitu penasaran dengan Zai dan Ucup akhirnya dia bertanya kepada Ucup dan Zai.
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Zai.
"Siapa abang siapa adeknya?" Si perempuan tersebut bingung menetukan mana yang abang dan mana yang adek sehingga dia memutuskan untuk bertanya kepada Ucup dan Zai.
"Coba kalian tebak yang mana abang yang mana adek nya?" Zai menyuruh si perempuan tersebut menebak yang mana abang yang mana adeknya.
.
Mereka yang berada di depan gerobak tersebut melihat ke arah Ucup dan Zai, mereka mulai mencermati wajah Ucup dan Zai agar mereka bisa mengetahui yang mana abang dan yang mana adeknya.
"Yang abang itu kamu sedang yang mengoreng tela-tela itu adeknya." Si perempuan tersebut mengatakan bahwa Zailah abangnya sedangkan Ucup lah adeknya.
"Bukan," jawab Zai.
"Berarti kalau begitu yang abang itu yang mengoreng tela-tela sedangkan yang adeknya itu kamu." Si perempuan lain tersebut mengetahui bahwa tebakan si perempuan pertama itu salah maka dia ingin membenarkan tebakan dia dengan menebak bahwa Ucup lah yang menjadi abangnya sedangkan Zai yang menjadi adeknya.
"Wah ternyata kamu itu adeknya," kata si perempuan tersebut.
"Iya aku memang adeknya." Dia mengakui bahwa dia adeknya.
"Tapi wajahnya kamu terlihat lebih dewasa abang kamu yang terlihat banyak baby face." Si perempuan tersebut mengatakan bahwa wajah Ucup baby face di bandingkan wajah Zai, sehingga pantas saja si perempuan mengatakan bahwa Zailah yang cocok menjadi kakak.
"Betul betul yang kalau katakan bahwa wajah abang Ucup baby face di bandingkan wajah aku yang terlihat dewasa," kata Zai.
Zai mulai melayani mereka yang membeli tela-tela dengan salah satu rasa dari ketiga rasa tersebut. Sedangkan Ucup yang mengoreng tela-tela tersebut. Sehingga dari tadi dia hanya mendengarkan pembicaraan mereka tanpa sedikit pun menoleh ke arah mereka.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1