Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Hampir Aja


__ADS_3

"Untuk mu yang nantinya mau menerima segala baik burukku terimakasih.Dan semoga segala kata dan sikap manis yang kudapati tidak hanya di awal melainkan sampai akhir."


"Seperti yang pak Jumadi lihat saya sehat." Pak Budi menjabat tangan pak Jumadi setelah itu dia melepaskan tangan pak Jumadi.


"Alhamdulillah, saya merasa senang bahwa keadaan pak Budi sehat," kata ayah.


"Pak Jumadi ke sini dengan siapa kesini?" tanya pak Budi.


"Saya kesini dengan anak saya pak Budi, nak kenalan dulu ama pak Budi." Ayah menyuruh Ucup untuk berkenan dengan pak Budi.


"Baiklah ayah, Perkenalkan nama Ucup pak." Ucup langsung menyalim punggung tangan pak Budi.


"Oo.... jadi Ucup nama kamu," kata Pak Budi.


"Itu hanya nama panggilan nya saja pak." Ayah memberitahu pak Budi bahwa Ucup hanya nama panggilan nya saja.


"Apa kegiatan kamu sehari-hari?" tanya pak Budi.


"Kuliah pak," jawab Ucup.


"Wah ternyata kamu mahasiswa, apa kamu hari tidak kuliah?" tanya Pak Budi.


"Tidak pak." Ucup mengelengkan kepalanya.


"Kamu kuliah jurusan apa?" tanya pak Budi.


"Perternakan pak," jawab Ucup.


"Apa kalian sudah sarapan?" tanya pak Budi.


"Belum pak," jawab ayah.


"Kalau begitu sebaiknya kalian sarapan dulu," kata pak Budi.


"Iya pak," Ayah dan Ucup serentak berkata.


Di Rumah

__ADS_1


Setelah selesai sarapan pagi Zai berpamitan kepada ibu untuk berangkat ke sekolah.


"Adek kesekolah dengan siapa?" tanya ibu.


"Sendirian ibu," jawab Zai.


"Lah kok sendirian, emang adek gak di jemput Aska?" tanya ibu.


"Tidak, " jawab Zai.


"Kenapa tidak dek?" tanya Ibu.


"Soal aku bawa motor sendiri ke sekolah ibu." Zai memberitahukan ibu bahwa dia akan kesekolah membawa motor Ucup.


"Apa ayah sudah tahu kalau adek mau membawa motor ke sekolah?" Ibu yang melihat ke arah Zai.


"Tahu , ini kunci motor ayah sendiri kasih ke aku ibu." Zai mengeluarkan kunci motor dari dari saku bajunya lalu di menunjukkan kunci motor kepada ibu.


"Jadi ayah sudah memberikan izin buat Adek bawa motor kesekolah," kata ibu.


"Aku udah di beri izin oleh ayah membawa motor kesekolah ibu," kata Zai.


"Ada deh, aku pergi dulu ya ibu." Zai berdiri dari kursinya lalu dia berdiri di samping ibu. Dia menyalim punggung tangan ibu. Setelah itu dia berjalan ke arah kamarnya.


Hari ini Zai tampak senang sekali dari tadi senyum menghiasi wajahnya. Dia sedang mengendarai motor milik Ucup di jalan dekat rumah. Saat Zai mengendarai motor milik Ucup dia melihat ke arah depan ternyata ada seorang cewek yang sedang berjalan kaki dengan menggunakan seragam olahraga yang sama seperti dia.


Zai yang melihat punggung si cewek tersebut merasa penasaran, akhirnya Zai dengan sengaja membunyikan klakson motornya.


Tiiinnnnn.......... Tiiinnnnn


Si cewek tersebut tidak memperdulikan klakson motor yang berbunyi. Dia tersebut terus saja berjalan tanpa menoleh ke arah belakang. Hal itu membuat Zai makin penasaran dengan si cewek tersebut. Zai terus saja membunyikan klakson motornya agar si cewek tersebut menoleh ke arahnya. Si cewek tersebut yang terus saja mendengarkan bunyi klakson motor akhirnya berhenti berjalan.


Si Cewek tersebut membalikan badannya untuk melihat si pengendara motor motor yang dari tadi membunyikan klakson motornya..


"Kamu." Saat membalikan bandanya si cewek tersebut melihat ke arah si pengendara motor tersebut.Setelah melihat ke arah pengendara motor tersebut, si cewek tersebut terkejut mengetahui bawah si pengendara motor yang dari tadi membunyikan klakson motornya ternyata tetangga nya.


"Tumbe kamu jalan, motor kamu mana?" Motor yang di kendarai oleh Zai sudah berada di samping si cewek tersebut.

__ADS_1


"Motor aku rusak," Jawab si cewek tersebut.


"Apanya yang rusak?" tanya Zai.


"Gak tahu, yang jelas motor aku mogok." Setelah menjawab pertanyaan Zai si cewek itu membalikan badannya. Si cewek tersebut ialah Lea. Lea berjalan meninggal Zai.


"Lah kok kamu main pergi aja sih." Zai yang mengendarai motornya mengikuti Lea.


"Kalau aku ngobrol terus ama aku yang ada aku bakal terlambat ke sekolah." Lea yang berjalan sambil berbicara kepada Zain


"Kalau begitu kamu berangkat kesekolah dengan aku aja kesekolah?" Zai lebih dahulu mendarai motornya lalu dia membelokan motornya sehingga berada di hadapan Lea


"Gak mau, mendingan aku kesekolah naik busway." Lea yang berhenti berjalan karena motor yang di kendarai oleh Zai sudah berada di hadapan nya. Lea menolak Zai untuk berangkat ke sekolah bersama.


"Nantik kamu bisa terlambat naik busway mendingan kamu kesekolah bareng aku aja." Zai yang lagi berusaha untuk membujuk Lea.


Lea terdiam sambil berpikir, lalu dia melihat ke arah jam tangannya. Dia memperkirakan waktu yang dia perlukan untuk nyampai ke sekolahan.


"Udah gak usah pakai mikir-mikir segela deh, mendingan kami naik aja ke motor aku. Kalau kami gak mau naik yang udah aku pergi nih." Zai yang mencoba untuk menakut-nakuti Lea.


"Eh tunggu dulu aku ikut." Lea yang melihat motor yang di kendarai Zai akan pergi lalu dia berubah pikiran.


"Ya udah cepatan naik atau aku tinggal nih." Zai memberikan ancaman kepada Lea.


"Iya, aku naik nih." Lea naik ke atas motor, dia duduk di belakang Zai.


Setelah Lea naik ke atas motor Zai memutar motornya, Zai mengendarai motor menuju ke arah jalan raya. Motornya Zai kendarai sudah tinda di persimpangan ke arah jalan raya. Zai masih menoleh ke arah kanan kiri untuk bisa mengendarai motor di jalan raya.


Setelah lalu lintas sudah tidak lagi padat motor yang Zai kendarai sudah melaju di atas jalan raya. Sepanjang jalan menuju ke arah sekolah Zai dan Lea sama sekali tidak bicara. Mereka seperti orang asing padahal dulu mereka begitu dekat bahkan dimana ada Zai pasti ada Lea.


Zai dan Lea yang tampak terlihat canggung saat mereka berada di atas motor yang di kendarai Zai. Zai yang mengendarai motor dengan kecepatan sedang tiba-tiba saja motor yang berada di depan Zai mengerem secara mendadak sehingga Zai juga mengerem secara mendadak agar tidak menabrak motor yang berada di depan sehingga menimbulkan bunyi.


Ciiittttttt...... Ciiittttttt


"Hei, kamu bisa bawa motor gak sih."Badan Lea jadi menempel di punggung Zai.


"Bisa, hampir aja." Zai yang merasa degdegan hampir saja motor yang di kendarai Zai menabrak motor yang berada di depan nya, sehingga Zai mengerem mendadak motornya.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2