
"Aku kerja bukan berarti mengejar dunia, tapi aku tahu bagaimana hinanya hidup saat tak punya apa."
Beberapa Bulan Kemudian.........
Siang harinya Ucup sekeluarga sudah berkumpul di dapur, mereka baru saja selesai makan siang bersama.
"Ayah, ibu, abang Fiqrie, kakak Dinda dan Zai, aku ingin menyampaikan sesuatu," kata Ucup.
"Kamu mau menyampaikan apa?" tanya ayah.
"Menurut kalian bagaimana kalau aku menyewa ruko kosong yang berada di simpang rumah kita?" tanya Ucup.
"Memangnya kamu mempunyai uang untuk menyewa ruko?" tanya Fiqrie.
"Alhamdulillah ada abang." Ucup tersenyum melihat ke arah Fiqrie.
"Ucup mau nyewa ruko buat apa?" Ayah yang penasaran akhirnya bertanya kepada Ucup.
"Berjualan," jawab Ucup.
"Kamu mau jualan apa?" tanya ibu.
"Tela-tela," jawab Ucup.
"Kalau cuma jualan tela-tela tidak usah pakai nyewa ruko, mendingan kamu berjualan mengunakan gerobak." Ibu tidak setuju Ucup mau menyewa ruko hanya untuk berjualan tela-tela.
"Kenapa begitu ibu?" tanya Ucup.
"Sekarang ibu tanya apa besar keuntungan berjualan tela-tela?" tanya ibu.
"Alhamdulillah ibu." Ucup tidak ingin memberitahukan ibu keuntungan berjualan tela-tela.
"Uang hasil Ucup berjualan tela-tela juga harus di putar lagi untuk modal berjualan, maka dari itu Ucup harus pintar jangan sampai Ucup ke putar." Ibu menasehati Ucup, ibu tahu yang hasil Ucup berjualan tela-tela itu akan di jadikan modal lagi untuk berjualan besok lagi.
__ADS_1
"Betul yang di katakan ibu," kata ayah.
"Apa kamu tidak mau kembali ke kampus?" tanya Fiqrie.
"Aku masih ingin kembali ke kampus abang tapi bagaimana usaha tela-tela yang sudah aku rintis dari nol." Ucup yang masih ada keinginan untuk berkuliah tetapi dia masih berat meninggalkan usaha tela-tela yang sudah dia rintis dari nol.
"Apa kamu tidak bisa membagi waktu antra kuliah dan berjualan tela-tela?" tanya Fiqrie.
"Belum bisa abang," jawab Ucup.
"Kamu pilih jadi mahasiswa atau penjual tela-tela?" Fiqrie yang berbicara dengan tegas kepada Ucup, dia harus melakukan itu. Dia tidak ingin Ucup hanya menjadi penjual tela-tela.
Ucup sedang terdiam memikirkan pertanyaan dari Fiqrie. Di satu sisi Ucup sudah merasa nyaman menjadi penjual tela-tela. Dengan berjualan tela-tela dia bisa mendapatkan uang. Sehingga dia sudah tidak pernah meminta uang kepada kedua orang tuanya. Ucup juga menabung uang hasil berjualan tela-tela sehingga sudah terkumpul lebih untuk membayar uang semester.
"Kenapa kamu diam aja?" tanya Fiqrie.
"Abang Ucup pasti bingung mau pilih jadi mahasiswa atau penjual tela-tela," kata Zai.
"Harusnya kamu tidak perlu bingung. Kamu harusnya mengutamakan pendidikan, karena itu modal penting," kata Ayah.
"Tidak mau abang." Ucup menggelengkan kepalanya.
"Nah makanya kamu harus kembali kuliah. Kamu harus mendapatkan gelar Spt (Sarjana Perternakan). Kalau kamu sudah menjadi Spt nantik kamu bisa melamar pekerjaan di perusahaan besar seperti Pokphand, Indo Jaya." Fiqrie menasehati Ucup, dia ingin Ucup kembali kuliah lagi. Dia tidak mau Ucup putus kuliah sehingga hanya akan menjadi penjual tela-tela.
"Baiklah, aku akan melanjutkan kuliah lagi." Setelah mendengarkan saran dari Fiqrie akhirnya Ucup memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya.
"Terus bagaimana usaha tela-tela abang?"tanya Zai.
"Abang akan tetap berjualan, tetapi di malam hari." Ucup memutuskan untuk tetap berjualan tela-tela hanya di waktu malam.
Esokan Harinya..........
Pagi harinya Ucup sudah bersemangat untuk pergi ke kampus, dia sudah tidak sabar ingin pergi ke kampus. Ucup sudah cuti kuliah selama 1 tahun padahal niat di awalnya Ucup hanya mau cuti kuliah selama 1 semester yaitu 6 bulan. Tetapi karena Ucup terlalu asik dengan usaha tela-tela sehingga dia menjadi lupa sehingga dia cuti kuliah selama 1 tahun.
__ADS_1
Ucup sudah memakai kemeja berwarna putih dan celana panjang yang berbahan kain berwarna hitam. Ucup berada di depan kaca sambil menyisir rambutnya agar terlihat rapi. Ucup bersemangat ke kampus karena ingin kembali kuliah selain itu dia juga ingin bertemu dengan Aqila.
Setelah kejadian waktu itu Aqila sudah tidak pernah lagi ke tempat Ucup berjualan. Hana yang kadang-kadang pergi ketempat Ucup berjualan untuk membeli tela-tela buatan Ucup.Ucup merasa tidak sabar lagi untuk pergi kekampus.
Ucup yang sudah selesai mengurus administrasi kuliahnya keluar dari ruangan Tu. Ucup berjalan ke arah kelas Aqila, di sepanjang perjalanan menuju kelas Aqila perasaan Ucup bercampur aduk dia merasa gerogi ingin menemui Aqila, ada rasa takut saat dia ingin menemui Aqila, tapi ada rasa rindu juga kepada Aqila semua rasa itu bercampur dengan satu.
Ucup sudah tiba di depan pintu kelas Aqila lalu dia memasukkan kepala untuk melihat kedalam kelas Aqila. Ucup yang sedang melihat isi dalam kelas Aqila tidak menemukan keberadaan Aqila sehingga dia merasa kecewa.
"Permisi." Seorang perempuan yang ingin masuk ke dalam kelas tidak jadi karena terhalang oleh Ucup yang berdiri di depan pintu kelas sedangkan kepala Ucup menyembul di depan pintu kelas tersebut.
"Apa kamu bisa minggir saya mau lewat?"Si perempuan tersebut menyuruh Ucup untuk minggir dari pintu kelas karena dia mau masuk ke dalam pintu tersebut.
" Kamu." Ucup membalikkan badannya betapa terkejutnya saat dia membalikkan badan melihat wajah perempuan yang selama ini dia rindukan.
"Abang Ucup kenapa di sini?" Si perempuan tersebut ia laah Aqila.
"Apa bisa kita bicara sebentar?" tanya Ucup.
"Hm, gimana ya?" Aqila melihat ke arah jam tangan yang menempel di pergelangan tangan kiri, dia melihat masih ada waktu untuk berbicara dengan Ucup. Tetapi Aqila takut kalau dia berbicara dengan Ucup maka rasa cinta yang sudah berusaha di hapuskan untuk Ucup akan timbul lagi.
"Ada yang ingin aku bicarakan," kata Ucup.
"Bicara aja di sini abang." Aqila menyuruh Ucup untuk berbicara.
"Aku maunya bicara empat mata," kata Ucup.
"Kalian kalau mau bicara jangan di sini, ganggu orang mau lewat aja." Seorang mahasiswa yang sudah berdiri di belakang Aqila tetapi tidak bisa berjalan ke arah pintu kelas karena terhalan oleh Ucup yang berdiri di depan pintu kelas.
"Kamu mau kan bicara ama aku sebentar saja." Ucup menatap wajah Aqila dengan tatapan memelas.
"Sudah lah Aqila, sana kamu ngobrol ama abang Ucup. Biar kami bisa lewat." Si Mahasiswa tersebut menyuruh Aqila untuk berbicara dengan Ucup.
"Ayo kita bicara di tempat lain!" Ucup berjalan mendekat ke arah Aqila, setelah berada di dekat Aqila lalu dia menggandeng tangan Aqila.
__ADS_1
"Cie........ cie Aqila di gandeng abang Ucup." Beberapa teman sekelas Aqila yang berada di dekat kelas melihat ke arah Aqila yang tangannya gandeng oleh Ucup. Mereka mulai meledak Aqila dan Ucup.
...~ Bersambung ~...