
"Aku hanya punya dua tangan, tidak mungkin bisa menutup ribuan mulut orang di luar sana yang sibuk menyalahkan dan menghakimi. Aku hanya cukup menutup telinga ku agar suara mereka tidak terlalu membuat polusi di telinga aku."
Esokan Harinya......
Malam harinya setelah selesai makan malam Zai berdiri dari kursinya.
"Mau kemana adek?" Ibu melihat ke arah Zai.
"Kamar ibu." Zai yang sudah berdiri dari kursinya.
"Selesai makan jangan langsung tidur Zai," kata ayah.
"Aku tidak tidur ayah," kata Zai.
"Lalu Zai mau apa ke kamar setelah makan?" tanya ayah.
"Aku mau buat pr, aku ke kamar dulu ya ayah ibu."Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya Zai berjalan meninggalkan dapur.
Ucup berdiri dari kursinya, tangan Ucup memegang peralatan makan yang ada di atas meja.
"Ucup mau apa?" Ibu yang melihat ke arah Ucup.
"Membereskan ini semua ibu." Ucup yang mengumpulkan semua peralatan makan yang ada di atas meja.
"Tidak usah biar ibu saja." Ibu berdiri dari kursi lalu ibu menepis tangan Ucup dari peralatan makan.
"Ibu pasti capek jadi biar Ucup saja." Ucup membantu ibu dengan mengumpulkan peralatan makan yang kotor. Setelah semua terkumpul Ucup berjalan sambil membawa peralatan makan ke arah westafel.
Sesampainya Ucup di depan westafel, dia meletakan semua peralatan makan yang kotor di westafel tersebut. Ibu berjalan menghampiri Ucup yang sudah berdiri di depan westafel.
"Ucup biar ibu saja yang mencuci semuanya." Ibu yang sudah berada di samping Ucup.
"Ibu buatin ayah kopi." Ayah yang berdiri dari kursinya.
"Ayah mau kemana?" ibu yang membalikkan badan melihat ke arah ayah.
"Ke kamar mandi." Ayah yang berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
"Natik kopi ayah mau di letakkan di mana?" tanya ibu.
"Ruangan keluarga."Ayah yang terus berjalan ke arah kamar mandi.
"Apa Ucup bisa buatkan kopi untuk ayah?" Ibu membalikkan badannya lalu menoleh ke arah Ucup.
"Maaf ibu, bukan Ucup tidak mau membuatkan kopi untuk ayah. Tetapi ayah ingin kopi buatan ibu." Ucup yang menolak permintaan ibu, Ucup menolak permintaan ibu karena dia mengerti bahwa ayah menginginkan kopi buatan ibu.
"Jadi Ucup tidak mau membantu ibu?" Ibu yang melihat ke arah wajah Ucup.
"Maaf ibu, Ucup tidak bisa membantu ibu." Ucup yang wajahnya terlihat menyedihkan karena tidak bisa membantu ibunya.
"Ya sudah kalau gitu." Ibu berjalan ke arah rak piring, dia mengambil panci yang ada di rak piring tersebut.
Ibu memasak air di dalam panci tersebut, sedangkan Ucup yang masih sedang mencucikan peralatan makan di westafel. Setelah air di dalam panci tersebut masak lalu ibu menuangkan sebuah gelas yang sudah berisi kopi dan gula. Ibu menuangkan air panas tersebut kedalam gelas yang berisi kopi dan gula.
"Apa Ucup mau kopi?" tanya ibu.
"Tidak usah ibu, Ucup tidak mau merepotkan ibu." Ucup yang melihat ke arah ibu yang sedang berdiri di atas kompor.
"Tidak merepotkan, ibu buat kopi untuk Ucup juga." Setelah selesai membuatkan kopi untuk ayah, ibu membuatkan kopi untuk Ucup.
"Ini kopi buatan Ucup." Ibu meletakan segelas yang berisi kopi ke atas meja makan.
"Terima kasih ibu." Ucup yang sudah selesai mencuci peralatan makan lalu dia memutar kran yang ada di westafel. Air dari westafel tersebut mengalir Ucup membilas peralatan makan yang sudah dia berikan sabun.
"Sama-sama Ucup, ibu ngatar kopi buat ayah dulu." Ibu berjalan sambil membawa segelas kopi yang nerada di tangan kanannya.
Sesampainya di ruangan keluarga, ibu berjalan menghampiri ayah yang sedang duduk sambil menonton. Ibu duduk di samping ayah lalu dia meletakan segelas kopi di hadapan ayahnya.
"Ayah di minum kopi buatan aku," kata ibu.
"Natik ibu masih panas kopinya." Ayah yang melihat ke arah ibu.
"Baiklah ayah." kata ibu.
Tok......Tok.......Tok
__ADS_1
"Assalamualaikum," kata seorang.
Ibu dan ayah yang sedang berada di ruangan keluarga. Suara televisi yang ayah tonton volumenya besar sehingga ibu dan ayah tidak mendengarkan orang yang mengetuk pintu rumah mereka.
Zai yang berada di dalam kamar sambil duduk di kursi mendengarkan suara seorang mengetuk pintu rumahnya. Zai sengaja tidak keluar kamar karena dia yakin bahwa akan ada anggota keluarganya yang membuka pintu rumahnya.
Tetapi sampai dengan tiga kali orang tersebut mengetuk pintu rumahnya tetapi tidak ada juga yang membukakan pintu tersebut. Zai yan merasa terganggu dengan suara ketukan pintu rumah. Suara ketukan pintu rumah membuat Zai tidak bisa fokus mengerjakan pr . Sehingga Zai berdiri dari kursinya, dia berjalan ke arah pintu kamarnya.
Zai membuka pintu kamarnya lalu dia berjalan melewati pintu kamarnya. Setelah keluar dari kamarnya Zai berjalan ke arah pintu yang ada di ruangan tamu. Zai sudah berada di depan pintu rumahnya, dia membuka kunci rumah setelah pintu rumah tidak terkunci. Zai membuka pintu rumah tersebut.
Ceklek......Ceklek
"Assalamualaikum." Dua orang laki-laki yang sudah berdiri di depan pintu tersebut.
"Walaikumsalam." Zai melihat ke arah dua orang laki-laki tersebut.
"Apa Ucupnya ada Zai?" tanya seorang laki-laki tersebut.
"Ada, kalian siapa?" Zai yang keningnya berkerut karena seorang laki-laki yang berdiri di hadapan dia mengetahui nama dia.
"Kami ini teman Ucup, apa kamu bisa panggillkan Ucup?" tanya seseorang laki-laki tersebut.
"Bisa, tapi nama abang siapa?"Zai yang melihat ke arah kedua orang laki-laki tersebut.
"Perkenalankan nama abang Gustaf." Gustaf mengulurkan tangan ke arah Zai.
"Aku Zia abang Gus." Zai menjabat tangan Gustaf, lima menit kemudian Zai melepaskan jabatan tangannya ama Gustaf.
"Aku Feri." Feri melihat ke arah Zai dengan tatapan yang tajam.
"Ayo silahkan masuk abang! aku panggil abang Ucup dulu." Zai yang mengajak Gustaf dan Feri untuk masuk kedalam rumahnya.
"Gak usah kami nunggu di sini saja." Feri yang menolak tawaran Zai untuk masuk kedalam rumah Ucup.
"Baiklah kalau begitu abang." Zai berjalan masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Ucup.
Sesampainya di dalam rumah, Zai berjalan ke arah pintu kamarnya sesampai di depan pintu kamar Ucup. Zai membukakan pintu kamar Ucup. Kepalannya Zai terlebih dahulu masuk kedalam kamar Ucup. Zai melihat ke arah sekeliling kamar Ucup yang terlihat begitu rapi.
__ADS_1
Zai tidak melihat Ucup ada di dalam kamar tersebut, lalu dia membalikkan kepalannya. Setelah keluar dari kamar Ucup Zai menutup kembali pintu kamar Ucup, dia berjalan kearah ruangan keluarga. Zai berharap Ucup berada di ruangan keluarga. Dia berjalan ke arah ruangan keluarga lalu sesampainya dia di ruangan keluarga, Zai melihat____
...~ Bersambung ~...