Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Nah Gitu Dong


__ADS_3

"Aku tidak tahu cara menjadi baik untuk bisa setara denganmu, aku tidak tahu bagimana mempercepat waktu agar segera menemuimu, aku hanya melangkah seadanya memotong sedikit demi sedikit jarak yang menyakitkan.


Maaf aku tidak berlari, aku terlalu takut jika terjatuh yang membuatku sakit untuk bangkit mengejarmu lagi. Sedangkan aku masih ingin menemuimu di ujung lelahku."


"Ya udah aku naik duluan." Ucup naik kedalam angkot dengan menundukkan kepalanya, Ucup yang sudah berada di dalam angkot lalu dia berjalan di bangku kosong yang berada di dekat pintu angkot tersebut. Dia mendudukan pantatnya di bangku kosong yang berada dalam angkot.


"Kamu geser dikit dong." Setelah Ucup masuk kedalam angkot baru lah Gustaf masuk kedalam angkot. Gustaf yang sudah berdiri dengan kepala yang menuduk di hadapan Ucup.


"Lah kenapa aku harus geser?" tanya Ucup.


"Aku mau duduk di samping kamu," jawab Gustaf.


"Gak bisa di sini udah sempit, mendingan kamu duduk di bangku itu saja." Ucup menolak untuk mengeser badannya di bangku tersebut, di bangku tempat Ucup sudah sempit sehingga Gustaf tidak muat lagi untuk duduk di samping Ucup.


"Baiklah." Dengan berat hati Gustaf duduk di bangku yang Ucup tunjukkan. Bangku tersebut berada di sebelah tengah yang berada di antara seorang ibuk dan seorang nenek. Sehingga Gustaf merasa tidak bersemangat untuk duduk di sana.


Setelah Gustaf duduk di bangku yang berada di tengah antara seorang ibuk dan seorang nenek pak supir angkot melajukan angkotnya. Ucup melirik ke arah Gustaf yang sedang di ajak ngobrol oleh si ibuk tersebut.


"Nama kamu siapa?"Si ibuk yang melihat ke arah Gustaf.


" Gustaf ibuk," jawab Gustaf.


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya si ibuk tersebut.


"Alhamdulillah udah ibuk," jawab Gustaf.


"Ya sayang sekali." Si ibu tersebut yang terlihat kecewa setelah mengetahui Gustaf memiliki pacar.


"Kenapa emangnya ibuk?" Gustaf yang melihat wajah si ibuk tersebut kecewa setelah mendengarkan perkataan dia.


"Rencana kamu mau saya jadikan___," kata si ibuk tersebut.


"Ibu mau jadikan saya calon menantu." Gustaf yang memotong pembicaraan si ibuk tersebut.


"Bukan." Si ibuk tersebut mengelengkan kepalanya.


"Lalu apa ibuk?" Gustaf menjadi penasaran setelah mendengar perkataan ibuk tersebut.

__ADS_1


"Jadi suami saya." Si ibuk tersebut yang tersenyum sambil melihat ke arah Gustaf.


"Astaganaga, ingat umur ibuk." Gustaf yang terkejut setelah mendengar perkataan si ibuk tersebut yang ingin menjadikan dia sebagai suaminya.


"Umur itu hanya angka yang penting jiwa saya masih muda." Si ibu tersebut berbicara sambil me gedipkan sebelah mata ke arah Gustaf.


"Ya elah udah bauk tanah juga ibuk." Gustaf yang merasa risih melihat si ibuk tersebut mengedipkan matanya kepada dia.


"Segini wanginya masak saya di bilang bauk tanah." Si ibuk tersebut yang mencium pakaian nya, dia merasa pakaian masih wangi parfum tetapi Gustaf mengatainya bauk tanah.


Ucup yang mendengarkan pembicaraan antara si ibuk tersebut dengan Gustaf, sedang mencoba menahan tawanya. Dia ingin menertawai Gustaf yang di taksir oleh ibuk. Ucup mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu dia membuka aplikasi chat.


πŸ“©"Cie..... cie yang di taksir ama ibuk-ibuk," kata Ucup.


Ting........ Tong


Terdengar suara ponsel Gustaf yang berbunyi di saku celana jeans. Gustaf mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu dia melihat ponsel ternyata ada chat masuk dari Ucup. Dia membaca chat dari Ucup.


πŸ“©"Amiit deh," kata Gustaf.


πŸ“©"Jangan gitu dong entar dari amiit-amiit bisa jadi amin-amin," kata Ucup.


"Kamu chat ama siapa?" tanya si ibuk tersebut.


"Pacar saya ibuk." Gustaf yang sengaja berbohong kepada si ibuk tersebut. Gustaf melihat ke arah kaca jendela angkot ternyata jalan ke arah rumahnya sudah dekat.


"Mendingan kamu putusin pacar kamu terus sama aku aja." Si ibuk tersebut yang berbicara dengan ganjen.


"Kiri abang." Gustaf segera meminta pak supir angkot untuk berhenti karena sudah sampai di depan gang perumahannya.


"Iya." Pak supir angkot tersebut segera mengrem angkotnya. Sehingga angkot tersebut berhenti tepat di simpang perumahan Gustaf.


"Permisi saya turun dulu." Gustaf segera berdiri dari tempat duduknya lalu dia berjalan sambil menudukan kepalanya. Gustaf berjalan melewati tempat duduk Ucup.


"Kok dia gak ajak turun?" Ucup sengaja bertanya kepada Gustaf.


"Gak kenal aku." Gustaf yang segera turun dari angkot tersebut lalu dia sudah berdiri di samping kaca jendela angkot yang tebuka di bagian depan nya.

__ADS_1


"Ongkosnya mana?" Pak supir angkot yang meminta ongkos kepada Gustaf.


"Pak ongkos minta sama teman saya yang itu. Dia masih berada di dalam angkot pak." Gustaf yang sengaja mengatakan bahwa ongkos minta saja kepada Ucup.


"Baiklah kalau begitu." Pak supir angkot melajukan angkotnya.


"Sampai jumpa lagi." Saat angkot tersebut berjalan si ibuk membuka kaca jendela angkot lalu dia melihat ke arah Gustaf sambil tersenyum lalu si ibuk tersebut melambaikan tangan ke arah Gustaf.


Si Gustaf yang melihat si ibuk tersebut melambaikan tangan merasa risih dengan sikap si ibuk tersebut. Gustaf segera berjalan meninggal pinggir jalan tersebut.


Sepuluh menit kemudian..........


Ucup sudah turun dari angkot lalu dia sudah berdiri di samping angkot tersebut. Ucup membayarkan ongkos tersebut kepada pak supir.


"Ini masih kurang." Pak supir angkot tidak mau menerima ongkos dari Ucup.


"Lah kok kurang sih pak supir?" Ucup yang keningnya berkerut setelah mengetahui bahwa ongkos yang dia bayar masih kurang.


"Teman kamu belum bayar, tadi dia bilang kamu yang bakal bayarnya." Pak supir angkot menjelaskan kepada Ucup bahwa Gustaf mengatakan bahwa Ucup yang akan membayarkan ongkosnya.


"Tunggu dulu sebentar ya pak supir." Ucup menyuruh pak supir angkot menunggu, dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ucup menghubungi nomor ponsel Gustaf tetapi tidak di angkat oleh Gustaf. Ucup mengirimkan chat kepada Gustaf.


πŸ“©"Apa kamu tadi ngomong ama pak supir angkot kalau aku yang bayar ongkos kamu?"


πŸ“©"Gustaf balas chat aku."


"Cepatan tuh kasihah penumpang lain nungguin kamu." Pak supir angkot menyuruh Ucup untuk segera membayar ongkos.


"Tunggu sebentar pak supir angkot teman saya belum balas chat saya." Ucup yang meminta pak supir angkot menunggu dia karena Gustaf belum membalas chatnya.


"Cepatan bayar ongkos kamu dan teman kamu." Pak supir angkot yang berbicara dengan nada suara yang tinggi.


πŸ“©"Iya," kata Gustaf.


"Nih ongkosnya pak supir angkot." Ucup memberikan selembar uang berwarna ungu kepada pak supir angkot.


"Nah gitu dong dari tadi." Pak supir angkot mengambil uang dari tangan Ucup lalu setelah itu dia melajukan angkotnya kembali untuk mengantarkan penumpang yang berada di dalam angkot tersebut.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2