Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Mencabut Singkong


__ADS_3

" Kadang orang lain iri kepada kita bukan karena kita kaya, tapi karena kita terlihat bahagia seperti tanpa beban pikiran."


"Gak abang." Lea menggeleng kepalanya.


"Kenapa Lea gak mau mampir ke rumah abang?" tanya Ucup.


"Ini udah malam, lagian abang Ucup juga udah lama gak pernah main kerumah aku," jawab Lea.


"Maafin abang ya Lea."Ucup yang menunduk wajahnya karena merasa bersalah kepada Lea, dia sudah lama tidak pernah main kerumah Lea. Bahkan Ucup sudah lupa kapan terakhir kali main kerumah Lea karena terlalu lamanya dia tidak tidak pernah main kerumah Lea jadi dia lupa waktu dia terakhir main ke rumah Lea.


"Kapan abang mau main ke rumah aku?" tanya Lea.


"Kapan-kapan kalau abang gak sibuk ya Lea," kata Ucup.


"Berarti abang gak akan main kerumah aku soalnya abang itu sibuk melulu." Lea yang wajahnya berubah menjadi cemberut.


Ucup yang melihat ke arah Lea yang wajahnya telah berubah menjadi cemberut. Ucup merasa tidak tega melihat Lea memasang wajah yang cemberut.


"Kalau hari minggu sore Lea ada di rumah?"tanya Ucup.


"Ada, kenapa emangnya abang Ucup?" tanya Lea.


"Insyaallah abang mau main kerumah Lea minggu sore," jawab Ucup.


"Yang benar abang mau main kerumah Lea?" Lea yang wajah terlihat begitu antusias setelah mendengar perkataan Ucup.


"Iya benar, natik abang ajak Zai juga main kerumah Lea," kata Ucup.


"Abang gak usah ajak Zai main kerumah Lea," kata Lea.


"Lah kok gitu, apa kalian lagi berantem?" tanya Ucup.


"Gak," jawab Lea.


"Gak salah lagi kalian berdua pasti lagi ada masalah, sebenarnya kalian berdua ada masalah apa?" Ucup menatap Lea tatapan yang curiga, dia merasa yakin bahwa Lea dan Zai sedang ada masalah itu terlihat dari sikap mereka yang sedang menjaga jarak.


"Tidak ada masalah, kalau begitu aku pamit pulang dulu abang." Lea yang menyalakan motor lalu di mengendari motornya ke arah rumahnya.


Hari Minggu........

__ADS_1


Pagi ini ayah dan Ucup sudah sampai di kebun singkong milik teman ayah. Disana juga sudah ada beberapa orang yang usianya sama seperti ayah. Ayah dan Ucup berjalan menghampiri mereka yang sudah berdiri di kebun singkong tersebut.


"Assalamualaikum," kata Ayah dan Ucup secara serentak.


"Walaikumsalam," kata mereka secara serentak.


"Apa kabar Jumadi?" Pemilik kebun singkong melirik ke arah ayah dan Ucup yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kabar aku sehat, bagaimana dengan kabar kamu?" Ayah mengulurkan tangannya ke arah pemilik kebun singkong tersebut.


"Aku seperti yang kamu lihat." Pemilik kebun tersebut menjabat tangan ayah Ucip.


"Aku lihat kamu juga sehat." Ayah yang melepaskan jabatan tangannya dari pemilik kebun singkong.


"Dia siapa?" Pemilik kebun singkong tersebut menunjukkan jari ke arah Ucup.


"Dia anak aku," jawab ayah Ucup.


"Perkenalankan nama aku Ucup om." Ucup menyalim punggung tangan pemilik kebun tersebut.


"Apa Ucup sudah kerja?" tanya pemilik kebun singkong tersebut.


"Ternyata anak kamu seorang mahasiswa, saya salut dengan anak muda yang mau kebun." Pemilik kebun tersebut memegang bahu Ucup lalu dia merangkul bahu si Ucup.


Pemilik kebun tersebut membawa Ucup berjalan ke arah pohon singkong. Pemilik kebun tersebut berhenti berjalan, dia melepaskan rangkulan dari bahu Ucup.


"Apa kamu bisa mencabut batang singkong itu?" Pemilik kebun singkong menujuk jarinya ke arah sebuah batang singkong.


"Insyaallah bisa om," jawab Ucup.


"Sekarang kamu cabut batang singkong itu." Pemilik kebun tersebut menyuruh Ucup untuk mencabut sebuah batang singkong yang ukuran batang singkongnya besar.


"Baiklah om." Ucup berjalan kearah batang singkong yang di tunjuk oleh pemilik kebun tersebut. Dia yang sudah sampai di depan batang singkong tersebut, lalu mematahkan batang singkong yang sudah tinggi.


Ucup mencoba untuk mencabut batang singkong yang berukuran besar itu. Ucup mengeluarkan seluruh tenaga yang dia punya untuk mencabut batang singkong tersebut. Dia merasa kesulitan untuk mencabut singkong tersebut, Dia melepaskan tangannya dari batang singkong tersebut.


Pemilik tersebut berjalan menghampiri Ucup, dia mengira bahwa Ucup sudah menyerah karena dia tidak sanggup untuk mencabut batang singkong tersebut. Ucup berjongkok di bawa pohon singkong tersebut. Ucup mengali tanah tersebut mengunakan kedua tanganya.


"Apa yang kamu lakukan?" Pemilik kebun yang sudah berdiri di samping Ucup.

__ADS_1


"Aku mengali tanah ini om," jawab Ucup.


"Untuk apa kamu mengali tanah yang ada batang singkongnya?" tanya Pemilik kebun tersebut.


"Agar aku bisa mencabut batang singkong ini." Ucup yang terus saja mengali tanah dengan kedua tangannya.


"Apa kamu yakin itu akan berhasil?" tanya pemilik kebun tersebut.


"Insyaallah aku yakin om," jawab Ucup.


"Baiklah aku kan melihat kamu mencabut batang singkong ini." Pemilik kebun singkong tersebut berdiri sambil bertegak pinggang di samping Ucup.


Ucup merasa sudah cukup mengali tanah lalu dia berdiri. Dia mulai memegang batang singkong tersebut, dia mulai menarik batang singkong sambil mengoyang-goyangkan batang tersebut. Dia menarik mengunakan seluruh tenaganya untuk menarik batang singkong agar terlepas dari dalam tanah.


Akhirnya batang singkong tersebut terlepas dari tanah. Ucup berhasil mencabut batang singkong tersebut dengan susah payah. Batang singkong yang Ucup cabut memiliki buah yang banyak.


Pemilik kebun tersebut melihat ke arah Ucup yang sudah berhasil mencabut batang singkong tersebut dari tanah. Pemilik kebun tersebut bertepuk tangan kepada Ucup.


Proookk.......Proookk


"Wah saya tidak menyaka bahwa kamu cukup kuat juga bisa mencabut batang singkong ini." Pemilik kebun tersebut merasa kagum melihat Ucup yang memiliki tenaga cukup kuat karena bisa mencabut batang singkong tersebut.


"Ah om bisa saja mujinya." Keringat Ucup bercucuran di kening dan punggungnya, baju Ucup saja sampai basah karena keringatnya.


"Sekarang saya merasa yakin kalau kamu bisa mencabut batang singkong yang ada di kebun saya." Setelah pemilik kebun tersebut melihat Ucup berhasil mencabut batang singkong yang besar dia baru bisa percaya bahwa Ucup bisa mencabut batang singkong yang ada di kebun dia.


"Apa aku sudah boleh mencabut batang singkong lainnya om?" tanya Ucup.


"Boleh, setelah semua kamu cabut. Jangan lupa kamu kumpulkan kembali batang-batang singkong ini," kata pemilik kebun tersebut.


"Untuk apa batang-batang singkong tersebut di kumpulkan om?" tanya Ucup.


"Batang-batang singkong tersebut akan di tanam kembali," jawab pemilik kebun tersebut.


"Baiklah kalau begitu om, setelah aku cabut batang singkongnya. Akan aku kumpulkan batang-batang singkong tersebut di satu tempat agar om mudah untuk mengambilnya," kata Ucup.


Ucup mulai mencabut batang singkong yang batang kecil terlebih dahulu. Kalau batang singkongnya kecil maka tenaga yang di perlukan juga sedikit untuk mencabut batang singkong yang kecil tersebut.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2